Cerpen Fahrul Khakim (Media Indonesia, 08 November 2020)

Martavan ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia
Martavan ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

MANDAU itu telah menghunus perut Lita, memecahkan segala harapan yang tersisa. Lita melotot getir, menahan dua sakit yang mendera: sakit mengingat Husein babak belur dihajar pemuda desa sekaligus sakit yang bersarang di ulu lambungnya. Kini Lita sadar segala puisi telah jadi kelabu, tanpa tahu ke mana lagi dia harus mengadu.

Seandainya Lita mau sedikit mendengar kata bapak, kejadiannya pasti akan berbeda…. Ah, tapi…

“Bapak ingin kau segera menikah, Lita. Apa kau sudah menemukan pemuda desa ini yang mengikat hatimu?” Tatapan tegas mata Bapak tertuju pada tubuh semampai Lita.

Bibir Lita gamang, pias. “Belum, Bapak.”

“Baguslah, biar Bapak pilihkan saja untukmu.”

“Tidak, Bapak,” Lita ingin berkata jujur, tetapi dia justru berdusta untuk kedua kalinya. “Beri aku waktu untuk menentukan pilihanku sendiri,”

Bapak menatap gurat sungguh-sungguh yang berpendar di wajah gadis bungsunya, tersirat wajah mendiang istrinya dalam lekuk pipi dan hidung Lita. Begitu polos dan memesona. Tak urung, bapak mengangguk setuju.

Seandainya Lita tak berbohong saat itu, mungkin bapak tak akan menaruh harapan palsu….

Siang-malam, pagi-sore, Lita terbenam dalam kegelisahan yang rimbun. Lita tidak jatuh hati pada satu pun pemuda desanya. Danu yang perkasa, atau Hari yang jago berburu tak sanggup membuat Lita terpikat. Walau kedua pemuda itu terang-terangan menunjukkan gelagat asmara pada Lita, mereka sombong dan membosankan.

Lita melihat pemuda di sini seperti bapak, begitu berkuasa atas diri seorang perempuan. Hati Lita semakin tertutup sejak kedatangan Husein ke desanya. Asisten peneliti itu datang ke desa suku Iban untuk melakukan penelitian di hutan Kalimantan. Husein tahu banyak soal nama-nama dan kegunaan aneka tanaman di desa itu lebih dari Lita dan warga setempat. Lita pernah dibuat bengong dengan kemampuan Husein menggambar bekantan dengan pensil sketsa.

“Kau punya sihir?” tuduh Lita.

“Tidak, ini hanya sketsa. Aku bisa mengajarimu membuatnya,” jawab pemuda kota berperawakan kurus dan berkacamata cekung itu.

Perangai Husein yang ramah membuatnya bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk Lita yang masih menyimpan sisa jiwa remajanya yang selalu penasaran akan segala hal. Husein mengajarinya menggambar dengan telaten sampai degup-degup hangat tergambar nyata dalam jiwa Lita. Tiada lagi yang bisa membuatnya tersenyum tanpa henti selain Husein.

Seandainya Lita tak tertarik sihir gambar itu, pastilah bapak tak marah padanya….

“Jauhi pemuda kurus itu, Lita. Mereka bukan suku kita. Mereka hanya ingin mencuri sesuatu dari desa kita,” Bapak mulai menyadari kedekatan Lita dengan Husein.

“Dia baik, Bapak. Dia hanya mengajariku menggambar. Aku bisa memanfaatkannya untuk menghias baju-bajuku.” Lita berkelit.

“Tidak, kau harus berhenti menemuinya. Kau bisa belajar menghias baju atau mengukir kepada para ibu di desa.”

“Aku sudah bosan belajar pada mereka, Bapak….”

“Jangan membantah. Kau tak boleh mendekatinya lagi. Bapak sudah menaruh memecahkan tangkai di martavan dan menaruhnya di depan rumah kita, artinya kau sudah siap untuk dipersunting pemuda desa ini. Kau hanya boleh menikah dengan suku kita, harusnya kau menjaga diri,” sungut Bapak.

Bapak merebut buku gambar Lita, barang pemberian Husein yang sangat berarti baginya. Kesunyian mengurai benang kesedihan yang dalam di hati Lita ketika membiarkan bapak membakar buku gambar itu.

Kalau saja suami Kak Momo masih hidup…

Bapak menaruh harapan besar pada calon menantunya sebagai penerus tampuk kepala suku di desa ini. Selama beberapa generasi, kepala suku selalu berasal dari garis keluarga bapak. Apalah yang bisa bapak lakukan ketika ibu wafat dan meninggalkan dua anak gadis? Bapak tidak bisa memiliki seorang putra kecuali dengan menikahkan putrinya.

Seharusnya hidup Lita tenang ketika Kak Momo menikah dengan Taja. Bapak memupuk cecita agung pada Taja yang merupakan seorang pemuda idaman semua perempuan suku Iban: gagah, berani, dan tangguh dalam mengayunkan mandau. Hidup Kak Momo hampir sempurna sebelum suku lain mengayau kepala Taja ketika perang antarsuku setahun lalu. Selama hampir setahun setelahnya, Kak Momo berhenti bicara kecuali dengan bayangannya sendiri.

Bapak mencemaskannya tiada terkira. Kak Momo sudah kehilangan hasrat untuk mengarungi hidup dengan seorang lelaki. Kandungannya keguguran dalam usia tujuh bulan. Dukun desa yang mengeluarkan janin penuh darah dari rahim Kak Momo pingsan setelah prosesi pengobatan yang melelahkan itu selesai.

Kak Momo menolak janin matinya dikeluarkan. “Biarkan pemberian Taja ini tertinggal di perutku. Jangan diambil!”

Dia mengamuk dengan ganas sampai sang perempuan balian atau dukun kewalahan membantunya.

Kak Momo memandang nirmakna kehidupan ini setelah keluarga kecilnya binasa. Dia hanya bergerak untuk makan, bernapas dan tidur yang menandakannya masih bisa disebut makhluk hidup.

Seandainya bukan Lita harapan terakhir bapak untuk memiliki seorang penerus laki-laki…. 

Harapan besar bapak terpancang pada Lita seorang. Martavan dengan tangkai yang sudah dibelah jadi tanda sakral adat suku Iban, seorang gadis menunggu dilamar dengan segera. Lita selalu berusaha menggagalkan lamaran para pemuda desa sampai akhirnya Husein, asisten dosen Universitas Airlangga itu, memberi warna baru dalam hidupnya.

Tiga hari sudah Lita menyeduh rindunya pada Husein tanpa sekalipun bertemu muka. Dia takut bapak marah dan lantas mengayau kepala pemuda berjenggot tipis itu. Lita duduk di lamin, rumah adat suku Iban, sambil melihat kesengsaraan telah membuat Kak Momo menatap kosong kehidupan. Gerak tubuh Kak Momo lebih sunyi dari kesunyian itu sendiri. Lita bergidik sekaligus iba.

Bapak sedang berburu ketika Lita keluar lamin. Kegulanaan telah menyepuh keberaniannya untuk menemui Husein segera. Lita geram dengan obsesi bapak untuk meneruskan tampuk kepala suku dari keluarganya sendiri. Lita terbayang-bayang suaminya nanti akan dipenggal seperti mendiang Taja saat tertangkap perang. Martavan yang telah dipatahkan tangkainya itu disebut tajau. Apa pun sebutannya, Lita terlanjur dirundung gusar ketika melihatnya. Tanpa segan atau ragu, dia menendang tajau itu sampai terguling, lalu pecah. Sebersit kecewa dan sesal berjelanak di dadanya.

Lekas-lekas Lita membereskan pecahan tajau itu. Rasa cemas mengendalikan tubuhnya untuk membuang pecahan tajau itu sejauh mungkin sebelum bapak mengetahuinya. Kaki Lita menelusuri tepi desa sampai di tempatnya biasa bertemu dengan Husein. Dari semua tempat yang Lita hapal di daerah ini, entah naluri apa yang membawanya kemari.

Tapi kejadian di depannya membuat Lita terperanjat ngeri sekaligus geram. 

Jikalau tajau itu tak pecah, mungkin Husein akan mati… 

Hari dan Danu menghajar Husein sampai lelaki kurus itu bersimbah lebam dan luka. Lita melempari kedua pemuda suku Iban itu dengan pecahan tajau sampai mereka menjauhi tubuh sekarat Husein.

“Hentikan! Apa salah Husein pada kalian?” Lita segera bersimpuh di dekat Husein yang terlentang di tanah.

“Dia merebutmu dari kami,” Danu menatap Lita dengan geram.

“Tidak, aku yang mendekatinya. Kalian memang bedebah, sama sekali tak berhak mendapatkan cintaku. Hanya pemuda baik ini yang pantas untukku. Pergi kalian.” Lita bersungut dengan bersimbah rasa marah dan bingung.

“Tidak, Lita. Kau hanya boleh memilih di antara kami. Jika tidak, maka tidak seorang di dunia ini boleh memilikimu.” Hari menebarkan ancaman.

“Tidak, kalian jahat. Iblis!” Lita menggeleng sambil menahan air mata.

Tiba-tiba dari belantara pepohonan damar terdengar suara-suara asing, tampaknya itu rombongan Husein sedang panik mencari anggota mereka yang hilang. Danu dan Hari bergegas menyeret Lita.

“Tidak, aku tak mau. Jangan pisahkan kami!” Walau Lita meronta sekuat tenaga, Danu dan Hari berhasil membawanya menjauh.

Mereka lengah saat Lita mulai berhenti melawan. Mereka melepaskan Lita karena iba mendengar sesenggukan pedih gadis itu. Lita memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil mandau Danu lalu membacok lengan Danu sampai pemuda itu menjerit kesakitan.

Hari yang menyadari keberingasan Lita segera melindungi diri.

“Lita, buang mandau itu.” Hari memperingatkan tapi tetap waspada.

“Tidak, aku akan bunuh kalian.” Mata Lita nyalang dan nanap bagai harimau terluka.

Hari mengeluarkan mandau ketika Lita hendak menyerangnya. Perempuan itu kurang perhitungan ketika mandau Hari tepat menghunus ulu lambungnya.

Mandau itu jatuh dari pegangan Lita yang melemah karena perempuan itu tak kuasa merasakan sakit yang lebih pedih dari rasa sakit itu sendiri. Perasaan dan tubuhnya koyak sudah.

Dengan getir, Hari menatap Lita jatuh terhuyung ke tanah, “Lita, aku selalu melihat tajau di depan rumahmu setiap hari. Seandainya kau mau menikahiku…,” desisnya. (M-2)