Archive for the ‘A Muttaqin’ Category

Mereka yang Tertidur Menjadi Batu Kami yang Terjaga Menjadi Air
December 4, 2016


Cerpen A Muttaqin (Media Indonesia, 04 Desember 2016)

mereka-yang-tertidur-menjadi-batu-kami-yang-terjaga-menjadi-air-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Mereka yang Tertidur Menjadi Batu Kami yang Terjaga Menjadi Air ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SESUNGGUHNYA kita memang tak betul-betul mengerti apa yang terjadi dalam hidup ini. Seperti yang terjadi malam itu: seorang perempuan, pengantin baru, tiba-tiba menjerit ketakutan, lantaran suaminya, setelah menunaikan hajat bercinta, ia dapati telah menjadi batu.

Mulanya, pengantin itu tak percaya dengan penglihatannya. Baru saja ia berhubungan badan dengan suaminya. Selepas itu, mereka bahkan sempat omong-omong, perihal masa depan, perihal jumlah anak yang mereka inginkan, perihal rumah tangga yang akan mereka bangun bersama. (more…)

Advertisements

Perihal Sial Seminggu
February 6, 2016


Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 06-07 Februari 2016)

Perihal Sial Sehari ilustrasi Munzir Fadly.jpg

Perihal Sial Seminggu ilustrasi Munzir Fadly

Ahad

Pagi, setelah membeli Koran (yang kabarnya memajang puisiku) aku mendatangi kafe kecil langgananku. Kafe itu masih sepi sebab aku datang terlalu pagi. Aku tak tahu persis jam berapa waktu itu. Sebelum aku membuka koran, seorang perempuan tiba-tiba duduk di sebelahku. Bajunya ketat, roknya pendek. Rambutnya hitam dan panjang. Poninya rapi. Ia tersenyum dan giginya tampak bersih. Bekas cacar di sudut kanan bibirnya membuat ia makin manis saja. Ia mendekatkan duduknya ke dudukku.

“Mas penyair, ya?” (more…)

Telur
June 1, 2014


Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 1 Juni 2014)

Telur ilustrasi Munzir Fadly

BEGINI awal yang kutahu: aku lahir—mungkin yang tepat bukan lahir, tapimerucut—sebagai telur, dan bukan berwujud bayi ayam. Ayam yang melahirkan aku adalah babon blorok, bekisar ayam bangkok dan ayam kate sekaligus. Artinya, ibuku adalah hasil kawin silang ayam bongsor dan ayam ceper. Tentu bisa kaubayangkan bagaimana bentuk babon yang melahirkan aku. Dan betul. Babonku adalah ayam yang tidak tinggi. Juga tidak pendek. Bolehlah dibilang sedang.

Begitu riwayat singkat babonku. Tapi sebentar. Sebagai calon ayam zaman sekarang, aku tak bisa membayangkan bagaimana kakekku dari ras ayam bangkok melompat dan menaiki nenek dari ras kate. Umat manusia—tuan para ayam—yang hidup di zaman Kompeni tentu mudah membayangkan persetubuhan macam itu. Sebab, masa itu memang sudah biasa lelaki Kompeni berbadan tinggi besar itu dengan sembrono menyetubuhi wanita pribumi. Tapi siapa tahu ada juga wanita pribumi yang diam-diam merasa nikmat disetubuhi Kompeni? Untuk kasus kakek dan nenekku, aku betul-betul tak bisa membayangkan bagaimana derita ayam kate ketika dinaiki ayam bangkok. Atau, jangan-jangan, kakekku memang terobsesi Kompeni. Tapi tidak penting menceritakan Kompeni di sini. Yang penting adalah mengusut persilangan sembrono kedua jenis ayam itu, yang menjadikan aku hadir ke dunia sebagai sebutir telur.  (more…)

Selembar Daun
August 4, 2013


Cerpen A Muttaqin (Koran Tempo, 4 Agustus 2013)

Selembar Daun ilustrasi Yuyun Nurrachman

DAUN ini, entah daun apa—bentuknya bergerigi dan gerigi itu masih seperti beranak-pinak lagi, seperti kombinasi daun sakun, pepaya dan daun ganja—yang entah jatuh dari ranting mana, memintaku jadi pohon. Suatu sore, di jalan pulang, tepat di sisi kelokan yang menghubungkkan langgar, pasar krempyeng, pos ronda dan klinik bersalin, daun itu tiba-tiba bangkit dari tanah dan menghadang langkahku.

“Aku mohon, jadilah kau pohon, agar aku bisa menggantungkan tubuhku. Aku daun yang terkutuk. Angin telah menerbangkan aku ke tujuh penjuru, tapi tanah dan air tetap menolak. Aku mohon, jadilah pohon….”  (more…)

Trilogi
June 2, 2013


Cerpen A Muttaqin (Kompas, 2 Juni 2013)

Trilogi ilustrasi Ipong Purnomo Sidhi

1/ Dan salah satu tanda kebesaran Tuhan adalah diciptakan ihwal lucu, sekaligus ambigu. Seperti peristiwa ajaib yang tiba-tiba muncul di sumur itu.

Perlu kau tahu, ia adalah sumur tertua kota ini. Orang-orang percaya, seperti sumur Zam-zam yang melahirkan kota di tengah padang buas dan ganas yang bernama Makkah, sumur itulah yang melahirkan kota ini. Tak ada yang tahu pasti asal-usul sang sumur. Warga kota yakin, sumur itu termasuk sumur tiban. Sumur yang tak dikeduk tangan manusia. Namun Uripan, satu-satunya dukun yang masih bertahan di kota ini ngotot, bahwa sumur itu sesungguhnya adalah jelmaan kemaluan seorang perawan yang memilih mati daripada diperkosa burung besar dan kasar, sejenis unggas tua yang menurut mulut Uripan, persis seperti wujud burung zaman purba. (more…)