Cerpen Reni Nuryanti (Jawa Pos, 13 Desember 2020)

Bibir yang Tercecer ilustrasi Budiono - Jawa Pos

Jelang pemilihan, banyak bibir berceceran. Di jalan, warung, pasar, kantor lurah, bahkan tempat ibadah. Bibir-bibir itu mengandung umpan dan kerap menjerat kaum kere. Bibir-bibir penuh pesona yang membuat mereka tergila-gila untuk melumatnya.

“EYANG Marjo mencalonkan diri jadi lurah,” kata Dirto sambil mengupas singkong dengan peret yang baru diasah.

“Masak iya, Dir? Eyang Marjo sudah sepuh. Usianya hampir tujuh puluh,” jawab Saryo sambil menaruh singkong yang telah dikupas ke dalam delebug.

“Eh, jangan salah. Sepuh itu yang ampuh. Buktinya yang muda tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Jangan sembarangan ngomong, Dir! Itu sama saja kau menghina Lurah Mingun.”

“Nyatanya, kita juga cuma jadi tukang malen. Tukang ngglondong. Paling hebat jadi tukang lagan di saat hajatan.”

“Wong cilik memang begini nasibnya, Dir. Syukur masih bisa hidup. Masih bisa makan meski hanya lalap jengkol dengan sambal tlenjeng.”

“Kau lupa lima tahun lalu Lurah Mingun janji apa pada kita?”

“Lupa, Dir. Terlalu banyak janji. Aku lupa menghafalnya.”

“Bukan dihafal. Tapi ditagih.”

“Ha…ha…ha…Memangnya dia utang apa sama kere seperti kita?”

“Loh, dia utang suara pada kita. Kita disuruh nyoblos gambarnya dengan janji akan diberi pekerjaan. Dia bilang akan menggunakan dana desa untuk memberdayakan para pemuda agar tetap tinggal di desa. Dana itu akan dialihkan untuk membuat peternakan sapi. Kita juga dijanjikan pelatihan untuk membuka industri rumah tangga. Membuat sale. Membuat keripik singkong. Membuat kerupuk jengkol. Membuat gula semut. Membuat…Ah! pokoknya banyak membuat.”

“Membual, barangkali,” kata Saryo sambil tertawa.

“Ah! Kau hanya bisa tertawa.”

“Hidup memang terkadang perlu ditertawakan, Dir. Supaya kita tidak gila.”

Desa Cikapung memang patut bangga punya dua pemuda seperti Dirto dan Saryo. Mereka berdua lulusan sekolah dasar. Usia Dirto dan Saryo menjelang dua puluh lima tahun. Namun, mereka belum berpikir untuk berumah tangga seperti pemuda sebayanya. Bahkan barangkali tidak sebelum lepas dari jeratan kere. Nasib juga membawa mereka pada pilihan yang sama: tetap tinggal di desa meski kerja seadanya. Dirto dan Saryo enggan mengikuti jejak teman-temannya yang bekerja di kota seperti Bandung dan Jakarta. Ada yang menjadi kuli bangunan. Ada yang menjadi penjaga toko. Ada juga orang yang sukses berjualan bubur ayam dan bakso. Dirto dan Saryo tetap memilih berada di Cikapung. Mereka ingin meraup pengalaman dan menjadi saksi setiap perubahan.

Termasuk dalam satu dekade kepemimpinan Lurah Mingun. Kala masih berumur lima belas tahun, Dirto dan Naryo harus ikut pemilihan lurah. Padahal, usia belum membolehkan. Namun, Lurah Mingun pintar otak-atik gathuk. Umur Dirto dan Naryo dituakan dalam kartu tanda penduduk. Tujuannya agar mereka bisa ikut nyoblos di pemilihan lurah.

Demi suara dan janji yang menggiurkan. Dirto dan Naryo tentu saja mengiyakan. Lurah Mingun mengincar keduanya karena dianggap punya kelebihan. Dirto dan Naryo bisa pekerja apa saja. Membuat oyek, merumput, menanam padi, gepyok, gepuk, dan lainnya. Yang jelas, aneka kerja kasar mampu dilakukan dengan tuntas. Tentu saja Lurah Mingun punya harapan besar pada mereka. Sebab, meski bagian dari kaum kere, penduduk Desa Cikapung tetap mengelukan keduanya. Bahkan tidak sedikit gadis desa yang menaruh hati. Namun, Dirto dan Naryo tetap membujang. Mereka selalu berdalih, apa yang bisa diberikan kere? Adakah perempuan yang bersedia jika sewaktu-waktu hanya makan nasi campur garam? Tapi, Lurah Mingun memang cerdik. Dirto dan Naryo selalu menjadi ikon setiap kampanyenya. Ia berjanji bahwa di bawah kepemimpinannya, yang jelata bakal naik martabatnya. Dirto dan Naryo tentu saja merasa berbunga-bunga. Meski waktu membeberkan berdusta. Mereka tetap saja kere.

***

Pada pemilihan lurah kali ini, Eyang Marjo akan berkompetisi dengan Pamuji Laksana, sarjana kampus biru sekaligus anak kepala sekolah dasar di Desa Cikapung.

“Mentalitas Cikapung harus berubah!” Demikian kata Pamuji Laksana saat memberi sambutan acara karang taruna.

Tepuk tangan membahana. Eyang Marjo hanya senyam-senyum sambil mengisap Sriwedari. Sementara Lurah Mingun menatap tajam Pamuji Laksana. Ia sepertinya tertarik dengan kata: perubahan, mentalitas, etos kerja, spiritualitas, kemiskinan sistemik, dan budaya malu yang diucapkan pemuda itu.

Hingga suatu sore, Lurah Mingun tiba-tiba ingin memasuki Masjid Nurul Iman. Lama termangu, ia bergegas masuk masjid bercat kuning itu. Ia mencoba merenung, tapi telinganya sedikit terusik kala terdengar tawa dua lelaki. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Lurah Mingun kemudian mendekat ke pintu. Betapa terkejutnya dia melihat dua pemuda yang pernah menjadi bagian penting kampanyenya.

“Pak Lurah?” tanya salah seorang dengan wajah heran.

“Iya, bagaimana kabar kalian?” tanya Lurah Mingun gugup.

“Baik, Pak,” jawab Dirto.

“Tapi masih kere,” sela Naryo sambil tertawa.

“Tumben Pak Lurah ke masjid? Biasanya berjamaah di kantor lurah,” lanjut Dirto sambil melirik Naryo.

“Kantor lurah sedang ramai. Nanti malam Eyang Marjo akan berpidato. Ini kampanye terakhir jelang pemilihan lurah. Kalian harus datang. Kalaupun beda pilihan, yang penting saling meramaikan. Eyang Marjo sesepuh kita. Mudah-mudahan akan membawa Cikapung lebih beruntung.”

Dirto dan Naryo saling pandang. Mata mereka kemudian beralih pada Lurah Mingun.

“Beruntung atau makin buntung, Pak?” tanya Dirto tiba-tiba.

Lurah Mingun terenyak. Matanya seketika memerah. Namun, ia segera mengalihkan pembicaraan.

“Kalian pemuda yang hebat, tidak tergoda untuk pergi ke kota. Itu artinya, kalian memang pejuang tanah kelahiran. Saat ini kalian boleh bilang kere. Tapi, aku yakin perjuangan membangun desa tidak akan sia-sia. Aku yang lebih tahu. Bagaimanapun, keringat kalian juga menetes di masjid ini. Kelak kalian akan menjadi manusia yang dihormati dan dibanggakan.”

“Pak!” sela Dirto.

“Ya,” jawab Lurah Mingun.

“Saya sungguh mengagumi ucapan Pak Lurah. Jika suatu saat aku berkampanye, aku ingin meminjamnya. Mudah-mudahan ucapan itu sampai di alamat yang tepat. Mudah-mudahan tidak berceceran. Sayang, Pak, jika kalimat indah justru menjadi sampah,” kata Dirto dengan wajah masam.

“Dir!” bentak Naryo.

“Tidak apa-apa. Anak muda memang harus berani. Pantang menjadi pecundang,” kata Lurah Mingun dengan tenang meski hatinya bagai dihantam bara.

***

Malam Minggu kali ini terasa gegap gempita. Lampu-lampu jalan menyala terang. Sudut-sudut gang Desa Cikapung tak lagi temaram. Khusus malam Minggu kali ini, harus ada cahaya di mana-mana. Terutama sekitar kantor lurah. Malam itu kantor lurah disulap bagai suasana hajatan. Deretan kursi berbalut kain hijau muda mengelilingi podium. Di atas meja terhidang makanan, minuman, dan rokok. Para pemuda berlalu-lalang menyiapkan segala keperluan. Lima lelaki berseragam hansip juga berjaga-jaga sambil sesekali meneriaki anak-anak kecil yang mencoba menaiki kursi.

Para pedagang tampak sibuk melayani pembeli. Sejak pagi, mereka telah mendirikan tenda sebagai tempat menjual makanan. Ada yang berjualan pecel, karedok, bakso, soto, mi ayam, cilok, dan aneka jajanan. Pedagang mainan anak-anak juga turut meramaikan. Mereka berkeliling sambil membawa balon, mobil-mobilan, dan hiasan rambut anak perempuan.

Hampir semua penduduk datang ke kantor lurah. Mereka ingin menyaksikan Eyang Marjo berpidato. Selama sepuluh tahun, Eyang Marjo hanya dikenal sebagai penasihat Lurah Mingun. Laki-laki sepuh itu yang memberi saran, anjuran, dan bahkan larangan. Penduduk menganggap, Eyang Marjo itulah sebenarnya lurah Desa Cikapung. Lurah Mingun hanya numpang pulung.

“Mirip lima tahun lalu. Saat Lurah Mingun kembali mencalonkan diri,’’ kata Dirto sambil mengalungkan sarungnya.

“Kau berharap Eyang Marjo yang terpilih tahun ini?” tanya Naryo sambil menyulut Gudang Garam.

“Ini pilihan yang sulit. Aku tahu luar dalam Eyang Marjo. Tapi sayang, aku tidak kenal Pamuji Laksana.”

“Itu artinya kau bakal golput?”

“Tidak juga. Memilih itu penting.”

“Jadi, kau mau pilih yang sepuh atau yang muda?”

“Apa pun pilihannya, kita tetap saja kere.”

Naryo terkekeh sambil mengisap rokok. Matanya beralih pada Dirto sambil mengatakan, “Kere juga bisa bahagia.” (*)

 

Aceh, Oktober 2020

RENI NURYANTI, Dosen Sejarah Unsam, penulis sejarah dan sastra.