Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 November 2020)

Menolak Sastra Tanpa Tanda Jasa ilustrasi Istimewa

Dua tahun lalu, seseorang yang mengaku panitia lomba puisi yang diadakan salah satu kampus bergengsi di Pulau Jawa, mengirimi saya pesan lewat kotak pesan Instagram. Setelah memperkenalkan diri ia meminta kesediaan saya menjadi salah satu dewan jurinya. Saya tidak langsung menjawabnya. Saya pikir ia akan mengirimkan hal-hal teknis yang mengikutinya, seperti aturan lomba, metode penilaian, sampai ke besaran upah jasa penilaian. Saya menunggu itu, sebab di Benny Institute, kami terbiasa membeberkan hal-hal tersebut di awal agar tidak ada kesalahpahaman pascakegiatan.

Namun ternyata panitia tersebut tak melakukannya. Saya pun menjawab “Insya Allah” dan meminta panitia menyampaikan rules dan hal-hal teknis lainnya. Saya pikir panitia pasti mengerti ini. Ternyata tidak. Ia ‘tak mengerti’ atau sengaja ‘menyembunyikannya’, wallahu alam. Saya pun meminta ia mengirimkan maklumat digital (flyer) terkait lomba tersebut. Sayangnya, saya justru dikirimi flyer semacam seminar sastra dengan sejumlah rangkaian acara yang tertulis di bagian atasnya. Lomba puisi salah satunya. 

Saya pun memintanya mengirimkan flyer khusus lomba puisi. Tujuan saya sederhana, saya ingin tahu seserius apa panitia menggarap lomba ini. Desain flyer dan sejumlah aturan lomba (+ plus besaran hadiah) yang tertera di sana biasanya bisa mencerminkan ini. Namun tenyata panitia bergeming. Flyer itu belum dibuat atau memang tak diperkenankan tahu, saya tak tahu. Yang jelas, panitia tak merespons permintaan saya akan flyer ini. 

Baiklah. 

Karena saya tak ingin terjadi kesalahpahaman di kemudian hari, saya pun menanyakan anggaran penjurian yang disiapkan panitia. Saya biasa melakukan ini kepada panitia/penyelenggara yang tidak saya kenal sebelumnya. Kepada orang-orang/lembaga yang saya kenal baik, saya jarang sekali (untuk tidak mengatakannya “tidak pernah”). Bahkan juga saya kerap dibayar dengan satu kotak kudapan atau ucapan terima kasih saja. Tapi kepada yang belum dikenal, saya tak ingin kecele. Ini tak berarti saya selalu dibayar (mahal) untuk acara/lomba kepenulisan yang diadakan oleh orang-orang/lembaga yang belum/baru-saya kenal saat itu juga. Saya bahkan pernah menjadi juri lomba novel tingkat nasional dan hanya dibayar dengan kiriman sebuah (catat: sebuah) buku yang tak saya baca hingga sekarang. Namun saya nggak ngedumel sebab semuanya sudah clear di awal.

Pertanyaan saya tentang teknis lomba dan honorarium itu ternyata tidak juga dibalas-balas meskipun sudah dibacanya beberapa jam yang lalu. Saya pikir, panitianya mungkin berubah pikiran: batal “memakai” saya karena kerewelan saya. Namun saya salah, siang harinya si panitia akhirnya membalas juga. Ia meminta saya menyebutkan besaran honorarium yang saya inginkan. Wah, nggak bener ini. “Kalau Anda bertanya dari awal, pasti saya jawab. Tapi karena saya yang proaktif, tentu lucu sekali kalau saya menjawab pertanyan sendiri,” balas saya. Jujur, pada titik ini, saya mulai kehilangan semangat terlibat di lomba ini.

Si panitia pun akhirnya menyebutkan anggaran untuk juri. Saya rada terkejut. Bagaimana bisa acara kampus sebergengsi itu kesannya tidak menaruh perhatian pada kerja penjurian? Meskipun begitu, saya tak ingin buru-buru menolak. Saya tak ingin membuatnya tersinggung. Ini sudah dimulai dengan “enak” (paling tidak, panitia sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan), saya pun harus meresponsnya dengan “enak” pula. 

Saya mencoba berpikir ulang lagi dan menepikan prasangka-tak-baik yang pintar sekali memanfaatkan peluang semacam ini. 

Apakah lomba ini berbayar? Apakah saya hanya membaca puisi-puisi hasil seleksi panitia (katakanlah saya hanya membaca maksimal 30 puisi saja)? Saya pikir kalau lomba ini tak berbayar dan saya hanya membaca karya-karya terpilih saja, saya akan menerimanya. Itung-itung membantu mahasiswa, pikir saya. O ya, saya juga menanyakan partner saya dalam menilai karya-karya peserta, dan … lagi-lagi meminta panitia mengirimkan flyer lomba. 

Akhirnya panitia berterus terang bahwa lomba ini berbayar meskipun ia tak menyebutkan biaya pendaftaran dengan spesifik. Panitia ini juga, lagi-lagi, tidak mengirimkan saya flyer lomba. Selain itu, dengan anggaran ‘sekecil’ itu, ia keukeuh meminta juri (baca: saya) membaca semua karya peserta dan memasukkan nilai-nilai dengan rinci sesuai detail borang penilaian yang sudah mereka siapkan. Terakhir, mereka mengirimkan saya nama dua juri partner saya. Nama-nama yang tak saya dengar dengungnya di ranah sastra, termasuk puisi. Setelah saya googling, nama yang satu ternyata pengarang novel remaja, satunya lagi tak teridentifikasi mesin pencarian itu. 

Bismillah. Saklek saya jawab, mungkin kita belum berjodoh. Saya belum bisa bergabung dengan panel juri. Saya juga mendoakan semoga acaranya sukses!

Selama kebersastraan saya belum mampu dihargai dengan layak dan atau belum mendapatkan waktu/tempat/pihak yang tepat untuk disedekahi dengannya, maka waktu luang saya, insya Allah, lebih bermanfaat saya habiskan untuk keluarga. Bersastra demi prestise, bukan lagi zamannya. Cukup profesi guru saja yang diagung-agungkan Tanpa Tanda Jasa. Sastra, jangan masuk lubang juga! ***

 

Lubuklinggau, 2018-2020

Benny Arnas lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku. Bukunya yang akan terbit: Ethile! Ethile! (Diva Press, 2020). Ia mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya