Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 28-29 November 2020)

Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan ilustrasi Koran Tempo
Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan ilustrasi Koran Tempo

Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan, begitu bunyi judul buku yang ditemukannya. Judul buku itu dicetak tebal. Di bawah terik matahari pukul 2 siang, dia masih berdiri di samping bak sampah tepat di depan sebuah rumah besar. Di dalam bak sampah itulah dia menemukan buku bersampul hijau lumut itu. Dia mencoba mengeja judul kecil yang tertulis di bawah judul utama. Meski tak benar-benar pintar membaca, setidaknya dia bisa mengeja secara perlahan-lahan. Kiat-kiat Mengeluarkan Diri dari Jerat Kemiskinan. Matanya membulat, bibirnya tersenyum sumringah. Dimasukkannya buku itu ke dalam kantong plastik di tangan kirinya, sedangkan di bahu kanannya tergantung karung besar berisi botol-botol plastik hasil memulung hari ini.

Sukandar menatap rumah besar di depannya. Rumah nomor 77. Nomor rumah yang menarik, semenarik bangunan rumah itu sendiri. Pilar-pilar rumah menonjol dari balik gerbang setinggi lebih-kurang 2,5 meter. Bukan hanya pilar-pilar rumahnya yang tampak dominan. Jendela-jendela besar lagi tinggi juga tampak demikian menjulang. Berkali-kali Sukandar memulung di daerah rumah ini. Acap kali itu pula dia berpikir bagaimana caranya membersihkan kaca jendela sebesar dan setinggi itu?

Sekali lagi dia melongok buku panduan di dalam tas keresek tangan kirinya. Tentu nanti setelah sampai rumah dia akan meminta Noor Laela, anak semata wayangnya, membantu membaca isinya. Noor Laela sudah duduk di kelas 2 SMP. Gadis remaja yang pintar, selalu ceria, dan memiliki cita-cita ingin menjadi dokter.

“Mengapa ingin jadi dokter?” suatu kali Sukandar bertanya ketika Noor Laela meracau menyoal sekolah dokter.

“Ya, ingin saja. Jadi dokter kan bagus, bantu orang sakit. Katanya gaji dokter besar!” Noor Laela menjawab dengan bersemangat. Dia masih duduk di bangku kelas 5 SD waktu itu.

“Tapi sekolahnya mahal!” Sukandar menimpali.

“Kan ada beasiswa.”

“Kalau tidak dapat beasiswa?”

“Ya, makanya nyari beasiswa!”

Lha, memangnya beasiswa sekolah dokter seperti botol bekas yang bisa kita pulung setiap hari?!”

Mendengar ucapan bapaknya, mata Noor Laela membelalak gusar. Obrolan hari itu berakhir dengan kekesalan Noor Laela. Selama berjam-jam gadis itu hanya berjongkok di tumpukan-tumpukan karung botol plastik. Sukandar hanya membisu, tangannya hanya sibuk menyerut plastik penutup di gelas-gelas air mineral. Dirinya bukan tak mendukung keinginan Noor Laela, tapi ada kegelisahan-kegelisahan yang kerap dirasakan Sukandar. Ia masih ingat betul pada Parwandi, anaknya Maksum, kawan memulungnya. Pemuda berumur di ambang 25 tahun itu sekarang stres berat. Maksum bercerita bahwa Parwandi ingin sekali menjadi seorang insinyur. Tapi, apa lacur, Maksum tak ada biaya, sedangkan Parwandi susah mendapatkan beasiswa meski dia tergolong anak cukup pintar. Setelah itu, Parwandi kerap menangis, tertawa, dan berkeliling kampung sembari bertelanjang dada. Sukandar khawatir hal yang sama dialami Noor Laela. Tapi kini Sukandar membiarkan Noor Laela bermimpi menjadi dokter, cita-cita yang sudah diperam Noor selama empat tahun di hati dan kepalanya.

Noor Laela menatap buku yang dibawa Sukandar dengan keheranan. Dibolak-baliknya buku itu beberapa kali. Baru kali ini dia tahu ada buku panduan semacam itu, Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan.

“Bapak temukan di depan bak sampah rumah orang kaya di Jalan Guntur. Kelihatannya itu buku mereka saat miskin dulu. Lantas, setelah kaya, dibuang.”

“Apa benar ini buku mereka?” Noor Laela tampak sedikit tak percaya.

