Archive for the ‘A.S. Laksana’ Category

Seperti Ular Raksasa, tetapi dari Besi
August 21, 2016


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 21 Agustus 2016)

Seperti Ular Raksasa, tetapi dari Besi ilustrasi Budi

Seperti Ular Raksasa, tetapi dari Besi ilustrasi Budi

Mereka dirawat di ruangan yang sama, di sebuah rumah sakit kota kecil di daerah pesisir utara, dan keduanya mengidap penyakit yang tampaknya hanya bisa disembuhkan oleh mukjizat. Ruangan berwarna putih, dengan satu jendela, dan di dindingnya tergantung dua lukisan bunga. Gadis remaja yang tempat tidurnya berada di samping jendela sudah dua minggu menempati kamar itu. Ada masalah besar yang merusak fungsi paru-parunya. Untuk meringankan penderitaannya, dokter menyarankan gadis itu duduk tegak di tempat tidurnya tiap pagi dan sore sebelum tiba jam besuk. Ia harus melakukannya untuk membuang cairan yang terus memenuhi paru-paru.

Gadis remaja yang satunya lagi dirawat di ruangan itu lima hari kemudian. Sekujur tubuhnya melemah, begitu pula detak jantungnya. Ia, seperti putri tidur dalam dongeng, hanya terbaring dengan mata terpejam sejak hari pertama masuk. (more…)

Pembunuh Suami
January 16, 2016


Cerpen A.S. Laksana (Koran Tempo, 16-17 Januari 2016)

Pembunuh Suami ilustrasi Munzir Fadly

Pembunuh Suami ilustrasi Munzir Fadly

MEREKA mengadiliku dengan tuduhan membunuh suami. Itu tuduhan keji. Tuhan tahu persis apa yang kulakukan meski para hakim mungkin tidak sanggup memahami tindakan-tindakanku. Aku hanya berniat mengantar suamiku ke surga. Aku mencintainya dan kupikir surga lebih baik baginya ketimbang ia tetap berada di bumi.

Aku mempercayai doa-doa dan aku berbahagia hidup bersamanya. Kadang situasiku muram dan kadang aku sedikit putus asa meski mempercayai doa-doa, tetapi aku bersyukur memilikinya sebagai suamiku. Ia mampu memberiku hari-hari baik yang akan kukenang selamanya. Ia memberiku, delapan tahun lalu, hadiah terbaik yang pernah kuterima. Petang hari sepulang dari kios ia mengatakan badannya kurang enak dan ingin tidur lebih awal. Kulihat ibu jari dan telapak tangan kanannya dibebat kain perban, begitu juga jari-jari tangan kirinya. (more…)

Cinta Pertama
January 3, 2016


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 3 Januari 2016)

Cinta Pertama ilustrasi Bagus

Cinta Pertama ilustrasi Bagus

MEREKA berpisah karena perempuan itu merasa sudah tak mungkin mereka hidup serumah dan mereka bertemu lagi tiga puluh tahun kemudian, pada Selasa siang, di sebuah pusat pertokoan dekat persilangan jalan ke arah kebun binatang. Perempuan itu 57 tahun sekarang dan separuh rambutnya sudah menjadi uban. Ia baru keluar dari toko pakaian di lantai satu, lalu naik dengan eskalator ke lantai dua, lalu naik lagi dan masuk ke toko buku di lantai tiga dan di situlah ia bertemu dengan bekas suaminya, lelaki yang pernah ia cintai dan kemudian ia benci. Itu pertemuan yang tak pernah ia harapkan; ia bahkan tak tahu, sejak mreka berpisah, apakah lelaki itu masih hidup atau sudah mati. (more…)

Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya
May 11, 2014


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 11 Mei 2014)

 

Dijual Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya ilustrasi Bagus

IA menyukai lagu itu, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyukainya hingga bertahun-tahun kemudian. Di telinganya, penyanyi di radio itu seperti berteriak apuseeee… dan ia menyanyikannya begitu. Ia pikir ada juga lagu Barat yang berjudul Apuse, sama dengan judul sebuah lagu daerah. Baru nanti, setelah semuanya terjadi, ia tahu judul lagu itu House for Sale(more…)

Upaya Menulis Kiamat
February 2, 2014


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 2 Februari 2014)

 

 

KAMI bertemu tiga minggu kemudian di sebuah rumah penginapan. Kulitnya berminyak dan ia tampak kelelahan dan wajahnya seperti menahan tangis ketika kami berjumpa. Aku menahan diri agar tidak ketawa oleh logat dan caranya berkata-kata, dua hal yang tak akan terasa dalam tulisan ini karena aku sudah merapikannya sebisaku. Aku tak ingin membongkar, dengan cara apa pun, dari mana ia berasal. Kau bisa menduga-duga dari daerah mana lelaki itu dan di mana kejadian yang dituturkannya berlangsung, tetapi aku tidak akan menyampaikannya. Bagaimanapun, pengalaman yang dituturkannya bisa dialami oleh siapa saja dan bisa terjadi di mana saja. Maksudku, itu bisa terjadi juga padamu dan suatu saat mungkin akan tiba giliranmu, meskipun aku berharap tidak.  (more…)

Rashida Chairani
September 15, 2013


Cerpen A.S. Laksana (Koran Tempo, 15 September 2013)

Rashida Chairani ilustrasi Yuyun Nurrachman

IBU memintaku mengingat nama-nama: tiga lelaki dan satu perempuan dan salah satu dari ketiga lelaki itu sudah pasti ayahku. Ia telah mengatakan hal ini sejak aku kanak-kanak dan mengulanginya berkali-kali sepanjang hidupnya seolah takut aku lupa. Sebetulnya ia sudah menyampaikannya sejak aku masih janin. Aku tahu karena ibu memberi tahu, namun ingatanku tak mampu menjangkau apa saja yang dikatakannya saat aku masih di dalam perut.

“Leluhurku adalah para bajak laut, orang-orang yang menolak tunduk dan pantang dipermalukan,” katanya. Itu kalimat pertama yang bisa kuingat darinya.  (more…)