Cerpen Muna Masyari (Kompas, 08 November 2020)

Ulat Daun Emas ilustrasi Kuss Indarto/Kompas

Tidakkah kau perhatikan bagaimana sesungguhnya dia seperti ulat? Merayapi dahan-dahan, untuk kemudian berpesta daun segar. Pakaian-pakaian bagus dan mahal yang dikenakan bagai bulu-bulu halus yang menghiasi permukaan kulit ulat, tampak indah namun bikin gatal. Setiap omongan besarnya tak lebih dari kotoran yang muncrat ketika ulat kena injak, hijau-pekat dan menjijikkan!

Tidakkah kauperhatikan bagaimana sesungguhnya dia seperti ulat? Oh, tentu bukan ulat tanduk hijau berhias garis putih-hitam yang menggemaskan dan sering kauakrabi di tegal itu. Bukan! Dialah ulat yang merayapi dahan-dahan kecil sepertimu. Setiap dahanmu menyembul tunas-tunas baru, dia datang memamahnya hingga lumat, dan kau menjelma dahan gundul tak berdaya, diam kaku menunggu musim kembali tiba.

Sudah berapa banyak peluh kuning kau peras lalu dia sesap?

***

“Apakah Jhi Sappak akan pergi umrah lagi?” kau menyambung pertanyaan setelah mendapat jawaban bahwa aku sedang menggambar pola untuk gamis H. Sappak.

Kuiyakan tanpa mengangkat wajah, tak ingin konsentrasi terpecah. Tatapan dan pikiran kupusatkan pada permukaan kain yang terhampar. Kuluruskan pita meteran, menandai kain di titik angka 32 sebagai batas seperempat lingkar dada, lalu membuat lengkung dari ujung garis bahu hingga titik 32 tadi untuk kerung lengan….

Kurasakan tatapanmu mengikuti gerak tanganku.

Bukan sekali ini H. Sappak memesan jahitan gamis menjelang keberangkatannya ke tanah suci. Tepatnya, sehabis panen tembakau dia pergi umrah, tiap itu pula bikin gamis baru sebelum berangkat, persiapan untuk dipakai sepulang dari sana, karena gamis-gamis produk Arab tak ada yang pas dengan ukuran badannya.

Ukuran badan H. Sappak sudah kuhapal. Mulai dari lingkar dada, lingkar panggul, lebar bahu, panjang lengan, panjang gamis, angka-angka itu masih bersusun rapi dalam ingatan. Sisanya, tinggal kutanyakan mau minta model kantong apa dan kerah yang bagaimana. Walaupun kutunjukkan beberapa foto atau sketsa, dia masih menambahinya dengan varian yang disukai. Tidak serta merta asal tunjuk.

Tahun kemarin minta kerah koko yang dihiasi bordiran benang perak campur emas, dikasih kancing bulat emas, ujung lengan dan kantong dada juga dibordir dengan warna senada. Tidak perlu dikasih kantong samping. Panjang gamis cukup separuh betis dengan tepi bawah dibentuk oval.

Kali ini minta model kerah the cuban collar, kancing jas besar dengan bukaan depan penuh, panjang gamis semata kaki, ujung lengan dibelah belakang berhias dua kancing.

“Kemarin itu aku ke rumahnya menagih sisa uang tambakau, tapi dia bilang dari gudang pusat belum cair.” Suaramu seperti derak pohon tumbang, membuat konsentrasiku terbang berhamburan laksana burung kaget.

Kuangkat kepala, menatapmu yang duduk di seberang hamparan kain dan masih menggenggam segulung benang yang kaupinjam kemarin. Ada gugat berakar di matamu. Kau menatap kain putih yang belum kupotong dengan wajah beku seperti dahan gundul kehilangan daun.

“Berapa uangmu yang belum dibayar?”

“Yang kemarin saja sekitar tiga jutaan. Setelah dipotong utang modal, hanya dikasih 500 ribu. Sisa yang tiga jutaan itu, ditagih beberapa kali tetap belum dibayar.”

“Tahun-tahun sebelumnya?”

“Aku sendiri lupa sudah, anakku yang ingat. Dia selalu mendesakku agar ditagih, ingin beli sepeda motor katanya.” Kau mendesah samar.

Terbayang di benakku sepasang mata anakmu yang begitu bernyala semangat, membantumu selama menanam dan merawat pohon tembakau. Katamu, dia tak pernah mengeluh meskipun harus bangun sebelum subuh, berangkat menyiram melawan gigil yang meringkus badan mengilukan tulang. Tidak merasa malu apalagi jijik menyunggi sakarung pupuk kandang. Tak peduli kulitnya kering menghitam akibat matahari bengis memanggang.

Jika persediaan air mulai menipis, menyiram di pertengahan malam pun kalian lakukan. Kau dan anakmu saling berganti posisi. Jika dia yang mengerek timba di sumur, kau yang memikul dan menyiramkannya. Demikian juga sebaliknya. Kulit tangannya lebih cepat memerah akibat mencengkram tambang jika dibandingkan dengan tanganmu.

Kau hanya bisa mengusap dada ketika melihatnya meniup telapak tangan dengan wajah setengah meringis. Tak perlu mendengarnya berkeluh, aku yakin kau ikut merasakan panas dan perih yang dirasakannya. Andai suamimu masih ada, saat ini tangan itu tentu masih terbiasa memegang pena memaknai kitab, bukan mencengkeram gagang cangkul dan tambang timba sumur.

Di usia lima belas tahun seharusnya dia berada di pondok pesantren. Bukankah demikian harapan suamimu dulu? Namun nasib bertutur lain. Suamimu meninggal hanya menitipkan yatim di pangkuan dan dua petak tegal. Dengan dua petak itulah kau menyambung hidup sambil membesarkan anakmu yang saat itu baru berusia tujuh tahun.

Kini, anakmu sudah tumbuh menjadi pemuda tanggung dan mulai belajar jadi tulang punggung. Memasuki musim tanam tembakau, kau dan anakmu seolah menabur benih emas bersiram keringat. Harapan demi harapan muncul sepanjang tumbuhnya helai-helai daun.

Selama ikut merawat, memupuki, menyirami, membuang ulatnya, anakmu kerap berceloteh tentang teman-temannya yang sudah memiliki sepeda motor sendiri. Tentang keinginan-keinginannya jika nanti memiliki sepeda motor juga seperti mereka.

“Cobalah nanti kau jual ke gudang lain, daripada tidak dibayar begitu!” saranku.

“Mau dijual ke gudang mana kalau modal tetap berutang padanya?” kau menarik napas.

“Cari utang modal pada orang lain saja.”

“Berutang pada orang lain kalau banyak malah dimintai bunga. Bertani dengan modal uang riba sama saja menanam pohon api, kata orangtuaku dulu!”

Ketakberdayaan di wajahmu semakin lekat, sepasrah daun dimamah ulat.

Selain perawatan yang tak segampang tanaman pangan, tembakau juga butuh modal besar. Sejak pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan, masih bisa dikerjakan sendiri. Akan tetapi, begitu memasuki masa panen, mulai dari memetik, memeram, menggulung, merajang, menjemur, hingga pengebalan, semua pengerjaannya membutuhkan jasa tenaga kuli, dan hal itu menyedot dana yang jauh lebih besar dari masa penanaman.

Sebagaimana petani kurang mampu di desa ini, modal tanam tembakau hingga masa panen kau utang pada H. Sappak. Selain tanpa bunga, mau berutang berapapun tak pernah pulang dengan tangan hampa.

Entah siapa yang memulai, sebagai balas jasa, begitu panen tiba, semua hasil rajangan tembakau dijual padanya. Padahal, penjualan pada H. Sappak tidak pernah membuat dirimu dan orang-orang itu puas. Tembakau-tembakau kalian hampir tidak pernah dibayar lunas. Setelah dipotong utang modal, sisa pembayaran sulit diharapkan.

Kalaupun dibayar sebagian, dengan cara dicicil hingga tak berwujud sesuatu yang berharga karena habis digunakan untuk belanja. Padahal, musim tembakau menjadi musim impian, bagai menyembulnya tunas-tunas emas di musim hujan. Musim yang dinanti-nanti dan hanya kembali setahun sekali. Musim di mana uang kecil seolah bersembunyi.

Kuli, pedagang, petani, berlomba menjunjung mimpi bagai penjudi. Harapan-harapan untuk membeli barang mahal berharap tunai di musim panen itu. Pun, impian anakmu untuk membeli sepeda motor sudah digantung sejak tahun lalu.

“Kalau memang punya niat melunasi, daripada pergi umrah tiap tahun ‘kan lebih baik dibuat bayar utang, taiya?” tambahmu.

“Benar kau itu! Ongkos umrah tidak sedikit, ditambah biaya pesta keberangkatan dan kepulangan yang selalu menggelar pesta meriah.”

“Belum menghitung belanja dapur, untuk beli petasan dan uang pengganti bensin untuk sepeda motornya saja tidak cukup tiga juta.”

“Ditambah oleh-oleh, taiya,” timpalku.

Sebagaimana tradisi pulang haji, setiap kali H. Sappak pulang umrah, penjemputannya dipawai dengan ratusan kendaran roda dua dan puluhan roda empat. Sebagian besar sepeda motor itu dicopot leher knalpotnya hingga menimbulkan bunyi yang meraung-raung keras dan parau, beradu dengan bunyi petasan yang menyalak susul-menyusul dan gaduhnya tabuhan rebana.

Selain suguhan-suguhan istimewa, suvenir yang hadiahkan kepada para tamu juga beragam. Ada sajadah, serban, peci putih, gamis dan barang-barang produk Arab lainnya. Khusus kerabat dekat dan kiai dihadiahi permadani.

Selama menemui tamu, dengan bangga H. Sappak tak henti bercerita tentang perjalanannya, tempat-tempat bersejarah yang diziarahi, juga ibadah-ibadah yang sudah ditunaikan selama berada di tanah suci.

Tak lupa dia membeberkan tentang jutaan rupiah yang dihabiskan dalam berbelanja sebagai oleh-oleh. Pada saat itulah aku teringat cairan perut ulat yang muncrat ketika diinjak. Sangat menjijikkan!

“Kalau begitu sering-sering saja kau tagih. Siapa tahu kalau sudah bosan ditagih lama-lama dibayar juga!” usulku akhirnya.

“Justru aku malas sering-sering ke sana. Setiap menagih, sudah tidak dibayar, kadang suka colak-colek jika kebetulan istrinya tidak ada di rumah.”

Tiba-tiba sekujur tubuhku merasa panas-gatal mendengar keluhanmu. Berkali-kali ke tanah suci masih sekurang ajar itu? Dasar ulat beracun! Kutukku geram.

Senja diam-diam mengintip ketika kau pamit dan benang putih kau serahkan seraya berucap terima kasih. Saat melangkah pulang, kulihat tumitmu yang hitam pecah-pecah seperti parut karat.

Setelah punggungmu lenyap di balik pintu pagar, kuperhatikan lagi hamparan kain yang sudah bergambar separuh pola dan bisa kusempurnakan untuk kemudian dipotong. Akan tetapi….

***

Akhirnya dia datang juga untuk mengambil gamis pesanannya dengan pelipis berleleh peluh seperti biasa. Cincin batu akik di jemarinya bagai manik-manik di punggung ulat.

“Apa sudah selesai?”

“Kainnya kurang, Jhi!”

“Bagaimana bisa kurang? Bukankah 3 meter biasanya masih ada sisa? Lebarnya ‘kan dobel.” dahinya mengernyit heran.

Kuperlihatkan selembar kain yang sudah dipotong dengan bentuk kain kafan lapis pertama sambil membayangkan seekor ulat menggeliat kepanasan saat disundut bara ujung rokok.

 

Madura, Juli 2020

Muna Masyari bertempat di Pamekasan, Madura. Peraih Cerpen Terbaik Kompas 2017, dengan judul Kasur Tanah. Penerima Anugerah Sutasoma kategori Sastra Indonesia Terbaik 2020 lewat buku Martabat Kematian.

Kuss Indarto menerbitkan buku kumpulan karikatur Sketsa di Tanah Mer(d)eka (1998) dan kumpulan tulisan seni rupa Jejak Rupa (2015). Menguratori berbagai pameran seni rupa, antara lain Biennale Jogja (2007), Pameran Koleksi Galeri Nasional Indonesia di Museum Nasional Kamboja (2014) dan Ruang Indonesia di Beijing International Art Biennale (2017).