“Ada kemungkinan begitu. Itu bak sampah mereka, tentu sampah di dalamnya juga sampah milik mereka,” Sukandar duduk di hadapan anaknya. “Cobalah baca, mungkin kita bisa menjadi kaya setelah membaca bukunya!”

Noor Laela mengangguk-angguk. Dengan patuh dia membaca dari halaman pertama. Dimulai dari kata pengantar, daftar isi, dan seterusnya. Kiat pertama yang tertulis di buku itu tak lain adalah menabung. Suara Noor Laela cukup lantang saat membacanya.

“Mengapa kamu membacanya keras begitu?” Sukandar menegus saat suara Noor Laela semakin melengking.

“Biar tetangga juga dengar, dan mereka juga tahu ada cara-cara menanggulangi kemiskinan. Kan tetangga kita sama-sama miskin!”

Bukan hanya Sukandar yang miskin, sederet penghuni rumah bedeng di seberang tanah bongkaran itu juga miskin semua. Bahkan sampai ke bapak RT-nya pun miskin. Kemiskinan demikian akrab di lingkungan mereka, bahkan sampai beranak-pinak pun tetap miskin. Dengan membaca buku panduan itu dengan suara lantang, Noor Laela berharap tetangganya juga mendengar dan bisa kompak keluar dari jerat kemiskinan.

Di bagian “Menabung”, dijelaskan bahwa untuk keluar dari kemiskinan tentu salah satunya adalah menabung. Menyisihkan uang agar dapat digunakan saat keadaan genting atau ketika ingin mengembangkan suatu usaha. Menabung adalah hal terpenting. Hidup boros haram hukumnya. Orang-orang yang ingin melepaskan diri dari kemiskinan haruslah pandai menabung.

Mendengar bagian pertama buku itu, Sukandar hanya termangu-mangu. Dalam sehari saja kadang dia tak mendapat uang sama sekali. Lain waktu dia mengantongi uang beberapa ribu, tapi kerap habis untuk makan dan menutupi kehidupan sehari-hari. Lantas bagaimana caranya menabung?

“Bagaimana caranya kita menabung? Uangnya kan sering habis. Bapak sering tidak pegang uang!” Sukandar menghela napas kesal.

Noor Laela bangkit dari duduknya. Diambilnya sebuah celengan babi berwarna merah muda. Celengan itu diberikan Mak Ipah, tetangga sebelah dari hasil memulung. Celengan itu masih bagus, meski bagian perutnya sudah berlubang, tapi Noor Laela sudah menutupnya dengan selotip bening.

“Bapak nabung di sini saja, berapa gitu. Seribu-dua ribu, misalnya,” Noor Laela menaruh celengan itu di tengah meja.

“Dapat dari mana celengan ini?” Sukandar baru pertama kali melihat celengan babi itu.

“Dari Mak Ipah. Katanya dia dapat dari memulung di komplek sana.” Noor Laela menunjuk ke arah barat.

“Kenapa babi?” dahi Sukandar mengkerut.

“Mengapa tidak boleh babi?” Noor Laela menimpali, keheranan.

“Babi kan haram!”

“Ini kan cuma celengan babi, bukan babi beneran! Tidak bisa berak juga.”

Lantas keduanya terdiam. Mereka hanya menatap celengan babi yang teronggok di atas meja.

“Sudah ada isinya?” suara Sukandar memecah keheningan.

“Sudah!” dengan semangat Noor Laela mengguncang celengan babi, terdengarlah bunyi gemerincing uang koin dari dalamnya. Ada tiga koin uang lima ratusan yang menghuni perut “si babi”.

Sukandar menggeleng-geleng. Bagaimana juga dia merasa pening memikirkan cara untuk menabung, sedangkan uang saja kadang dia tak punya.

***

Selama berhari-hari Noor Laela masih membacakan Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan untuk bapaknya. Suara bocah itu demikian jernih ketika membacakan kiat-kiat di dalamnya. Semenjak istrinya meninggal enam tahun lalu akibat penyakit ISPA kronis, Sukandar hanya hidup berdua dengan Noor Laela. Meski tumbuh di rumah bedeng, Noor Laela menjadi anak yang pintar dan bersemangat. Seperti siang ini, dia membaca buku panduan itu dengan suara lantang seperti hari-hari sebelumnya. Sementara Noor Laela masih bersemangat, tidak untuk Sukandar yang wajahnya lebih sering terlihat masam.

Setelah buku panduan itu hampir selesai, Sukandar menjadi yakin bahwa buku itu tidak benar-benar ditujukan untuk kaum miskin seperti dirinya. Misalnya saja setelah “menabung”, yang harus dilakukan adalah “berinvestasi”. Entah apa lagi yang dimaksudkan dengan investasi itu. Sukandar tak mengerti. Lebih banyak bagian yang dibaca Noor Laela, lebih banyak yang tak dimengerti Sukandar. Banyak bagian yang demikian sulit dilakukan manusia seperti dirinya. Jika masalah menabung, Sukandar sudah mencoba memasukkan lembar seribuan ke dalam celengan babi milik Noor Laela. Mungkin nanti akan ditambah lagi. Tapi, ya, begitu, semakin dicerna, semakin tak cocok kiat-kiat di dalam buku dengan kemiskinan yang benar-benar dialaminya.

Sampai di kata terakhir pengujung isi buku, Sukandar tak benar-benar menemukan cara-cara yang dia harapkan. Segala sesuatunya tetap bermuara pada uang. Noor Laela tidur demikian nyenyak malam itu selepas menuntaskan Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan. Tapi tak begitu dengan Sukandar. Dia merasa gelisah memikirkan apa saja yang tertulis di buku. Ada pemikiran mungkin penulis buku itu hanya sekadar iseng atau mungkin benar-benar kiat-kiat itu bisa diamalkan. Lantas bayangan rumah bernomor 77 itu melintas di kepalanya. Sukandar sudah memutuskan, besok dia akan bertanya langsung kepada pemilik rumah soal buku panduan yang ditemukan di tempat sampah rumahnya itu.

***

Selepas meminta izin kepada satpam rumah bernomor 77 dengan alot, Sukandar diizinkan menunggu di halaman rumah. Mata Sukandar membelalak lantaran takjub saat melihat mobil-mobil mewah berderet di garasi rumah. Tak lama kemudian, pemilik rumah muncul. Di tengah matahari yang mulai terik pukul 10 siang, pemilik rumah muncul dengan masih mengenakan baju tidur. Lelaki bertubuh tambun itu berdiri di tangga paling atas serambi rumah.

“Ada perlu apa, Pak?” tanya sang tuan rumah keheranan melihat Sukandar. Ia mengingat-ingat, kenalkah dia kepada pemulung di depannya itu.

“Saya ingin bertanya tentang buku ini, Pak? Buku Panduan Menanggulangi Kemiskinan milik Bapak,” Sukandar memperlihatkan buku bersampul hijau lumut di tangan kanannya.

Kini, bukan tuan rumah saja yang keheranan. Satpam yang berdiri tak jauh dari Sukandar pun tampak heran. Keduanya hanya bengong.

“Saya tidak punya buku semacam itu!” sang tuan rumah menyahut setelah berhasil membuka mulut.

“Saya menemukan di bak sampah depan rumah Bapak.”

“Tapi bukan milik saya. Samsul, siapa yang membuang sampah di bak depan?” kali ini tuan rumah bertanya kepada satpam yang sedari tadi hanya bengong.

“Akhir-akhir ini, saya dengar iuran sampah naik banyak, Pak. Jadi, kelihatannya banyak orang yang nitip buang sampah di bak depan. Nyuri-nyuri waktu saat malam,” kata Samsul sambil tersenyum masam.

“Terus ini milik siapa? Saya sudah membacanya sampai selesai dan ingin tahu apakah kiat-kiat di dalamnya berhasil?”

“Saya tidak tahu. Itu bukan buku saya. Saya sendiri menjadi kaya tanpa buku panduan.”

Kali ini Sukandar yang bengong. Wajahnya terlihat kebingungan. Melihat wajah Sukandar, tuan rumah tertawa.

“Lagi pula, jangan mudah percaya pada buku begituan, Pak! Tidak ada buku panduan yang benar-benar cespleng selain buku panduan bagaimana menggunakan remote televisi!”

 

Yogyakarta, Oktober 2020

Artie Ahmad lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 21 November 1994. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Beberapa cerita pendeknya dimuat di media massa. Buku terbarunya, Manusia-manusia Teluk, terbit di Buku Mojok, Februari 2020.