Cerpen Farizal Sikumbang (Republika, 20 Desember 2020)

Ikan-Ikan tak Lagi Datang di Rumahmu ilustrasi Rendra Purnama - Republika

Memasuki usia lima puluh lima tahun, ia mengalami kesedihan hidup yang tak tertanggungkan. Pertama, karena penyakit lumpuh yang menyerangnya sehingga ia sulit sekali melakukan rutinitas hidup sehari-hari. Kedua, kesedihan yang tak berujung atas kematian anak bungsunya satu tahun yang lalu. Dan yang ketiga perangai anak perempuan dan menantunya yang kurang ajar kepadanya.

Di dalam rumah yang kini sangat sederhana itu, yang hanya terdiri dari dua kamar tidur dan beberapa dinding papan rumah yang sudah keropos, ia merasa hidup seperti menjepit kebahagiaannya. Dan kesedihan itu makin berbuncah saat ia sendiri di rumah. Sering kali ia mengalami kelaparan dari pagi sampai sore karena tidak ada makanan.

Dalam sedih dan lapar tentu ia mengutuk anak dan menantunya itu. Mengapa tidak menyediakan sarapan untuknya sebelum meninggalkan rumah. Dalam kesedihan dan kesusahan hidup yang mendera, sering kali pula muncul pertanyaan seperti ini di kepalanya: Dosa apa yang telah kau perbuat Limah, sehingga di hari tua kau terlunta dan mengalami penderitaan yang seperti tak tertanggungkan?

Dan entah mengapa pula, setelah pertanyaan itu lenyap di kepalanya, ia teringat almarhum suaminya. Ia menikah di usia 25 tahun kala itu. Suaminya seorang pelaut, tapi ia sangat bahagia. Sebab suaminya mampu memberi materi yang lebih baginya.

Bila dibandingkan dengan para tetangga di kampungnya yang mayoritas petani itu, tentu ia lebih berpunya. Lebih-lebih saat suaminya pulang melaut. Maka akan berlimpahlah beberapa jenis ikan di rumahnya. Tentu tidak lupa suaminya akan memberi setumpuk uang dengan jumlah lumayan banyak. Saat-saat seperti itulah yang membuat hatinya sangat bahagia. Terkadang itu pulalah yang membuat tetangganya cemburu dengan berkecukupannya.

“Kau sungguh beruntung mendapatkan seorang suami pelaut Limah. Kau selalu berkecukupan, sedangkan kami, hasil panen selalu tak baik,” ujar tetanganya suatu hari.

Dengan senyum mengambang Limah berujar pula, “Alhamdulillah, suamiku seorang pelaut yang cemerlang. Katanya ia selalu bergairah melaut menjaring ikan setelah mengawiniku, kau tahu?”

Perempuan beranak satu yang lebih banyak hidup selalu kekurangan itu tentu saja menjadi malu. Ia teringat suaminya yang kini lebih sering mengalami sakit daripada bekerja menafkahinya itu.

“Salah kau juga dulu tidak mau kawin dengan seorang pelaut,” ujarnya lagi kepada perempuan itu.

“Kau jangan mengungkit masa laluku, Limah. Aku bertambah malu padamu,” katanya merendah.

“Dan aku akan buktikan padamu Hasnah bahwa aku akan bahagia sampai tua dengan seorang suami pelaut,” ujar Limah menutup percakapan pada siang itu.

Dan nyatanya, bertahun-tahun lamanya, ia memang hidup rukun dengan suaminya. Sampai ia punya anak dua, suaminya masih mampu memberikan kebahagiaan. Bahkan, rumah panggung yang ditempatinya itu makin lama makin terlihat lebih mewah daripada rumah tetangga karena beberapa papan depan rumah sudah diganti dengan kayu berukiran dari Jepara.

Ketika suaminya sedang melaut untuk beberapa hari, Limah selalu menunggu kepulangannya dengan senyum mengambang. Membayangkan suaminya membawa beberapa jenis ikan kesukaannya. Ia akan senang sekali jika suaminya membawa ikan kerakap dan gerapu. Ikan-ikan itu akan ia bakar di tungku dan tentu memberinya bumbu-bumbu hingga membuat perutnya terasa begitu lapar mencium aromanya yang menusuk hidung.

“Aku tak salah memilihmu sebagai istri, Limah, seleramu adalah selera seorang pelaut. Kau tahu mana jenis ikan yang enak untuk dibakar. Kau juga tahu mana ikan yang cocok untuk dibuat asam pedas. Kau tahu Limah, di laut, tenagaku selalu berlipat-lipat kekuatannya menjaring ikan bila mengingatmu. Dan itu makanya, tangkapan kapal kami selalu menghasilkan ikan yang melimpah. Toke pemilik kapal makin perhatian padaku, Limah. Dan ini, juga berkat kau Limah,” puji suaminya yang pelaut itu suatu malam.

Ia tentu saja tersipu-sipu mendapatkan pujian dari suaminya itu. Bahkan, sampai saat ini pun, bila suaminya tidak ada di rumah dan ia terkenang kejadian itu, ia tetap saja tersenyum-senyum sendiri.

Maka tak heran jika suaminya sedang melaut di lautan lepas untuk beberapa hari lamanya, ia selalu merasa riang karena membayangkan bahwa setiap detik pastilah suaminya selalu teringat padanya. Ia tidak punya perasaan khawatir atau cemburu jika suaminya berpaling pada perempuan lain. Apalagi bila mengingat, bukankah di tengah lautan tidak ada perempuan? Mengingat hal itu terkadang ia tersenyum sendiri merasakan enaknya menjadi istri pelaut. Tak ada cemburu.

