Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 18 Oktober 2020)

Memanggil Roh Singa ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Memanggil Roh Singa ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Dua hari sebelum saya dibawa ke tepi sungai, Ardi tegang mendengar hasrat Rusli yang menggebu-gebu ingin akkammala.

RITUAL yang menuntut keberanian. Dilakukan seorang diri dengan telanjang seraya mengapit seekor ayam putih jantan. Tengah malam, sebelum Jumat subuh masuk, waktu yang tepat untuk memulai. Rusli ingin memanggil roh singa yang dipercaya beberapa warga masih terlihat di desa ini.

Mereka berbincang sambil mengamati diri saya. Karena itu, pengakuan Rusli pada Ardi begitu jelas terdengar. Ternyata, saya sudah jadi incaran untuk dicuri. Di persabungan, selama sebulan lebih saya selalu menunjukkan taji. Saya ayam putih jantan yang gagah mengipas lawan-lawan. Saya jadi perbincangan orang-orang yang bertaruh atau sekadar datang menyaksikan pertarungan ayam. Kemenangan demi kemenangan saya capai. Hal ini mungkin mengetuk pikiran orang-orang untuk memiliki saya dengan berbagai cara. Rusli paling berhasil memanfaatkan keadaan.

Ia tega mencuri saya dari Karring, sekaligus menjauhkan saya dari persabungan. Saya berharap bisa segera kembali pada Karring. Saya yakin, Karring begitu menyayangi saya dan pasti berjuang untuk menemukan diri ini. Semoga ia menyesal telah lalai menaruh saya di kandang kolong rumah. Sebab, seharusnya ia langsung mengandang saya di atas rumah. Tentu saja, berkeliaran di alam bebas adalah sesuatu yang diharapkan oleh banyak ayam. Namun, perhatian Karring membuat saya bersabar menjalani takdir.

Mungkin inilah imbas dari rencana buruk saya pada Karring. Beberapa kali sesaat sebelum bertarung, saya berencana tak ingin mengerahkan seluruh tenaga agar bisa kalah. Saya lelah dengan keadaan yang ada. Ketika saya kalah, Karring pasti malu dan tak akan mengandang saya lagi. Dengan begitu, saya bisa bebas berkeliaran. Terhindar dari lawan yang sewaktu-waktu lebih kuat dan membunuh saya.

Rencana itu tak saya lanjutkan. Saya mempertimbangkan kemungkinan yang lebih parah. Bisa saja karena merasa dipermalukan, Karring bakal membunuh saya dengan keji.

Malam itu, saat Karring pulang ke rumah dan membawa uang jutaan, letihnya serasa tak tampak. Ia mungkin tak bermaksud menaruh saya begitu saja, kemudian buru-buru naik ke rumah. Ia telanjur larut dalam kemenangan. Sebab, saya konsisten menunjukkan ketangguhan.

Waktu yang tak lama dimanfaatkan Rusli untuk mencuri saya. Ia pasti sudah beberapa kali mengintai gerak-gerik Karring. Begitu leher saya dicekik, tak lama mata saya juga perih. Seperti ada sesuatu yang dioleskan Rusli ke sepasang tangannya, agar saya tak berdaya.

Kini, Ardi mencoba percaya, tepatnya ingin menghargai ucapan teman sepantarnya ini, bahwa saya, ayam putih jantan yang tak terkalahkan di persabungan, akan menyempurnakan ritualnya.

“Kau sangat nekat, Li.”

Ardi seakan tak percaya dengan tindakan gila yang bakal dilakukan oleh Rusli.

“Niat saya sudah bulat. Semuanya baru menemukan jalan. Saya berharap bisa berjumpa dengan roh itu.”

Rusli berusaha membuat Ardi percaya.

***

Rusli termasuk orang yang paling beruntung mendapatkan saya. Sebelumnya, terhitung dua kali ada orang yang hampir mencuri saya. Namun, selalu gagal karena saya memberontak di kandang. Bukan berarti saya juga tak memberontak sewaktu diambil oleh Rusli, melainkan Karring benar-benar lengah. Karring terlalu senang dengan kemenangannya hari itu.

Padahal, selama ini, Karring selalu sigap jika mendengar ayam-ayam peliharaannya ribut di kandang kolong rumah dan belakangan selalu peka jika menyangkut diri saya. Karena itu, ia akhirnya berpikir memindahkan satu kandang kurungan bambu untuk saya di atas rumah. Perlahan, perasaannya mulai tenang. Ketakutan akan kehilangan saya mulai redup. Ia merasa saya aman dari jangkauan orang-orang.

Sialnya, kini saya jatuh di tangan Rusli dengan cuma-cuma.

Saya malah berpikir, andai Karring mengiyakan pinangan Asdar yang hendak membeli saya, mungkin ia akan memiliki cukup keuntungan. Namun, ia menolak halus tawaran, karena saya dianggap membawa berkah dan keberuntungan.

***

Rusli mendatangi jembatan seorang diri. Ia menapaki jalan setapak untuk mendekat ke tepi sungai. Ia memandang ke segala arah. Ia melepas seluruh pakaian yang membalut tubuhnya. Suara nyamuk dan serangga saling bersaing. Kaki saya telah ia ikat kuat. Mungkin ia takut, gerakan kecil saya bisa membuat ritual yang direncanakannya gagal. Kini, ia menaruh saya ke tanah dan menginjak kaki hingga paha saya. Ia sedang mengolesi seluruh tubuhnya sesuatu. Aromanya cukup harum.

Setelah itu, ia kembali meraih tubuh saya. Leher saya dicekik. Kemudian menjepit tubuh saya di pinggang kanannya. Ia amat menjaga suasana tetap aman, tak menimbulkan kegaduhan yang sewaktu-waktu bakal saya munculkan di tengah malam ini. Ia telah membentangkan kain putih. Didudukinya sebagai alas. Saya sungguh kesulitan bernapas. Begitu kejam perlakuannya.

Ia yakin, setelah mendapat pengakuan beberapa orang, bahwa roh singa itu bisa ia jumpai di sekitar jembatan ini. Beberapa detik kemudian, saya mendengar Rusli bersuara, terus bersuara, tetapi tak jelas. Nadanya cukup rendah. Tampaknya ia sudah memulai ritual memanggil roh, agar datang menghampirinya.

Angin bertiup pelan. Terdengar air mengalir dengan tenang. Saya masih tersiksa, bisa-bisa saya mati karena tenggorokan saya sengaja ditekan. Belum pernah Karring memperlakukan saya seperti ini. Tangan Karring selalu lemah lembut mengelus-elus tubuh saya. Ia beri saya minum, kasih obat, hingga memandikan tubuh saya. Jika terluka, saya segera dirawat.

Rusli tak banyak gerak. Bisa dikatakan dari tadi ia menjaga posisi. Betah ia berlama-lama seorang diri di sini. Ia seperti tak takut ada kejadian lain menghampirinya. Misal digigit ular. Di sekelilingnya, banyak tumbuhan rimbun. Dengan tubuh telanjang, hewan apa saja juga bebas menggigit kulitnya. Tapi, ia kelihatan siap menghadapi masalah seperti ini.

Saya belum melihat kejadian aneh. Saya hanya melihat di atas jembatan ada kendaraan berhenti. Tiba-tiba seseorang muncul. Merapatkan tubuh bagian depannya di pagar jembatan. Tak lama terdengar jelas air jatuh ke sungai. Rusli tetap tak terganggu dengan kejadian itu. Pikirannya telah terpusat. Apa roh singa itu bakal datang? Saya tak melihat ada tanda-tanda. Sekarang, terdengar dua lolongan anjing. Tubuh Rusli bergetar sedikit. Perlahan getarannya meningkat. Tubuh saya pun ikut bergetar. Tangannya di leherku mulai merenggang. Namun, saya masih megap-megap.

Beberapa menit kemudian, Rusli berhenti bergetar. Perlahan, ia menggerak-gerakkan badan. Berdiri. Saya masih setia diapit. Kehadiran saya amat penting untuk melancarkan ritual. Ia berusaha untuk tidak melepaskan diri ini. Saya sadar, ia menjadikan saya pancingan agar roh singa itu datang. Namun, sampai sekarang tak ada sesuatu yang muncul. Karena putus asa dan keletihan, Rusli memutuskan menyudahi ritual. Ia memaki dan melampiaskan kemarahannya dengan mencekik leher saya.

***

Roh singa ini dianggap jelmaan seorang dukun. Dari cerita yang dipercaya beberapa orang, awal 1962, sang dukun berusaha keras mengerahkan kemampuannya dan singa peliharaannya untuk melindungi kampung dari gerombolan pemberontak yang senantiasa melawan tentara pemerintah. Gerombolan ini, pada malam hari, kadang tiba-tiba keluar hutan untuk meminta paksa kebutuhan makanan dengan menyusup ke rumah-rumah penduduk.

Pada malam hari, sang dukun akan berjaga bersama singa peliharaannya untuk mengamati kampung. Penduduk diharapkan tak berkeliaran jika tak ada sesuatu yang penting. Pintu harus selalu terkunci. Entah bagaimana, singa ini amat jinak di tangan sang dukun. Pun tak ada yang tahu pasti dari mana sang dukun mendapat hewan buas ini. Semuanya sekadar praduga. Misteri. Ada yang bilang, singa itu tersesat ke perkampungan hingga dijinakkan oleh sang dukun. Ada juga yang mengatakan, hadiah seorang pedagang dari negeri jauh yang pernah ia sembuhkan.

Memanggil Roh Singa2 ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Memanggil Roh Singa ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Rusli menjelaskan riwayat singkat roh singa itu kepada Ardi yang kembali datang bertamu sore ini. Di kolong rumah, Rusli mencoba memberi tahu detail cerita. Ardi datang ke sini karena penasaran dengan pengalaman Rusli yang telah selesai menjalani ritual. Saya mulai paham kenapa Rusli ingin berjumpa roh singa itu yang tak lain roh seorang dukun. Rusli sangat berharap mendapat sesuatu pada roh leluhur kampung ini.

“Li, katanya bukan singa, tetapi harimau. Ada warga yang usianya hampir seratus tahun angkat bicara.”

Ardi memunculkan misteri baru. Berusaha mengusik pikiran Rusli, tetapi Rusli tak peduli menanggapi. Malah, ia meraih sesuatu di kantong celananya. Kemudian menunjukkan pada Ardi sebuah batu. Saya penasaran dengan kelanjutan dari ucapan Ardi. Rusli sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Saya belum tahu apa kegunaan batu ini. Tapi, yang saya harap, saya bisa tahan banting dari pukulan maupun benda tajam.”

Ardi seperti takjub pada Rusli. Entah batu dari mana diambil oleh Rusli. Itu hanya penguat alasan. Bukan batu yang diserahkan atau ia cari atas petunjuk roh dukun. Saat ritual berlangsung, tak ada sesuatu yang terjadi.

Bulukumba, 2020

ALFIAN DIPPAHATANG. Lahir di Bulukumba, 3 Desember 1994. Buku-bukunya, kumpulan cerpen Bertarung dalam Sarung (KPG, 2019), novel Manusia Belang (Basabasi, 2020), dan terbaru kumpulan puisi Jari Tengah (Basabasi, 2020). Baru-baru ini merampungkan magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.