Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 27 Desember 2020)

Teror Kenapa ilustrasi Isa Perkasa - Kompas

Setelah membunuh musuh, aku merasa bertanggung jawab untuk merawat bayi yang ditinggalkannya. Orok itu tidak harus menanggung dosa orangtuanya. Aku setuju dengan Kahlil Gibran yang membelajarkan kita melihat anak bukanlah milik kita, tapi titipan Tuhan. Lalu kulindungi, kurawat, kutumbuhkan, kukembangkan dan kubelajarkan anak- itu di tempat terbaik yang tak akan mungkin diinjaknya kendati pun orang tuanya berusaha setengah mati.

Alhamdulillah ia cemerlang, siap jadi orang dengan prospek yang sangat meyakinkan. Ia nampak bahagia dan aku pun bangga. Hanya ada bisul bernanah di batinku yang hampir pecah. Aku merasa berdosa. Aku tak berhak membutakan mata calon bunga bangsa itu selamanya. Aku baru puas tuntas kalau sudah berterus-terang menceritakan siapa sebenarnya dia dan siapa sejatinya aku.

Setelah 25 tahun mengunci misteri, pada suatu hari aku ajak dia sarapan pagi. Lalu kubuka kedokku. Sambil meletakkan pistol di atas meja. Senjata yang dulu kupakai menghabisi orangtuanya. Dengan sebuah peluru di dalamnya yang bisa ia tembakkan ke kepalaku, aku kira itu hadiah yang pantas. Karena aku telah membunuh orang yang tak bersalah. Kemudian aku paparkan secara rinci dosaku. Semua terkuras sehingga aku merasa plong.

Aku tahu ia akan meledak terkejut tetapi aku siap. Tak ada yang lebih membahagiakan dari berhasil mampu, berani menelanjangi semua dosa tanpa ada yang memaksa. Seperti kembali dilahirkan, setelah pengakuan habis itu, aku merasa segar. Ekstase. Tapi apa yang kemudian terjadi begitu aneh. Setelah mendengar pengakuanku, putera musuhku dan kini putraku, diam lama sekali.

Ketika kemudian menatapku, ya Tuhan, aku tak pernah melihat pandangan mata yang begitu pedih. Dan itu ganjaran yang sangat setimpal dengan dosaku.

Aku sudah tahu, katanya dengan suara bergetar.

Aku terkejut.

Tahu?

Ya, aku tahu, Pa. Aku sudah tahu.

Kemudian air mata menetes deras di pipinya.

Aku sudah tahu, Papa, aku sudah tahu. Tapi kenapa Papa bilang itu padaku?

Aku tersirap. Sebelum aku bisa menjawab, dia meraih pistol lalu menembak kepalanya sendiri.

PAIJO

Paijo memiliki wajah keren dan tubuh yang ideal. Yang tak dimilikinya hanya keberuntungan hidup. Anaknya 5, masih remaja semua. Seperti bapaknya anak Paijo semua memiliki wajah dan tubuh kelas satu. Tapi sama dengan bapaknya, masa depan kelimanya gelap.

Paijo jadi stres. Untung ia buka Youtube tentang transplantasi wajah dan kepala. Ia jadi dapat inspirasi. Dengan tabungan hasil narik becak 3 bulan, ia pasang iklan menawarkan wajah dan tubuhnya untuk ditransplantasi asal biaya hidup dan pendidikan kelima anaknya sampai semua lulus S1 ditutup.

Tak terduga melihat tampang dan potongan Paijo seabrek peminat menjawab. Hanya malangnya, peminat merasa wajah dan tubuh Paijo walau selangit, sudah agak ketuaan. Mereka ingin wajah dan tubuh remaja, yang sesuai dengan anak mereka yang akan memakainya. Mengenai teken prestasinya buat pendidikan sampai S1, no problem.

Paijo jadi bingung sekali. Setelah seminggu mengalami tekanan batin sampai beratnya amblas 10 kg, malam itu Paijo mengumpulkan kelima anaknya. Ia ajak bicara dan bercanda sampai jauh malam, untuk memilih anak yang mana yang akan dijadikannya pahlawan untuk menyelamatkan yang lain.

Besok pagi adalah hari penentuan. Sampai dinihari ia tidak tahu yang mana pilihannya. Dan akhirnya ia tertidur kecapaian, tanpa mengetahui kelima anaknya juga sudah tahu mereka sedang dites untuk dipilih. Bahkan juga sudah punya inspirasi yang akan mereka laksanakan sebelum fajar.

Cerita itu saya tulis setelah nguping berita yang didengarkan istri saya dari “Youtube” tentang transplantasi wajah dan kepala yang sedang ditekuni RRC yang ingin unggul di segala aspek. Tapi di ending-nya saya berdebat keras dengan diri saya sendiri. Apa Paijo akhirnya akan asal tunjuk salah satu anaknya demi menyelamatkan empat lainnya atau anaknya membunuh Paijo. Lalu pesan moralnya apa. Apa hanya bikin teror dan menjaring banyak peminat seperti yang dilakukan stasiun TV. Saya tak punya nyali untuk memutuskan. Akhirnya saya berhenti di situ dan menyerahkan keputusan pada pembaca. Lalu tidur. Subuh saya terbangun. Setelah berdebat kembali, saya ambil keputusan sebagai berikut:

Tidak seorang pun dari kelima anak Paijo itu rela salah satu dari mereka jadi korban. Meskipun dimuliakan dengan gelar pahlawan.

“Kami memang berlima tetapi satu. Kami harus tetap terus satu berlima.”

Sebelum fajar bangkit, hanya dengan mengenakan pakaian yang melekat di tubuhnya kelimanya kabur meninggalkan rumah dengan sebuah pesan: “Jaga kesehatan, Pak. Kami semua sayang. Bapak. Jangan cemaskan kami, kami akan berjuang.”

HOAKS

Sebagai Wakil Warga, aku setuju pada komitmen “pamit-mati”. Aku bukan menggantikan warga, tapi mengabdi warga. Pamrih pribadiku sudah dibasmi, aku seratus persen membela kepentingan warga. Karena itu, ketika meledak kabar di Dusun X ada ayam ajaib yang bisa bicara dan memberikan hoki bisa jadi mendadak kaya, aku langsung mau bertindak. Sebab itu pasti hoaks. Tapi karena urusan numpuk sebagai Wakil Warga, rapat ini-itu, studi banding ke sana-kemari, setahun misi pembersihanku baru terlaksana.

Supaya bisa menangkap tangan basah, aku berangkat malam. Subuh tiba dan langsung mau melabrak rumah hoaks itu. Tapi antrean sudah 1 Km. Warga bisa ngamuk kalau aku nyerobot masuk. Aku tahan emosi dan pasang strategi. Kalau mereka tahu aku WW, aku takut mereka cepat menghilang. Setelah 3 hari menunggu, akhirnya aku dapat giliran masuk ketemu ayam keparat itu di dalam sebuah kamar yang didandani dramatis.

Aku tak bisa menahan marahku. Kewarasan/kebenaran harus ditegakkan! Aku dekati ayam itu dan cekek sampai mampus. Langsung keluar dan kabur. Di tengah jalan pulang, entah kenapa mobilku mogok. Terpaksa bermalam. Esok paginya sebelum berangkat pulang, aku berak di kali. Tiba-tiba hanyut bangkai seekor ayam. Entah kenapa bangkai ayam itu nyangkut dekat pantatku. Ketika aku selidiki, ternyata itu ayam yang kucekek kemarin.

Aku tertawa puas terbahak-bahak. Misiku membebaskan warga dari tahyul, berhasil. Tapi dalam perjalanan pulang, aku terkejut. Dusun super minus di lepitan bukit kering kerontang itu, sudah berubah. Jalanan beraspal, sepanjang jalan banyak penginapan dan rumah makan. Bahkan ada hotel bintang lima sedang dibangun.

Jalanan ramai kendaraan mengangkut wisatawan yang ingin dapat hoki dari ayam ajaib itu. Ternyata Dusun X jadi makmur dan penduduknya yang miskin kini rata-rata punya penghasilan. Mentalku jadi terteror. Sampai di rumah sudah banyak wartawan menunggu. Aku juga sudah dicanangkan akan diwawancarai TV. Setelah merenung dalam, aku bikin pernyataan.

“Di luar dugaan kita, Dusun X maju karena penduduknya sudah bosan miskin. Wisata kuliner dan keramahan penduduknya membuat mereka maju. Tentang ada hoaks ayam ajaib, itu mungkin ekspresi keirian dusun lain melihat Dusun X begitu maju!”

Pernyataanku membuat Dusun X makin malangit. Maka datanglah godaan setan. Istriku mengadu, Kepala Desa Dusun X diam-diam datang memberikan amplop tebal. Aku jadi ngamuk.

Kembalikan teriakku, kesetanan.

Istriku kaget.

Lho, kok dikembalikan, 1 M Bang!

Aku terkejut, 1 M?

Ya, Bang! Satu M!

Suara istriku gemetar. Aku tambah marah.

Gila! Kenapa hanya satu, bukan tiga atau lima M?

 

Jkt, 2018/19

Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon.

Isa Perkasa. Lahir di Majalengka 21 Juni 1964. Pada 1997 mengikuti residensi seniman di Tsuna, Jepang, lalu pada 1999 di Pacific Bridge Galery, Oakland, CA, USA. Sejak 1992 hingga sekarang menggelar puluhan pameran tunggal maupun gabungan. Juga tercatat sejak Tahun 1988 hingga kini banyak membuat karya dan membentuk kelompok performance art, di antaranya kelompok Sumber Waras, Kelompok Perengkel Jahe dan Kelompok Nyeuneu Nyeni.