Cerpen Benny Benke (Kompas, 25 Oktober 2020)

Rindu Tak Mati-mati ilustrasi Patriot Mukmin - Kompas
Rindu Tak Mati-mati ilustrasi Patriot Mukmin/Kompas

Namanya Mashurie. Gemar berdoa dalam diamnya. Dalam heningnya yang ngungun itu, kata-kata binasa, bahasa entah pergi ke mana. Menurut keyakinannya, apa gunanya berdoa dengan melibatkan kata-kata jika hati terperdaya.

Makanya Mashurie lebih nikmat berdoa dalam hati, dengan menihilkan diksi.

“Tidak ada yang lebih dekat dengan Tuhan, kecuali hati yang tulus merafalkan doa, melangitkan keinginannya sembari melibatkan air mata,” kata Mashurie padaku, saat kami masih delapan tahunan, sembari melestarikan kegemarannya “meneror” pohon mangga, dan jambu milik tetangga.

Anak delapan tahunan dari mana yang mampu berpikir sedewasa itu ikhwal doa, Tuhan, dan pada saat bersamaan mempunyai kehendak bebas, membasmi bebuahan milik tetangga.

Mungkin gara-gara sejak empat tahun, Mashurie bocah sudah ditinggal pergi ibunya ke alam baka, karena kanker rahim meringkusnya. Sejak itu, bapaknya selalu mengajak Mashurie berbicara seperti orang dewasa. Tidak peduli Mashurie kecil ngerti atau belum dengan tema juga intisari pembicaraan bapaknya.

Yang pasti, sekeyakinan Mashurie senior, bapaknya Mashurie, setiap bocah adalah ajaib dengan kejeniusannya masing-masing. Jadi tidak heran, otak Mashurie mempunyai khazanah pengetahuan melebihi anak-anak seusianya. Karena dari balita sudah dibiasakan diajak baku pikir dengan bapaknya.

Benar saja, pada usia delapan tahunan, pemikiran Mashurie sudah berada di depan sana, meninggalkan anak-anak sepantarannya. Dia bilang, saat itu, Tuhan gemar dan senang bersama anak-anak yang teraniaya jalan hidupnya. Yang mesti menanggungkan kelaraan bahkan di saat semestinya mereka semua menikmati kegembiraan, sebagaimana seharusnya kehidupan dunia anak-anak.

Oleh karenanya, sebagaimana aku saksikan sendiri, dalam setiap petualangannya “membasmi” pohon bebuahan milik tetangga, Mashurie seperti mempunyai pengecualian, lolos dari semua “amukan” pemiliknya.  Ajaib. Tuhan seperti senantiasa berada di setiap aksinya, dengan melindunginya dengan cara ajib, sebagai bayaran atas penderitaan yang dibebankan kepadanya.

Berbilang tahun kemudian, saat dia mulai belajar, dan menyadari bahwa mencuri buah milik tetangga adalah dosa, dengan enteng dia berkata, “Hanya dosa yang membuat manusia dewasa,” katanya. Ngehek anak ini, kataku. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan jawaban seperti itu. Meski benar saja, sejak saat itu pula, dia dan aku tentu saja, sudah menanggalkan kebiasaan kanak-kanak kami memanen bebuahan milik tetangga.

Dan entah bagaimana mulanya, mengganti hobinya dengan mengadu nyali riang berkelahi dengan siapa saja yang dianggap mempunyai kelebihan nyali untuk berkelahi. Berkelahi atas nama apa saja. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Absurdlah pokoknya. Kelahi dengan tangan kosong tentu saja.

Serta hobi satunya, yang tak kalah membuatku bingung dibuatnya, mendatangi kuburan, dan berdiam diri di sana untuk beberapa lama. Terutama saat sore menjelang matahari pulang ke haribaannya. “Tidak ada pemandangan sesyahdu kuburan menjelang petang,” katanya padaku saat kami sama-sama 12 tahun.

Maka, saat nama Mashurie disebutkan, kepada calon lawan seterunya, untuk melunaskan perkelahian yang belum tentu dimenangkannya, hobi Mashurie yang riang mendatangi kuburan, yang sudah sampai ke telinga lawannya, sedikit banyak sudah membuat ciut nyali.

Tersiar kabar entah dari mana mulanya, kenapa Mashurie gemar mengunjungi kuburan dan berkelahi pada saat bersamaan; karena dia rindu mati. Dan tidak ada bocah yang merindukan mati melebihi kerinduan Mashurie kepada kematian.

Kematian sangat dipercaya adalah momen yang paling dinanti Mashurie. Karena pada saat itu, dia percaya, saat kematian menghampirinya, almarhum ibunya akan menyambutnya di alam sana. Dengan senyum khasnya. Senyum meneduhkan yang membuat tidurnya saat balita pulas dibuatnya. Itulah yang membuat Mashurie lempeng-lempeng saja saat berkelahi dengan siapa saja.

Bahkan dengan lawan yang jauh lebih besar postur tubuhnya. Ia tampak biasa-biasa saja, saat lawan membuatnya babak belur sekalipun. Tapi anehnya, Mashurie menikmati kekalahannya, seperti tidak kurang suatu apa pun dan selalu baik-baik saja.

Karena sekeyakinannya, kekalahan dan kemenangan dalam sebuah perkelahian adalah keniscayaan. Dalam setiap kekalahannya, justru makin meneguhkan namanya sebagai persona yang tidak takut kalah. Wong mati saja dia tak peduli, apalagi sekadar kalah berkelahi!

Itulah yang membuat lawannya diam-diam atau terang-benderang angkat topi kepada Mashurie. Dan tidak sedikit yang memintanya menjadi karibnya saat perkelahian telah reda, purna. Juga mantan kawan seperkelahiannya. Karena menurut mereka semua yang telah berkelahi dengan Mashurie, tidak ada bocah yang menikmati sebuah perkelahian melebihi kenikmatan yang dialami Mashurie.

Hebatnya, tidak ada sakit hati di sukma Mashurie. Dia akan dengan ringan hati menjadi teman sepernakalan mantan kawan seperkelahiannya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal jotosan mereka sudah membuat lebam, memar, tatu hingga menanggalkan giginya. Tapi sampai saat ini, tidak pernah sekali pun palagan perkelahian membuat jeri nyalinya, mengecilkan kelapangan hatinya, apalagi mengantarkannya ke tepian kematian.

Malah entah bagaimana, justru membuatnya menjadi persona yang lebih kuat, liat dan pantang menyerah, serta ini yang aneh, kenyataan itu justru makin menjauhkannya dari liang kematian. Padahal kuburan semakin sering dia hampiri, juga kuburan ibunya tentu saja.

“Tidak ada tempat yang lebih nikmat untuk dikunjungi selain kuburan. Kita bisa bercakap-cakap sepuasnya dengan keheningan di sana. Di kuburan, kesunyian bersembunyi, sembari menyimpan jawab atas hidup yang fana. Keheningan kuburan adalah puncak percakapan yang tak terpermaknai,” kata Mashurie padaku satu ketika. Saya tak menjawabnya. Saya enggak mudeng saat itu.

Lalu apa komentar Mashurie senior saat mengetahui anak lanang-nya pulang ke rumah, dan membawa tatu baru dari setiap perkelahiannya? Datar saja.

Menurut dia, setiap lelaki juga perempuan wajar berkelahi. Atas nama apa saja. Berkelahi itu, menurut Mashurie senior, kegiatan wajar dalam keseharian. Seperti makan, minum dan tidur. Karena setiap manusia akan berevolusi menjadi petarung dengan caranya sendiri pada akhirnya.

“Malah bagus. Karena ada esensi kedisiplinan dan fokus di sana. Meski tidak setiap orang diajak berkelahi juga. Nanti pada saatnya kau enggak perlu berkelahi lagi dengan orang,” kata Mashurie senior. “Kelahi dengan diri sendiri lebih mumet.”

