Cerpen Ramayda Akmal (Koran Tempo, 24-25 Oktober 2020)

Peniup Harmonika ilustrasi Kendra Paramita - Koran Tempo
Peniup Harmonika ilustrasi Kendra Paramita/Koran Tempo

Setelah sepuluh tahun berhasil menghindarinya, teman itu tiba-tiba menelepon dan berbicara seperti ini: Aku sekarang mengerti, sebuah musik yang patut dicintai adalah musik yang memberi kita kesadaran terhadap ruang dan bertahan, bukan membuat kita melarikan diri. Yang menciptakan panorama dan menajamkan dunia. Yang membuat kita mendengarkan sekaligus tidak mendengarkan. Yang tidak berstruktur. Yang tidak memaksa.

Kemudian uraiannya tentang musik yang meruang itu menelan menit-menit di telepon kami. Seperti yang selalu kuyakini, ceramah itu, pelan tapi jelas, membuatku dirundung sial-sial. Pertama, sial bahwa yang ia katakan memang benar. Selanjutnya, sial karena tanpa kusadari ia berhasil membuatku bilang setuju dengan rencana membuat komposisi musik untuk puisinya. Sial paling akhir, sial yang sesial-sialnya, ia menarikku ke rencana bejat lainnya, rencana sebenarnya dari skema jebakan pagi itu.

Tentu aku sempat menolak dengan bengis. Tapi kemudian ia mengeluarkan jargon tentang passion primordial-nya: Puisi adalah cinta pertamaku. Seperti cinta pertama pada umumnya, kami tidak pernah berjodoh. Tapi namanya cinta pertama, tentu tidak bisa dilupa. Kegagalan itu kurindukan dan kubawa ke mana-mana. Aku menangkap ambisi tanpa kepercayaan diri. Dan aku tidak tahan melihat orang yang memohon. Aku menolaknya, tapi aku berkata iya.

***

Dia adalah kakak kelasku di universitas. Aku tertarik dengan tubuhnya, tapi lebih-lebih pikirannya. Ia menghayati seni dengan cara-cara seperti demam setelah menonton Melancholia [i] atau muntah setelah mengamati satu-satu fragmen lukisannya Hieronymus Bosch [ii]. Siksaan itulah yang menyatukan kami, dulu.

Ia benar-benar menemuiku dan tidak banyak berubah. Kecuali bahwa dia lebih sensitif dengan mesin-mesin. Bahkan ia mengomentari cara kerja gitar listrik sebelum kemudian menyampaikan permohonan.

“Begini, Ri. Resepsi paling sempurna terhadap karya seni adalah karya seni yang lain, yang baru. Aku pikir pembicaraan tentang puisiku akan habis suatu ketika dengan kesimpulan yang sama, biasa-biasa aja. Namun akan berbeda jika kita reproduksi.”

“Kita?”

“Apa kamu tidak merasakan hal yang sama? Lelah mendengarkan orang deklamasi atau menyanyi? Aku mengunjungi Berlin Atonal [iii] tahun lalu. Aku lihat seseorang menggumamkan puisi, diiringi musik yang kamu tahu seperti apa, kan? Namun semua orang berbondong-bondong mengikutinya, seperti mantra.”

“Berlin Atonal” Dia berhasil mencuri perhatianku.

“Aku mau buat seperti itu. Seseorang membaca seperti ngelindur, diiringi musik terbaik yang kamu punya. Lalu kita rekam, dan kita bisa simpan selamanya.”

“Seperti apa itu musik paling baik?”

“Seperti remix gilamu terhadap Man with the Harmonica-nya Ennio Morricone? [iv]”

“Hssssh.”

***

Orang-orang mengenalnya sebagai penulis. Walau sebenarnya dia juga pelukis, penyanyi, pemasak, dan kemampuannya berbicara mengulang-alik fakta adalah bakat natural. Semua itu dilakukan dengan kacau. Dan itu yang membuatku menyerah. Bukan karena aku menganggap itu angkuh, apalagi hina—aku tidak se-sok suci itu—tetapi karena itu menariknya dan aku pada tragedi-tragedi.

Kami menyebutnya sebagai kejadian The Name of the Rose X. Tentu kejadian ini berbeda dengan cerita novel terkenal itu. Tidak ada kematian dan teka-teki. Yang ada melulu kejar-kejaran, ancam-mengancam, dan tipu-tipu canggih bin murahan. Ini melibatkan delapan laki-laki (bukan tujuh), maka kami tambahi X. Benar-benar tidak dimaksudkan untuk menyiratkan unsur porno, walau cerita di dalamnya bisa dikata seporno-pornonya kisah manusia. Karena ini sensitif, dan ancam-mengancam belum selesai, kami menyebut delapan laki-laki itu sebagai seorang profesor ikan, seorang profesor belut, seorang profesor burung, seorang kurator kelinci, seorang kurator siput, seorang polisi anjing, seorang insinyur macan, dan seorang musikus ular. Yang terakhir adalah aku, maka aku berhak memilih hewan yang kusuka.

Seperti kubilang, terhadap ilmu, dia adalah semut yang memburu gula. Awalnya, ia tergila-gila kepada profesor ikan. Dia merasa, ketika jatuh cinta kepada profesor itu, ia telah jatuh cinta pada konsep-konsep semacam ekonomi kerakyatan. Kesalahpahaman itu bersambut, sampai kemudian ia ditawari menjadi istri ketiga. Ia hampir berkata iya ketika istri pertama profesor itu datang menjambak-jambak rambut dan mengancamnya. Ia diselamatkan oleh profesor belut, yang tertarik kepadanya sejak lama, setelah membaca esai singkatnya tentang kesadaran akan waktu dan ruang pada manusia modern. Bersama belut ini, ia mendapat dunia baru. Sepertinya mereka berkembang dan belajar bersama. Tampaknya. Sampai kemudian, seorang profesor burung mengendus hubungan yang katanya tidak adil ini. Dengan strategi yang luar biasa gilanya—kita bisa sebut semacam adu domba—profesor ini berupaya melepaskan temanku dari cengkeraman si belut dengan melemparkan ke cengkeraman orang lain, seorang kurator kelinci. Sayangnya, kelinci ini adalah belut dalam skala yang lebih besar, pelan tetapi kejam. Profesor burung pun membawa lari temanku, mengarungi langit-langit, walau akhirnya, kembali terjatuh, ke dalam pangkuan polisi muda yang papa, yang dalam kepapaan itu, untungnya, bisa menembak kelinci dengan tenang. Aku rasa dunia cukup tenang ketika kemudian datang kurator siput, yang dengan terang-terangan ingin bersandar kepada temanku. Dan kurasa, ini adalah tahapan hidupnya yang sebenar-benar. Namun sayang, kurator itu tewas terlebih dulu sebelum sempat membuat temanku jadi berguna. Untuk membersihkan dirinya dari skandal sinetron itu, temanku membeli harmonika, menyanyi-nyanyi denganku, sebelum kemudian menikah dengan insinyur yang berhasil mengguyur dosa-dosanya. Di mana posisiku? Di seluruh rantai itu, aku adalah lubang, di mana ia bersembunyi, atau menjerat orang-orang. Seperti ular.

Setelah hilang bertahun-tahun, dia memaksaku membuka lubang itu lagi. Pada jadwal latihan pertama kami, ia membawa dua hal. Pertama, seorang laki-laki muda, sebut saja penyair tupai. Kedua, sebuah puisi, yang paling serius yang pernah kudengar: Bayangan Perempuan Buta. Cukup indah dibandingkan dengan puisi-puisinya yang lain, sampai kutahu bahwa itu terinspirasi penuh oleh puisinya Rilke: The Woman Going Blind. Namun kurasa dimensinya benar-benar berbeda.

Pertunjukan itu terlaksana. Tentu saja. Anggaplah itu pertunjukan seni paling seni, karena orang akan sulit mendeskripsikan, apalagi menilai. Puisi itu tentang perempuan buta, yang dibacakan oleh anak ingusan ganteng pujaan remaja, dan diiringi komposisi ikonik rasa gurun dan udara Sicilia yang diubah menjadi thrash metal. Kekompleksan ini tentu saja memuaskannya. Aku tahu betul, di sela hentakan musik itu, mata penyair tupai dan temanku seperti hendak saling menelan. Tapi entah mengapa, aku yang merasa diperkosa.

***

Tak sampai sebulan setelah pertunjukan, ia meneleponku lagi.

“Pemuda itu sudah pergi. Ia bilang kepadaku, sekarang ia tidak bisa membayangkanku lagi. Aku yang sebelumnya dewi dalam imajinasi, sekarang jadi orang asing. Katanya, setelah kami bersentuhan, bayangan itu seperti balon yang pecah, tidak bisa disatukan lagi. Hancur. Andaikan aku masih bisa memilih, mungkin aku lebih bahagia hidup di imajinasinya. Sayangnya, aku tidak bisa lagi. Sepanjang hidupku, ini adalah versi paling menyedihkan dari sebuah peristiwa bernama dicampakkan.”

“Kamu mau jawaban seperti apa dariku?”

“Tidak perlu. Kamu mau mendengarkan permainan harmonika?”

“Boleh.”

Dan dia memainkan versi singkat dari Nature Boy-nya Nat King Cole dengan sedikit terbata-bata di bagian akhir.

“Sudah, ya,” katanya sambil menghentikan permainan harmonika tiba-tiba sebelum kemudian menutup telepon.

Lalu dia menghilang lagi. Sudah pasti.

 

2020

 

Keterangan:

[i] Film yang disutradarai Lars von Trier pada 2011.

[ii] Pelukis pelopor Early Netherlandish Painting School.

[iii] Festival musik eksperimental dan seni visual tahunan di Berlin.

[iv] Komposisi gubahan Ennio Morricone sebagai original soundtrack film Once Upon a Time in the West (1972) garapan Sergio Leone.

 

Ramayda Akmal, penulis, tinggal di Hamburg, Jerman. Dua novelnya yang telah diterbitkan berjudul Jatisaba (2017) dan Tango & Sadimin (2019).