Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 25 Oktober 2020)

Demonstrasi ilustrasi Suara Merdeka
Demonstrasi ilustrasi Suara Merdeka

“Jika kereta ini sampai kita tidak akan saling mencintai lagi?” tanyamu membuka percakapan di dalam kereta.

Aku tidak menjawab.

Gerimis di luar terdengar sendu bertampias pada kaca jendela kereta. Wajah-wajah sepi di dalam tubuh kereta ini tampak takzim mengamati objek-objek yang bergerak, yang seolah mengejar gerbong Bogowonto tujuan Stasiun Tugu. Setelah kereta ini melaju, rasa rindu, sedih, dan kehilangan bercampur. Ditambah lagi kerusuhan yang telah membuat wajah Jakarta menjadi sendu.

Pada pertenghan Mei lalu, kekacauan seperti dilahirkan bertubi-tubi. Para mahasiswa berduyun-duyun turun ke jalan untuk menuntut Orde Baru tumbang. Kini tidak aneh, ketika kereta ini melintasi sebuah stasiun, tampak lalu-lalang anak-anak muda datang atau pergi. Yang datang tampak seperti membawa harapan. Yang pergi terlihat malas membawa tubuh serta segala mimpi yang roboh. Demikianlah demostrasi ini telah mengusik banyak lapisan kehidupan masyarakat, termasuk kisah kita.

Matamu tidak lelah menempel untuk memandang carut-marut keadaan yang ingin kaulupakan.

“Jadi setelah kita sampai nanti segalanya berakhir?” Lagi kau berbicara.

Aku termangu dengan seribu kata yang hendak meledak di dada. Namun kata-kata itu mengeras bagai batu nisan di rongga tenggorokanku. Aku hanya bisa menarik napas pelan. Lalu, dengan harapan dan segala mimpi yang memar, aku memicingkan mata. Syahdan, tanpa aku sangka, aku kembali mendengar teriakan, letus tembakan, pintu terbanting, serta segala keributan yang tak bisa aku bendung.

“Rasanya konyol,” katamu menyentak kesadaranku. “Kita jatuh cinta pada kesia-siaan.”

Mungkin apa yang kaukatakan itu benar, tandasku dalam hati.

Cinta kita tidak lebih dari sekejap cahaya terang yang kemudian membuyar. Nasib cinta kita layaknya letusan kembang api di langit malam pada suatu perayaan yang inggar untuk kemudian surut. Namun siapa yang bisa menghindari perayaan atas nasib dan cinta? Karena, takdir, seperti yang pernah kaubilang setelah membaca banyak buku karya Albert Camus, adalah festival yang berisik, hingga orang tuli pun bisa mendengar.

Dadaku seperti dijejali gabus basah dan membuatnya makin berat. Apalagi ketika mengingat jauh ke belakang, pada pertemuan pertama kita dahulu.

***

Aku masih ingat bagaimana dahulu bertemu denganmu. Aku ketika itu aktivis mahasiswa yang begitu tergila-gila pada Albert Camus. Seluruh bukunya, dari La Peste, Caligula, hingga Lítranger, sudah aku baca tuntas. Karena kutipan pentingnya, ‘aku berontak, maka aku ada’ itu, akhirnya aku sering ikut demonstrasi. Pada waktu berdemonstrasilah, aku pertama menjumpaimu.

Kau, wanita yang memiliki darah campuran Indonesia-Jerman, yang kuliah di sebuah universitas negeri Jogja dan memiliki jiwa sosial cukup tinggi, acap ikut dalam demonstrasi yang aku serta teman-teman buat.

“Aku Louisa Heathcote,” katamu memperkenalkan diri kali pertama.

Setelah pertemuan itu hubunganmu denganku makin dekat. Kita pun makin sering berdiskusi mengenai buku Albert Camus.

“Albert Camus pemikir gila,” katamu. “Dia tidak saja pemikir di belakang meja, tapi mau turun ke jalan.”

“Benar!” timpalku. “Dia seperti Jean Paul Sartre atau Michel Foucault. Camus melihat pembebasan baru terjadi ketika kata-kata digerakkan secara politik. Maksudku, kata-kata adalah manifestasi politik pengetahuan. Dan pengetahuan ini perlu gerakan. Maka, ia memanfaatkan benar politik gerakan dalam arti nyata. Bukan sebagai politik praktis yang banyak kita temukan di negeri ini.”

Pertemanan kita makin erat karena banyak rapat rahasia, demonstrasi-demonstrasi yang panas dan menegangkan, dan penculikan rekan-rekan seperjuangan di bawah pemerintah Orde Baru. Semua kejadian itu seakan membangun satu perasaan senasib. Hingga kemudian kita menjadi kekasih.

Namun cinta kita kembali diadang keadaan rumit pada pengujung tumbangnya Orde Baru. Bermula dari kau mendadak mengundurkan diri dari kelompok demonstran.

“Aku tidak bisa melanjutkan,” katamu. “Jika makin jauh melangkah, aku sama seperti membunuh ayahku.”

Aku sangat terkejut saat tahu ayahmu adalah salah satu antek penguasa yang terus membuat bodoh negeri ini. Namun aku tidak bisa menyalahkanmu.

“Maafkan aku,” tambahmu. “Seandainya ayahku bukan seorang dari para penguasa yang kau dan teman-teman ingin gulingkan, aku pasti ada di sana.”

“Sudahlah, Louisa!” tandasku. “Aku tahu bagaimana posisimu.”

Kau akhirnya mengundurkan diri. Namun kita masih sering bertemu. Aku pun acap mendapatkan informasi penting mengenai rencana intelijen terhadap para mahasiswa darimu.

“Jagalah dirimu baik-baik, Mas,” desismu risau. “Makin banyak mata-mata negara menyamar sebagai mahasiswa.”

Aku mengangguk dan membenarkan apa yang kaukatakan. Akhir-akhir ini aku memang sering mendengar mahasiswa hilang karena diculik oleh aparat keamanan yang menyamar. Para mahasiswa yang diculik itu disiksa dan diperas informasinya. Mereka yang tak kuat dengan siksaan biasanya berkhianat dan membocorkan keberadaan teman-temannya.

“Selain itu banyak pengkhianat yang memilih mengorbankan nyawa teman agar selamat,” ujarmu.

“Ketakutan memang sering membuat seseorang berubah,” jawabku.

Kau mendekap tubuhku. “Apakah kau akan melakukan hal yang sama bila tertangkap?”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hanya waktu itu melintas wajah kawan-kawanku yang penuh harapan untuk perubahan.

Aku menjawab, “Aku lebih memilih bungkam untuk perubahan yang lebih baik.”

“Jadi kau memilih mati?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa memelukmu sembari berdoa agar takdir buruk semacam itu tidak memisahkan kita. Hanya yang terjadi dua minggu kemudian adalah peristiwa lain.

Hari itu kau tidak datang. Aku menunggumu berjam-jam di kontrakan kecil tempat biasa kita bertemu. Sampai pukul kira-kira sepuluh malam, seorang aparat keamanan datang meringkusku. Pria berpakaian militer itu menghajarku hingga babak belur. Ketika mataku terbuka, aku sudah berada di tempat lain yang pengap.

Di tempat itu aku dipaksa mengatakan keberadaan teman-temanku. Namun aku memilih tidak mengatakan.

“Di mana para bajingan itu sembunyi?!”

“Aku tidak tahu,” jawabku tegas.

Aku senantiasa menolak menjawab pertanyaan yang diacungkan lewat hantaman. Hingga dua hari kemudian, aku dibuang begitu saja di pembuangan sampah. Namun dalam keadaan tidak sadar aku sempat melihatmu memohon kepada ayahmu untuk melepaskanku.

Begitulah saat tersadar, aku sudah berada di ruangan lain yang asing. Ternyata kaulah yang membawaku. Kau merawatku hingga aku sedikit bisa mengunyah nasi dan berjalan dengan benar. Ketika aku pulih, kau menuntutku lekas meninggalkan kota.

“Kau harus meninggalkan kota ini,” katamu.

Aku menolak. Namun kau meyakinkan apabila aku masih bertahan di kota ini, teman-temanku yang lain terancam. Mendengar nasib rekan-rekan dan mimpi-mimpi perjuangan dari pemberontakan menggulingkan rezim kolot ini, aku memutuskan pulang ke Solo. Sementara itu ayahmu mengirim kau kembali ke Jogja tinggal bersama nenekmu.

***

Kau masih diam di dalam gerbong kereta yang membawa seluruh kesedihan kita. Tanganmu makin erat menjabatku. Ketika kereta melintasi Jembatan Serayu dengan senja menguning di ufuk barat, kau berkata, “Harapan memang tidak pernah diciptakan bagi orang-orang yang kalah.”

Aku tak bisa membalas apa pun selain meremat tanganmu kencang.

“Jadi kalau kita sudah sampai nanti semua ini akan berakhir?” lanjutmu.

“Bila satu hal itu bisa menyelamatkan banyak hal,” aku ragu mengatakan, tapi tetap meluncur juga. “Kita harus melakukannya.”

“Jadi kita tidak akan saling mencintai lagi?”

Kereta terus melaju ke arah kotamu; ke arah kotaku; ke arah perpisahan yang sudah kita pahami pasti terjadi. Kereta ini melaju seperti cahaya yang begitu cepat. Bahkan kereta ini seperti tidak melaju di atas tanah, tetapi berjalan di atas bantalan udara yang membuatnya jauh lebih ringan.

Seketika aku ingin menghentikan kereta ini untuk beberapa waktu. Aku ingin menghentikan jalan perpisahan yang sudah menunggu pelan-pelan di hadapanku. Aku meraih bahumu dan kupeluk dirimu kuat.

“Tubuhmu dingin,” ungkapmu. “Wajahmu pucat.”

“Aku lupa makan,” timpalku.

Setelah melintasi Sungai Serayu, kereta menembus Stasiun Kebasen, Randengan, Kroya, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Ijo, hingga sampai di Stasiun Kedundungan. Kereta terus melaju membawa rasa kehilanganku yang mendekat.

Kau menatapku nanar. Kau tidak ingin perpisahan ini terjadi. Namun kita tidak memiliki pilihan lagi untuk bertahan. Aku harus lekas melepaskanmu untuk keselamatan rekan-rekanku yang kini sedang berjuang.

Kereta melintasi stasiun kecil Patukan di Wates. Kita lantas saling tatap untuk membaca kesedihan masing-masing.

“Apakah kau masih mencintaiku bila kita sudah berpisah?”

Tidak ingin berkata-kata lagi, aku mengambil ranselku. Aku mengobrak-abrik isi ransel itu mencari sesuatu. Saat menemukannya, aku cepat menyodorkan sebuah kotak sekepal tangan kepadamu.

“Apa ini?” Kau bertanya. “Hadiah terakhir untuk perpisahan?”

“Inilah cinta yang bisa kuberikan padamu,” jawabku menitikkan air mata.

“Jadi kau masih akan mencintaiku setelah kereta ini sampai?”

Aku tidak menjawab. Kau tampak kecewa. Kereta pun berhenti di Stasiun Tugu. Kau turun bersama penumpang lain, bersama air mata dan lubang di dada.

Kereta kembali berjalan. Aku menatapmu yang perlahan tertinggal dengan segala perasaan hampa di dada.

***

Setelah kereta berhenti, tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Bahkan cinta kita. Hanya ketika kau sudah sampai rumah dan membuka isi kotak itu, kau terkejut. Kau menemukan sebuah jantung kering di dalamnya. Kau juga mendapati sebuah kalimat: Tubuhku memang bisa remuk dihancurkan oleh kekuasan, Louisa, tapi tidak untuk cintaku kepadamu.

Kau makin berlinang air mata ketika mendapatkan kabar dari tayangan televisi: seorang pemuda mati dengan luka pukul di tubuhnya di area stasiun di Jakarta. Kau menangis saat mengetahui sosok itu adalah aku: orang yang menemanimu sepanjang perjalanan. (28)

Risda Nur Widia menulis cerpen, yang tersiar di berbagai media massa. Buku cerpen tunggalnya Berburu Buaya di Hindia Timur (2020)