Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 21 Oktober 2020)

WhatsApp Image 2020-10-21 at 20.22.34

Menarik sekali menelaah visi ekonom berkebangsaan Skotlandia, Adam Smith, tentang kapitalisme dalam The Wealth of Nations (1776). Tesisnya yang menyatakan bahwa ketika seorang tuan tanah, penenun atau pembuat sepatu memperoleh laba lebih besar, mereka akan otomatis mempekerjakan lebih banyak asisten (baca: karyawan). Kondisi itu didasari atas keinginan untuk memperoleh keuntungan lebih besar lagi dan lagi, sehingga akan lebih banyak orang yang dipekerjakan. Artinya, makin berhasil usaha seseorang, makin banyak orang yang dikasih makan. Makin sukses seseorang, makin baik moral seseorang sebab makin banyak orang yang terbantu. Makin kaya seseorang, makin mulialah derajatnya atas nama kemanusiaan.

Prinsip di atas dipegang oleh pengusaha baru mana pun hingga hari ini, yang bahkan menganggap pamali memakan keuntungan perdana karena menginvestasikannya untuk produksi—yang tentu saja potensial menambah karyawan—jauh lebih penting bagi masa depan usaha mereka. Meski, pada akhirnya bukan hanya keuntungan pertama yang dialokasikan untuk produksi yang lebih besar, tapi laba berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi, sehingga terbentuklah siklus yang terus berputar. Sekali saja pengusaha tidak menjalankan kebiasaan itu, roda melambat berputar. Kecemasan dan ketakutan pun melanda. Kalau versi Smith, tentu saja kekhawatiran itu atas nama para karyawan yang harus diberi makan, bukan atas nama pengusaha yang berkurang labanya.

Entah  mana yang pertama: apakah buku kitab ekonominya Smith itu atau agama-agama lokal yang tampak memanusiakan alam seperti memberikan panen buah mangga pertama kepada tetangga jauh lebih dianjurkan daripada dimakan sendiri atau upah pertama seorang bujang seharusnya diberikan sepenuhnya kepada ibunda, yang jelas kebiasaan-kebiasaan mendahulukan orang lain (bisa saja dalam jumlah yang lebih banyak) menjadi salah satu napas ajaran agama-agama monoteisme hari ini—Kristen, Islam, Budha, Hindu, dll. 

Sebagaimana napas, ia membuat kehidupan berjalan dan bergeliat dengan normal dan selaras satu sama lain. Tapi, mengapa kapitalisme yang mulia ala Smith itu justru berkembang menjadi vampir bagi kaum miskin, tiap rumah sibuk membangun pagar hingga para tetangga tertutup pandang, atau para eksekutif muda dengan iphone XI yang mengenakan pakaian bermerek justru selalu patungan saban memesan menu di kafe atau restoran mahal. Pertanyaannya: apakah mungkin napas agama-yang-membawa-beban-dakwah itu disalahgunakan?

***

Prinsip-prinsip mengutamakan kepentingan orang banyak memang terasa utopis bila dihadapkan pada kehidupan yang makin lama makin dituntut realistis, bahkan dalam beberapa urusan kehidupan justru berjalan begitu surealistis. Alasan bahwa bagaimana bisa memikirkan orang lain kalau hidup sendiri belum selesai, bagaimana bisa mengurusi orang sakit kalau badan sendiri kurang gizi, atau bagaimana layak mengajak orang-orang ke jalan kebaikan kalau diri sendiri kerap membuat banyak orang kecewa, atau bahkan dalam ranah menulis: saya sendiri melakukannya untuk kegembiraan saya sendiri dulu, perkara para pembaca menyukainya adalah bonus kreativitas.

Kalau nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi napas sebuah prinsip dan ideologi makin terbuka terhadap pengaruh materialisme, lambat-laun tolok ukur segala hal bukan lagi moral dan kebersamaan, melainkan kuasa dan nyala atas apa pun yang bisa dibungkam dan dipadamkan. Hari ini, kapitalisme adalah mengembangkan kue tanpa memperbesar potongan buat kaum pekerja; kesenian yang dianggap adalah yang ditampikan di panggung megah dan dipadati penonton yang membayar tiket senilai 10 kali lipat gaji penjaga gedungnya yang bahkan tidak mendapat akses menonton; buku-buku yang diperhatikan adalah yang mendapat jutaan pembaca di platform digital, bukan yang ditulis dengan riset tahunan dan ketukangan secermat mencari jarum di hamparan jerami.

Tak ayal agama menjelma simbol. Dan simbol-simbol yang berkonotasi positif, tak terkecuali untuk kesalihan dan kebersamaan, sangat dibutuhkann untuk menjadi bagian identitas palsu atas nama kepentingan bersama dan keberlangsungan kehidupan banyak orang—katanya (yah, katanya) …

Tapi, apa dan bagaimanapun, realitas hari ini telah mematahkan visi mulia Smith tentang kapitalisme itu sendiri, sebab kenyataannya, makin besar usaha seseorang, makin kejam ia kepada karyawannya; makin maju sebuah organisasi/komunitas, makin dekat ketuanya pada mimpi kekuasaan yang hanya memanfaatkan suara-suara angggotanya; makin cemerlang karier seorang penulis, makin potensial ia tak peduli pada teks-teks yang akan berbicara ketika waktunya tiba. Dan itu … setali tiga uang dengan nasib agama di tangan kita, orang-orang—yang selalu berusaha kelihatan—kaya dan mulia. 

 

Lubuklinggau, 21 Oktober 2020

Benny Arnas lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku. Bukunya yang akan terbit: Ethile! Ethile! (Diva Press, 2020). Ia mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya