Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 09 Desember 2020)

Saya dan Kak Inung (Yogyakarta, 2019)
Saya dan Kak Inung (Yogyakarta, 2019)/dok. pribadi

Saya dulu sering kesal sama Kak Inung, acting coach kelas seni peran Benny Institute, yang selalu keberatan atau bahkan menolak apabila panitia atau peserta tiba-tiba mendaulat laki-laki 55 tahun itu membacakan puisi atau bermonolog di sebuah acara. Tapi, ketika dalam suatu kesempatan dia menjelaskan, saya pun terdiam.

“Saya belajar teater di ASDRAFI berdarah-darah. Bagaimana wiraga, wirama, wirasa adalah sebuah keterampilan yang ada ilmunya. Bukan feeling dan instingtif semata. Karena kesadaran akan itu, pantang bagi saya tampil apa-adanya di depan publik.”

“Tapi, kan, Kak Inung melakukannya, maksudku tampil bagus, secara spontan, ‘kan?”

“Bisa saja,” katanya yakin, “tapi akan lebih bagus lagi kalau saya diberi persiapan. Mengapa?” tanyanya retoris. “Karena saya percaya, sesuatu yang bagus tidak bisa semata mengandalkan kepercayaan diri atau kemampuan dasar yang sudah ada dalam diri. Latihan atau menguji-coba model tampilan adalah proses kreatif yang harus dilakukan seorang kreator,” terangnya meyakinkan.

Saya tiba-tiba teringat sekaligus membandingkannya dengan profesi saya sebagai penulis. Yang menulis draf pertama, kedua, ketiga, atau bahkan tujuh lima sebelum menyebutnya karya, sebelum melemparkan ke publik.

“Bayangkan kalau saya tampil apa-adanya atau cukup sebatas bagus,” ia terdengar bersemangat, “orang akan menganggap dunia teater atau bahkan pemanggungan teks seperti pembacaan puisi atau monolog tidak ada istimewa-istimewanya. Toh, cuma seperti itu, kami juga bisa—cibir awam!”

Saya mau menyela, tapi tidak tahu mau bilang apa.

“Dunia berkesenian ini sudah sepi, merana, dan jauh dari perhatian,” nadanya menyendu, “jangan dirusak oleh seniman itu sendiri dengan menunjukkan kesenian yang gampangan dan serampangan. Perangai banci panggung, buanglah jauh-jauh!” intonasinya cepat sekali berubah: meninggi dan emosi.

Tiba-tiba saya teringat, tahun 2012 lalu, ketika meminta Kak Inung memonologkan cerpen “Bujang Kurap” dalam peluncuran buku berjudul sama karya Suwandi Syam, beliau butuh waktu dua pekan dan puasa beberapa hari demi penampilan yang prima—dan dia benar-benar membereskannya!

Lalu, saya teringat perangai beberapa anak kelas seni peran yang mengeluh lamanya waktu persiapan—hingga empat bulan lamanya dengan latihan rutin hingga 4 kali sepekan—untuk sebuah pementasan. Lalu saya teringat beberapa penulis yang minta saya koreksi cerpennya dan ketika saya mengeluhkan kacau-balaunya tulisan, dengan entengnya mereka bilang, “Emang belum diedit, Bang” sementara saya sendiri biasa melakukan belasan hingga puluhan kali penyuntingan dan pembacaan ulang sebelum menyerahkannya kepada pembaca draf alias first reader. Lalu saya teringat film-film pendek dalam sebuah festival yang saya jurikan yang membuat saya bertanya-tanya: apakah putri saya yang berusia 8 tahun yang sudah bisa mengedit video dengan kinemaster itu juga bisa disebut sineas kalau film yang mereka buat seamburadul ini, sementara ada film yang hanya dua menit di luar sana dibuat dengan riset 5 tahun?

Kata penulis skenario peraih Piala Citra, Salman Aristo dalam sebuah kelas yang saya ikuti: bahkan masih ada penulis (skenario) yang tidak bisa membedakan antara memapah, membopong, dan menggendong, dan mereka dengan percaya dirinya menulis skenario film panjang!

Penggampangan adalah masalah utama dunia kreatif kita hari ini. Pernyataan ini saya nukil dari Salman Aristo yang juga mengutip Garin Nugroho ketika membincangkan kualitas film-film Indonesia yang menurut mereka mengenaskan.

Mulanya sulit percaya, sebelum kemudian rekan dekat saya yang sedang menjalankan syuting pertamanya untuk film panjang mendapatkan kenyataan bahwa semua pemain (termasuk pemain utama) hingga acting coach dan asistennya, merasa tidak perlu membaca novel atas skenario adaptasi yang akan mereka lakonkan! “Skenario hanya panduan. Kami diberi kebebasan untuk berimprovisasi atau mengubah dialog kalau dirasa lebih pas!” Jujur, saya langsung syok. Pertama, saya sedang beriman-imannya bahwa film yang bagus berasal dari skrip yang bagus. Saya masih ingat, bagaimana Salman menunjukkan begitu persisnya adegan dan dialog yang dimainkan Adam Driver, Scarlett Johansson, atau Laura Dern dengan yang tertulis di skenario besutan Noah Baumbach.

Setali tiga uang dengan realitas mengenaskan di atas, beberapa hari yang lalu, Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) baru saja memberikan penghargaan Anugerah Batanghari Sembilan kepada seorang pelestari bahasa di bawah kategori Sastra. Saya mati kata dan geleng-geleng kepala. Bagaimana kecerobohan itu melumut dan berkerak. Sastra adalah kerja mencipta teks dengan muatan estetika, bukan tentang melestarikan, mengkaji, meneliti atau kerja studi atas teks. Bias definisi sehingga menyerahkan “kamar Sastra” kepada “bahasa, filologi, literasi, atau sejenisnya” adalah bentuk pelecehan terhadap sastra dan sastrawan (Sumsel) yang terus berkarya dan berkhidmat dengan sastra! Lebih gawatnya, TOR yang DKSS rilis dengan menyatakan (calon) peraih penghargaan adalah seniman yang aktif menerbitkan novel, kumpulan cerpen, buku puisi, dan naskah drama, dalam tiga tahun terakhir, sedikit pun tidak terpenuhi si penerima penghargaan. Lebih mengenaskannya lagi, penggampangan itu dilakukan lembaga yang seharusnya mengapresiasi kesenian!

Saya baru ngeh kenapa Kak Inung menolak mengirimkan portofolio untuk ajang di atas ketika saya bilang kalau ia sangat perlu dipertimbangkan DKSS untuk mendapatkan Anugerah Batanghari Sembilan beberapa tahun yang lalu. Saya memang tidak mengejar jawabannya. Tapi, sebagai seniman yang menolak penggampangan, ia tidak mau meneroka lumpur hidup kesenian!

Ya, penggampangan itu bukan hanya buah kesengajaan melalaikan keterampilan dan keilmuan dalam kesenian, tapi juga hasil kerja sama keparat antara ketidaktahuan, kesoktahuan, ketidakpedulian, dan … pembiaran.*

 

Lubuklinggau, 9 Desember 2020

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Tiga novelnya yang akan terbit: Bulan Madu Matahari, Ethile! Ethile!, dan Cahaya di Bawah Cahaya. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan membawanya melakukan lawatan kepenulisan dan kebudayaan di 17 negara. Kini, ia mengampu Kelas Menulis terbuka di kanal Youtube-nya.