Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 November 2020)

Danau Naran, Pakistan Utara - dok.pribadi
Danau Naran, Pakistan Utara/dok.pribadi

Bulan di atas kuburan, begitu kata Sitor Situmorang tentang malam lebaran. Bagaimana dengan malam-malam biasa? Apa yang kita lihat? Bulan di atas pekarangan atau bulan mengambang di antara awan-gemawan atau bulan yang lupa jalan pulang ketika matahari sudah bertandang?

Sungguh, apabila memandang bulan. Saya tak bisa lama-lama. Dulunya saya tak tahu entah kenapa, tapi sekarang … pelan-pelan sepertinya saya sudah bisa menyusun logika. Rupanya, yang menyebabkan mental saya selalu jatuh ketika memandang rembulan adalah bukan karena bulan itu sendiri. Ya, ternyata saban melakukannya, mata saya tak bisa langsung tertuju hanya kepada bulannya—bulan yang selalu membuat saya bingung di mana indahnya (ini serius!). Mata saya tak bisa mengabaikan langit luas yang mengelilinginya atau menjadi tempatnya bergantung atau menjadi latar pengapunganya. Dan saban melihat—untuk kemudian memperhatikannya—pikiran saya selalu jauh. Menembus cakrawala yang entah sampai di mana dan entah ada apa lagi—baik yang akan ditemui di tengah pengembaraan atau di ujungnya nanti. Sebagaimana bulan yang saya bingung di mana indahnya (maksud saya, bulan itu sesuatu yang bagus dan menyala, ya sudah itu saja. Indah? Ah), langit yang kelam kebiruan pun demikian. Meskipun ada banyak bintang yang menyembul di sana-sini, pikiran saya makin jauh.

Maka, bila memandang langit—berbulan atau berbintang—itu saya perpanjang durasinya, alih-alih keindahan. Saya akan diserang ketakutan, ketercekaman. Ya, ketercekaman.

Ternyata, alangkah luasnya semesta ini. Tak berbatas. Melampaui atau yang lampau. Melewati sesuatu yang bahkan tak terbatas. Rumah yang besar, pekarangan yang luas, dan keluarga yang bahagia, sungguhlah kehilangan daya di hadapan keluasan langit yang ditatap dengan saksama.

Memandang langit mahaluas itu memang tak bisa lama-lama. Apa pun yang menyala padanya—entah itu bulan atau bintang—rentan menjelma lorong cahaya yang mengisap sesiapa ke liak-liukannya yang tak terbaca.

Memandang langit yang menyerupai jubah raksasa yang memeluk Bumi adalah membiarkan diri disapu kebesaran, membiarkan diri menjadi tak berdaya, membiarkan diri menjadi bukan apa-apa, menjadikan diri meluluh-lantakkan segala yang sudah menjadi bagian diri:

– Sepatu mahal menjelma kapal kain yang bisa tersesat, layarnya robek, terbakar karena mesin kepanasan.

– Prestasi gemilang di panggung yang riuh oleh tepuk tangan adalah debu ketika dilempar di tengah keheningan jagat raya

– Atau bahkan keluarga yang paling disayang menjelma jarak yang jauh, jauh, jauh, sekali ketika memandang mereka tengah terlelap di waktu bulan atau bintang atau langit paling jarang diperhatikan atau disadari potensinya untuk melibas segalanya suatu hari.

Ada yang berbisik dalam kepala saya, bahwa tidak ada cara lain untuk mengatasi segala, selain menjalani hidup tanpa kepura-puraan, menyesal dan segera memperbaiki keadaan, atau meninggalkan segala untuk mengkhususkan diri menjadi petapa yang paling khusyuk akan kehidupan yang fana dan bulan yang dapat pecah tiba-tiba atau bintang yang bisa menukik ke Bumi kapan saja atau langit yang menjelma ombak: bisa bergulung dan mengamuk tanpa kira-kira. Tapi, sebagaimana saya yang memiliki waktu merenung hanya ketika menuliskan esai ini, hidup ini ternyata kadung berputar dalam lingkarannya: lingkaran yang kita tahu apa itu, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Ia membuat lubang di pohon, di makanan, di percakapan, di kitab suci, di langit, di tiap tepi bintang, atau menyerupai bulan purnama, di dalam … diri kita—diri kita sendiri.

Banyak sekali.

Banyak sekali. *

 

Lubuklinggau, 25 November 2020

Benny Arnas lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku. Bukunya yang akan terbit: Ethile! Ethile! (Diva Press, 2020). Ia mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya