Cerpen Jimat Kalimasadha (Suara Merdeka, 18 Oktober 2020)

Ayah Menitipkan Pisau di Rahim Ibu ilustrasi Suara Merdeka
Ayah Menitipkan Pisau di Rahim Ibu ilustrasi Suara Merdeka

Sudah waktunya aku bertemu Ayah. Aku datang pada malam hari, mengetuk pintu di tengah dingin musim kemarau. Bau angin terasa anyep. Suara gelap terasa tinggi dan panjang.

Aku berdiri di depan lelaki itu. Tubuhku lebih tinggi beberapa senti. Wajahku tampak lebih kurus, tulang pipiku lebih pipih dan menonjol. Sudah beberapa hari ini aku tidak mandi dan menyebabkan rambut ikalku kusut dan masai.

Namun aku perhatikan, rambut lelaki di depanku ini mirip rambutku. Hanya matanya sedikit lebih sipit.

“Jantan, namaku,”aku mengulurkan tangan.

Kami berdiri di depan pintu. Aku duduk sebelum dia sempat mempersilakan.

“Maafkan aku jika kau terkejut atas kedatanganku malam-malam begini,” ujarku.

Aku seperti makhluk yang iblis selundupkan atau seperti bintang jatuh dari langit bersama temaram cahaya rembulan tengah malam. Jeritan burung cabak di atas rumah seperti mencium aroma kematian, getir di dada; melahirkan gelombang cemas tak pernah jelas. Dia mengambilkan segelas air putih dari dispenser.

“Silakan minum,” tawarnya.

Aku mengangguk. Air putih itu kuteguk sedikit. Lalu aku mengeluarkan rokok dari dalam jinsku.

“Aku merokok.” Jariku menekan korek api.

“Aku datang dari tempat jauh. Tapi udara di sini jauh lebih dingin daripada di kampungku.”

“Aku juga perokok. Aku bisa menghabiskan banyak rokok, terutama jika aku gelisah,” jawabnya sambil menghunus sebatang mild putih.

Aku tersenyum.

Aku merasa dia memperhatikan barisan gigiku; kerak nikotin yang bersenyawa dengan keganasan kopi. Keringatku menyebabkan aroma ruang tamu ini menjadi lebih pahit.

Ia membalas senyumku. Lembut, tetapi sinis.

“Aku bisa menghabiskan rokok berpuluh-puluh batang, meskipun tidak sedang gelisah. Aku datang dari pulau sangat jauh. Aku berangkat menumpang kapal barang. Aku sampai di rumah ini setelah berulang kali bertanya kepada orang-orang kampung,” ucapku.

“Aku tidak mengenalmu. Kau datang tanpa penjelasan,” jawabnya.

“Sebentar lagi kau akan mendengar suara guntur meledak di rumah ini,” aku melanjutkan ucapanku. “Itulah tujuanku ke sini.”

Aku menatap lelaki itu hati-hati, melihat segala perubahan raut mukanya.

“Tenang. Aku bukan perampok. Aku juga tidak bermaksud membunuhmu,” kataku pelan-pelan. “Aku hanya ingin mengembalikan pisau yang dititipkan di rahim ibuku kepada Ayah.”

Bayangan pisau itu keluar dan berkelebat pelan-pelan di kepalaku. Begitu jelas dan nyata. Ibu mengambil pisau itu dari dalam rahimnya, lalu melempar ke udara. Aku menangkapnya sambil berlari kencang. Mata pisaunya berkilat-kilat; menyerap segala cahaya, seperti ingin menikam segala rasa sakit tak tertanggungkan.

“Siapa ayahmu?” tanyanya.

“Tentu saja ayahku adalah juga ayahmu,” jawabku dengan yakin.

Dia terkejut. “Setahuku Ayah tidak memiliki anak laki-laki lain selain aku.”

“Dari mana kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Sejak kecil aku tidak pernah mempunyai kakak laki-laki atau adik laki-laki.”

“Apakah ayahmu yang juga ayahku itu tidak pernah bercerita sebenarnya kamu mempunyai seorang kakak laki-laki yang semenjak lahir sudah dibuang jauh-jauh agar sejarah keluargamu tidak terkutuk karena aku? Aku dibuang jauh ketika belum genap umur tiga bulan semata-mata hanya untuk meneguhkan bahwa sejarah hanya milik Ayah seorang.”

“Aku tidak percaya.”

“Harusnya kau tahu ayah dan ibumu bersekongkol membuang ibuku sejauh-jauhnya dari hidupku hingga aku tak pernah bisa menemukannya.”

“Ibu tidak sejahat itu.”

Adakah yang kau ketahui tentang kejahatan ibumu yang dibalut kebaikan?

“Tak ada dosa. Tak ada salah bagi ibumu yang anggun dan baik hati itu. Seandainya ada dosa sekalipun, dosa itu tak pernah ia kenang,” kataku pelan.

Ibuku hanyalah perempuan yang iblis kirim untuk mengutuk sejarah keluarga Ayah. Secara fisik, aku dan Ibu bisa dihilangkan, bisa dibuang sedalam Lembah Tartasus, lembah paling gelap dan tak terjangkau siapa pun. Lembah yang menjadi neraka tempat menghukum para dewa Yunani. Namun bisakah keberadaan kami dihapus dari halaman sejarah hidup kalian? Tidak, karena iblis telah menjadi saksi kehadiran kami, dan iblis tak akan pernah mati.

Aku menanyakan namanya ketika kami sama-sama diam.

“Maesa,” jawabnya pendek.

“Kau pasti anak laki-laki kesayangan Ayah.”

Dia mengangguk. Aku menatap matanya yang redup, tetapi berkilat sungguh tajam. Apakah seperti ini mata Ayah? Rasa percaya diriku tiba-tiba goyah.

“Aku tidak percaya semua pengakuanmu, Jantan,” tukasnya. “Kau bohong. Siapakah kau sebenarnya?”

“Sudah aku katakan tadi. Aku adalah kakakmu.”

“Tidak mungkin.”

“Aku datang dari pulau jauh, dan hanya Ayah yang mengetahui nama pulau itu.”

“Bullshit!”

“Pertemukan saja aku dengan Ayah.”

“Tidak bisa. Aku tidak akan mempertemukan Ayah dengan orang yang tidak beridentitas jelas.”

Mata kami bertatapan. Mata yang mirip: sipit dan tajam. Aku berkaca di matanya dan dia berkaca di mataku. Sorot mata kami berkonfrontrasi, berkilat tajam seperti pisau saling menikam.

“Bukankah ayahmu adalah ayahku juga. Dari batang kemaluan yang sama, benih kita berasal. Kita dilahirkan dengan banyak kesamaan. Perokok berat, berambut ikal, dan bertulang pipi menonjol. Lihatlah mataku,” ujarku serius.

Kami memang kakak-beradik yang lahir dari ibu berbeda. Seorang lahir dari ibu keturunan iblis, sedangkan satu lahir dari ibu keturunan bidadari.

“Pernahkah kau berpikir kita akan berjumpa sedemikian rupa, Maesa?”

Dia menggeleng.

Betapa indah jika pertemuan ini dipenuhi prasangka baik. Namun takdir rupanya sudah Tuhan tulis seperti sejarah yang tak bisa dihapus.

“Sekarang saatnya aku bertemu ayahmu yang juga ayahku, Maesa. Ayo tuntunlah aku menghadapnya,”pintaku hati-hati.

“Tidak bisa. Aku tidak ingin mendengar guntur meledak di kamar Ayah. Aku tidak ingin pisau itu bersarang di dada Ayah,” tegasnya.

“Tidak akan. Aku tidak akan membunuh laki-laki yang telah membunuhku sejak aku bayi,” bantahku. “Ayolah, ajaklah aku menemuinya.’’

***

Sekarang waktunya aku bertemu Ayah.

Ada aroma kematian di ranjang tua dan dinding lembap kamar ini. Ayah. Dia berbaring di kasur tua dengan kaki kanan lurus, sedangkan lutut kaki kiri menekuk. Ia selalu tidur di kamar belakang sendirian, jauh dari keramaian keluarga. Sepanjang hari, nyaris seluruh waktu, dia gunakan mendengarkan lagu-lagu rock.

Dinding kamar tidur ukuran empat kali lima ini dipenuhi lukisan gunung dan foto pendakian. Mataku terenyak; seekor kucing di atas meja dengar leher hampir putus dan gigi menyerigai menahan rasa sakit. Kucing itu diawetkan dengan teknik taksidermi yang teliti. Ayahku ternyata penyiksa kucing.

Mataku terpesona pada foto Ayah dan perempuan cantik. Itu pasti ibu Maesa. Mereka berciuman di Puncak Garuda, Gunung Merapi. Hemm…. Ada juga foto sedang berpelukan di tanah lapang luas; hanya ada batu dan nisan para pendaki yang tewas dan dimakamkan. Di bawah foto tertulis “Pasar Bubrah. Cintamu Abadi.”

Sayang, aku tidak menemukan foto ibuku di puncak Gunung Slamet, Gunung Rinjani, Gunung Rantemario, atau gunung apa pun.

“Ibumu tak bakal kautemukan di foto-foto itu. Ia datang dari jalan tempat aku tersesat. Ketika itu aku makin jauh keluar dari rute ke puncak Gunung Slamet. Tubuhku sudah benar-benar lelah dan mengalami hipotermia akut. Ibumu tiba-tiba datang menyelamatkan. Tapi ibumu tidak membawaku ke puncak. Ia justru membawaku pulang. Aku benar-benar marah, karena ada seorang perempuan telah menggagalkan pendakian terhormat itu.”

Semenjak itu, kata Ayah, Ibu ingin hidup bersama Ayah dan memperoleh keturunan dari Ayah. Akan tetapi, Ayah tidak berdaya menghadapi kemarahan bidadari berhati curiga, ibu Maesa.

“Sengaja Ayah melenyapkan Ibu dari kehidupan Ayah?” tanyaku.

“Jika iya, kau mau apa?”

“Sengaja atau terpaksa?”

“Itu bukan urusanmu, Jantan,” jawabnya. “Jika kamu ingin tahu ibumu, tanyakan saja kepada bapak angkatmu.”

“Bapak tidak tahu, Ayah.”

Aku menatap tajam wajah keriput itu.

“Kenapa Ayah lenyapkan Ibu?”

Sekarang aku benar-benar mengancam lelaki tua itu. Dari kepalaku mulai muncul bayangan Ibu mengambil pisau dari dalam rahimnya lalu melempar ke udara. Aku menangkapnya sambil berlari kencang. Mata pisaunya berkilat-kilat; menyerap segala cahaya, seperti ingin menikam segala rasa sakit tak tertanggungkan.

“Aku akan bunuh Ayah dengan pisau yang Ayah titipkan di rahim Ibu,” teriakku. “Katakan, di mana Ibu kaulenyapkan?”

Ayah terkejut ketika mendengar aku mengucapkan pisau di rahim Ibu.

“Ambil pisau itu sekarang, Jantan,” Ayah mengulang. “Lakukanlah. Bunuhlah aku dengan pisau yang aku titipkan di rahim ibumu!”

“Jangan lakukan, Jantan,” teriak Maesa. Aku menyaksikan mata Ayah memancar redup.

“Pisau itu sekarang di mana?” tanya Ayah.

“Di kepalaku, Ayah,” jawabku pelan.

“Lakukan sekarang juga. Secepatnya. Aku ingin menuntaskan rinduku pada ibumu,”Ayah tiba-tiba berlutut seperti anak kecil. “Ibumu selalu datang pada saat Ayah tersesat. Lalu menyelamatkan Ayah dengan cara tersendiri. Ia benar-benar mencintai Ayah.”

Aku dan Maesa bertatapan. Bingung. Ayah menggerakkan tangan agar kami mendekat. Aku duduk di kiri dan Maesa duduk di sebelah kanan Ayah. “Aku rindu pada ibu kalian. Pada Ratri dan Nawang. Pada rindu yang selalu mereka simpan di dalam rahim. Dan kalian adalah dua bilah pisau yang selalu aku titipkan di rahim dengan rindu paling merdu.” Ayah menggenggam tanganku kencang sekali.

Benarkah rindu itu terbuat dari pisau yang dititipkan di rahim Ibu? Kami terdiam sampai lama. (28)

 

Kudus, 2020

Jimat Kalimasadha tinggal di kampung kelahirannya, Kudus. Buku cerpennya Bom di Ruang Keluarga (2010). Puisinya termuat dalam antologi Bayang-Bayang Menara (2015) dan Bermula dari Al Quds (2017), Negeri Poci (2019), dan lain-lain. Kini, ia aktif di Keluarga Penulis Kudus (KPK). Dua tahun terakhir ini dia mengelola tajug.net.