Cerpen Danthy Margareth (Jawa Pos, 04 Oktober 2020)

Bulu Bergincu ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Bulu Bergincu ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Jari-jari bantat itu memoleskan bibirku dengan gincu. Pipiku disapunya dengan perona merah. Sepasang kancing emas dijepitkan ke telingaku. Sekujur tubuhku lalu disemprotnya dengan wewangian murah. Kemarin semua buluku dibabat olehnya, terutama di daerah selangkangan.

KATANYA, biar lelaki semakin bernafsu. Juga tak risi saat menggagahiku. Diperiksanya rantai di tangan dan kakiku. Sudah terkunci semuanya. Aku pun bersiap-siap. Melayani pria hidung belang yang mengidap kelainan.

Mereka menamaiku Leoni. Umurku sepuluh tahun. Yang mendandaniku tadi induk semang, mucikariku. Orang-orang memanggilnya Mak Sum. Perawakannya pendek, perutnya buntal.

Mak Sum menemukanku di lahan bekas kebakaran hutan di Kalimantan. Saat itu aku masih anak-anak dan sendirian. Wanita tua itu lalu memungutku dan merawatku sejak itu.

Mak Sum tinggal dan berjualan nasi di gubuk dekat kebun kelapa sawit. Para pekerja kebun sering datang untuk makan atau mengaso di gubuknya. Tadinya Mak Sum bekerja seorang diri, tapi kemudian ia dibantu Ayu, gadis yang didatangkannya dari Pulau Jawa.

Sejak kehadiran Ayu, gubuk Mak Sum semakin ramai. Ayu tak hanya melayani pembeli nasi. Ia juga bekerja di dalam gubuk menemani laki-laki. Pernah kulihat pantatnya bergoyang-goyang bersama pelanggan hingga keringatan.

Lama-kelamaan berdatangan gadis-gadis lainnya. Ada Siska, Lia, entah siapa lagi. Gubuk Mak Sum tak cukup melayani pelanggan. Dibelinya tanah di sebelah gubuknya pakai uang rentenir, lalu dibangunnya rumah semen beratap genting. Rumah Mak Sum makin terkenal.

Seiring membesarnya bisnis Mak Sum, tubuhku juga demikian. Payudaraku bertumbuh, siklus berdarah datang. Mata lelaki mulai jelalatan. Pernah ada yang meremas bokongku. Kata Mak Sum, itu karena aku terlihat spesial. Berbeda.

Suatu sore, Mak Sum menerima tamu seorang lelaki. Perawakannya kurus, dekil, dengan gigi berkerak sehitam jamban tak pernah disikat. Mak Sum berkata kepadaku, “Ia bayar mahal untuk berkeringat denganmu.” Tawanya pecah, lalu meninggalkan kami berdua.

Orang itu mendekatiku. Jakunnya naik turun, bibirnya dibasahi ludah. Dadaku dibelainya, kemudian tangannya meremas setiap gundukan dagingku. Celananya yang penuh sesak diturunkan. Isinya disodok-sodokkan ke selangkanganku. Instingku membunyikan alarm bahaya, spontan kugigit telinganya dan menendang perutnya sekuat tenaga.

Pria itu terpelanting, menjerit-jerit. Mak Sum datang tergopoh-gopoh. Matanya hampir loncat ke luar saat menemukan pelanggannya bersimbah darah, sementara selembar daging cokelat kenyal berada di mulutku. Muka Mak Sum merah padam. Diambilnya kayu, lalu diayunkan kuat-kuat ke tubuhku terus-menerus tanpa ampun.

Malamnya, sejumlah pria datang menyeret rantai besi. Aku melawan saat mereka hendak memasangkannya padaku. Namun, sebuah hantaman keras mendarat di bagian tengkuk dan dalam sekejap duniaku gelap gulita.

***

Aku terbangun oleh suara makian Mak Sum. Kudapati kedua tangan dan kakiku telah terpasung. Bulu-buluku habis dicukurnya sampai gundul. Sekujur tubuhku perih bagai habis tergerus aspal jalanan. Rasa nyeri juga menyerang kemaluanku seperti habis diobok-obok. Kulihat darah menetes dari pinggir lubangnya.

“Kau akan terbiasa. Gadis perawan juga begitu awalnya. Mulai besok kau akan bekerja seperti Ayu. Kuhabisi kau kalau melawan!” sebilah parang besar dipamerkan ke wajahku.

Mulai detik itu, aku menjadi manusia. Aku didandaninya. Aku juga diajari cara merayu pria. Kelebihanku sebagai kerabat terdekat manusia membuatku mampu mengimitasi tindakan dan beradaptasi dengan cepat.

Aku pun menjadi primadona. Para lelaki bejat di rumah bordil Mak Sum tergila-gila. Pria-pria itu bilang, aku adalah fantasi mereka. Bercinta denganku memberikan kenikmatan baru, mendobrak batas moral yang dianggap tabu. Tak peduli jika dianggap sakit jiwa atau tertular penyakit berbahaya.

Mak Sum sangat gembira. Aku menjadi pencetak uang terbesarnya. Ia menyayangiku lebih dari gadis-gadis lain di rumah bordilnya. Beberapa kali kutangkap pancaran iri di mata Ayu dan teman-temannya.

Sungguh lucu, aku benar-benar tertawa. Pesona mereka dikalahkan seekor primata. Jika semudah ini menguasai manusia, bangsaku tak perlu berevolusi. Cukup mengangkang dan memainkan nafsu mereka yang seperti binatang.

Orang-orang bilang manusia ciptaan paling sempurna. Akal dan budi mereka membedakan dari makhluk lainnya. Itu semua omong kosong. Mereka semua menjijikkan.

Akan tetapi, pendapatku berubah saat bertemu pemuda yang satu ini. Ia datang di suatu pagi. Pemuda itu mendekatiku dengan hati-hati dan memperkenalkan diri. “Namaku Adrian. Aku takkan menyakitimu,” ujarnya lembut. Ia lalu berkata kepada Mak Sum. “Bisa tolong tinggalkan kami? Akan kuberikan uang lebih nanti.”

Mak Sum tersenyum iblis. Otaknya membayangkan jumlah uang yang akan diterimanya. Sebelum pergi, ia membisikkanku, “Bikin dia ketagihan biar datang terus ke sini.”

Kemudian, seperti biasa, kurentangkan kaki menunjukkan aset wanita. Namun, pemuda itu tak melorotkan celananya. Ia hanya memandangku sedih. Dirapatkannya kakiku sambil berkata, “Mengapa kau sampai begini. Mereka sangat biadab.”

Tangannya lalu memeriksa mata, telinga, serta bagian-bagian tubuhku yang korengan karena luka-luka dan gigitan serangga. Setelah selesai, dipanggilnya Mak Sum. Tangannya menyerahkan uang dan berpamitan. Mak Sum terheran-heran.

“Kok, cepat sekali?”

“Besok saya kembali.”

Mak Sum tersenyum menyeringai. “Baiklah. Sudah dibuat ketagihan rupanya.”

Pemuda itu melengos, lalu ditinggalkannya Mak Sum dengan muka masam.

***

Keesokan paginya, pemuda itu datang kembali. Kali ini tangannya menenteng sekeranjang buah-buahan. Mak Sum memeriksanya. “Aku tak yakin ini dimakannya. Kegemarannya lauk dan nasi seperti kita,” kata Mak Sum bangga, lalu meninggalkan kami berdua.

Pemuda itu menatap punggung Mak Sum dengan sepasang mata menyala-nyala. Namun, saat melihatku, tatapannya berubah. “Selamat pagi, Nona Leoni. Apa kabarmu hari ini?” sapanya ceria, lalu mengambil tabung kecil dari sakunya. “Ini salep untuk mengobati koreng-korengmu. Rasanya agak perih, tapi sangat manjur. Maukah Nona Leoni memercayaiku?”

Kupamerkan sederet gigi besarku sebagai jawaban. Ia pun tertawa. Usai mengoleskan salep, ditunjukkannya buah-buahan yang dibawanya. “Kau harus mencobanya. Teman-temanmu menyukainya.” Disuapinya aku dengan buah itu. Kulahap dengan membabi buta.

“Sudah kuduga kau akan suka. Inilah makananmu seharusnya,” katanya senang.

Begitulah di hari-hari berikutnya. Adrian datang, namun tak meniduriku. Uangnya terbuang hanya untuk mengajakku berbicara sambil menikmati buah-buahan yang dibawanya.

Pada hari kesepuluh, Adrian muncul bersama serombongan orang yang memanggul senapan. Ia melepaskanku dari belenggu rantai. Mak Sum histeris. Beberapa orang menahannya.

“Jangan takut. Kau akan tinggal di rumah baru bersama teman-temanmu,” kata Adrian menenangkanku.

Digendongnya aku keluar. Di luar rumah, puluhan orang bersenjata dan berseragam loreng membentuk barisan. Mereka menahan orang-orang kampung yang bereaksi macam kerasukan setan, meminta agar aku dirantai ke tempat semula. Sebagian dari mereka mengacungkan parang ke udara. Kukenali wajah-wajah itu. Mereka adalah pelanggan tetapku.

Adrian memasukkanku ke dalam mobil. Dari kejauhan kulihat Mak Sum meronta-ronta persis orang gila. Ia tak rela aku dirampas begitu saja. Bayang-bayang rumah bordil Mak Sum pun perlahan menghilang dari pandanganku.

***

Berbulan-bulan berlalu sejak peristiwa penyelamatanku. Tak kutemukan lagi muka bulat jahat yang sibuk menghitung uang hasil menjual diriku. Tak ada lagi gincu merah di bibirku. Tak ada lagi tubuh-tubuh yang menindihku. Tak ada lagi rantai yang membelenggu. Dan bulu-buluku dibiarkan tumbuh menjadi pakaianku.

Aku juga tak diberi sepiring lauk dan nasi. Malahan disuruh ke pohon cari makan sendiri. Namun, aku tak tahu memanjat dan berayun. Tangan dan kakiku lumpuh bertahun-tahun. Rantai besi telah membuatnya mati suri. Aku hanya tahu membuka kedua kaki. Jadi, sepanjang hari aku menunggu sampai manusia datang membawakan makanan.

Adrian bilang, di sinilah tempatku, bersama hewan-hewan satu keluarga. Namun, aku tak bisa menyatu dan merasa berbeda. Aku juga tak suka laki-laki bangsaku sendiri. Pernah seekor pejantan muda mendekati, namun aku tak tertarik sama sekali. Di mataku rupanya jelek, tak tampan seperti manusia.

Adrian melatihku agar jati diriku kembali. Namun, kali ini sulit bagiku beradaptasi. Rumah bordil Mak Sum terlalu lama menjadi habitatku. Kehidupan di sana keburu menyatu dengan darah dan dagingku.

Dari waktu ke waktu, semangatku semakin layu. Tubuhku menyusut menyerupai seonggok kulit yang membalut tulang-tulang lesu. Pohon-pohon rimbun dan buah-buah ranum tak menggugah selera makanku. Aku hanya ingin berbaring membisu. Gambaran dunia mulai meredup di mataku yang sayu.

Adrian menatapku pilu. “Seharusnya aku lebih cepat membawamu keluar dari situ. Seharusnya aku yang dulu menemukanmu,” katanya berkali-kali dan menyesali diri.

Hingga suatu pagi, kurasakan sudah waktunya untuk pergi. Adrian menggenggam erat tanganku, menciumnya, lalu menempelkan ke pipinya yang basah. Ah, tak seharusnya ia menangis. Ia adalah ciptaan paling sempurna itu. Satu-satunya manusia yang menunjukkan adab berbeda dari makhluk lainnya. Kupandangi lautan teduh di bola matanya untuk kali terakhir. Tak lama, kelopak mataku turun dan menutup wajah Adrian selamanya. (*)

 

 * Mengenang orang utan korban eksploitasi seksual manusia

 

*) Penulis adalah praktisi komunikasi. Alumnus Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.