Archive for the ‘Abidah El Khalieqy’ Category

Menunggu Kapak Ibrahim
August 6, 2012


Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 29 Juli 2012)

MENDELIK Algojo tak percaya. Untuk membuktikan keanehan yang disaksikan, petugas pencabut nyawa itu coba menebas lehernya dengan pedang istana yang pernah digunakan oleh raja untuk memenggal leher-leher para durjana. (more…)

Advertisements

Kamar Dua Belas
May 29, 2012


Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 1 April 2012)

KAMAR hotel jadi sunyi. Tiba-tiba saja, Komar dan Syamsu, dua penghuni kamar mewah nomor dua belas itu saling berpikir tentang kematian. Tentu banyak versi, banyak cara pandang yang bisa diulang untuk melihat kematian seseorang. Seperti keduanya, meski titik awal dan akhir telah ditemukan, masih juga berdebat untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sampai keduanya membisu, berdiam diri di antara kemewahan lampu merkuri. (more…)

Layla Mampir di Serambi
August 1, 2011


Cerpen Abidah El Khalieqy (Suara Merdeka, 24 Juli 2011)

LAYLA ada di bandara Iskandar Muda, nengok kiri kanan tak nemu Majnun yang dirindu. Rasanya telah sekian abad tak jumpa. Menit demi menit hanya mengekalkan hampa. Makin bara ia. Ingin meninjunya, si Pangeran Cinta dari sahara kesunyian. Awas ya kalau berani nongol! Batin Layla menggempita. (more…)

Putri Sang Pemimpi
January 23, 2011


Cerpen Abidah El Khalieqy (Suara Merdeka, 23 Januari 2011)

MENJEJAK tanahmu, lama aku termangu. Inikah bumi yang kaukisahkan itu. Yang menyimpan pundi-pundi karun dunia. Namun sengsara karena ribu-ribu mata terus mengawas dan ribu-ribu tangan terus mengeruk. Tak ada habisnya. (more…)

Pulang tanpa Alamat
September 5, 2010


Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 5 September 2010)

USAI mandi dan memilih pakaian paling bersih, Gotap menyemprotkan minyak wangi di bawah daun telinga. Di dada kiri tempat jantung bersembunyi, dan sedikit olesan di denyut nadi pergelangan tangan. Senyum cerah tersungging dalam cermin besar dan jernih. Seperti kuncup putih melati, senyum itu ditatapnya berulang kali. Entah siapa yang perintah, tiba-tiba tangannya bergerak, mengambil kembali botol parfum dari atas meja, dan menyemprotkannya di kedua telapak kaki. Tapi, pikirnya, masih ada yang kurang. Telapak tangan dan jari-jariku mesti wangi, agar setiap orang yang kusalami akan dilekati keharuman yang sama. (more…)

Perempuan Hajar
July 4, 2010


Cerpen Abidah El Khalieqy (Suara Merdeka, 4 Juli 2010)

SEMINGGU belakangan, Putri Angin benar benar bingung. Mau merampungkan kuliah S3 atau balik cepat-cepat ke kampung halaman. Sisa uang tinggal cukup untuk hidup seminggu dan bayar tiket pulang. Tak ada pihak mana pun yang bakal menjamin keuangan dan nasib hidup selanjutnya. Tak ortu tak juga sebuah founding di mana pun. Ia benar-benar terdesak untuk segera memilih, jadi gelandangan di negeri orang atau pulang kampung dinikahkan dengan laki-laki bukan pilihan. (more…)