Cerpen Indrian Koto dan Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 15 November 2020)

Kisah Sejumlah Permainan ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Permainan-Permainan yang Tak Selalu Aku Menangkan

DARI mana aku memulainya, Kawan? Bagaimana jika dari sebuah layangan yang tak pernah aku mainkan sejak dibelikan ayahku? Kuingat, layangan itu bergambar gajah, tergantung di dinding kamar yang semarak dengan berbagai gambar bekas kalender. Sambil berbaring di ranjang, aku suka menatap layangan itu berlama-lama sembari membayangkannya menukik dan membumbung di udara.

Ya, itu sebelum aku diizinkan menerbangkan layanganku sendiri, mengasah benang gelasan, atau membawa galah panjang mengejar layangan putus. Maklum, rumah kami—ruko tua bertingkat dua—terletak di tepi jalan protokol kota kecil kami, persis di sebelah pasar ikan yang ramai dilalui kendaraan bermotor.

Beruntungnya aku punya cukup banyak mainan lain yang tersimpan di kamar. Sekecil itu, aku punya satu batalyon tentara plastik lengkap dengan tank dan pesawat tempur. Juga sejumlah mobil-mobilan, punya pistol-pistolan yang dengannya aku merasa sempurna menjadi Lone Ranger atau Lucky Luke. Aku bahkan punya boneka plastik si Unyil dan seperangkat permainan masak-masakan yang sesekali aku mainkan bersama anak gadis tetangga atau sepupu yang bertandang.

Tetapi toh akhirnya, layangan bergambar gajah itu memang tak pernah aku mainkan. Selama bertahun-tahun ia selalu tergantung di sana hingga menguning, hingga raib entah ke mana. Aku tak tahu kenapa tak pernah berhasrat menerbangkannya dan selalu memilih membeli layangan baru. Seingatku, aku memang tak pernah mahir bermain layangan. Jika tak putus disambar layangan lawan, layanganku pastilah tersangkut kabel listrik. Alamak, pelototan ayah pun kerap kali kuterima lantaran keseringan minta uang membeli layang-layang.

Tapi, aku mahir bermain kelereng. Jari-jariku cukup jitu dalam bidik-membidik. Dan… Des, des! Tak! Tak! Seakan masih terbayang, bagaimana kelereng lawan yang kuincar berpelantingan, jauh terpental keluar garis disambar oleh tembakanku. Sehingga tak jarang aku pulang dengan kantong celana terisi penuh kelereng yang aku menangkan. Aha, betapa merdu bunyinya berkelotak sepanjang jalan!

Aku juga sering menang main tepuk gambar umbul. Tahukah kalian betapa aku merindukan petak-petak gambar yang berjumlah 36 kotak selembar dan harus digunting untuk dimainkan ini? Seri lakon maupun ceritera, tentu dengan logo “Gunung Kelud”—pabrik pembuatnya—yang galib tertera di kotak pertama atau di petak penghabisan. Sementara di punggung gambar yang setiap petak mulanya diisi lirik lagu anak-anak seperti “Naik-Naik ke Puncak Gunung” belakangan digantikan dengan rambu-rambu lalu lintas. Ya, sedikit pengetahuan tentang jalan raya yang rawan bagi kami anak-anak bengal.

Ada aneka bentuk permainan gambar umbul. Mulai adu tepuk atau dilempar ke udara sampai yang beraroma judi seperti tekpo, gaple, dan domino. Tiga jenis permainan terakhir aku tak begitu doyan, tak juga terlalu pandai. Tapi dalam adu tepuk, kalian mesti percaya bahwa akulah jagonya! Senantiasa terbuka nyalang gambarku tatkala jatuh melayang—entahlah karena aku memang mahir benar atau semata keberuntungan, gambar umbulku seolah tak terkalahkan.

Kami juga meyakini petak-petak umbul tertentu bakal membawa kemujuran berdasar angka atau gambarnya. Karenanya, petak umbul itu pun menjadi petak favorit yang setengah kami keramatkan. Setiap anak memiliki petak umbul keramat masing-masing, dan jika tak salah ingat aku pernah punya petak umbul favorit yang sangat aku sayangi: bergambar Gundala dan bernomor 14!

Sebagaimana juga kelereng, petak-petak umbul yang aku menangkan itu terkadang aku jual kepada teman-teman sepermainan yang kalah. Uangnya cukup untuk membeli es lilin, permen karet, maupun gambar umbul baru. Begitulah kami belajar bisnis kecil-kecilan, Kawan.

Namun, tak semua gambar umbul yang aku beli itu aku gunting. Kerap aku merasa sayang memotongnya jika mendapatkan gambar umbul yang seri ceritanya bagus. Selain murah meriah, umbul menjadi begitu populer kala itu barangkali karena ia juga dapat dinikmati sebagai komik. Dengan demikian, ia memberikan hiburan ganda, sebagai kartu permainan sekaligus bacaan mengasyikkan. Di koper tua ayahku di kolong tempat tidur, koleksi gambar umbulku mungkin nyaris mencapai seratus lembar. Yang masih lekat antara lain seri cerita Watari, Spiderman, Walisongo, CHIPS, dan Panji Tengkorak. Sayang, semua harta simpananku itu ludes dalam kebakaran saat aku sedang menempuh ujian akhir SMP.

Di kota kecil kami, anak-anak selalu mengenal pergantian musim permainan. Begitulah musim layangan, musim gambar umbul, musim kelereng dan ketapel silih berganti menyapa kami. Entah siapa yang menetapkan musim-musim permainan ini. Agaknya tak seorang pun tahu dan peduli. Kami juga tak pernah repot-repot memikirkannya. Tidak pasti berapa lama sebuah musim akan berlangsung, bisa singkat sekitar tiga minggu—satu bulan, bisa juga hingga tiga atau empat bulanan. Hanya, jika seorang anak telat mengikuti pergantian musim ini, alamat ia akan dijauhi bahkan diolok “ketinggalan zaman”.

Oh, tentu ada beragam jenis permainan yang berlaku sepanjang tahun, Kawan. Biasanya permainan-permainan ini kami kelompokkan sebagai permainan umum. Dan lazimnya kami mainkan spontan, contohnya petak umpet, cak lingking, lompat gelang karet, ela, termasuk di sini sepak bola. Selain itu, kami juga senang bermain buah karet. Bepangkak, istilahnya, dua buah karet diadu, yang pecah kalah. Jauh ke dalam kebun karet orang atau hutan, kami mencari buah-buah karet jatuh dan mengumpulkannya hingga berkantong-kantong kresek. Kerap pula kami membuat pedang-pedangan dari kayu atau senapan dari tangkai pepaya, mobil-mobilan dari kardus atau peti bekas buah. Sampai kepada permainan yang aku pandang agak jahat dan tak patut ditiru, yakni membuat ketapel dari cabang ranting, lalu menyusuri teras ruko malam-malam berbekal “peluru” kawat yang dibentuk seperti huruf U untuk menjepret cicak.

Tentu, aku tidak menganggap anak-anak zaman sekarang itu kurang kreatif. Lihat saja betapa lincahnya tangan mereka mengoperasikan stik PlayStation atau bermain game ponsel. Kecil-kecil mereka sudah pula punya Facebook dan Instagram, tak seperti kami yang cuma bisa menjadikan kupon-kupon bekas lotre sebagai uang mainan.

Tetapi, mungkin saja kamilah yang tak diuntungkan oleh zaman. Pastinya kalian mafhum, bukan, kalau setiap generasi punya kenangan dan nasib masing-masing? Yang memiliki pengalaman dan kenangan serupa bolehlah kita rayakan sejenak ini nostalgia, Kawan!

 

INDRIAN KOTO. Lahir 19 Februari 1983 di Nagari Lansano, kampung kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Buku puisinya yang telah terbit adalah Pleidoi Malin Kundang. Tinggal di Jogjakarta, mengelola toko buku kecil jualbukusastra.com dan Penerbit JBS.

 

Dalam Setiap Permainan, Aku Selalu Dikalahkan

SEPAK BOLA adalah kutukan. Setiap hari olahraga, ketika guru sedang tak ada, kami, anak laki-laki, akan digiring ke lapangan sepak bola setengah kilometer dari sekolah. Cara teraman untuk tak menyuruh para murid pulang sebelum jam belajar habis. Kami yang hanya 13 orang akan berjalan ke lapangan, terbakar matahari jelang siang, membagi kelompok sendiri dan sesuka hati menentukan posisi. Apa dayaku, anak bawang yang kadang diajak bila ada yang kosong. Kalaupun dimainkan, posisiku selalu serbasalah.

Di lapangan orang menjadi demikian egois. Begitu bola sampai di kakimu, di kanan-kirimu akan ada yang bersorak, “Woi, kasih bola woiii…”, “Umpan woii, umpan…”, “Kosooong sini!”, atau teriakan lain bernada perintah sama. Beruntung jika bola sampai ke kaki seorang kawan. Jika umpan cantik nyasar ke kaki lawan, kau akan disoraki sepanjang permainan.

Semua mengalaminya, tetapi sepertinya cuma saya yang tak tahan suasana ini. Semua orang selalu ingin hadir di depan gawang dan berharap dikenang sebagai pahlawan. Lalu, saya yang tak sepenuhnya paham teknik dan posisi, yang hanya sesekali menerima umpan, akan dikenang sebagai apa selain pecundang? Tidak, saya takkan mengambil bola untuk langgengkan seseorang yang tak pernah berterima kasih setelahnya.

Maka, pilihan bijak adalah tetap di sekolah, pura-pura pergi kencing di belakang, meringis memegang perut, cara hebat untuk tak berangkat ke lapangan. Awalnya teman-teman menyoraki, tapi lama-lama mereka terbiasa. Lalu sisa waktu, menjelang teman-teman lelaki pulang dari lapangan, bermain kasti adalah pengisi waktu paling menarik dengan teman-teman perempuan. Mereka jauh lebih memiliki rasa belas kasih.

Ya, dalam setiap permainan saya selalu dikalahkan. Jika bermain kelereng, saya harus hati-hati mencari lawan. Permainan kami tak seluruhnya pertaruhan antarbarang. Kami main kelereng dengan tiga lubang, yang kalah akan meletakkan belakang telapak tangannya di lubang pertama, lalu yang menang menembak dari lubang kedua. Dan saya harus sungguh-sungguh memilih lawan jika tak ingin menangis menahan sakit dan malu. Maka, setiap permainan dengan orang lebih besar, saya harus punya perjanjian. Bagaimanapun caranya saya harus dimenangkan. Beruntunglah, saya punya sepupu-sepupu yang baik; jago dan selalu membela saudara yang berharap lebih, tapi tak punya kemampuan. Dengan cara-cara manis mereka menangkan saya.

Demikianlah takdir saya sebagai anak bawang. Meski tak jarang sepupu baik itu bertingkah sedikit sadis, memenangkan pertandingan terlebih dahulu, membiarkan saya tersiksa menahan tangis menjelang akhir pertandingan.

Ini lebih sering teralami sebenarnya. Saya diajak lebih sering karena pemain kurang, dengan janji-janji muluk tadi. Jika pemain bertambah banyak, awak pun terabaikan. Dibiarkan bertarung di bagian terakhir dengan muka merah menahan tangis dan berakhir dengan meletakkan tangan di lubang pertama sambil berjanji, “Tak lagi aku main dengan kalian.” Begitu sepanjang petang, berulang hingga musim kelereng mesti diselesaikan.

Saya berteman dengan teman yang pandai membikin mainan tanpa sedikit pun kemampuan mereka mampu dicuri. Anak laki-laki di musim tertentu membikin oto-oto dari pelepah sagu yang dilicinkan. Oto-oto mereka bagus-bagus, mulai dari oto prah (truk), pikap, mobil boks, bus antarkota hingga yang mencengangkan: Budi Jaya Patah Pinggang. Ini bus terkenal di kampung kami, trayek Surantih-Padang dengan pinggang bus yang melengkung. Oto-oto mereka dicat sesuai warna, diberi ban dengan bekas sandal karet diberi tali. Di akhir permainan, oto-oto ini sering mereka adu. Rusak, tinggal dibikin lagi. Tragis sungguh nasib saya, hanya mampu membikin sasis, langkah pertama untuk merakit.

Jika musim layangan tiba, sepupu-sepupu saya adalah karib yang kadang sedikit kejam. Saya hanya punya mereka yang bisa diandalkan. Mereka jago membikin layang-layang. Saya? Satu-satunya keahlian adalah membikin kerangka layang-layang maco, teknik sederhana dari jenis layang-layang yang ada di dunia ini: kerangka yang berbentuk salib, ditarik dengan benang di semua sisi-sisinya. Tapi, layangan buatanku tak pernah jadi, sebagaimana nasib oto-oto yang selesai sampai di sasis. Apa boleh buat, permainan terus berlangsung. Begitu belajar satu permainan, permainan baru menghadang di hadapan.

Gambar umbul dengan banyak ragam jenis permainannya lebih merepotkan. Main leper jelas tak bisa kukuasai. Ini permainan kelas tinggi. Tak jarang saya tak mendapat jatah melempar karena lemparan pertama tak sampai ke tengah lapangan. Jelas, ini sia-sia dan saya pasti memilih berada di barisan penonton, memihak pemenang, membantu ia mengumpulkan kertas gambar, mendapat jatah beberapa lembar di akhir permainan. Main lempar gambar, tepuk gambar, tebak angka jelas penuh peruntungan. Sialnya, bahkan Tuhan pun tak selalu berpihak kepada saya.

Selain sepak bola, saya benci pula main perang-perangan. Sumpah mati, apa enaknya permainan ini? Kita berkelompok, saling sembunyi dan menyerang dengan ranting mengarah kepada lawan: “Drdrdrdrdrdr… Mati kau!” Sialnya, permainan ini tak sepenuhnya mengandalkan insting, melainkan juga kemampuan untuk keras kepala dan berdebat. Setiap yang ditembak tak pernah mengaku mati, justru merekalah yang merasa lebih dulu menembak. Setengah marah, setengah ingin menangis, di tengah permainan saya memilih banyak mengalah. Terus-terusan berlari dan bersembunyi, menembak lawan tetapi selalu mati duluan, atau mundur dengan jantan dari arena dengan sorakan yang membuat tangismu bisa pecah sebelum sampai di garis aman.

Ya, apa pun itu permainannya, bisa dipastikan saya kalah. Tapi, saya tetap ingin maju di setiap pertandingan. Karena sesukar apa pun, semua permainan itu memang tampak begitu seru. Dan saya tak sendirian sebenarnya. Tetapi, sering kali para pecundang tak pernah memiliki ikatan persaudaraan. Saya tetap merasa sendirian. (*)

 

SUNLIE THOMAS ALEXANDER. Lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Kumpulan kritik sastra Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu merupakan buku terbarunya. Tinggal di Jogjakarta dan mengelola penerbit indie Ladang Publishing.