Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 28 Oktober 2020)

Tiga tahun ini saya menulis draf buku-buku saya di ponsel  pintar. Tidak ada pertimbangan apa pun, selain efektivitas dan kepraktisan. Di tengah load aktivitas yang kerap berbelok dari prediksi, bisa mengetik di mana dan kapan saja adalah keterampilan. Artinya, mengetik di ponsel termasuk di dalamnya. 

Tiga tahun ini saya terus belajar agar bisa menikmati keterampilan ini sebagaimana saya dulu biasa melakukannya di laptop atau komputer. Bagaimana belajarnya? Nggak pake kursus-kursusan atau lokakarya-lokakaryaan, cukup mendorong-paksa diri untuk makin sering mengetik di mana dan kapan saja sehingga mau tidak mau ponsel akan dipakai untuk itu. Lagipula, apa yang sulit? Wong nulis status panjang di medsos cum ngomentarin apa-apa dengan kenyinyiran tingkat dewa hingga belasan paragraf aja kuat, masa nulis untuk bener-bener nulis, nggak bisa?!

***

Sepengalaman saya, mengetik di ponsel akan menghadapkan kita pada beberapa keadaan berikut:

Pertama, tekanan ujung jari kita harus presisi pada tuts keyboard digital. Melenceng sedikit, tentu saja akan saltik. Meskipun dalam proses menulis ini hal lumrah, sebab penyuntingan akan membereskannya, tapi kalau saltik itu membuat kita tak mampu mengenali bentuk kata dasarnya, tentu kita tak bisa berkompromi dengan ini. Oleh karena itu, memilih ukuran ponsel itu menjadi penting. Artinya kalau ponsel yang sekarang digunakan ukurannya membuatmu tak nyaman mengetik lama, entah karena terlalu besar atau terlalu kecil, kamu harus beli gawai baru yang juga punya desain papan tik digital yang cocok dengan ujung jarimu. Kalau kamu nggak punya cukup uang, apalagi untuk spesifikasi itu, yaaa jangan baper. Beradaptasilah dengan ponsel lamamu. Kalau gagal lagi? Kembali ke laptop atau komputermulah. Apa? Nggak punya juga? Balik ke hape-mu lagi? Apa? Masih manja? No comment-lah, takut dosa, soalnya.

Kedua, kalau yang digunakan itu adalah ponsel yang juga kamu gunakan untuk bermedia sosial atau ada paket data di dalamnya, berhati-hatilah. Inilah yang paling sering membuat urusan mengetik di ponsel menjadi lambat, terhambat, atau tak menghasilkan apa pun, selain waktu yang terbuang—lalu menangis merutuki medsos yang gemar menggoda. Ya, notifikasi demi notifikasi susah sekali di abaikan. Tapi, ‘kan, kita bisa mengatur ponsel dalam mode pesawat sehingga, jangankan notifikasi medsos, telepon pun takkan bisa masuk? Oh ya? Yakin kamu bisa istiqomah untuk tidak menonaktifkan internet di ponselmu? Pengalaman saya, setan yang terkutuk gemar sekali membisiki beragam bentuk godaan. Kamu nggak buka medsos kok, buka Google aja, karena kamu perlu riset cepat untuk menemukan, mencocokkan, atau menguatkan data-data dalam novelmu … untuk kemudian melipar-lipir ke medsos juga. Hadeuh!

Yang ketiga, mengetik di ponsel relatif mudah lelah. Hal ini disebabkan karena daya tahan kita hanya mengandalkan kekuatan jemari (baca: kedua ibu jari tangan) dan mata yang melek terus. Sementara itu, mengetik di gawai memungkinkan kita untuk berada dalam berbagai posisi yang menurut kita paling nyaman. Lalu, adakah yang lebih nyaman main hape selain sambil tiduran dan selonjoran? Di sini, setan tak perlu retorika, ia cukup ngakak dari jauh menyaksikan sepoi angin membuatmu nguap sebelum menyerah tanpa syarat.

Keempat, ilusi citra penulis masa kini. Penulis yang menulis di gawai potensial jatuh pada ilusi di atas. Ia mungkin akan “berteriak”: Orang awam akan melihat saya sibuk main hape seharian, padahal saya sedang menulis, sedang berkarya! Ah, yang bener? Pengalaman saya, hanya 10% waktu bergawai yang benar-benar saya gunakan untuk mengetik tulisan, itu pun dengan sebaran yang serampangan, misal 2% pagi, 3% jelang Zuhur, 2% bakda Zuhur, 1% bakda Asar, 2% bakda Isya. Itu pun sekadar mengejar tenggat panjang tulisan. Itu pun dengan membiarkan diri menjadi korban Intenet di 90% waktu bergawainya. Oh, alangkah mengenaskannya. 

Kelima, jangan coba-coba menyunting tulisan di ponsel—ponsel pintar sekalipun. Kalau sekadar membereskan saltik, mungkin gawai masih bisa dipakai, tapi kalau hal yang lebih besar seperti plot, logika, dan pendalaman data, pengalaman mengajarkan kalau saya membutuhkan tampilan layar lebih besar: layar komputer atau laptop. Sifat menyunting yang berorientasi kesempurnaan dan kedalaman susah bersesuaian dengan ponsel dengan citra (catet: citra!) kepraktisan yang melekat padanya.

Hingga saat ini—termasuk ketika menulis catatan ini—saya masih mengetik di ponsel dengan semua ujian  di atas, yang membuat aktivitas mengetik saya alih-alih santai dan menyenangkan, tapi malah dipenuhi suasana buru-buru dan ketegangan karena khawatir saya baru menulis sedikit sekali. Perasaan itu muncul karena rasa bersalah sudah mengetik nyambi medsosan, googlean, whatsappan, atau teleponan, sepanjang hari. Dan itu adalah salah satu dampak psikologis dari aktivitas ini. Hingga, saya akhirnya menanyai diri sendiri: apakah mengetik di ponsel sebagai teknis proses kreatif yang baru—yang bersesuaian dengan zaman—sehingga karya-karya tetap hadir, atau … mengetik dengan kedua ibu jari sebagai upaya untuk berdamai dengan produktivitas (padahal sejak lama saya menyadari kalau produktif saja tak cukup lagi!), atau … saya melakukannya hanya untuk menggugurkan deadline? ***

 

Lubklinggau, 28 Oktober 2020

Benny Arnas lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku. Bukunya yang akan terbit: Ethile! Ethile! (Diva Press, 2020). Ia mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya.