Cerpen Silvester Petara Hurit (Koran Tempo, 10-11 Oktober 2020)

Ama Nara ilustrasi Koran Tempo (1)
Ama Nara ilustrasi Koran Tempo

Apakah ada orang yang tinggal di sana, di antara pohon-pohon besar dan binatang-binatang hutan? Begitulah orang-orang bertanya heran melihat kepul asap di pagi atau nyala api pada malam hari. Tinggal jauh dari permukiman warga, di punggung bukit, di antara pohon-pohon besar menjulang yang entah sudah berapa tahun usianya, membuat keluarga Ama Nara menjadi buah bibir, terutama bagi orang-orang sekitar.

“Apakah Ama Nara dan keluarganya itu menaka?” Marselinus bertanya kepada pendamping Sekolah Minggu 25 tahun lalu.

Ama Nara, yang tinggal dan berladang di punggung bukit yang dikelilingi pohon-pohon tinggi menjulang, menjadi momok di kepala Marselinus dan teman-temannya. Apalagi saat masuk sekolah dasar, guru-guru mulai bercerita tentang majunya kota-kota besar. Di sana gedung-gedung menjulang, jalan lebar dan licin, duduk di ruang ber-AC. Tak perlu lagi mencari makanan kambing atau membantu orang tua di ladang. Pokoknya segala sesuatunya serba ada dan mudah didapat. Kota-kota besar semakin menjadi tempat impian.

Ketika di kelas dua SMP Frateran, Marselinus mendengar cerita dari pastor Lambertus tentang pengalamannya studi di Roma membuat Marselinus bertekad menjadi pastor supaya suatu waktu kelak ia dikirim belajar ke Roma dan mengunjungi kota-kota penting di Eropa, yang kemajuannya seperti kisah-kisah dongeng dalam kepala Marselinus.

Impian mengenai kota-kota yang luar biasa membuat Marselinus dan teman-temannya semakin memandang Ama Nara aneh dan bodoh. “Di saat semua orang berpacu maju, eh, dia malah milih kembali ke Zaman Batu,” kata seorang pendamping desa lulusan salah satu universitas ternama ketika Marselinus dan kawan-kawan mendapat tugas sekolah mewawancarainya.

***

Ama Nara bersama istri dan dua anaknya memilih bertahan di kampung leluhur. Tak mau ikut turun menghuni permukiman desa gaya baru. Karena itu, ia dianggap sebagai pembangkang, ketinggalan zaman, dan tak berpihak kepada pembangunan.

Ama Nara selalu bilang kepada istri dan kedua anaknya untuk tak perlu terlalu menghiraukan segala tudingan miring terhadap mereka. Ia mendaftarkan kedua anaknya bersekolah di permukiman desa gaya baru. Saban hari, ia mengantar dan menjemput. Ketika anak-anaknya tak kuat berjalan, ia menggendong mereka. Itu dilakukan pada tahun-tahun awal ketika mereka masuk sekolah dasar.

Ia menghibur dan memberi kekuatan kepada kedua buah hatinya yang masih terlalu kecil untuk mengerti dengan kehangatan kasih sayangnya. Dalam hati, ia berharap kedua anaknya mulai percaya pada setiap tetes keringat yang mereka cucurkan saban harinya.

“Kenapa kita tidak ikut tinggal di bawah seperti teman-teman?” Platin, anak kedua, memprotes ketika masuk di tahun ketiga sekolah menengah pertama.

“Tidak semua hal kita harus ikut orang, No.”

“Di sekolah mereka bilang Bapak aneh dan kepala batu. Kami jadi malu.”

“Untuk apa malu?”

“Kata Pak Guru, hidup harus mengikuti zaman.”

“Mengikuti zaman tak selalu berarti meninggalkan apa yang kita miliki.”

“Katanya hidup di kota serba enak. Kita bisa makan ayam goreng Amerika.”

“Lebih enak makan ayam yang kita pelihara sendiri.”

“Itu sudah biasa!”

“Iya. Tapi kita tahu baik ayam kita makan apa. Tidurnya saja di atas pohon. Tak dikekang dalam kandang. Rasa bahagianya terdengar dari kokoknya. Ketika kita makan, rasa itu turut masuk ke hati. Kita kenyang sekaligus bahagia.”

“Ayam goreng di kota lebih enak.”

“Yang enak justru ayam yang kita potong langsung dimasak. Segar dan belum jadi bangkai. Yang enak itu zat perasanya, bukan ayamnya.”

“Ah, Bapak ini. Cuma tinggal di gunung sok tahu segala.”

“Terus?”

“Dasar Bapak tak sekolah!”

“Nanti, kalau sudah sekolah tinggi, jangan bilang Bapak bodoh, ya, karena Bapak yang bodoh ini mengongkosi kalian jadi pintar.”

“Apa lagi?”

“Kalau sudah pintar, jangan bilang ayam Amerika lebih hebat dari Bapak, ya?”

“Masak, ayam dibandingkan dengan manusia?”

“Sekolah yang rajin. Nanti siang, tunggu Bapak di sini lagi, ya.”

Ama Nara memeluk anaknya. Mereka berbagi jalan di simpang ke arah pasar dan sekolah. Ama Nara bergegas ke pasar Rabuan Kewuta Harun Bala menemui para breun-nya. Ia membawa sedikit ubi ungu dan beras merah yang baru dipanennya. Biasanya, breun-nya, seperti Paman Kadir dan Bibi Kadijah, sudah menyiapkan ikan sembe, garam, tembakau Boleng, dan gurita kering untuknya.

Namun ada yang berubah sejak sepuluh tahun terakhir. Tepatnya sejak pasar Kewuta Harun Bala direlokasi. Pemerintah membangun ruko di tempat baru yang lebih banyak dihuni oleh pedagang besar dan berduit. Pasar ditata lebih rapi. Barang-barang, seperti beras, jagung, minyak goreng, dan garam, yang didatangkan dari luar dalam jumlah besar dan terkemas bagus membuat Ama Nara kerap merasa bahwa pasar bukan lagi diperuntukkan bagi orang seperti dirinya.

***

Ama Nara setia merawat hutan dan ladangnya. Ia tak tergoda untuk menjual habis hasil ladangnya, walau uang lebih mudah dan praktis untuk disimpan atau dibawa ke mana-mana. Ia membangun hoku untuk menyimpannya. Ada tabungan di bank, tapi mesti ada tabungan pangan keluarga. Jika kondisi terburuk, katakanlah pada suatu masa bilamana penyakit bisa ditularkan lewat makanan, ia bisa melindungi istri-anaknya karena makan dari lumbung sendiri.

Rupanya pikirannya tak selalu basi. Ketika pandemi Covid-19 merebak dan gagasan lockdown direncanakan untuk diberlakukan, ada kekhawatiran pemerintah daerah jika pandemi berlangsung lama, persediaan pangan menjadi persoalan tersendiri. Maka, desa dan para petani harus disiagakan menjadi benteng terakhir ketahanan pangan daerah.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ama Nara diundang dalam rapat untuk mendengarkan ceramah ahli dari Badan Ketahanan Pangan Daerah. Apalagi katanya penceramahnya lulusan luar negeri. Karena tinggal paling jauh, Ama Nara berangkat paling awal. Ia yang pertama tiba di Aula Kantor Desa.

“Kegiatan akan segera dimulai begitu rombongan dari kabupaten tiba,” kata Kepala Desa menenangkan warga yang mulai gelisah.

Setelah hampir dua jam menunggu, tibalah rombongan dari kabupaten. Kegiatan dimulai dengan sapaan dari Kepala Desa dan sambutan Camat. Lalu ceramah dari Pak Marselinus sebagai orang ahli. Bicaranya bagai air mengalir. Ia memberikan gambaran tentang kondisi pangan dunia, kebijakan dan strategi pangan negara-negara maju, serta menawarkan konsep ketahanan pangan masyarakat. Banyak istilah khas orang sekolahan. Ama Nara tak terlalu paham. Tapi ia bisa menangkap intinya. Bahwa mesti ada lumbung pangan desa. Bank pangan namanya.

“Bapak yang paling tengah, paham tidak?” Pak Marselinus bertanya.

Ama Nara mengangguk, lantas menundukkan kepalanya.

“Mesti dukung pemerintah untuk mewujudkan program inovasi ini, ya?!”

Ama Nara mengangguk untuk yang kedua kalinya dan menunduk lebih dalam.

Baru kali ini Pak Marselinus bertemu muka dengan Ama Nara, hantu dalam cerita masa kecilnya. Pak Marselinus membawa serta William, seorang mahasiswa asing yang tertarik meneliti praktik klenik di desa itu. Ama Nara jadi target utama penelitiannya. Namun maksud tersebut dirahasiakan demi menjaga perasaan warga, terutama Ama Nara.

Setelah ceramah berakhir, didampingi oleh Sekretaris Desa, Pak Marselinus memperkenalkan William kepada Ama Nara. Sebagai awal, katakanlah semacam perkenalan, keduanya menyatakan niatnya berkunjung ke rumah. Dengan ramah dan tulus, Ama Nara mengiyakan jika mereka tak berkeberatan mendaki bukit yang lumayan melelahkan bagi yang belum terbiasa.

Pak Marselinus meminta Sekretaris Desa menemani mereka. Mendaki bukit yang lumayan menanjak membuat Pak Marselinus dan William mandi keringat. Akhirnya, sampailah mereka dengan disambut hangat oleh Ina Uto, istri Ama Nara.

Begitu tiba, perhatian Pak Marselinus langsung tertuju pada satu bangunan menyerupai rumah panggung berukuran besar tak jauh dari rumah tinggal.

“Bangunan apa itu?” tanya Pak Marselinus.

Hoku.”

“Bolehkah kami melihatnya?”

“Boleh. Istirahat sejenak dan minun kopi dulu.”

“Ina Uto bergegas menyiapkan kopi dan menyajikannya bersama singkong rebus, ubi ungu kukus, kacang tanah goreng, serta jagung titi. Dengan ramah ia mempersilakan mereka minum.

“Wah, nikmat sekali. Kopinya enak. Beli di mana?” tanya William.

“Ditanam sendiri. Hanya untuk minum keluarga.”

“Ubi, singkong, dan kacang ini?”

“Ditanam sendiri juga.”

Tak lama kemudian, Ina Uto dari dapur membawa bubur kacang hijau yang dicampur kacang nasi.

“Silakan dinikmati. Hasil panen baru.”

Pak Marselinus melirik Sekretaris Desa.

“Silakan, silakan.”

“Wow. Manisnya khas sekali!”

“Manis gula lontar. Disadap dan dimasak sendiri.”

Setelah itu, mereka mengikuti Ina Uto ke hoku. Di kolomnya ditumpuk ratusan buah labu. Di dalamnya ada kacang tanah, kacang merah, jewawut, sorgum, beras merah, beras hitam, jagung, dan beberapa jenis kacang hutan yang disimpan dalam sokal-sokal berbagai ukuran.

“Ini padi yang baru dipanen. Itu yang tahun kemarin. Yang di ujung sana, tiga tahun yang lalu,” Ina Uto menjelaskan sambil menunjuk sokal besar berukuran pelukan lima orang dewasa.

“Hasil panen tiga tahun lalu belum habis dimakan?”

“Iya.”

“Sejak kapan ada gagasan membangun lumbung pangan ini?” tanya Pak Marselinus.

“Ini dibangun oleh kakek, ayah, dan saya hanya memperbaikinya.”

“Ayam-ayam ini cari makan sendiri?” Pak Marselinus berkata sambil menunjuk puluhan ayam yang berkeliaran.

“Setiap pagi kami beri makan.”

“Pakannya?”

“Jagung, beras, dan kacang hijau dari ladang.”

Ina Uto membawa mereka melihat sejumlah tanaman obat di pekarangan rumah serta menjelaskan khasiat masing-masing tanaman. Tak terasa matahari sudah membiaskan warna merah. Sebentar lagi akan terbenam. Pak Marselinus menyampaikan kepada Sekretaris Desa supaya adakah baiknya mereka pamit. Sopir sudah lama menunggu di kantor desa.

Ama Nara dan Ina Uto menahan mereka supaya kalau bisa, besok pagi baru pulang.

“Maaf, Bapak dan Ibu, besok saya harus berkantor. Nanti kami datang lagi.”

“Kalau begitu, tunggu sebentar.”

Ama Nara dan Ina Uto bergegas ke dapur.

“Anak-anak Ama Nara dan Ina Uto?” tanya Pak Marselinus kepada Sekretaris Desa.

“Dua orang. Dua-duanya laki-laki. Yang besar magister etnomusikologi. Baru wisuda bulan kemarin. Yang kedua baru diterima sebagai mahasiswa pascasarjana antropologi.”

Pak Marselinus dan William saling pandang.

Tak lama kemudian, Ama Nara dan Ina Uto dari dapur membawa sokal-sokal daun lontar.

Pak Marselinus hendak buka suara.

“Tak boleh menolak apa yang dari tangan kami,” Ina Uto mendahuluinya.

“Tapi terlalu banyak.”

“Kita bawa bersama.”

Dengan sukacita, Ama Nara dan Ina Uto mengantar mereka sampai ke mobil. Bagasi mobil Avanza berpelat merah penuh terisi oleh lima sokal berisi kacang tanah, kacang hijau, kacang nasi, beras merah, beras hitam, tiga botol madu hutan, serta 30 butir telur ayam kampung.

Sepanjang perjalanan, Pak Marselinus tampak tak seperti biasanya.

“Ama Nara menjadikan ladang dan hutan sebagai lumbung pangan lestari. Itu lebih cocok jadi obyek penelitianmu,” kata William.

Pak Marselinus diam dan berpura-pura tidur.

Sesampainya di rumah, Pak Marselinus mandi dan langsung merebahkan diri ke tempat tidur, berharap dapat segera lelap. Namun, hingga larut malam, ia tak bisa memejamkan matanya. Ada banyak hal yang terus tumbuh dan berkecamuk di kepalanya.

 

Lewotal Flores Timur, Akhir Mei 2020

 

Keterangan:

Menaka: suangi, tukang sihir

No: sapaan untuk laki-laki Suku Lamaholot

Breun: kawan/sahabat antara orang pesisir (pantai) dan orang gunung (pedalaman) suku Lamaholot.

Hoku: lumbung pangan keluarga

 

Silvester Petara Hurit. Menulis cerpen, esai, dan lakon. Dia mendirikan Nara Teater dan bergiat mengembangkan iklim teater dan sastra di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur