Cerpen Novka Kuaranita (Kompas, 22 November 2020)

Sup Jelai ilustrasi Moelyoto/Kompas

Dari seluruh rangkaian tur di Kastel Ljubljana, bukan pada kisah kesatria yang menaklukkan naga, manusia yang memutar kincir raksasa, atau ruang segi lima yang membenturkan kawanan kuda, ingatan Sekar tertambat. Yang ia ulang terus adalah sup jelai.

“Apa papa juga makan sup jelai?”

Satu jam sebelum pertanyaan itu mengganggunya, kami berdiri di depan loket Ljubljanski Grad, kastel abad pertengahan di pusat kota Ljubljana. Seorang petugas menjelaskan denah kastel dan paket-paket wisata yang bisa dipilih. Tur mesin waktu yang ia tawarkan kelihatannya menarik. Kami akan dipandu ke bagian-bagian penting kastel dan menyaksikan sejarah kastel ini dalam bentuk sandiwara yang dibawakan aktor teater.

“Kau harus lihat kostum mereka. Kami punya desainer khusus. Mereka, para tokoh yang kalian temui, bakal sungguh-sungguh tampak seperti seseorang yang menerobos lorong waktu dari masa lalu!” Petugas loket ini betul-betul merangkap staf promosi. Aku membayar satu tiket dewasa dan satu anak.

Bersama belasan wisatawan lain, kami dikumpulkan dalam satu grup. Seorang pemandu mengantar kami berpindah dari satu area kastel ke tempat lainnya. Bertemu George si kesatria dengan tombak runcingnya, prajurit Romawi berbaju zirah, juga Kaisar Frederick si perancang kastel dan istrinya, Eleanor.

Lihatlah binar di mata Sekar. Anak itu berseru “wow” kala George memperagakan bagaimana ia menikam naga hingga makhluk itu tak berdaya. Memekik “ya ampun” saat mendengar cerita tentang tawanan yang disuruh menggerakkan kincir putar besar dengan tubuhnya seperti hamster di roda mainan demi menimba air. Menunjukkan kekaguman waktu pemandu berkisah soal menara segi lima yang bakal membuat gerombolan kuda dan pasukan penyerang menghantam dinding saat menyerbu dari luar lantaran kepayahan membelok mendadak.

Dari Menara Pentagonal itu, kami mengekor pemandu menuju perhentian selanjutnya, melintasi halaman kastel yang dikitari tebalnya dinding-dinding batu. Sekar mengayunkan kaki cepat-cepat. Ia ingin berdiri paling depan ketika para aktor beraksi. Di satu titik, pemandu itu menghentikan langkah dan menunggu sampai rombongan mengelilinginya.

“Nah, bagian ini dulu difungsikan sebagai penjara terbuka sampai masa Perang Dunia Kedua,” pemandu itu memberi pengantar.

Aku mengerang kecil. Bukan salahku kalau aku tak tahu ada pula bagian kastel ini yang dulunya dijadikan penjara.

“Bagi para tahanan, tak ada tempat bernaung dari matahari, hujan, juga musim dingin yang menusuk,” pemandu tur menunjuk seorang perempuan di sepetak tanah yang jauh lebih rendah dari posisi berdiri kami, di sel berjeruji tapi tak beratap. Ia mengenakan jubah coklat lusuh dan duduk lesu dengan kepala tertunduk. Rambut kusutnya menjuntai. Pergelangan kakinya dirantai.

Aku berharap sesi penjara ini lekas usai dan kami segera beralih ke area kastel yang berbeda. Tapi kami malah dibawa pada sel yang lain. Meski beratap, ruangan itu tetap sekadarnya. Lapisan tembok yang mengepung bilik sesak itu terkelupas di sana-sini. Pintunya yang sudah berkarat dikunci dengan palang besi. Bagi tahanan di dalamnya, satu-satunya celah untuk melongok ke luar hanyalah lubang segi empat kecil di pintu, yang membuat pandangannya seketika terbentur lagi hanya pada lorong sempit penjara. Tahanan itu terus-terusan mengeluh betapa membosankannya hidup di sel. Namun, yang paling dibencinya, makanan penjara.

“Perutku meronta! Minggu, daging dan roti. Senin, kacang dengan bawang bombai. Selasa, susu jagung. Rabu, sup barley. Kamis, bubur. Jumat, kacang berminyak. Sabtu, sup barley lagi! Aku bersumpah tak akan menyentuh barley lagi sekali-kalinya dalam hidupku!”

Barley itu apa, Ma?” kata itu belum pernah Sekar dengar.

“Hmm… mirip dengan beras, Sayang. Jelai bahasa Indonesia-nya.”

“Apa Papa juga makan sup jelai?”

Buyarlah niatku menjauhkan Sekar dari urusan penjara. Kini, ia justru didekatkan dengan gambaran tentang apa yang dialami papanya meski tur itu sudah membawa kami ke kisah yang lain. Di depan kami, Mayor Ivan Hribar yang berdasi kupu-kupu dan berselempang putih biru bercerita dengan suara beratnya tentang bagaimana ia membeli kastel ini pada awal abad kedua puluh. Tapi, Sekar tak lagi tampak tertarik.

Sambil mendengarkan aktor itu berkisah, kujawab penasarannya tadi, “Rasanya tidak. Tidak ada makanan seperti itu di Indonesia.”

“Tapi, apa berarti makanan Papa juga enggak enak, seperti tahanan yang tadi itu?”

“Mama tidak tahu, Sayang.”

Sekar terdiam sesaat. Ia menggembungkan pipinya dengan udara dan mengoper gelembung itu bolak-balik kiri ke kanan, seperti yang biasa ia lakukan kalau sedang suntuk atau bosan.

“Aku mau coba sup jelai. Besok kalau Papa sudah di rumah, aku mau cerita pernah mencicipi makanan penjara di Slovenia.”

Suamiku akan dibebaskan beberapa bulan lagi setelah divonis dua tahun kurungan dengan tuduhan menerima suap. Ia kini tinggal di lapas khusus tindak pidana korupsi. Setidaknya satu kali dalam dua pekan aku membesuknya. Sekali waktu bisa juga kami menghabiskan dua-tiga jam di kamar hotel. Kau tahu, petugas-petugas lapas itu cukup kooperatif.

Sekar tak pernah kuajak mengunjungi papanya. Kubilang, anak kecil tidak diperbolehkan masuk ke dalam penjara. Tapi, kadang-kadang mereka mengobrol lewat telepon. Seperti kemarin, kala Sekar dengan bersemangat mengabarkan bahwa kami baru saja tiba di Ljubljana (ia berkali-kali tanya cara melafalkannya) setelah tiga hari yang seru di Venesia. Kepada Sekar, papanya bilang, tahun depan kami sudah bisa piknik bersama lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Menginap di hotel bagus dan makan enak, begitu janjinya.

“Nanti di restoran kita pesan sup jelai, ya, Ma,” Sekar belum melupakannya ternyata.

Siang itu, setelah kunjungan ke kastel yang belakangan kurang dinikmati Sekar, kami menyusuri Preseren Square. Singgah dari kedai ke kedai demi mencari sup jelai. Musim panas pertengahan Juli membuatku agak gerah, tapi Sekar tak juga jengah meski berkali-kali mendapat jawaban maaf atau tidak atas pertanyaannya. Kami masuk ke satu kedai lagi dan aku memilih duduk sebentar di bangku dekat kasir.

Kepada perempuan muda penjaga kedai, Sekar melancarkan lagi pertanyaan yang sejak tadi ia ulang-ulang, “Kau menjual sup jelai?”

“Aduh, sayangnya tidak ada menu semacam itu di sini. Tahu dari mana kau tentang sup jelai, anak manis?”

“Seorang perempuan di kastel.”

“Ah, perempuan tahanan itu pasti. Aku pernah mengikuti tur itu juga bersama keponakanku, seusiamu mungkin, ia empat SD sekarang. Nah dengar, sup jelai itu kurang enak. Mau panekuk saja? Aku punya madu untuk disiramkan di atasnya.”

“Tapi tak ada cerita tentang madu dan panekuk. Aku ingin bisa cerita ke Papa.”

“Oh, papamu tidak ikut berlibur? Sayang sekali. Kalau begitu, mungkin kau bisa berikan oleh-oleh madu untuknya. Madu Slovenia sangat spesial. Ah, ada cerita juga tentang itu. Mau dengar?”

Tanpa menunggu balasan Sekar, penjaga kedai melanjutkan, “Dulu ketika bumi dijadikan, dihamparkanlah keindahan di berbagai penjuru oleh Sang Pencipta, setiap tempat dengan jatahnya masing-masing. Gunung untuk yang satu, laut untuk yang lain. Satu punya rimba yang rimbun, yang lain padang tak berujung. Slovenia menunggu sampai akhir dan mendapatkan semuanya. Gunung, laut, hutan beraneka pohon, padang dengan bebungaan. Negeri ini sangat kaya. Dari kelimpahan tanah inilah lebah memanen madunya.”

“Begitukah?”

“Tentu saja. Aku punya madu pinus, ara, akasia, dan dandelion. Nah, mana yang kau mau?”

“Aku tidak tahu.”

“Madu pinus ini sangat enak.”

“Oke, aku mau yang itu.”

“Anak pintar. Lima belas euro untuk satu stoples madu pinus.” Sekar mendekat padaku, meminta uang untuk membayar madu dan kembali ke kasir.

“Terima kasih, anak manis. Ngomong-ngomong, cakap sekali bahasa Inggris-mu. Di mana kau mempelajarinya?”

“Aku pakai bahasa Inggris di sekolah. Di rumah juga kadang-kadang.”

“Benarkah? Aku harus kursus untuk bisa mengobrol dengan turis-turis sepertimu. Di mana sekolahmu, bocah manis?”

“Jakarta.”

“Jakarta…,” penjaga kedai itu seperti meraba-raba di manakah Jakarta sebelum mengulurkan kantong kertas. Sekar memintaku membawakan madu ini untuk papanya. Kalau makanan penjara tidak enak, katanya, madu ini bisa menghibur dan membuatnya lebih sehat.

“Tapi, aku belum bisa cerita aku pernah makan makanan penjara,” keluh Sekar. Ia melangkah pendek-pendek sambil menyeret-nyeret sepatunya. Sudah lelah ia. Jalan kaki dari kastel ke sentral kota ini, ditambah getun karena tak mendapatkan yang dicari, memang lumayan menguras energi.

“Kita coba satu restoran lagi, ya. Yang dekat jembatan di ujung sana,” kataku. Ada satu yang cukup besar. Jendela-jendelanya menghadap Ljubljanica, sungai yang mengaliri kota ini.

“Siapa tahu kita dapat sup jelai,” bujukku.

Jawaban pramusaji itu sudah kuantisipasi, tak ada sup jelai. Aku meminta Sekar memilih apa yang ada di daftar menu restoran ini saja. Ia menunjuk malas-malasan dan setelah dua lagu selesai dimainkan pemusik kuartet di pojok sana, pesanannya datang. Ayam panggang dengan kentang goreng dan saus jamur. Juga untukku, anggur merah yang disajikan dingin seperti ditawarkan pelayan.

“Kamu suka, Sayang?” tanyaku setelah Sekar mengunyah beberapa suapan.

Ia mengangguk-angguk mantap, “Aku memang lapar ternyata!”

“Nah, nanti kamu bisa cerita sama Papa, di Slovenia kamu menyantap makanan seperti yang Papa makan di penjara.”

 

Novka Kuaranita bernama lengkap Fellycia Novka Kuaranita, lahir di Jakarta pada 19 November. Ia lulusan Ilmu Komunikas, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pernah mengikuti Kelas Cerpen Kompas 2018, sehari-hari bekerja sebagai copywriter. Cerpen-cerpennya pernah masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas.

Moelyoto lahir di Solo tahun 1961. Suka melukis sejak taman kanak-kanak karena pengaruh keluarga dan lingkungan. Ia lulus dari SMA tahun 1979, menekuni desain grafis pada 1982-2005 di Bali. Mulai berpameran sejak tahun 1981, terakhir berpameran di Museum Arma, Ubud, Bali (2020). Ia menetap di Pedungan, Denpasar.