Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 07 Oktober 2020)

Ethile! Ethile! yang akan segera diterbitkan Diva Press akhir tahun ini adalah buah lentingan imajinasi dari sebuah perjalanan.
Ethile! Ethile! yang akan segera diterbitkan Diva Press akhir tahun ini adalah buah lentingan imajinasi dari sebuah perjalanan.

Menulis adalah bersuara dengan teks. Dalam menulis, kita sebenarnya sedang berbicara. Kalau begitu, mengapa harus lewat teks? Kenapa nggak langsung ngomong saja? Apa istimewanya bersuara dengan teks?

Baiklah. Kita telah membuka esai ini dengan sebuah pertanyaan. Membuka percakapan dengan pertanyaan adalah salah satu siasat untuk membuat orang-orang tetap menyimak. Bahkan dalam menulis, “melemparkan pertanyaan” adalah salah satu rumus menciptakan paragraf pertama yang mencuri perhatian pembaca.

Sekali lagi, apa istimewanya teks?

Ya, saya bilang teks, bukan tulisan.

Teks adalah tulisan yang memiliki arti, makna, atau maksud. Sedangkan tulisan adalah rangkaian huruf yang bisa dibaca, tapi belum tentu memiliki arti, makna, atau tujuan. Saya pergi ke pasar adalah teks, sedangkan ali bulan sepi sebatas rangkaian huruf yang bisa dibaca. Teks sudah pasti tulisan, tapi tulisan belum tentu teks. Teks sudah pasti terarah, tulisan belum tentu.

Baca juga: Tidak Imperium, Uang, ataupun Agama… – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 30 September 2020)

Jadi, apa istimewanya teks?

Baiklah. Setelah memberikan landasan tentang teks dan tulisan tadi, kali ini kita ke inti pembahasan. Mengapa menulis menjelma kecakapan yang memiliki daya pikat sehingga banyak sekali orang yang ingin mempelajarinya, ingin sekali menguasainya?

***

Karena berurusan dengan kata-kata tertulis, bukan terucap (dalam pengertian harfiah), teks memungkinkan pelakunya melakukan beberapa hal berikut:

⁃ Dalam prosesnya, teks memberikan kesempatan kepada penulis untuk melihat ulang, menimbang struktur dan makna yang ingin diketengahkan, sekaligus mengubahnya sehingga siap dihadirkan. Hal ini bertolak belakang dengan berbicara yang “tidak bisa” ditarik dan direvisi.

Teks menghadiahi diri sendiri dengan kesenangan sebab aktivitas ini memberikan kewenangan bagi pelakunya untuk menumpahkan apa saja—kegembiraan, makian, bahkan kengawuran apa pun—di atas kertas atau layar tik, meskipun;

⁃ Di belakang layar, teks menyediakan kita rekan dalam wujud teknik-imajiner yang akan mengontrol keliaran kita dalam menghasilkan draf. Teknik imajiner itu bernama Penyuntingan. Penyuntingan akan mengingatkan, menyarankan, atau bahkan membentak tanpa menghilangkan previlese penulis yang menyukai keleluasaan.

***

Menulis teks menghadiahi semesta yang sepenuhnya kita kendalikan. Oleh karena itulah, salah satu pakar free writing, Natalie Goldberg, menyatakan, “Bahkan menulis saja sudah surga!”

Kita bebas berimajinasi untuk memberikan kelahiran lapisan imajinasi kepada pembaca. Ya, aktivitas menulis yang baik akan memberikan penulis dan pembaca rumah imajinasinya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, teks yang baik akan melejitkan imajinasi, baik penulis maupun pembacanya.

Baca juga: Menjaring Angin – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 23 September 2020)

Bayangkan, ketika Anda memikirkan “sebuah mug bervolume 250 ml berbahan melamin berwarna putih mengilat dengan pegangan mirip belalai gajah berisi kopi tubruk merek Ananda ada di bawah bohlam dengan sinar keemasan”

tapi memilih menuliskannya begini:

“Sebuah mug berisi kopi panas tampak mengilap oleh cahaya bohlam”.

Ya, karena detailnya sudah ada di kepala, alam bawah sadar Anda mengatakan kalau menuliskan volume mug, bahan mug, bentuk pegangan mug, serta jenis dan merek kopi yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang tak perlu Anda tuliskan. Apalagi, setelah Anda mengecek-ulang, detail-detail itu tidak memengaruhi maksud dan arah tulisan.

Maka, disadari atau tidak, Anda sedang membuat pembaca memberdayakan imajinasinya. Sangat mungkin akan ada yang berimajinasi atau mengira kalau mug tersebut bervolume 150 ml tapi hanya diisi 100 ml kopi, bahan mugnya bukan melamin, pegangannya mirip daun jagung yang dipilin-lengkungkan ke tubuh mug, kopinya adalah hasil seduhan biji kopi pagaralam yang baru dipanggang, dan bohlam itu memancarkan sinar berwarna awan di musim kemarau: putih bersih menyilaukan. Lain pembaca, lain pula gambaran yang hidup di dalam kepala mereka.

Bahkan ketika Anda menulis “Andi memakai baju hijau” pun, pembaca sedang diberi kegembiraan untuk memakaikannya kemeja hijau kotak-kotak yang didominasi warna hijau daun katuk, atau memakaikan Andi t-shirt hijau tahi kuda yang polos, atau bahkan memberi Andi usia 17 tahun, tampan, tapi pendiam, meskipun pembaca yang lain malah memberinya umur 25, dengan status sudah menikah, dan berperangai pecicilan.

Baca juga: Living Library – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 16 September 2020)

Bayangkan, kalau mug di bawah bohlam yang menyala tadi adalah karya seni rupa yang dipamerkan. Meskipun tiap pengunjung memiliki pemaknaan yang lain terhadap konteks, informasi yang mereka dapatkan terkait fisik benda akan seragam sebab semuanya terang benderang tertangkap mata. Kalau ada yang bersikeras bilang bahwa mug itu volumenya 500 ml, tentu saja ia perlu digelandang ke luar area pameran. Atau … ketika Andi berbaju hijau tadi adalah Leonardo DiCaprio ber-sweater hijau motif polkadot dalam sebuah film, penonton akan memiliki gambaran visual yang sama. Kalau masih ada yang menyebut DiCaprio mengenakan kemeja hijau motif garis-garis horizontal, ia auto-cari masalah.

Dalam contoh di atas, kentara sekali bagaimana teks memiliki potensi melejitkan imajinasi yang lebih kaya daripada karya (audio)visual, seperti seni rupa dan film, misalnya.

Misalkan kita ambil contoh Seni Musik pun. Orang-orang bisa menyukai irama lagu yang sama, tapi mereka bisa menangis karena apa? Karena teks dalam bentuk lirik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah lagu. Kalaupun lagu tersebut hanya dilantunkan secara minus one alias tanpa lirik yang dibunyikan atau dimainkan oleh sebuah instrumen tertentu yang menyayat-nyayat perasaan, bagaimanapun salah satu yang menyebabkannya karena para pendengar otomatis membayangkan lirik-lirik yang kadung lekat dalam karya aslinya.

Baik, katakanlah, sebuah karya instrumentalia yang memang diciptakan tak berlirik, seperti karya-karya klasik

Mozart atau Beethoven misalnya, tah karya-karya tersebut tetap membutuhkan teks untuk menjuduli karyanya.

Baca juga: Membaca tanpa Kecemasan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 09 September 2020)

Hal serupa juga terjadi pada lukisan abstrak, pertunjukan tari yang diadaptasi oleh sebuah peristiwa, atau seni instalasi yang tak bisa langsung dipahami orang-orang dalam sekali lihat. Teks dalam hal itu, bukan sekadar judul atau penanda, ia adalah pintu masuk bagi rumah besar imajinasi di kepala audiensnya. Bahwa teks digunakan agar karya dan rupa-rupa peradaban ini memiliki suara atau membuat suara yang ada terdengar lebih lantang, dirasakan lebih menusuk, atau dihayati dengan kegembiraan atau penuh air mata.

Fungsi teks sebagai pelenting sekaligus pengaya imajinasi oleh sejumlah kalangan dan pakar disebut keistimewaan atau keajaiban yang melekat pada seni menulis. Sehebat apa ia melentingkan sekaligus mengayakan imajinasi bahkan kerap kali dijadikan sebagai tolok-ukur nilai-nilai kesusastraan yang bersemai di dalamnya. Di luar itu, kita semua sudah akrab dengan fungsi imajinasi yang mengasah otak, membuka keran kreativitas, menajamkan memori, dan meningkatkan daya eksplorasi diri, hingga menumbuhkan empati.

Tapi, terlepas genre teks apa pun yang ingin ditulis-hasilkan, semoga dengan hadirnya kesadaran tentang “mengapa teks” dan “hubungannya dengan optimalisasi potensi pikiran atau imajinasi” membuat menulis, aktivitas menghasilkan teks mulai dijalani dengan semangat, antusias, dan tentu saja riang gembira. Amin.

 

Benny Arnas menulis 25 buku. Mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya. Tengah mempersiapkan kelahiran novel Ethile! Ethile! Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.