Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 14 Oktober 2020)

Mari berhitung dengan saksama apa yang ingin diutarakan gambar ini—dengan atau tanpa memerhatikan takarirnya.

Saya menulis dengan kegembiraan yang susah untuk dilukiskan. Selain karena gembira mendapati naskah selesai dan siap dirilis ke publik, juga karena menulis adalah panggilan. Urusan yang kedua ini susah dikalkulasi, apalagi dinalar oleh mereka yang memandang segala hal dengan kacamata bisnis atau ekonomi. Meskipun begitu, bukan berarti saya menjalani kreativitas ini tanpa perhitungan. Mulanya saya tidak peduli dengan hal-hal di luar kepuasan menghasilkan tulisan, tapi lama-lama saya berhitung. Lama-lama saya berjumpa dan berteman dengan matematika, pelajaran yang paling tidak saya sukai semasa sekolah/kuliah.

Bagaimana bisa?

Ya, memang bisa.

Pengalaman dan perjalanan proses kreatif memberi saya pelajaran tentang banyak hal yang harus dilakukan dengan sangkil dan mangkus. Mungkin pada tahun keempat dalam menulislah saya menyadari bahwa kesangkilan dan kemangkusan bukan sekadar untuk menghemat waktu dalam berproduksi. Lebih esensial dari itu, ia adalah tentang berproduksi yang baik dan benar.

Baca juga: Menulis dan Imajinasi – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 07 Oktober 2020)

Tahun 2014, saya menulis cerita bersambung di Sumatera Ekspres. Pembicaraan dengan pihak surat kabar menghasilkan kesepakatan bahwa saya harus menyetor naskah sepanjang 350 kata sebelum pukul sembilan malam agar ia bisa ditayangkan keesokan harinya. Saya memang biasa berhitung dengan panjang-pendek naskah dalam menghasilkan cerpen, tapi biasanya dalam satuan characters with space (CWS), bukan kata. Saya pun beradaptasi dengan format penghitungan panjang naskah dan itu tidak susah. Tah, akhirnya cerbung itu selesai dalam setahun, bahkan saya melanjutkan kontrak cerbung hingga tahun keempat. Saya akhirnya bukan hanya terbiasa menghitung jumlah kata tiap bagian tayang, tapi juga memperkirakan panjang tiap elemen cerita: kondisi tokoh utama, keinginannya, cara yang ia tempuh, hambatan, hingga resolusinya, agar dalam setahun naskah rampung sebagaimana seharusnya.

Tahun 2015, ketika memutuskan beristirahat dari cerpen koran (saya hanya menulis satu-dua cerpen untuk Jawa Pos hingga tahun 2019) dan beralih ke novel, saya tahu kalau saya tak bisa melakukan semuanya tanpa perhitungan. Kesangkilan dan kemangkusan adalah sesuatu yang wajib diterapkan dalam produksi. Tentu ini bukan berarti bahwa novel yang saya hasilkan mesti tipis-tipis saking berhitungnya. Kesangkilan dan kemangkusan itu adalah tentang tubuh tulisan yang ideal: kalau ia memang mesti 600 halaman lebih seperti ketika saya menulis novel Bersetia, ya itulah hasil kesangkilan dan kemangkusan atas karya itu. Pun ketika Tanjung Luka dan Kepunan hanya tampil dengan 300 halaman.

Keberhitungan bukan semata tentang prediksi jumlah halaman. Lebih penting dari itu: keketatan premis, penguraian struktur, dosis konflik, volume emosi tiap tokoh, suhu ketegangan ketika konflik memanas, dan terbuka atau tertutupnya akhir cerita. Ketika menulis Bulan Madu Matahari, saya bahkan membuat rumus cerita sedemikian rupa dengan hasil yang melampaui perkiraan. Saya berjibaku dengan premis dan memecah struktur cerita hingga satu bulan, tapi beroleh kemudahan yang tak pernah terbayangkan ketika akhirnya menyelesaikan penulisan novel itu dalam tiga hari. Ia memang masih draf pertama, tapi tulisan telah selesai dan masa depan cerita telah tampak dengan jelas dan menyala dengan benderang.

Baca juga: Tidak Imperium, Uang, ataupun Agama… – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 30 September 2020)

Apakah bisa kita menulis saja tanpa harus “berhitung”—tanpa harus membuat premis dan memeriksanya sedemikian rupa, tanpa harus membuat garis besar tiap bab, tanpa harus memikirkan proporsionalitas panjang-pendek tiap elemen cerita?

Tentu saja bisa.

Di masa panen, kita bisa menumpuk dulu buah di suatu tempat untuk kemudian membaginya ke dalam beberapa karung atau keranjang. Kita juga bisa langsung membaginya ke dalam keranjang atau karung sehingga urusan penumpukan di satu tempat tidak terjadi. Bahkan, kalau mau repot dan bersenang-senang dengan kekacauan, Anda diperkenankan menumpuk buah-buah dan sesekali membaginya ke dalam keranjang atau karung dan diperkenankan langsung menjualnya kalau ada yang mau beli satuan.

Pilihan itu ada di tangan Anda.

Tapi, proses kreatif mengajak saya untuk melakukan yang satu sama baiknya dengan melakukan yang lain. Saya ingin menulis dengan disiplin sebagaimana saya mengajar bahasa Inggris tiap sore atau mengampu kelas menulis tiap Ahad pada jam yang telah ditentukan. Ketidakberhitungan (baca: kebiasaan tidak berhitung) potensial merenggut kelancaran dari proses kreatif sekaligus mengganggu stabilitas kita sebagai manusia normal. Bahayanya, “kerusakan” itu acapkali dipandang sebagai proses normal dalam berkarya. Kalau memang demi menyelesaikan yang satu Anda harus menelantarkan yang lain dan dengan enteng menyebutnya sesuatu yang normal atas nama konsekuensi, tentu saja saya dengan tegas menolak menjadi bagian dari gerbong itu. Saya yakin, beberapa dari kita pernah berada dalam kondisi sibuk menulis dan menyunting sebuah naskah hingga berpekan-pekan sampai-sampai menyumbat keran komunikasi dengan teman-teman dan keluarga untuk sementara waktu, padahal … kita sedang tidak menulis tesis, novel, atau buku biografi orang besar, melainkan hanya merampungkan sebiji cerpen atau artikel atau puisi yang belum tentu … dimuat media atau menang lomba atau menghasilkan cuan atau dibaca sesiapa. Ach!

Baca juga: Menjaring Angin – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 23 September 2020)

Tak jarang, atas nama idealisme berkarya, ego kita bergerak bebas hingga menyulitkan membedakan mana ide besar dan mana prioritas hidup. Ego bagaimanapun salah satu sumber (genuinitas) ide. Tapi, salah kaprah dalam memperlakukannya akan menghancurkan hal-hal yang lebih besar. Di sinilah, perbedaan signifikan antara mereka yang berhitung dan tidak. Di sinilah, perbedaan besar antara yang benar-benar kreatif dengan yang seolah-olah kreatif.

Sejumlah pakar pemikiran (Tony Buzan dan Vygotsky—sekadar menyebut dua nama) menyatakan kalau kreativitas adalah kolaborasi ciamik antara belahan otak kanan yang cenderung khas dan belahan otak kiri yang teratur dan terstruktur. Mengabaikan salah satunya kreativitas akan meninggalkan tubuhnya sendiri. Sebagaimana kemalasan kita berhitung dalam proses kreatif akan membuat tulisan melantur ke sana-kemari karena tersesat alias kesulitan menemukan jalan mengakhiri segalanya.

Dalam urusan di luar kekaryaan, penulis profesional bahkan mulai menaruh perhatian pada optimasi branding, peka isu sehingga bisa membuat infografik pembacanya, soliditas ide untuk tahu target karyanya: pembaca, sekadar dibincangkan, atau demi penghargaan, atau kedua atau ketiganya sekaligus. Tentu, profesional di sini bukan diasumsikan melacur diri demi algoritma pasar. Ia adalah tentang memastikan atau antisipasi matang agar aktivitas kreatif tidak merenggut kegembiraan dan normalitas hidup.

Berhitung atau memainkan matematika di dalam ranah kebudayaan atau seni kreatif pada akhirnya adalah tentang melatih sekaligus membiasakan diri berpikir, berperilaku, dan berproduksi tanpa mengorbankan hal-hal yang membuat kita—penulis—tetap menjadi bagian dari kehidupan yang ia tuliskan, tetap menjadi bagian dari kemanusiaan yang sehat wal afiat. Kita bisa saja menyebut promosi dan penjualan adalah bukan urusan penulis, tapi penerbit tidak punya cukup waktu untuk memastikan branding Anda terbangun dengan baik atau membujuk-rayu Anda agar menimbang dengan saksama pendekatan terbaik agar Anda bisa membereskan tulisan yang tak kunjung selesai.

Wallahu’alam.

 

Lubuklinggau, 13 Oktober 2020

Benny Arnas lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku. Bukunya yang akan terbit: Ethile! Ethile! (Diva Press, 2020). Ia mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya.