Cerpen Fuad Sulistyono (Suara Merdeka, 22 November 2020)

Wanita Bermata Tersenyum Itu Telah Pergi ilustrasi Hangga - Suara Merdeka
Wanita Bermata Tersenyum Itu Telah Pergi ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, berhamburan bersamaan, keluar dari rumah masing-masing. Mereka menuju ke tanah cukup lapang, tak jauh dari rumah kami. Aku dan tetangga samping kiri rumah membuntuti dari belakang. Kami penasaran, ingin mengintip apa yang mereka lakukan di tempat itu.

Sudah banyak anak berkumpul di tanah lapang itu. Mereka tidak hanya dari RT kami, tetapi juga dari berbagai RT lain. Mereka berteriak dan berceloteh girang. Wajah mereka ceria, seperti menyambut bapak-ibu masing-masing pulang dari kota. Semburat cahaya kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Tidak ada yang sedih atau gelisah menyendiri. Senyum dan tawa ceria menghiasi wajah mereka.

Kami jadi makin ingin tahu. Apa yang membuat anak-anak di kampung ini senang dan bahagia akhir-akhir ini?

Oh, bukan. Dugaanku berubah. Siapa yang menjadikan anak-anak bisa sebahagia itu? Orang seperti apa yang bisa masuk dalam kehidupan mereka, sehingga membuat suasana indah dan damai? Pasti orang istimewa bagi mereka.

Kami menyangka pasti orang itu membawa banyak hadiah atau sesuatu yang dia bagikan ke setiap anak. Dia pasti penghibur atau seniman yang lihai dan terampil membuat hiburan bagi anak-anak.

Ternyata semua keliru. Jumanto, tetanggaku, bermata sangat jeli. Dia melihat lebih dulu sosok wanita setengah baya di tengah-tengah tanah lapang. Benar. Aku pun sudah melihat, meski belum jelas apa yang sosok itu lakukan. Yang jelas, kami mendengar tawa ceria anak-anak begitu lepas dan puas. Wajah mereka bahagia tanpa dibuat-buat. Suasana sangat hangat dan indah.

Kami mencuri dengar apa yang mereka ungkapkan dan ceritakan. Tentu makin kami mendekati sosok wanita asing dan keramunan anak itu, kian terlihat jelas wajah wanita itu. Akan tetapi ada yang lebih menarik; apa perbincangan yang membuat anak-anak merasa damai? Aku bersyukur lebih dulu bisa menguping mereka, sementara Jumanto kulihat berhenti melangkah karena lengannya dirambati ulat gatal semak-semak daun.

“Ibu Dewi, jangan pergi lagi ya? Kami sangat senang bersama Ibu,” ujar seorang anak perempuan berambut ikal. “Kami selalu bahagia jika Ibu Dewi di sini,” sahut yang lain. Wanita setengah baya yang anak-anak panggil Ibu Dewi hanya tersenyum. Matanya yang bercahaya lembut menatap anak-anak itu satu per satu. Senyumnya selalu mengembang. Ada anakku, Diro, di situ. Anakku mendekati wanita itu. “Aku senang banget melihat Ibu Dewi. Mata Ibu Dewi membuatku nyaman. Mata Ibu seperti tersenyum, sehingga terasa adem hatiku.”

Benarkah itu ucapan Diro? Apakah selama di rumah dia merasa tidak bahagia? Bisa jadi selama ini ia sering memperhatikan setiap pertengkaran kami, aku dan ibunya. Begitu membekaskah dalam pikiran, sehingga di rumah Diro sering gelisah dan tak betah karena merasa tidak nyaman? Dia tampaknya juga merasakan keberingasan sikap kami ketika bertengkar sengit. Pantas Diro sering keluar rumah dengan alasan mengerjakan tugas sekolah di rumah teman.

***

Akhir-akhir ini kabar dan informasi aneh makin sering mampir ke telinga kami. Di desa sebelah kerap terjadi pencurian. Penduduk sangat resah dan merasa tidak aman. Masalahnya, penduduk desa itu rata-rata tua renta dan anak- anak. Mereka tak sanggup menghadapi para pencuri yang makin merajalela. Anak-anak merasakan hal-hal mencekam dan menakutkan. Karena itu, kepala desa memutuskan menyewa tenaga keamanan dari desa kami. Desa itu hanya menyediakan pos ronda bagi tenaga keamanan sewaan.

Anak-anak di desa sebelah memang butuh keamanan dan ketenangan. Mereka jelas butuh keamanan untuk meredam gelisah dan takut. Lagi-lagi, Ibu Dewi yang bermata tersenyum, kata anakku, hadir memberikan ketenangan dan kenyamanan di sana. Salah seorang penduduk desa itu mengatakan, Ibu Dewi sering menyampaikan anak-anak harus selalu rukun dan kompak. Selalu bersama, saling memahami, dan saling menghargai akan mudah menciptakan rasa tenang dan senang. Dengan begitu, kata wanita itu, anak-anak akan bisa mengusir rasa takut danjadi lebih berani.

Lain lagi ceritanya dari desa sebelah utara desa kami. Ketika di desa itu sering diselenggarakan sabung ayam jago, justru anak-anak yang dapat secara perlahan mengubah agenda tahu- nan itu. Anak anak mengusulkan agar ayam-ayam jago di desa itu digiring saja ke sawah untuk memburu dan mematuki tikus dan ular. Sering terjadi, tanaman di sawah dan ladang ludes karena ulah tikus. Ular-ular berbisa tak jarang mengganggu dan beberapa penduduk jadi korban. Jadi anak-anak meyakinkan, tidak ada salahnya memanfaatkan tenaga ayam jago. Kelak, ayam jago yang paling banyak membuat mati atau sekarat tikus dan ular, itulah sang pemenang.

Mulanya sebagian penduduk tidak menyetujui ide anak-anak. Namun, sebagian lain bersikukuh mencoba. Ternyata, tercium juga ide itu muncul dari akal Ibu Dewi, malaikat baru anak-anak yang menginginkan desa mereka menjadi aman dan tenteram. Jika desa sudah aman, tentu anak-anak merasa nyaman dan bahagia. Mereka bisa tersenyum tanpa beban dan dibuat-buat.

Mereka hanya butuh suasana baru yang jauh dari kepura-puraan dan semu. Ibu Dewi meyakinkan kepala desa, sebenarnya anak-anak sudah merasa jenuh dan muak dengan media digital dan elektronik yang telanjur sering mempertontonkan kebuasan dan kelicikan manusia di depan mata.

Dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan, banyak anak di hampir setiap desa selalu merindukan Ibu Dewi, pemilik mata tersenyum. Sosok dan sikapnya sangat membantu anak-anak keluar dari kesumpekan di lingkungan mereka. Kesumpekan yang sudah terlalu mengatur dan mengekang kebebasan mereka memilih kesenangan. Para orang tua, mereka anggap telah merampas kebahagiaan masa anak-anak. Anak-anak lebih menanti-nantikan dan merindukan Ibu Dewi dengan tatapan mata yang sejuk dan menenangkan karena telah membawa kedamaian dan kebahagiaan.

Akan tetapi, di sisi lain, sebagian masyarakat resah atas kehadiran Ibu Dewi yang sangat anak-anak cintai. Mereka khawatir anak-anak akan mendapat pengaruh buruk, sehingga bisa merongrong kewibawaan dan kekuasaan orang tua.

Dugaan mereka benar. Puncaknya, anak-anak di desa kami bertingkah di luar nalar dan wewenang mereka. Mereka menginginkan diberi hak membuat peraturan. Bahkan anak-anak juga ingin membuat undang-undang dan tata tertib untuk mengatur para orang tua. Gila! Mereka benar-benar sudah keterlaluan.

Oh, termasuk anakku, Diro. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka harus segera dihentikan. Secepatnya.

Hanya Jumanto tetanggaku yang tidak menganggap anak-anak di desa kami tidak gila. Ia berpendapat selama bergaul dan berteman dengan Ibu Dewi, mereka dapat tidur pulas dan sudah jarang usil dan ngambek. Jumanto melihat anak-anak sekarang lebih rajin belajar dan berkegiatan sehari-hari dengan senang.

“Tapi anak-anak sudah melampaui batas, Mas,” ujarku, menyimpan keresahan.

“Kita lihat saja nanti. Aturan seperti apa yang akan mereka buat.” Mas Jumanto berpendapat tanpa ragu.

“Apa nggak takut nanti anakmu berani nyuruh-nyuruh sampean?” tanyaku ingin menyadarkan tetangga dekatku itu.

***

Pagi hari dan cahaya mentari menghangatkan desa kami.

Para pedagang, petani, dan pegawai kantoran menuju ke tempat kerja masing-masing dengan senyum merekah.

Tampak beda pada wajah anak-anak desa kami. Mereka menyimpan kegelisahan dan kerinduan pada sang pujaan hati. Mereka khawatir kehilangan sang pengayom jiwa. Anak-anak tak henti-henti dan tak bosan-bosan menyebut si pemilik mata tersenyum itu. Ibu Dewi telah dua pekan ini tidak menampakkan diri di tengah-tengah anak-anak desa kami. Tiba-tiba dia seperti menghilang saja.

Kulihat wajah Diro, anakku, dan anak Mas Jumanto sangat murung. Sedih. Aku menghibur dengan menyanyikan lagu kesayangannya. Namun Diro terlihat masih murung dan menggeleng-geleng lemah. Aku gagal.

“Aku sangat kangen pada Ibu Dewi dengan nyanyiannya, Pak. Lagunya sangat indah. Suaranya lembut dan merdu,” ucap Diro penuh rasa.

“Benar, Diro. Aku juga bisa melihat dan merasakan tatapan matanya, seperti mengajak siapa pun tersenyum,” timpal anak Mas Jumanto. Tak kalah sendu dia berucap.

Aku menatap seraya berjongkok di hadapan mereka yarrg sejak tadi terduduk seperti tak bertenaga. Apakah yang mereka gambarkan seperti sang legendaris Ibu Sud dalam kuis tebak wajah dulu? Dalam potongan gambar wajah, si penebak kuis mengatakan Ibu Sud memiliki mata yang tersenyum. Sayang, dia telah pergi selamanya.

Ibu Dewi, wanita dengan mata tersenyum, kata Diro, anakku, kini telah pergi. Mungkin tidak akan pernah kembali. Kepergiannya meninggalkan sesuatu yang sangat membekas di hati anak-anak. Kehadirannya membuat anak-anak bahagia dan kepergiannya menyisakan kenangan indah.

Diam-diam aku pun jujur mengakui kehadirannya membuat desa kami lebih tenang dan nyaman. Hatiku pun diam-diam menyimpan harapan: dia akan kembali. (28)

 

Fuad Sulistyono lahir di Kebumen, kini menetap di Purbalingga. Guru MTs Ma’arif NU 09 Purbalingga ini pernah ngangsu kawruh dan terlibat di Forum Pecinta Sastra Bulaksumur, Jogja. Karyanya dimuat di Kedaulatan Rakyat, Bernas, Majalah Arena (IAIN Suka), Anita Cemerlang, Majalah Remaja Kirana Banjarnegara.