Cerpen Silvester Petara Hurit (Jawa Pos, 25 Oktober 2020)

Hujan Pertama dari Kampung Kafir ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Hujan Pertama dari Kampung Kafir ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Tak ada yang lebih membanggakan selain nama baptis dan marga yang bukan berasal dari nama pribumi.

FRANSISKUS merasa dirinya dan leluhurnya berasal dari negeri yang lebih beradab dan mengenal Tuhan. Kakeknya seorang guru agama. Begitu pun ayah dan dirinya. Menjadi guru agama seakan jadi tanggung jawab turun-temurun demi menjaga kemurnian agama dari sisa-sisa pengaruh penyembahan berhala, terutama dari wilayah belakang gunung yang dianggap sebagai sarang kekafiran.

Walau dituding sebagai pihak yang bekerja sama dengan bangsa asing menjajah penduduk setempat, Fransiskus tetap merasa leluhurnya paling berjasa membawa terang bagi orang-orang yang berdiam dalam kegelapan. Kebanggaan sebagai mayoritas Katolik hari ini tak akan mungkin terwujud jika tanpa dukungan dari leluhurnya di masa yang lalu.

***

Menegakkan kekatolikan secara murni bukan tanpa hambatan. Yang selalu jadi persoalan adalah orang-orang belakang gunung yang dianggap belum beradab, mistis, dan kafir. Cerita-cerita tentang orang-orang dari kampung paling kafir di belakang gunung menjadi hantu masa kecil Fansiskus.

“Coba bayangkan menari semalam suntuk tanpa jeda, berhari-hari dan tak capek, kalau bukan roh jahat, apa yang merasuki mereka?! Ingat, roh kegelapan bertakhta di kegelapan malam!’’ tegas guru agamanya waktu di sekolah dasar ketika seorang temannya bertanya tentang dari mana sumber kekuatan orang belakang gunung ketika menari di pesta-pesta adat.

Kakek Fransiskus pernah bercerita tentang bagaimana orang-orang kafir itu menghadang sepasukan serdadu Belanda yang menagih pajak, membunuh dengan cara menguburnya hidup-hidup. Karena merasa dipermalukan, Belanda menggempur mereka dengan kekuatan yang lebih besar. Seorang di antara mereka malah merobek dada seorang serdadu Belanda, mengambil jantung dan hatinya, lantas mengunyahnya sambil minum arak. Belanda frustrasi. Jalan muslihat ditempuh. Dengan berpura-pura bersahabat dan berdamai, akhirnya tokoh-tokoh penting, termasuk para pemanah pilihan, dapat ditangkap dan diasingkan. Kekalahan orang-orang belakang gunung tersebut diyakini sebagai cara Allah membinasakan orang-orang kafir dan penyembah berhala. Orang-orang yang merasa diri sudah diselamatkan dari kegelapan kekafiran bersuka hati karenanya.

***

Bagaimana orang-orang dari kampung paling kafir yang oleh seorang uskup terdahulu dianggap tak punya gen religius itu bisa menjadi Katolik? Fransiskus tahu betul bagaimana peran ayahnya bersama sejumlah tokoh berpengaruh waktu itu mengatolikkan mereka. Dengan memanfaatkan anjuran sekolah dari pemerintah, mereka membuka sekolah dasar Katolik di sana dengan menempatkan guru-guru konservatif. Setiap anak usia sekolah wajib bersekolah. Syarat masuk sekolah adalah menyerahkan surat baptis. Anak-anak diajarkan untuk menjauhi segala praktik berhala, meninggalkan tradisi-budayanya dan menjalankan kekatolikan secara murni dan konsekuen. Targetnya jelas: potong generasi demi memutus mata rantai kekafiran.

Peristiwa G 30 S/PKI tak selamanya dirasa kelam bagi Fransiskus. Karena setelah peristiwa itu negara mewajibkan semua tanpa kecuali memeluk agama resmi yang diakui negara. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh ayah Fransiskus yang sangat dekat dengan kekuasaan. Ditugaskanlah seorang camat fanatik dan beberapa anggota militer ke wilayah belakang gunung. Anak muda di sana direkrut jadi anggota pertahanan sipil (hansip) yang kemudian dipakai sebagai ujung tombak penertiban bagi yang tak mau masuk gereja. Atas nama negara, dengan dukungan penuh aparat keamanan, mereka melarang semua ekspresi budaya serta memberangus simbol-simbolnya, termasuk beringin-beringin raksasa yang memenuhi kampung. Tradisi tenun, model perkampungan dan rumah tradisional, tato etnik, tradisi berladang, kesenian, praktik pengobatan tradisional, dan segala hal yang terkait dengan tradisi warisan nenek moyang tak boleh lagi ada. Masyarakat terbelah. Generasi muda terdidik yang sudah Katolik menentang generasi tua yang secara diam-diam masih mempraktikkan tradisi leluhur. Otoritas tradisional hancur. Lahir struktur dan kelas sosial baru yang dikendalikan oleh elite agama.

***

Fransiskus mendapat tugas baru saat kemarau sangat panjang. Ia dipromosikan menjadi kepala SMP di kampung paling kafir belakang gunung. Musim panas yang berlebihan menjadi alasan Fransiskus menunda pergi ke tempat tugas barunya.

Kemarau terasa bagai kutuk. Pohon-pohon menguning sampai ke punggung-punggung bukit. Permukaan tanah pecah-pecah akibat panas. Terik, debu, dan angin kemarau bikin bibir kering serta mata perih. Di akhir November sebagaimana lazim seharusnya petani sudah menanam. Namun, hingga menjelang akhir Desember belum ada tanda-tanda akan datang musim hujan. Jika tanam terlambat dan sebagaimana biasa ketika Maret hujan mulai berkurang, panen dipastikan akan gagal.

Orang-orang datang kepada pastor dan memohon agar ia memimpin misa khusus. Di beberapa gereja dan kapel, ramai orang berdoa novena selama sembilan hari berturut-turut. Sudah sepuluh hari setelah novena secara serempak berakhir, hujan tak kunjung tiba. Panas kian membakar. Pohon-pohon nyaris tak punya lagi daun, bahkan ada yang benar-benar mati.

Setelah hari ke-13 terhitung sejak novena serempak berakhir dengan perasaan tak gembira, akhirnya Fransiskus pergi ke tempat tugas barunya. Baru seminggu di sana, karena hujan belum turun-turun, datanglah pamannya, seorang tokoh penting dan terpandang di kota, meminta tetua adat di sana melakukan ritus minta hujan.

“Ini sungguh tidak benar!” protes Fransiskus.

Namun, karena tak mau dicap sebagai kepala sekolah baru yang terlampau fanatik, setelah berkonsultasi dengan pastor paroki, ia memenuhi undangan lisan dari tuan tanah untuk mengikuti ritus minta hujan. Maka, pergilah Fransiskus bersama seorang rekan gurunya. Ia menyaksikan pemimpin ritual merapalkan mantra kuno yang tak ia pahami, memandikan dan memberi sesajen kepada batu yang menyerupai kepala ikan yang konon berasal dari dewa laut. Beberapa orang memasak daging babi kurban bersama buah pisang muda dan memakannya tanpa sisa. Lalu, dua orang membawa jeroan babi yang tak dimasak berjalan berpayung daun pisang seolah hujan tengah turun ke batu keramat di suatu tempat yang lain ke arah utara. Dalam benak Fransiskus, upacara minta hujan seperti sandiwara murahan anak sekolah.

Langit bersih siang itu, terik bikin kepala pening. Jauh ke arah selatan laut lepas ada sepotong awan kecil tak lebih lebar dari sehelai sapu tangan. Awan kecil itu bergerak seolah dipanggil dan menarik sejumlah besar awan yang entah dari mana. Dalam hitungan jam, bahkan sebelum mereka sampai ke rumah, hujan lebat mengguyur. Sangat lebat hingga air mengalir mengubur panas kemarau yang panjang.

Hujan Pertama dari Kampung Kafir2 ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Hujan Pertama dari Kampung Kafir ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Ada yang bergemuruh di dada dan kepala Fransiskus. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Alam merespons sebegitu nyata. Seperti tanda heran dalam kisah-kisah kitab suci. Celakanya ini dilakukan dengan cara kafir dan oleh orang paling kafir di depan matanya sendiri. Walau basah kuyup dan kedinginan, Fransiskus tak langsung pulang ke rumahnya. Setengah berlari ia menuju pastoran menemui pastor paroki.

“Bagaimana ini, Tuan? Dalam hitungan jam di siang terik awan-awan tiba-tiba bermunculan entah dari mana dan hujan begitu besar bagai tercurah dari langit!”

“Ah, Pak Guru… Tuhan menahan hujan sekadar menguji iman kita. Justru ini jawaban atas novena dan doa-doa kita. Waspada terhadap hipnotis dan sihir orang-orang plinplan yang baru diberi kesulitan sedikit saja langsung kembali ke praktik-praktik kegelapan kafir.”

Pastor menyalakan rokok Marlboro-nya.

Fransiskus mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Lewotala, Flores Timur, April 2020

SILVESTER PETARA HURIT. Penulis adalah pendiri Nara Teater. Bergiat mengembangkan teater dan sastra di Flores Timur, NTT.