Ia merasa beruntung, jika dulu menolak pinangan beberapa lelaki yang berprofesi sebagai pedagang. Jika tidak, tentulah sebagian hidupnya akan dihantui rasa cemburu akan ketakutan suaminya berpaling pada perempuan lain. Ia teringat pada beberapa kawannya yang kini sering bersitegang dengan suaminya karena rasa cemburu pada perempuan lain.

Limah juga bersyukur dalam hati, bahwa niatnya untuk tidak menikah dengan seorang petani benar-benar terwujud. Baginya, menikah dengan seorang petani hanya akan membawanya ke kancah kemiskinan. Ia sudah mengalami itu bersama ayah dan ibunya.

Ia teringat bagaimana susah payah ayahnya mencangkul sawah dan ladang. Ia juga selalu mendengar rintihan ayahnya tentang hasil panen yang tak menguntungkan karena diserang hama penyakit. Ia juga tak lupa bagaimana ayahnya penuh gembira mendapatkan hasil panen cabai yang melimpah, tetapi akhirnya mesti menangis karena dibeli dengan harga yang sangat murah. Ia tidak ingin memiliki suami dengan nasib serupa ayahnya itu kelak. Maka ia telah bersumpah dalam hati tidak akan menikah dengan lelaki petani.

Dan begitulah Limah kini, menjalani hidup sebagai istri seorang pelaut. Jika istri-istri lain menunggu kepulangan suaminya dengan dada berdebar dan kecemasan, ia selalu menunggu kepulangan suaminya dengan senyum mengembang.

Namun, suatu hari Limah tidak kuasa menolak kegelisahan menunggu suaminya pulang melaut. Ini sungguh sangat berbeda dari hari biasanya. Ia sudah mencoba tersenyum menjalani rutinitas hidup, tetap saja tidak pernah bisa. Ia coba tenangkan diri tapi juga tidak pernah bisa. Kegelisahan sungguh mendesaknya dan ia tidak mampu berpaling dengan kenyamanan hidup.

“Wahai lautan dan ikan-ikan yang berenang di dalamnya, ada apa dengan suamiku,” batinnya.

Limah benar-benar terduduk begitu saja di tangga rumahnya setelah beberapa orang pelaut membawa tubuh suaminya yang lunglai. Tangan kanan suaminya tak bisa digerakkan. Kaki kanannya lumpuh.

“Mungkin karena suamimu bekerja tak pernah mengenal lelah di tengah lautan sehingga membuatnya begini,” ujar seorang pelaut yang berbadan besar.

“Saya sudah sering menasihatinya, agar tidak memaksakan diri bekerja jika sudah lelah, tapi suamimu ini tak pernah mendengar aku,” kata yang lain pula.

Limah mendengar kata-kata dua orang pelaut itu seperti angin lewat. Pikiran ke depan bagaimana suaminya menafkahinya seperti bola kecil yang lambat laun membesar di kepalanya. Limah benar-benar takut dengan kehidupan yang akan dilaluinya untuk hari-hari ke depan.

Hanya satu bulan suaminya mengalami sakit, ia sudah dihinggapi rasa bosan dan jenuh pada lelaki itu. Apalagi ia begitu tersiksa jika hampir setiap hari mesti membantu tubuh suaminya berjalan. Maka tak heran jika ia mulai terang-terangan tidak mau mendengarkan suaminya jika lelaki itu membutuhkan bantuannya.

“Apakah kau sudah bosan padaku Limah sehingga kau mulai tak hirau padaku?” ujar suaminya itu suatu hari.

Limah tidak menyahut, meninggalkan suaminya itu seorang diri.

Beberapa bulan kemudian, ia mendapati suaminya tersungkur di kamar mandi dengan tubuh sudah kaku. Di kening lelaki itu terdapat bekas benturan benda keras. Limah yakin bahwa suaminya meninggal karena tergelincir di lantai kamar mandi. Pada saat itu kedua anaknya sudah duduk di bangku SMA.

***

Limah merasakan lapar semakin begitu menggigit isi perutnya. Ia kembali menyerapahi anak dan menantunya itu. Kini hari telah menjelang sore. Dan ia tahu anak dan menantunya itu baru pulang menjelang shalat Isya.

“Ibu harap maklum, kami bekerja berjualan di pasar dari pagi sampai malam biar hidup tidak susah.” Kalimat itu pernah diucapkan anak perempuannya suatu hari ketika ia protes mengapa mereka tidak memedulikan dirinya.

Limah mengutuk diri, sejak sebelah tangan dan sebelah kaki kirinya lumpuh lima tahun yang lalu ia makin tersiksa menjalani hidup sehari-hari. Dengan pelan, ia mencoba bangkit dari duduknya. Badanya sungguh terasa berat. Ia hendak ke kamar mandi. Celananya sudah basah karena tak mampu menahan kencing. Ia menyeret kakinya teramat pelan. Ia melihat lantai rumah itu seperti lautan. Dan ia berenang di tengahnya. Limah sungguh tak yakin bisa sampai di kamar mandi itu. Hanya dua langkah kakinya baru terayun, ia sudah jatuh ke lantai. Dan malam tiba-tiba saja sudah berada di matanya

“Dosa apa yang telah kau perbuat Limah, sehingga di hari tua kau terlunta dan mengalami penderitaan yang seperti tak tertanggungkan?” Setelah itu malam benar-benar membunuh Limah. ■

 

Banda, 2020

Farizal Sikumbang adalah guru SMA 2 Seulimeum, Provinsi Aceh, yang juga pegiat sastra. Bukunya yang sudah terbit adalah Kupu-Kupu Orang Mati (2017) dan Perempuan dalam Prahara (2019).