Cerpen Sori Siregar (Koran Tempo, 17-18 Oktober 2020)

Migel ilustrasi Kendra Pamamita - Koran Tempo
Migel ilustrasi Kendra Pamamita/Koran Tempo

Ia menepuk bahuku pelan. Aku berpaling. Migel berada di belakangku.

“Migel?”

“Ya. Masak, kau lupa. Ada-ada saja.”

Aku berdiri, lalu memeluknya. Lima tahun kami tak bertemu.

“Sejak kapan tinggal di sini dan dari mana kau tahu aku di sini?”

“Aku baca Facebook Teddy. Kebetulan aku sedang di sini. Ada tugas. Aku carilah kau di beberapa hotel, termasuk Hotel Permata tempatmu menginap. Untung aku datang pagi ini. Kalau tidak, kita tidak akan bertemu. Resepsionis hotel mengatakan kau baru check out dan sedang dalam perjalanan menuju Bandara Aek Godang. Karena itu, aku kejar ke sini.”

Aku mengajaknya ke sudut ruang tunggu, ke tempat seorang perempuan menjual minuman dingin.

“Aku ke sini menjenguk kakakku yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Inanta. Ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Sidempuan setelah kunjungan terakhirku 20 tahun lalu. Karena itu, kusempatkan juga ke Baringin di Sipirok, melihat kampung ayahku, sekalian berziarah ke makam ompungku. Dalam waktu yang tidak banyak itu, aku juga pergi ke Hutaimbaru, kampung tempat ibuku dilahirkan.”

Migel menatapku sambil tersenyum.

“Kau tetap ramping dan kelihatan muda,” katanya.

“Ah, kau yang langsing dan tidak kelihatan tua. Hidupmu senang, ya?”

“Ah, biasa seperti dulu.”

“Seperti dulu?”

“Ya, mau bagaimana lagi?”

Aku terdiam. Mau bagaimana lagi artinya ia tidak punya pilihan. Seperti dulu itu hanya mengandung satu makna. Hidup yang kotor. Tindak pidana. Aku dengar ia pernah membunuh orang dan untuk itu ia mendapat upah, uang. Ya, bayaran. Migel pembunuh bayaran. Anehnya, ia tidak pernah tertangkap. Ia selalu lolos. Kalaupun tertangkap, tidak sukar baginya untuk lolos. Ada aparat keamanan yang matanya selalu hijau bila melihat uang. Yang pernah menangkapnya adalah aparat keamanan seperti itu. Begitulah cerita yang pernah kudengar dari beberapa sumber.

Aku tidak tahu apa latar belakang yang membuatnya menjadi pembunuh bayaran itu. Ia berasal dari keluarga baik-baik. Pendidikannya di perguruan tinggi selesai dengan ijazah Strata 1. Ia pernah bekerja di dua perusahaan asing. Lalu berhenti. Kemudian bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan penerbitan. Di sana ia tidak bertahan lama. Kepadaku ia tidak pernah mengeluh dan senantiasa tampak ceria. Karena itu, aku selalu bertanya-tanya mengapa Migel masuk ke dunia hitam itu. Padahal ia sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Keduanya laki-laki dan masih bersekolah di SMP.

“Belum ada pilihan lain?” aku bertanya.

Ia kelihatan terkejut, lalu tertawa kecil.

“Kau percaya semua yang kau dengar tentang diriku?”

Aku terdiam. Mungkin ia merasa aku telah tahu banyak tentang dirinya. Buat apa lagi ditutup-tutupi.

“Terkadang aku percaya, terkadang tidak.”

“Tidak ada salahnya jika kau percaya. Semua yang kau dengar itu benar. Aku juga tidak ingin membantahnya. Tapi kan masih terbuka berbagai kemungkinan lain. Dan aku bisa masuk ke berbagai kemungkinan itu.” Karena itu, ia merasa dirinya aman dari segala gangguan. Melihat aku tertegun, Migel dengan ringan memberikan penjelasan yang sama sekali tidak kuminta.

“Iyalah. Kan aku pernah bercerita kepadamu, Baniara. Aku ini dilindungi. Semua pembunuh bayaran itu punya pelindung. Orang-orang besar dan penting. Atau orang yang uangnya sekapal tangki minyak. Dengan begitu, apabila terjadi kekerasan atau pembunuhan terhadap seseorang, aparat keamanan yang jujur sebenarnya dapat meringkus pelaku kekerasan atau pembunuh itu dengan mudah karena mereka punya informan di mana-mana. Tapi kan mereka bernyali kecil, karena akan menghadapi risiko berat bila berani bertindak. Mungkin juga mata mereka sudah telanjur menjadi hijau.”

Karena aku mendengarkannya dengan serius dan memandangnya tanpa berkedip, Migel terkekeh dan bersuara.

“Tenang sajalah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan aku rasa aku tidak perlu mengubah profesi selama pelindungku masih bersedia melakukan apa saja agar aku tetap bebas. Keluarga ibuku di Pargarutan tidak tahu apa profesiku. Karena itu, mereka tenang-tenang saja. Mereka juga tidak pernah bertanya uang yang aku berikan kepada mereka berasal dari mana.”

Lama kutatap Migel. Aku hampir tidak percaya bahwa saudara sepupuku dari pihak ayah, yang bertubuh kurus dan tidak meyakinkan itu, mampu berprofesi sebagai orang bayaran tanpa sedikit pun merasa bersalah.

“Tapi kau perlu tahu, aku hanya satu kali membunuh. Yang biasanya kulakukan adalah melukai atau mencelakakan yang membuat korbanku cedera. Mengetahui korbanku cacat seumur hidup, aku tidak begitu peduli. Tapi, untuk membunuh lagi, tunggu dulu. Cukuplah yang pertama itu saja. Pembunuhan yang hanya satu kali kulakukan itu ternyata membuatku merasa dikejar-kejar dosa sampai saat ini.”

Setelah itu, Migel menatap ke arah landasan pacu. Pesawat terbang jenis ATR/72-600 yang semestinya tiba satu jam sebelumnya belum juga mendarat. Namun para calon penumpang pesawat kelihatan tenang-tenang saja. Tampaknya keterlambatan pesawat yang tiba di Aek Godang merupakan hal biasa bagi para calon penumpang.

“Jangan kau pikir orang yang profesinya seperti aku tidak memiliki perasaan. Aku juga bisa sedih, galau, takut, cemas, dan menyesal. Terutama setelah aku melakukan pembunuhan yang hanya satu kali itu. Orang saling menghabisi biasanya karena perebutan harta, persaingan usaha, dendam politik, atau karena memperebutkan posisi.”

Lalu ia melanjutkan.

“Kedatanganku ke kota kecil ini sebenarnya untuk melaksanakan tugas yang diberikan seseorang di Jakarta. Begitu diminta, aku segera siap. Tapi, setelah beberapa hari di kota ini, aku mendapat informasi yang membuatku membatalkan rencana yang telah kususun. Orang yang akan menjadi korbanku adalah orang baik, pengusaha dermawan, dan sering memberikan beasiswa kepada anak didik yang membutuhkan. Ternyata ia juga orang sekampungku. Aku akan kembali ke Jakarta besok untuk menyampaikan penolakanku kepada orang yang memberikan tugas kepadaku.”

“Luar biasa,” ujarku spontan. “Tak banyak orang seperti itu, Migel. Nuranimu masih kuat. Peliharalah itu. Aku masih yakin, suatu saat kau akan kembali ke dunia baik-baik.”

Ia tertawa sambil menunjuk ke arah pesawat yang akan mendarat. Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan.

“Aek Godang hanya sebuah bandara kecil. Landasan pacunya hanya sekitar 1.400 meter. Pesawat ATR/72-600 dapat mendarat dengan jumlah penumpang 72 orang. Tapi, untuk lepas landas, pesawat itu hanya mampu mengangkut maksimal 56 penumpang.”

“Mengapa begitu?” aku bertanya karena merasa ia bercanda.

“Untuk mendarat tidak diperlukan landasan pacu yang panjang karena pesawat mengerem kecepatannya. Tapi, untuk terbang, pesawat harus memacu kecepatan agar dapat lepas landas dengan mulus. Artinya, dengan mengangkut 72 penumpang, pesawat yang terlalu berat akan mengalami kesulitan, bahkan fatal mengebut di landasan pacu yang pendek seperti di Aek Godang ini. Pesawat sukar untuk mengudara.”

Para penumpang yang akan terbang ke Medan mulai bersiap-siap menaiki pesawat. Tampaknya Migel belum puas mengobrol denganku, saudara sepupuku dari pihak ayah itu. Karena itu, ia melanjutkan pembicaraan.

“Dulu untuk sampai ke sini penumpang harus mendarat di Pinang Sori di Sibolga dan melanjutkan perjalanan dengan mobil. Dan itu menyita waktu lebih lama.”

Aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Migel. Uluran tangan itu disambut Migel dengan wajah murung.

“Masih ada yang ingin kukatakan kepadamu, Baniara. Tapi tak mungkin sekarang. Berikanlah nomor hp, atau WA-mu, alamat e-mail juga boleh. Nanti kita kontak-kontak lagi dan jangan terputus seperti selama ini.”

Aku memberikan yang diminta Migel. Setelah itu, kami bersalaman dan berpelukan sebelum aku melangkah menuju apron karena pesawat telah menunggu di sana.

***

Dua bulan setelah pertemuan di Aek Godang itu, Migel mengontakku melalui WhatsApp.

“Aku sekarang sedang di Morotai. Kusempatkan melihat-lihat pangkalan udara yang dibangun Jepang dan kemudian direbut Amerika dalam Perang Dunia II. Dulu, ketika aku masih di kelas IV SD di Kutaradja, aku pernah membaca sebuah buku berjudul Orang dari Morotai. Aku belum tahu apakah itu novel atau roman seperti yang lazim disebut ketika itu. Aku juga tidak tahu siapa pengarangnya. Sekarang aku di Morotai, menyaksikan pangkalan udara bersejarah tersebut.” Pesan WA itu berakhir di sana.

Satu minggu kemudian, WA Migel yang baru masuk lagi. Kali ini isinya lebih serius.

“Baniara. Aku masih di Morotai. Tiba-tiba tugas berat itu harus kupikul. Aku diminta membunuh sesama pembunuh bayaran. Bukan melukai, tapi membunuh. Celakanya, orang itu kukenal dan pernah bekerja sama denganku. Tobat, aku benar-benar bingung. Jangan-jangan dia tahu aku akan membunuhnya. Bisa saja ia menyerang lebih dulu. Setelah lama berpikir, aku akhirnya mengambil keputusan. Aku akan melaksanakan tugasku. Pilihan lain tidak ada, membunuh atau dibunuh. Ini cobaan berat buatku. Jika aku berhasil melaksanakan tugasku dan aku tidak ingin cobaan ini datang dua kali, aku berniat bahkan berkeinginan akan kembali ke dunia baik-baik seperti yang kau harapkan.”

Aku dapat memahami bagaimana perasaan Migel ketika akan melakukan pembunuhan itu.

Tapi aku tetap mengharapkan dia akan membatalkan niatnya. Dengan begitu, ia masih sempat kembali ke dunia baik-baik seperti keinginannya.

Sejak pertemuan terakhir di Aek Godang tiga tahun lalu itu, aku tidak pernah mendengar kabar lagi dari sepupuku itu. Yang kuterima hanya kabar dari istrinya. Migel tidak akan pernah kembali dan tidak akan dapat mewujudkan keinginannya. Seseorang melepaskan sebutir peluru ke tubuhnya hingga ia tersungkur ke bumi yang berpasir di sebuah pantai di Morotai. Semua berakhir di sana.

 

Jakarta, 7 November 2019-8 Juni 2020-9 Juni 2020-6 Agutus 2020

Sori Siregar masih aktif menulis. Buku terbarunya sedang dalam proses penerbitan tahun ini. Sementara menunggu bukunya terbit, ia telah siap pula dengan sejumlah cerpen yang mungkin akan diterbitkan tahun depan. Menulis itu mencerahkan, kata penulis asal Medan ini. Sekalian olahraga otak.