Dia menambahkan, berkelahi tidak selamanya berhubungan dengan soal keberanian. Para pemberani yang tidak pernah berkelahi secara fisik juga banyak, dan mereka bukan berarti tidak tangguh juga.

Manusia yang berani mengalah, untuk kemudian bertarung dengan cara lain, juga tak terkira banyaknya. Mereka tetap bertarung dengan jalan dan nasibnya masing-masing. Tidak melulu harus melewati jalan perang. Meski atas nama senang-senang.

Soal hobi Mashurie junior mengapeli kuburan, Mashurie senior juga tidak mempermasalahkannya. Dulu, kenangnya, setiap rumah priayi Jawa senantiasa menyiapkan pesarean sendiri. Pesarean keluarga yang sepelemparan batu jaraknya dengan rumah utama. Sebagai tetenger atau pengingat bahwa setiap orang pasti mati. Jadi, saat menjalani kehidupannya penuh dengan kehati-hatian. Waspodo. Karena, kuburan menanti. Jadi membuatnya tidak kemaki, apalagi adigang, adigung, adiguno.

“Jika kamu pernah ke Betawi, pada sebuah masa, hampir semua rumah di sana mempunyai kuburan pribadi yang letaknya di samping, atau belakang rumah. Kehidupan dan kematian, berdampingan dengan sentosa. Sampai sekarang masih banyak dijumpai kuburan berdamai dengan rumah tangga di Petukangan Utara,” kata Mashurie senior.

Akhirnya kami sama-sama menjadi remaja, perkelahian Mashurie memang mulai bergeser bukan berkelahi lagi secara fisik dengan persona yang mempunyai hasrat berkelahi seperti dirinya, dulu. Tapi dia mulai riang berkelahi secara dialektika dengan kehidupan. Dia mulai gemar berkawan dengan tasawuf, filsafat, puisi, dan seni rupa sepertinya. Entah berkawan dengan ilmu macam apa lagi. Ilmu jalanan, mungkin.

Tapi hobinya mendatangi kuburan, pesarean, komplek pemakaman masih dan tetap dilestarikan. Kerinduannya pada kematian, entah bagaimana cara hidup mempermainkan dan menjawabnya, justru membuat Mashurie tidak mati-mati.

Dari situ saya mulai belajar. Kerinduan, terkadang memang tidak harus membalas dan melunaskan keinginan seseorang. Termasuk kemauan dan keinginan puncak Mashurie yang sangat merindukan kematian, demi menemui almarhum Ibunya.

Kerinduan akan bekerja dengan caranya sendiri. Cara ajaib yang hanya bisa dimengerti dan dieja manusia pilihan. Yang bahkan tidak atau belum bisa dibaca oleh Mashurie sekalipun, yang hobi pakansi ke kuburan. Meski telah melayangkan ribuan kerinduan kepada kematian.

 

Catatan:

Tatu = bekas luka

Mudeng = mengerti

Lanang = laki-laki

Mumet = pusing/pening.

Pesarean = komplek pemakaman

Tetenger = penanda

Waspodo = waspada

Kemaki (Kementhus) = belagu, sombong

 

Benny Benke mengatamkan kesarjanaan di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang (1999). Menulis buku Risalah Jejak Film Indonesia: Dari Hindia Belanda hingga Generasi Milenial (2019) yang diterbitkan oleh Pusbangfilm Kemendikbud RI serta menjadi anggota juri Komite Oscar, Academy Awards 2019, bentukan PPFI.

Patriot Mukmin, lahir di Tangerang, 4 Juni 1987. Lulus dengan predikat cum laude dari Magister Seni Rupa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada 2013. Pernah mengikuti program residensi seniman di Chiba (Jepang) dan Jeollabuk-do (Korea Selatan). Puluhan kali terlibat pameran kelompok dan tunggal sejak tahun 2009.