Cerpen Triyanto Triwikromo (Jawa Pos, 29 November 2020)

Dunia Tak Ada Lagi di Einstein Kaffee ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Kau datang bersama kekasihmu dua jam sebelum pemilik toko sayap itu menembak siapa pun yang sedang minum kopi di Einstein Kaffee, di tengah kota Gerlin.

SETELAH mendapatkan tempat duduk, kau memesan cappuccino, kekasihmu memesan coffee latte. Dengan minum cappuccino, kaupikir kau akan bisa mengurangi kepenatan di kafe yang berada di samping stasiun kereta itu. Adapun dengan hanya menghirup aroma coffee latte, Schlangeus, kekasihmu, berharap merasakan kedamaian jiwa.

“Rasanya aku sudah tahu kapan aku akan mati,” gumammu sambil menatap punggung perempuan bertato burung funiks yang berdiri di depan kasir.

“Semalam aku bermimpi semua warga kota mengenakan topeng berwajah Wali Kota Grünes Meer,” gumam Schlangeus.

“Aku akan mati di sanatorium,” katamu lagi.

“Orang-orang bertopeng itu berdemo ke balai kota,” ujar Schlangeus.

“Aku tak menyangka aku akan mati sebagai penderita tuberkulosis.”

“Mereka menuntut agar Wali Kota Grünes Meer mengundurkan diri.”

“Kafka juga mati karena tak mampu membebaskan diri dari tuberkulosis.”

“Andai Wali Kota Grünes Meer bisa membebaskan warga dari tekanan untuk sembahyang bersama-sama 12 kali di Ieeres Haus, mungkin orang-orang bertopeng itu tak akan menuntut Wali Kota Grünes Meer mundur.”

“Aku belum menyelesaikan tulisanku tentang gubernur Zeit dan 15 kucing kesayangan.”

“Wali Kota Grünes Meer terlalu lembut mengatasi permintaan konyol Grosser Alder, pemimpin agama yang sok itu. Seharusnya Wali Kota Grünes Meer berani melawan Grosser Alder. Jika pengikut Grosser Alder memaksa warga untuk berdoa ke Ieeres Haus, wali kota harus berani memukul mundur para pengacau.”

“Sebelum mati aku ingin mengajakmu mendaki Gunung Zimmel.”

“Aku berharap wali kota Gerlin membujuk para pemuka agama lain melawan kesewenang-wenangan Grosser Alder. Jika terpaksa, wali kota Gerlin harus berani membunuh Grosser Alder.”

“Di Gunung Zimmel kita akan menemukan sungai yang jernih. Jika beruntung, kita akan berjumpa dengan kera-kera jinak. Kalau beruntung lagi, kita akan bertemu dengan arwah orang-orang suci yang bertapa di gua-gua. Ada yang bilang, di Gunung Zimmel kita akan menemukan surga.”

“Apakah Wali Kota Grünes Meer berani membunuh Grosser Alder?”

“Apakah kita akan mendaki Gunung Zimmel 25 Desember? Aku kira pada tanggal itu salju belum menyelimuti Gunung Zimmel.”

“Apakah Grosser Alder bisa mati?”

***

Pemilik toko sayap itu, sebelum menembak orang-orang yang berkumpul di Einstein Kaffee, juga memergoki sepasang remaja (Hitter dan Flume) yang tengah memperbincangkan apa pun yang sebenarnya tak ingin mereka perbincangkan. Pemilik toko sayap yang sedang iseng berjalan-jalan ke taman itu bingung mendengarkan apa pun yang Hitter dan Flume katakan.

“Aku mimpi basah sehabis semalaman membayangkan kamu mandi di danau penuh angsa,” kata Hitter.

“Aku pikir untuk bahagia aku harus membunuh setiap anak laki-laki di kota ini. Tak perlu ada laki-laki. Tak perlu ada kesombongan,” ujar Flume.

“Arwah-arwah memenuhi pikiranku. Aku akan membeli sayap. Aku akan terbang ke langit mencari arwah-arwah itu,” kata Hitter lagi.

“Apakah salah mencintai sesama perempuan?” tanya Flume.

“Jika saja aku punya banyak uang, aku akan segera ke toko sayap. Aku akan meninggalkan kota ini. Aku akan meninggalkan segala keberengsekan.”

“Aku akan ke kuburan untuk mendapatkan cinta sejati. Aku mencintai perempuan penggali kubur itu.”

“Mungkin aku akan segera bertemu dengan segala hantu setelah aku lepas dari kepungan seribu gagak.”

“Tak mungkinlah aku mencintai batu. Masak kekasihku telah menjelma batu?”

“Awas, gerimis mulai turun,” kata Hitter.

“Maaf, aku ke kuburan dulu ya,” tutur Flume.

Pemilik toko sayap makin bingung. Dia tidak tahu ada wabah yang menyebabkan orang-orang normal berubah menjadi makhluk tuli atau setengah tuli. Dia juga tidak tahu hampir semua orang berbicara bersama, tetapi percakapan mereka tidak nyambung. Orang-orang tampak berbincang-bincang, tetapi sesungguhnya mereka berbicara sendiri-sendiri.

***

Kau dan Schlangeus sama sekali tidak tahu pemilik toko sayap itu sejak siang merasa mendapat bisikan dari Zott, sang pencipta dan pemilik jagat dan surga.

“Kau harus membunuh semua orang jahat di kota ini.”

Pemilik toko sayap tak berusaha mencari suara itu. Dia merasa suara itu begitu dekat, begitu melekat di telinga. Dia, yang bisa saja belum terjangkit wabah, mencoba menafsirkan keiginan sang suara.

“Bunuhlah orang-orang yang sedang minum kopi di Einstein Kaffee!” perintah suara itu lagi.

“Apakah semua orang di Einstein Kaffee jahat?” tanya pemilik toko sayap.

“Kalau bercakap sendiri-sendiri, berarti mereka jahat,” bisik sang suara.

***

Kau tidak tahu begitu meninggalkan taman, lelaki yang pada akhirnya nanti menembak siapa pun di Einstein Kaffee itu bergegas ke toko sayap miliknya di pusat kota. Di toko yang dikelola secara turun-temurun itu dijual segala peralatan untuk terbang. Ada peralatan terbang serupa roket berasap. Ada yang serupa sayap. Ada yang serupa layang-layang raksasa. Hanya memencet tombol atau menggerak-gerakkan sayap ke atas dan ke bawah, siapa pun akan bisa terbang mirip malaikat.

Tak ada yang ajaib di toko itu. Semuanya sangat teknis. Siapa pun yang membeli alat peralatan terbang selalu mendapatkan Kitab Panduan Terbang. Berapa kali harus menggerak-gerakkan sayap ke atas dan ke bawah atau bagaimana memencet tombol untuk peralatan terbang serupa roket semua sudah ada aturannya. Hanya, memang ada syarat tambahan. Siapa pun yang ingin membeli sayap harus mau bersembahyang bersama 12 kali sehari di Ieeres Haus.

“Pilihlah salah satu sayap!” kata suara yang diyakini sebagai sabda Zott itu, “Kau harus tampil sebagai malaikat.”

Merasa perintah itu sebagai suara kebenaran, dia pun mengambil sepasang sayap. Sayap itu dia kenakan dengan sangat hati-hati. Jika selama ini tak pernah membaca Kitab Panduan Terbang, saat itu dia mencoba memahami isi buku yang tidak terlalu tebal tersebut. Di bagian akhir buku dia membaca: Siapa pun akan bisa terbang lebih tinggi jika bisa menghilangkan paling sedikit 10 pendosa. Siapa pun bisa mendapatkan surga dengan cepat jika bisa melenyapkan paling sedikit 13 pendosa.

Dia yakin “melenyapkan” atau “menghilangkan” sama dengan “membunuh”. Karena itu, dia pun segera terbang ke Einstein Kaffee.

***

Kau masih berusaha bercakap-cakap dengan Schlangeus ketika pemilik toko sayap itu tiba. Kau tak mendengarkan apa pun meskipun orang-orang di Einstein Kaffee tampak bercakap-cakap. Selintas kau melihat lelaki bersayap itu. Kau tak terkejut melihat lelaki bersayap itu karena menyangka dia akan mengikuti karnaval. Saat itu di seluruh Negeri Gruman memang sedang berlangsung peringatan Hari Malaikat Melenyapkan Para Iblis. Di jalan-jalan siapa pun akan mudah melihat orang-orang mengenakan sepasang sayap dan menenteng pedang atau senjata lain. Kau hanya merasa janggal karena lelaki itu membawa senapan.

Dunia Tak Ada Lagi di Einstein Kaffee ilustrasi Budiono/Jawa Pos

“Orang itu bisa membunuh kita dengan senapan laras panjang,” katamu berusaha mengajak Schlangeus bercakap-cakap.

“Baru kali ini aku merasakan sunyi yang benar-benar sunyi,” ujar Schlangeus, juga ingin mengajakmu bercakap-cakap.

Akan tetapi, baik Schlangeus maupun kau sama-sama tak mendengar apa pun. Tak mendengar lelaki bersayap itu mengokang senapan. Tak mendengar suara berondongan senapan lelaki bersayap ke arah siapa pun. Kalian juga tak mendengar ketika lelaki bersayap itu berteriak lantang: Matilah kalian para pendosa. Matilah kalian.

Lalu, kesunyian pun menjalar tak kunjung henti. Dunia tak ada lagi di Einstein Kaffee. (*)

 

TRIYANTO TRIWIKROMO. Penulis buku Surga Sungsang yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Prancis, dan proses ke bahasa Arab.