Cerpen Elsa Malinda (Republika, 25 Oktober 2020)

Mereka yang Pergi ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Mereka yang Pergi ilustrasi Rendra Purnama/Republika

“Dia? Dia adalah seorang gadis penjual keajaiban murrrah merrriah!

Beruang Madu mengerutkan dahi. Burung Enggang menatap gadis yang menjadi bahan obrolan itu dengan skeptis. Orang Utan terkekeh sebentar, lalu mengambil ancang-ancang untuk melanjutkan cerita penuh antusiasme.

“Hei! Kenapa tak percaya? Penjual keajaiban itu nyata, lho! Coba lihat dia! Kalian kira di kota serbamahal ini sulit untuk mendapatkan sesuatu dengan harga terjangkau? Uh, uh, sudah putus harapankah kalian?”

Orang Utan berjingkat-jingkat di tempat. Dia mengimbuhkan, “Dia cerdas, sama sepertiku. Orang pintar melihat peluang meski di saat tersulit. Begini ….” Orang Utan berkata gadis yang matanya sedang tersenyum di hadapan layar gawai termutakhir itu bernama Mimi. Dia memiliki jumlah pengikut ribuan di akun toko daringnya, yang memiliki nama serasi dengannya bagai nama gabungan pasangan: @mimicin. Mimicin? Mimi dan micin atau apa?

“Halah .… Pintar apanya? Bukannya kata micin sering dikaitkan dengan orang bodoh? ‘Mengerti hal gampang begini saja tak bisa. Kebanyakan makan micin!’ Begitu yang kudengar dari orang-orang,” sahut Burung Enggang. Beruang Madu diam saja, menanti cerita dari bibir tebal Orang Utan yang kesenangan karena telah berhasil menarik minat kedua temannya.

Mimi mungkin terlihat seperti wanita muda anak orang kaya yang hendak berlibur. Ke manakah dia akan pergi? Dia duduk di ruang tunggu 4, menunggu pesawat yang terlambat dari jadwal. Harga tiket melambung tinggi, sampai-sampai sangat sedikit orang yang tega menggunakan tabungan untuk bersenang-senang.

Jika beberapa waktu lampau—tepatnya sebelum wabah yang tak kunjung tuntas ini datang—konsep mencintai diri sendiri sangat diagung-agungkan, hingga toko buku impor yang ada di sudut kanan sana kebanyakan menjual buku pengembangan diri seperti itu. Namun, sekarang jenis buku yang digemari adalah buku yang mengajarkan manusia untuk bertahan hidup dengan modal sekecil-kecilnya, berisi ide-ide sinting untuk memanfaatkan segalanya, dan yang mengatur bagaimana cara mengelola uang secara efektif dan efisien supaya selamat dari kemiskinan.

Misalnya, bagaimana makan soto ayam tanpa perlu makan soto ayam. Itulah ide yang diperjualbelikan oleh Mimi, makanya dia bisa menjadi pengusaha meski negara sedang depresi ekonomi. Berkebalikan dengan nasib toko buku yang makin lama makin sepi pengunjung. Pembaca lebih gemar baca salinan karya di internet biar gratis meski tahu itu ilegal. Tak heran penjual buku dan penulis jadi pelanggan setia Micin.

“Bagaimana caranya makan soto ayam tanpa makan soto ayam?” tanya Burung Enggang. Paruh cantiknya menyerong ke kanan, menantang Orang Utan.

“Itulah keajaiban yang aku sebutkan! Dia menjual Micin, merek penyedap rasa yang telah direkayasa sedemikian rupa sehingga jauuuuuh lebih sempurna dari vetsin generasi sebelumnya. Hanya dengan air putih dan Micin Rasa Soto manusia bisa makan soto ayam yang tak kalah dari rasa makanan hotel bintang lima. Tidak perlu menyiapkan bahan-bahan mahal dan ribet. Tahu, tidak? Pada saat pandemi, ilmuwan-ilmuwan bergerak cepat membikin vaksin untuk menyelamatkan nyawa para penyintas. Tapi, ada pula pahlawan lain yang tidak pernah kita pikirkan.”

“Mereka adalah pencipta Micin paripurna,” ujar Beruang Madu dengan suara baritonnya.

Orang Utan bercerita tentang para ilmuwan di pabrik Micin sungguh bekerja keras hingga akhirnya produk ini bisa menyelamatkan negara dari kelaparan. Hanya dengan ini, orang-orang tidak perlu membeli bawang, rempah, dan aneka bumbu dapur lain, termasuk gula dan garam yang harganya kelewat mencekik.

Kesempurnaan Micin makin menonjol sebab hanya butuh sedikit penggunaan sudah terasa nikmat dan bisa menetralisasi bahan pangan sesuai rasa yang diinginkan. Misal mereka cuma punya rumput, tapi mau makan sup kepiting asparagus, pasti nanti rasa rumputnya bakal mirip asparagus. “Itu yang membuat badan amal masih bisa berbagi makanan meski bahannya sederhana. Kalau begitu, kenapa harus makan nasi dan garam saja? Itu, sih, orang zaman dulu! Hahaha ….”

Burung Enggang dan Beruang Madu tak terkejut mendengar kehebatan barang yang dijual Mimi. Mimi memang gadis cerdas meski dulu dia hanya penjual sayur keliling. Di kala orang-orang putus asa, dia justru melihat peluang pada produk yang saat itu masih baru dan belum diketahui banyak orang. Kini, Micin adalah andalan orang miskin untuk bertahan hidup dan orang kaya agar bisa menabung. Sebab, pada saat tersulit manusia, siapa yang menolak kebahagiaan sementara berupa makanan enak? Perut terpuaskan adalah hal paling menyenangkan pada saat-saat pelik seperti ini.

“Mimi terlihat bahagia akan pergi ke kota asing. Sedangkan, lelaki itu justru resah meski dia menuju kota yang sama dengan Mimi,” ujar Beruang Madu, menunjuk seorang pria yang duduk agak jauh dari Mimi.

“Tentu saja. Dia kan baru terkena PHK. Sepertinya dia akan kembali ke tanah kelahiran selama-lamanya,” kata Burung Enggang enteng. “Dia sungguh orang yang mudah cemas.”

Lelaki bernama Boy itu berusia sekitar 30 tahun dan sepertinya tidak akan mau diajak ke psikiater. Dia memang orang yang suka berpikir berlebihan, tetapi sejak pandemi lebih dari setahun lalu, setiap hari dia dilanda kecemasan, takut akan di-PHK dari perusahaannya sebab perusahaan tambang lain mulai berjatuhan. Dia juga takut kemalingan karena kasus kriminalitas semakin tak terkendali dan telah sampai pada tahap berbahaya. Jangan sampai uang tabungan dan harta berharganya diambil juga darinya.

Boy mengkhawatirkan ibunya yang ditinggal sendiri di kampung halaman. Apa yang akan dia lakukan kalau tidak bisa menafkahi ibunya? Bagaimana kalau ibunya terkena virus, padahal setahu dia, ibunya memiliki riwayat penyakit pernapasan? Bagaimana kalau tabungannya takkan bertahan lama sementara pekerjaan tak kunjung didapat? Bagaimana kalau dia yang mati duluan? Mustahil menemui orang baik yang bersedia merawat ibu sebab pada zaman seperti ini hidup sendiri saja sudah teramat berat.

“Ho, aku sampai bisa melihat benang ruwet di dalam kepalanya.” Orang Utan meringis.

“Lelaki malang. Semestinya dia menemui psikiater dulu mumpung berada di kota besar. Apakah suara merdu hutan yang dari tadi mengalun dari pelantang bisa membantunya menenangkan diri?” Beruang Madu bersimpati.

Burung Enggang menggeleng sekali. “Sepertinya tidak. Lihat saja dadanya naik-turun dengan cepat. Tangan dan kakinya mendingin, napasnya pendek-pendek, dan ia terus mencoba mengatur napas. Dia sebenarnya kelaparan, tapi tidak nafsu makan. Beruntunglah kita tak punya jantung. Terkadang degup jantung bisa menyiksa. Pasti hanya debaran jantung itu yang ia dengar di telinganya. Menakutkan ….”

Dan orang seperti Boy banyak jumlahnya, batin Burung Enggang. Mereka bertiga sama-sama melihat ke arah Boy dengan tatapan mengasihani.

“Ah, kuharap keadaan ini segera berakhir! Ini sudah terlampau lama dan membuat orang-orang berputus asa bagai peribahasa, ‘hidup segan mati tak mau’. Yang hidup iri pada yang mati, tapi takut pula akan kematian. Oh, aku ada ide!” Mata Orang Utan mengerling genit. “Kita doakan saja semoga Mimi dan Boy berjodoh. Boy cocok mendapatkan pasangan yang kaya, cerdas, dan optimistis seperti Mimi. Biar hidupnya tidak suram lagi. Kuharap mereka duduk berdekatan di pesawat,” katanya sambil menengadahkan tangan.

“Kasihan Mimi dapat suami pengangguran,” sahut Burung Enggang sinis.

“Gampang! Mimi bisa beri Boy pekerjaan. Misalnya, jadi admin toko daring atau apalah. Dia kan banyak akal. Boy juga berpendidikan tinggi. Gengsi tidak bisa menyelamatkan manusia, Kawan. Percayalah pada keajaiban cinta.” Lagi-lagi Orang Utan terkekeh.

Beruang Madu berdeham. “Hush… Jangan ribut. Meski manusia tidak bisa mendengar kita, sekarang semestinya kita mendoakan mereka yang berangkat dengan khidmat,” tegur Beruang Madu kalem setelah terdengar denting dan suara pengumuman keberangkatan.

Walaupun mereka bertiga hanyalah patung yang dipajang di taman artifisial di tengah jalan antara ruang tunggu dan kafe serta kios tanda mata Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, mereka selalu mengharapkan yang terbaik bagi penumpang pesawat. Cuma itu yang mereka mampu lakukan untuk setidaknya peduli pada manusia—hal ini mereka pelajari dari sisi kemanusiaan orang.

Kali ini, doa Orang Utan terkabul: Boy dan Mimi duduk dengan jarak cukup dekat sehingga sempat melihat satu sama lain di antara kursi pesawat Aloi Air CVD-190 yang dikosongkan. Jodoh saling bertemu di pesawat bukan cerita fantasi, kan? Cinta yang tumbuh di kala pahit pasti rasanya akan lebih manis.

***

Berita sela! Kecelakaan pesawat Aloi Air CVD-190 terjadi pada pukul 19.19 WIB di Laut Jawa. Faktor penyebab kecelakaan tersebut belum diketahui, begitu pula jumlah korban yang ….

 

ELSA MALINDA lahir di Balikpapan, 18 Maret 1994. Lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman, yang tinggal di Balikpapan ini memiliki hobi menonton film dan membaca. Pada awal 2017 menerbitkan kumpulan cerita anak (kumcernak) pertama yang berjudul Pangeran Tikus. Alamat surel: elsamalinda18@gmail.com. Akun Instagram: elsamalinda Akun Twitter: elsa_malinda