Cerpen Maya Sandita (Media Indonesia, 06 Desember 2020)

Bulan Sabit dan Kekasih ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia

“BULAN sabit tak pulang ke peraduan. Ia merengut ketika Matahari mengibaskan cahaya dalam sebentuk kibasan rambut. Senyumnya yang sempurna di langit gelap gulita seketika sirna ditelan pagi yang jingga. Aku kasihan melihatnya, maka kupikir sebaiknya ia kuambil saja. Kusimpan bersamaku sampai nanti senja tiba,” bualku. Aku berbisik sambil menaruh bulan di bawah bantal dengan sangat hati-hati.

Sebenarnya aku ingin menaruh bulan di bawah dipan. Tapi, takut ketahuan. Kamarku ini gelap sekali. Hanya ada cahaya yang masuk lewat jendela dan pintu berjeruji. Kadang bisa lebih terang dari ini. Hanya jika seseorang masuk mengantarkan makanan dan obat-obatan, mengganti sprei, atau menggantikan bajuku. Jadi, kalau bulan kutaruh di bawah dipan, akan ada cahaya yang berpendaran. Seseorang nanti akan masuk dan melemparkannya ke luar seperti sampah yang busuk. Tapi tidak, “Kau aman denganku, bulan. Kau aman.”

Kuusap bantal kumal dengan tanganku yang aku yakin tak kalah kumal. Kuusap dengan penuh kasih sayang yang bahkan sekecil debu pun tak kurang. Aku sangat berharap ia betah berlama-lama di sini, menemani sepiku yang sering tak dapat kuatasi.

Sejak kau pergi, sejak mereka membawaku ke mari, sejak sajaksajakku kemudian mati. Mati. Kau adalah ibu bagi aku yang seorang pujangga. Dari rahimmu-lah terlahir miliaran kata. Kucuri satu-satu, kubawa pulang, dan kuseduh dalam kopi pahitku. Kata-kata itu tak lain hanya cinta yang berbunga jutaan warna. Harumnya ialah semerbak rindu yang tak terpisahkan dari udara. Udara mesra yang menguap jadi awan lalu jadi hujan yang membasahkan.

“Tidak akan gigil aku, jika kau janjikan padaku setiamu,” kau bicara sembari getaran bibirmu kautahan.

Kau kudekap semalaman.

Namun sungguh sial, sebab rupanya kisah Romeo dan Juliet terus menggelinding sepanjang masa. Menggiling anak cucu penulisnya hingga sampai pada kita berdua. “Kau hanya seorang penyair saja! Anakku tidak akan kenyang makan kata-kata!” hardik bapakmu ketika aku datang melamar. Aku tak menyerah, meski akhirnya ditampar.

Mataku terang bisa melihatmu berdiri di ambang pintu kamar. Ibu melarangmu keluar. Tak mengapa. Aku bisa mengerti kenapa begitu keras bapakmu menjaga seorang anak perempuannya. Aku memberimu senyum seolah berkata, “Aku baik-baik saja.”

Tapi darah yang mengalir di sudut bibir membuatmu bicara sesuatu yang aku tak habis pikir. “Bapak, kumohon izinkan ia menikahi aku yang tak lagi perawan.”

Gelegar suara bapakmu, gemetar tangan ibumu, sementara dadaku bak digempar oleh kata-katamu. “Sejak kapan? Bukankah setiap malam kita hanya melihat bulan atau bermain hujan? Bukankah sejak kecil hanya aku lelaki yang kau harapkan? Apa yang barusan kau katakan?” Kalimatkalimatku tercekat di tenggorokan.

Bapakmu tak bertanya, ia tak bicara apa-apa. Ia hanya mengambil bulan yang sejak lama ia curi dari langit dan ia sampirkan di pinggang. Ia tarik dari sarungnya bak seorang samurai menarik pedang. Kemudian kakinya menuju ke arahmu, tangan berbulan sabit itu diangkat lebih tinggi dari kepala , dan blas!!! Pekik ibumu nyaring menyaksikan kepalamu berguling.

Aku tak sanggup. Aku tak kuat menahan amarah yang sejak tadi mendidih meletup-letup. Kusongsong bapakmu, kurebut bulan sabitnya, kupancung kepala mereka berdua!

Sekejap saja, bulan sabit yang lama hilang dari langit kini ada di tanganku, di tangan seorang pujangga yang baru saja menebas dua kepala. Namamu kusebut kuat-kuat, bulan kugenggam kuat-kuat.

Aku tahu seharusnya bulan kukembalikan, tapi aku tak berniat memulangkan. Kubiarkan saja awan jadi mendung dan menangis meraungraung. Bulan tak akan kuserahkan, akan kusimpan entah sampai kapan. Kenang-kenangan, bahwa pernah seorang pujangga untuk pertama dan terakhir kalinya melawan selain dengan kata-kata.

Kubawa diri bersama bulan yang telanjang tadi. Hujan badai kutempuh sampai di tengah jalan desa ini. Lalu kubiarkan saja diri. Kuyup bersama luruh kenanganmu dari surga. Aku bisa merasakan ia berhasil menembus rambut hitamku hingga merobek kulit kepala yang membungkus batok kepalaku. Lalu batok itu dilubanginya, membuat celah bocor untuk sesuatu masuk ke dalamnya. Bercampur dengan otakku, bersetubuh dengan liuknya yang rumit itu. Benihnya melahirkan kembali sosokmu—yang abadi di kepalaku. Kau—yang jadi bahan cerita untuk anak-anak cicak di langit-langit ruangan abu-abu, atau jadi lagu nina bobo untuk sekumpulan semut yang tak mau berhenti mengunyah roti manisku.

Cicak dan semut mengangguk percaya ketika kuceritakan pula bahwa waktu itu orang kampung berhasil mengambil bulan dariku dan mengembalikannya ke langit. Mereka tidak tahu, saat aku rindu pada kekasihku, kucuri bulan dengan sejuta cara dan alasan. Takkan kukembalikan. Agar turun hujan, hingga aku dan gigilku dapat mengenang kasih kita yang berleraian. (M-2)

 

Batam, 20 Oktober 2020

Mengenang seorang wanita di Sulawesi Selatan

 

Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019). Sejumlah cerpennya pernah terbit dalam antologi juga media cetak lokal dan nasional.