Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 11 Oktober 2020)

 

Wasiat ilustrasi Hangga - Suara Merdeka (1)
Wasiat ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Entah sudah berapa kali Pakde Sudar membalik-balik lembar album serbaguna itu. Album foto yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga, selain foto, dapat juga menyimpan surat-surat penting. Piagam penghargaan, sertifikat, surat pribadi, dan semacamnya.

“Di album ini terhimpun jejak juangku sebagai guru,” kata Pakde kepada setiap orang yang berkunjung ke rumah. Kepada siapa pun yang bertandang, ia selalu memperlihatkan album itu.

Pakde Sudar pensiun tiga tahun lalu. Jabatan terakhirnya, guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Kepala sekolah dengan embel-embel berprestasi tingkat nasional. Prestasi yang, kepada siapa pun, selalu dia ceritakan dengan mata berbinar.

“Ini foto saya bersama Presiden Jokowi. Itu dengan Menteri Pendidikan. Dan, yang itu saat saya diundang ke Finlandia,” jelas Pakde. Telunjuknya bergerak dari satu foto ke foto lain.

Pakde Sudar adalah kakak kandung ibuku. Sudah berkali-ulang aku sowan ke rumahnya. Mungkin itulah mengapa ia tidak keberatan aku dititipkan Ibu tinggal di rumahnya saat menyelesaikan pendidikan SMA. Apalagi sekolahku dekat dengan rumah Pakde.

Ndak apa-apa. Biar rumah tidak sepi,” kata Bude.

Memang semenjak Mas Rano, putra tunggal mereka menikah dan tinggal di kota lain, hanya Pakde dan Bude yang menghuni rumah itu.

Triwulan pertama hidup di rumah Pakde, aku acap kaget. Hampir setiap pagi kusaksikan insiden yang memprihatinkan. Gegaranya, Bude sering menegur, tepatnya mengingatkan Pakde. Waktu itu Pakde baru sekitar sebulan memasuki masa pensiun.

“Mas mau ke mana?” tanya Bude saat melihat Pakde sudah mengenakan seragam warna khaki.

“Kerja.”

“Bukankah Mas sudah pensiun?”

“O, iya. Kamu sih tidak mengingatkan.”

“Sudah setiap pagi kuingatkan.”

Pakde tidak menjawab. Dengan lunglai ia menuju ke kamar.

Selama tiga bulan insiden seperti itu terjadi. Ketika melihat, aku bertanya dalam hati, mengapa Pakde merasa masih aktif bekerja? Apakah itu yang dinamakan post power syndrom?

Menjelang minggu pertama bulan keempat, barulah Pakde sadar sudah pensiun. Kesadaran itu muncul setelah Bude menyembunyikan semua pakaian seragam dinasnya. Kesadaran itu mengubah kebiasaan Pakde. Kini, hampir tiap pagi ia suka duduk berlama-lama, memandang foto dan surat-surat dokumen yang tersimpan di sebuah album serbaguna sembari bercerita panjang-lebar kepada teman-temannya yang sengaja dia undang.

Tahun pertama menjalani masa pensiun, teman-teman Pakde masih banyak yang mau datang. Masuk tahun kedua, tak ada lagi. Mungkin mereka sudah bosan melihat isi album dan mendengar cerita Pakde yang itu-itu saja.

Dengan berbagai cara Pakde berusaha mengundang teman-temannya agar mau berkunjung lagi. Gagal. Mereka, yang kebanyakan pensiunan guru, menolak secara halus. Mereka berdalih, momong cucu, sibuk berkebun, membantu istri jualan, dan sebagainya.

Pakde sangat terpukul. Ia merasa teman-temannya sengaja menjauh. Akibatnya, ia jadi acap melamun, senyum-senyum serta berkata-kata sendirian. Melihat kondisi Pakde seperti itu, Bude sangat cemas. Ia tahu psikis suaminya terganggu. Bude memintaku segera mencari usada.

“Bayar orang yang mau menemani dan mendengar pakdemu,” saran Ibu, ketika lewat telepon kukabarkan kondisi Pakde beserta kebingunganku. Bude setuju. Pak Sirin, kerabat jauh, bersedia menemani Pakde.

Namun, hanya sebulan Pak Sirin bertahan. Dia menganggap imbalannya kurang memadai. Dia minta tambahan sekian kali lipat. Permintaan yang sulit dipenuhi. Sebab, imbalannya sudah setara UMR kabupaten.

Maka pemandangan dua bulan lalu tergelar kembali. Setiap pagi terlihat Pakde melamun, senyum-senyum dan berkata-kata sendirian lagi. Bude cemas dan menyuruhku mencari usada lagi. Aku kebingungan lagi.

“Usadanya di tangan Rey,” kata Mas Rano.

Bude menyuruh dia pulang untuk membicarakan kondisi ayahnya.

“Kok saya, Mas?”

“Iya, Rey.” Mas Rano tersenyum. “Kamu tahu Bapak menolak keras dibawa ke dokter bukan?”

“Lalu apa yang bisa kuperbuat?”

“Menggantikan Pak Sirin.”

Sejenak aku terdiam. Aku bingung. Mas Rano dan Bude tak henti membujuk dan mendesakku. Mereka bahkan meminta dukungan orang tuaku. Dan, kedua orang tuaku merestui.

Akhirnya aku menyanggupi permintaan itu. Dengan syarat, bila tiba masa pendaftaran mahasiswa baru, mereka mengizinkan aku meninggalkan Pakde. Mereka setuju. Jeda panjang serampung ujian memungkinkan aku bisa menemani Pakde.

Belum sebulan menemani Pakde, aku merasa cocok. Mesti kuakui, Pakde termasuk orang berkelas. Wawasan dan pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan sangat luas. Pandangan dan pemikirannya tentang dunia pendidikan tajam, bahkan terkadang kontroversial.

“Selama masih banyak birokrat bermental korup, sulit rasanya pendidikan di negeri ini maju,” kata Pakde. Serius.

“Jadi dunia pendidikan juga dipenuhi koruptor ta, Pakde?”

“Begitulah.”

Dengan suara tertahan Pakde mendedahkan borok-borok dunia pendidikan yang dia ketahui. Pungli, suap, KKN merajalela di berbagai tingkatan. Birokrat yang menangani bantuan pembangunan infrastruktur pendidikan dari pusat hingga daerah, misalnya, semua minta bagian. Itulah mengapa ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, yang baru seumur jagung dibangun banyak yang ambruk.

“Dunia pendidikan kita dipenuhi oknum birokrat korup,” tandas Pakde.

“Apa tidak ada cara untuk memperbaiki, Pakde?”

“Ada. Pembersihan besar-besaran. Kalau perlu revolusi.”

Dua bulan, tiap pagi bersama Pakde, pengetahuanku tentang dunia pendidikan bertambah. Berbagai kiat mengajar, romantika hidup guru, banyak kuserap dan kudengar dari dia. Berkat Pakde, keraguanku untuk mewujudkan cita-cita menjadi guru pelahan sirna.

“Bila nanti kamu menjadi guru, jadilah guru dengan G kapital, Rey. Guru yang bekerja dengan pikiran jernih dan hati bersih.”

“Siap, Pakde!” Kutirukan gerak prajurit yang memberi hormat kepada komandan. Tawa Pakde berderai.

Tawa yang lama tidak terdengar di rumah itu.

“Rey, coba kamu baca surat di lembar terakhir album itu,” kata Pakde tiba-tiba. Pandang matanya tertuju ke album di atas meja. “Perihal surat itu belum pernah kuperlihatkan dan kuceritakan kepada siapa pun.”

“Ada yang istimewa rupanya.”

“Baca saja.”

Dengan saksama kubaca surat itu. Surat dari mantan siswa Pakde. Intinya, Yusro, nama siswa itu, minta maaf. Bersama gangnya ia pernah mencegat dan hendak mengeroyok Pakde. Untung, waktu itu Pakde pulang bersama guru lain, sehingga mereka urung mengeroyok. Pada penutup surat, Yusro menyampaikan terima kasih lantaran disiplin yang Pakde tanamkan menjadi bekal berguna bagi dia. Itu dia rasakan ketika menjalani pendidikan di SMA Nusantara dan berlanjut ke Akademi Kepolisian.

“Terima kasih, Pak Dar. Tamparan Bapak telah membawa berkah bagi kehidupan saya.”

Pelan-pelan kututup album, lalu mengembalikan ke tempatnya.

“Surat yang indah,” gumamku.

“Surat yang menyadarkan aku, kekerasan semestinya tidak boleh terjadi di dunia pendidikan.” Pakde menghela napas.

“Sekalipun kekerasan itu demi kebaikan?”

“Dengan alasan apa pun kekerasan tetaplah kekerasan, Rey.”

“Tapi toh Yusro justru menganggap sebagai berkah?”

“Itu karena ia mau mengambil sisi positifnya. Kalau tidak, boleh jadi tamparanku akan menjelma dendam kesumat yang terbawa seumur-umur.” Lagi, Pakde menghela napas. “Kekerasan yang kulakukan merupakan noktah hitam yang menodai karierku sebagai guru.”

Aku terdiam. Rasa kagum kepada Pakde makin bertumbuh di hati.

“Aku lelah sekali, Rey. Aku mau istirahat. Tolong, rawat baik-baik album itu.”

“Pakde sakit?”

Pakde menggeleng.

***

Pagi itu, usai salat subuh, kudengar ketukan di pintu kamar. Terdengar suara Bude. “Rey, pakdemu, Rey. Pakdemu…”

Aku meloncat, berlari ke kamar Pakde. Kulihat tubuh Pakde sudah tergeletak di lantai kamar.

Di dalam taksi menuju ke rumah sakit, sambil menangis Bude bercerita, sejak kemarin sore Pakde mengeluh dadanya sakit. Dan tadi pagi, ketika hendak beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba Pakde ambruk.

Dengan pikiran kacau, tak lepas kupandangi wajah Pakde yang terkulai di pangkuanku. Masih tergiang ucapannya, “Rawat baik-baik album itu, Rey!” (28)

 

Kudus, 2020

Mukti Sutarman Espe, pensiunan guru, berkhidmat sebagai redaktur tajug (dot) net, tinggal di Kudus. Buku cerpen terbarunya Perempuan yang (Tidak Pernah) Bahagia.