Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 November 2020)

Saya dan Yuk Yeyen dalam sebuah perhelatan kebudayaan (2017)

memang tak ada yang lebih adil dari kuasa-Mu, termasuk waktu-waktu yang rindu menyeret kita hingga ke perigi itu

memang, tak ada yang lebih cinta dari cinta selain Kamu, tapi bila disilakan memilih aku ingin lebih lama memikul ini

asalkan dia masih memandangku dengan air muka bahagia tanpa garis tepi

asalkan duri-duri lepas dari langit dan kami saling berpelukan menahan perihnya kesetiaan *

Dua bulan lalu, ketika kami mengunjungi perempuan 45 tahun itu di rumahnya, sebagaimana biasa ia menyambut kami dengan antusias. Kami membawakannya nangka belanda matang pohon dari pohonnya di pekarangan kami. Kami mendengarkannya bercerita panjang lebar tentang kanker yang diidapnya lebih dua tahun belakangan ini. “Kanker payudara ini sudah menyerang tulang belakang,” katanya dengan suara cempreng dan antusias. Kami yang ingin mengungkapkan simpati atas ketegarannya, langsung ia sambar, “Nggak usah drama-dramaan, bikin emosi naik-turun aja, ntar malah buat tambah menderita.” Tentu saja kami terdiam dan malu sendiri. “Aku nggak butuh apa-apa, apalagi ucapan ini-itu, nggak,” katanya lagi. Ia terdengar pongah, tapi perasaan saya makin nelangsa. “Yang kubutuhkan adalah kekuatan dan kekuatan. Kanker keparat ini harus tahu kalau aku adalah lawan yang tangguh bagi mereka.” Kami makin diam dan tenggelam. “Kalaupun harus kalah, itu bukan saya!”

Kami angslup oleh perlawanannya.

Lalu percakapan pun ke mana-mana. Kami bersenda-gurau membahas berbagai topik. Sepulang dari sana, saya mengetik sebuah cerpen dan memberitahunya tentang itu. “Kirim ke Ayuk kalau sudah selesai, Benn,” isi pesannya. Tentu saja saya mengiyakan. Dengan atau tanpa ia minta, saya pasti akan menjadikannya pembaca pertama cerpen itu. Lalu, tanpa diminta, ia pun mengirim daftar obat yang ia konsumsi selama ini, disertai informasi kegunaan, dosis, dan referensinya. Saya mengucapkan banyak terima kasih, meski untuk sebuah cerpen, saya tak membutuhkan detail yang terlalu rinci.

Sepekan setelah kunjungan itu, ia memberi tahu kalau ia dalam perjalanan ke Palembang untuk melakukan kemoterapinya yang kesekian (mungkin ia menyebut angka, tapi saya tidak ingat) dan menanyakan tentang cerpen itu. Kebetulan saya baru saja menyelesaikan penyuntingan cerpen itu sehingga bisa langsung mengirimkannya via WhatsApp.

“Nanti akan Ayuk baca begitu mobil ini berhenti rehat,” balasnya.

Sejam kemudian ia meyampaikan hasil pembacaannya tentang cerpen itu dan memberi sejumlah saran.

Saya senang sekali mendapati ia masih cerewet dan kritis. “Artinya Ayuk masih sehat,” ketik saya di WhatsApp.

Ia membalas dengan emotikon tertawa terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata.

Saya makin yakin kalau keadaannya makin baik dan insya Allah akan terus membaik.

Sampai kemudian, dua pekan ini kami tidak bertukar kabar. Di media sosial, ia tidak lagi memposting tentang kekuatannya menghadapi kanker atau aktivitas-bersama-keluarga yang menjadi salah satu sumber kekuatannya. Kami—saya dan istri—sempat membincangkan tentang absennya beliau di media sosial yang biasanya menjadi kabar kepada publik kalau ia masih tangguh, masih wanita yang ingin mengalahkan kanker ganas itu. Kami tak sabar menanti akhir yang bahagia itu, di mana kemenangan memeluknya.

Mungkin, berita-berita duka yang bergantian keluar-masuk ke penglihatan dan pendengaran kami dua pekanan ini membuat perempuan itu kami tepikan untuk sementara. Saudara jauh istri berpulang, tidak hanya satu, tapi suami-istri dalam waktu yang berdekatan. Lalu seorang anggota DPRD Kota yang dikenal dekat seniman juga berpulang, lalu mantan staf TU tempat saya dan istri pernah mengajar juga masuk lingkaran kabar lelayu, lalu … seorang anak didik nasyid saya yang masih muda dan belum menikah juga digandeng Izrail, lalu … lalu … lalu ….

Ah, waktu yang ligat dan takdir yang cerkas membuat kita akhirnya hanya berurusan dengan diri sendiri. Di tengah kabar duka yang menyambar-nyambar itu, kami juga berurusan dengan kekalutan yang datang tanpa mengetuk pintu: paman, bibi, lalu ibu saya, lalu adik bungsu saya positif korona. Saya melakukan tes usap dan lebih sepekan mengisolasi diri dari keluarga karena Puskesmas tak kunjung mengeluarkan hasil tesnya.

Sebuah produksi iklan yang mestinya turut saya produseri, terpaksa harus dialihkan, meskipun saya tetap membantu sebagai penulis naskah kreatifnya. Berbagai undangan dan perhelatan di luar kota saya abaikan meski hasil tes usap saya sudah keluar: negatif.

Lalu, ketika semua sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya dan energi itu pelan-pelan dibangun kembali, pagi Selasa kemarin (3-11-20) istri saya menelepon. “Yah, sudah dapat kabar tentang Yuk Yeyen?”

Deg, perasaan saya lemas serta-merta. Saya tahu, istri saya memberi kabar dengan mata yang basah. Perempuan tangguh itu pun bergabung dengan lingkaran kabar duka ….

Saya mengetik ini dengan sejumlah kenangan atas Yuk Yeyen. Dia adalah Julia, tandem saya bermain teater untuk pertama kalinya atas naskah lakon yang juga saya tulis untuk pertama kalinya “Membunuh Shakespeare” (2011), naskah yang kemudian membawa saya ke Selandia Baru (November-Desember. 2016). Dalam proses latihan itu, ia pernah menengahi perseteruan saya dan istri ketika latihan hendak dimulai. Bukan karena istri cemburu saya memerankan Romeo di lakon itu, tapi rumah tangga yang baru berumur empat bulan itu sedang rajin-rajinnya dihinggapi masalah-masalah kecil yang memercik dan berubah jadi petasan di rumah yang masih muda.

Atas ingatan indah-indahlah sebaiknya kita mengenang yang berpulang. Atas semua jasa dan cerita hijau rayalah, orang-orang yang kita kenal terus kita siram dengan prasangka baik. Tiba-tiba saya tidak tahu harus mengetik apa lagi ketika ingatan dan pikiran sampai pada titik yang menggetarkan jemari saya di aplikasi Note di ponsel tempat saya merampungkan catatan ini: lalu bagaimana ketika giliran saya tiba? *

Lubuklinggau, 4 November 2020

* Puisi berjudul Setia yang saya buat untuk Yenni Elvita dan suaminya Agus Salim pada Agustus 2016. Saya menemukannya ketika melakukan pencarian foto kami berdua untuk Catatan Rabuan ini. Perempuan hebat itu ternyata memposting puisi itu di Facebooknya pada hari saya mengirimkan puisi itu.

Benny Arnas lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku. Bukunya yang akan terbit: Ethile! Ethile! (Diva Press, 2020). Ia mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya.