Cerpen Mawan Belgia (Media Indonesia, 25 Oktober 2020)

Hidangan Paus ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia
Hidangan Paus ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

ADA seekor paus berukuran besar, agak lebih besar dari kayu gelondongan, terdampar di sebuah pantai yang sepi. Bisa dibilang paus malang nan sial, mati di tengah-tengah kuburan sampah plastik yang dibawa ombak dari laut. Ia jauh dari famili, dan tentu bukan mimpi masa kecilnya mati dengan cara begitu.

Sama seperti sampah-sampah itu, paus juga datang dari laut. Sakit membuatnya lemah, dan ombak-ombak ganas yang tak ada belas kasih sama sekali, terus mengerjainya. Perlahan demi perlahan, mendesak tubuh mamalia besar itu hingga sampaidi garis pantai, untuk kemudian meregang nyawa.

Lama-lama paus malang itu membusuk. Baunya yang menyengat mengundang kawanan lalat mengerubungi bangkainya, juga tiba-tiba muncul banyak belatung. Gerakan mereka menggerogoti daging paus seperti pertunjukan tari, bak perayaan atas hidangan yang seolah-olah jatuh dari langit, dengan desau angin dan riak ombak sebagai ansambel musik pengiring.

Tidak lama, kawanan anjing liar juga datang bergabung. Riuh seketika oleh gonggongan mereka dengan mata yang terang karena makanan besar di hadapan. Satu per satu anjing mengambil posisi mengelilingi batang tubuh paus, berhasil mengerat daging empuk paus berpisah dari kesatuan tubuhnya. Kemudian anjing-anjing itu mundur, meletakkan sekerat daging dari moncong di atas pasir. Tanpa ada yang mengomandoi, mereka kemudian kompak melolong di bawah panas terik matahari.

“Wahai saudara-saudara seanjingku, di sini kami mendapat banyak makanan lezat. Tapi kami tak sudi membagi kepada kalian. Ini adalah hadiah dari Tuhan kepada kami, kepada makhluk yang tak lelah berusaha.” Ya, seolah-olah begitulah maksud lolongan mereka. Setelah itu, kepala mereka menunduk, mulai menyantap.

Bila sekerat daging itu habis, mereka akan maju untuk mencomot daging lain. Bukan hal yang sulit dilakukan mengingat gigi dan taring  mereka memang dirancang untuk memudahkan mereka mengoyak dan mencabik.

Mereka akan pergi bila sudah kenyang. Keberadaan bangkai paus itu membuat mereka tak lagi dipusingkan urusan perut. Bila perut mereka mulai menggerutu karena lapar, anjing-anjing itu akan kembali datang ke pantai. Makanya sudah begitu banyak daging paus koyak moyak karena perbuatan anjing-anjing itu yang berkali-kali datang berkunjung. Terutama pada bagian perut paus, sobeknya parah.

Siapa yang menyangka, di dalam perut paus yang besar itu terpendam gunungan sampah plastik. Ada botol bekas, bungkus makanan ringan, kantong plastik, hingga kemasan pelumas kendaraan. Sampah-sampah plastik yang tersembunyi di dalam perut paus itu seperti mutiara yang tersembunyi di dalam kerang.

Sayangnya, sampah tetaplah sampah, bukan mutiara yang berharga. Lihatlah! Saking tak ada manfaatnya lagi, anjing-anjing itu cuek saja dengan sampah-sampah plastik itu. Mereka lebih memilih khusyuk menikmati hidangan lezat di hadapan. Tak ada yang lebih penting untuk diurusi selain perkara perut. Peduli amat dengan sampah.

Lama-lama semakin besar dan lebar saja sobekan pada perut paus itu, dan semakin berjibun pula sampah-sampah plastik bermunculan. Dasar anjing! Masih juga mereka kekeh pada tingkah laku yang sama. Tak mau mencurahkan perhatiannya walau sekejap saja terhadap sampah-sampah itu.

Kawanan lalat dan belatung juga tak ada bedanya. Terlalu asyik mengeksploitasi tubuh paus sampai kepuasan menghampiri mereka.  Belatung terus menggerogoti daging empuk, lalat tak ada putusnya mengecapi daging basah yang bau itu.

Selalu begitu. Sampai suatu waktu, tubuh paus mengecil lantaran dagingnya sudah begitu banyak masuk ke dalam perut anjing, lalu menjadi kotoran yang dibuang sesuka mereka.

Selain itu, ada bagian tubuh paus mengering dan ada juga hanya menyisakan tulang-tulang. Anjing-anjing tetap datang mengambil jatah makan walau kebagian semakin sedikit saja. Lalat dan belatung juga senantiasa berada di sana, seperti tak mau jauh-jauh dari bangkai paus. Agaknya mereka mulai sadar, bahwa hidangan itu sama seperti kehidupan yang tak abadi, ada masanya akan habis entah selalu dijamah atau tidak. Tapi dasar mereka, tetap saja meneruskan aksi.

Mereka yang sedang menyantap hidangan paus, suka didamaikan pula oleh embusan angin dari laut, membuat nyiur yang keberadaannya tidak jauh dari garis pantai melambai-lambai, juga gerak lincah rumput lari-lari di atas pasir, tampak riang, bak hendak bercebur diri ke dalam air laut demi menghindari panas matahari yang mengeringkan tubuhnya.

Ada yang aneh pada bangkai di hadapan, mengusik perhatian mereka. Salah satu dari kawanan anjing yang mula-mula menyadari itu. Ia buru-buru menghabiskan potongan daging di mulut. Kemudian lekat-lekat memandangi barisan makhluk kecil bergerak di atas bangkai paus. Ia mungkin tak mengapa seandainya itu ialah perbuatan lalat atau belatung, toh sudah banyak hari mereka habiskan makan besar bersama, tapi anjing ini hapal sekali kalau makhluk itu adalah pendatang baru.

Makanya anjing ini menyalak, “Lihat itu kawan-kawan! Siapa mereka?”

Yang lain berhenti mengunyah, ramai-ramai memusatkan perhatian kepada barisan makhluk kecil. Anjing lain menimpali, “Ah, itu semut kecil. Ada perlu apa mereka datang?” 

Gaduh kemudian oleh gonggongan anjing yang saling membalas.

“Saya kira semut hanya suka yang manis-manis.”

“Sulit dipercaya bakal tertarik dengan bangkai paus.”

“Apakah perlu saya menghentikan mereka?”

“Biarkan saja! Tubuh mereka yang kecil begitu tidak akan mengambil lebih banyak dari satu kali kita menggigit.” Keadaan tenang kembali, kebanyakan mereka memilih melanjutkan makan. Kecuali satu anjing ini yang terus memantau pergerakan semut. Tidak lama kemudian ia kembali menggonggong, tatkala melihat sala satu sampah plastik bergerak oleh pekerjaan kawanan semut. Seolah-olah saja sampah plastik itu memiliki kehendak sendiri untuk bergerak.

“Lihat! Lihat! Apa yang mereka lakukan?”

Untuk kedua kali anjing-anjing lain terpaksa berhenti makan, ada juga yang memilih cepat-cepat menghabiskan potongan daging.

“Sepertinya mereka datang kemari bukan untuk mencari makan seperti kita.”

Gonggongan anjing lain, “Dasar semut bodoh! Apa gunanya mereka mengangkut sampah itu?”

Tapi ternyata tidak hanya satu sampah yang bergerak. Mengikut sampah yang lain menjauhi perut paus.

“Apa gerangan yang akan mereka perbuat dengan sampah itu?”

“Apakah semua sampah dari dalam tubuh paus akan diangkut? Dan juga sampah-sampah berceceran di pantai?”

“Ke mana kira-kira mereka akan membawanya?”

Anjing-anjing itu penasaran dengan tingkah laku kawanan semut. Bukan hanya mereka, lalat dan belatung juga diam diam memerhatikan.

Sesaat mereka mengalihkan perhatian, melanjutkan makan. Kemudian ketika kenyang menghampiri, anjing-anjing itu lesehan di atas pasir. Semakin banyak sampah plastik diangkut semut-semut itu. Seperti gerbong kereta api bergerak menjauhi bangkai paus, sampai jauh ke ujung sana. Anjing-anjing saling menyalak dan mendengus, tentu mereka membicarakan semut-semut itu. Mereka menganggap semut yang mengangkut sampah kurang kerjaan sekali dan telah melakukan perbuatan yang tiada manfaatnya kepada diri sendiri.

“Kita makan daging paus sampai kenyang, semut-semut yang bodoh itu dapat apa?”

Segera disahut oleh anjing lain, “Dapat pegal-pegal, telah menggotong sampah yang berkali-kali lebih besar dari tubuh mereka sendiri.”

Kemudian mereka kompak menyalak keras-keras, seolah teriakan mereka itu adalah pemberitahuan kepada anjing-anjing di kejauhan sana bahwa di sini, di tepi pantai, ada semut bodoh, kurang kerjaan mengangkut sampah.

Setelah itu mereka merendahkan kepala, perhatian mereka ada pada bangkai paus yang sudah tak berbentuk paus lagi, di sana-sini tubuhnya koyak. Terhenyaklah para anjing ini ketika melihat kerubunan lalat pada sampah plastik. Satu rombongan menerbangkan satu sampah, mengikuti jalur kawanan semut yang berjalan di bawahnya. Ada beberapa rombongan terlibat. Setelah sampai di tujuan, mereka kembali mengangkut sampah yang lain.

“Lihatlah! Kebodohan semut telah menginspirasi lalat, untuk ikut-ikutan bertingkah bodoh. Saya harap para belatung tak memilih seperti mereka,” gonggongan salah satu anjing. Belatung tak terusik dengan semua itu. Mereka tetap pada keasyikan yang sama, menggerogoti daging paus yang masih ada sisa.

Berbeda dari teman-temannya, salah satu anjing yang pertama menyadari kehadiran para semut, amat penasaran ke mana serangga kecil itu membawa sampah-sampah yang digotongnya. Tanpa bersuara, ia mengekor rute semut yang berjalan memanjang. Ia tak peduli dengan gonggongan kawannya, terus melangkah, lama-lama berlari hingga ia cepat sampai di bawah pohon nyiur, agak jauh dari keberadaan bangkai paus. Di sanalah titik akhir barisan semut-semut itu, tempat mereka mengumpulkan sampah plastik yang mulai menggunung. Ia melihat ke atas, serombongan lalat tengah menjatuhkan sampah plastik yang dibawanya, diikuti rombongan lain.

Anjing itu tergerak melihat semua itu, lantas ia berlari cepat kembali ke bangkai paus. Masih tak peduli dengan gonggongan kawannya. Ia mengambil satu sampah plastik dengan moncongnya, berlari gesit ke bawah pohon nyiur. Berulang-ulang begitu, dan berulang-ulang juga mendengar ledekan kawan-kawannya, “Hei, mengapa kau ikut jadi bodoh? Kau dapat apa dengan membawa sampah-sampah ini? Memangnya bisa kau bawa semua?”

Ia hanya membisu, terlanjur asyik membawa sampah plastik yang entah berasal dari dalam perut sang paus atau yang telah bertahun menyelimuti bibir pantai. (M-2)

 

Mawan Belgia, berasal dari Mamuju, Sulawesi Barat. Penggemar fanatik Liverpool sekaligus penggemar berat Raisa. Cerpen-cerpennya telah tersiar di beberapa media.