Cerpen Saiful Anwar (Suara Merdeka, 27 September 2020)

Yu Jum dan Yu Sri ilustrasi Suara Merdeka

Yu Jum selalu berdoa. Sejak bangun tidur pagi hari sampai menjelang tidur malam hari ia tak pernah henti berdoa. Sebelum berdoa, Yu Jum shalat. Bagi dia, doa dan shalat seperti tulang dan kulit, tak terpisahkan.

Sehari-hari Yu Jum berdagang aneka penganan, seperti lemper, kolak, dan gorengan. Pagi hari, sebelum berdagang, Yu Jum memanjatkan doa agar dagangannya laku.

“Kita harus berdoa dengan benar. Jika salah, berkah Tuhan tak akan turun. Bayangkan jika kita salah mengucap doa, misalnya ingin mandi tetapi memanjatkan doa hendak tidur, bisa-bisa kita tertidur di kamar mandi!” ucapnya pada seorang pembeli suatu hari.

Yu Jum sangat mengandalkan doa. Saking percaya pada kekuatan doa, ia hanya berjualan di rumah. Suatu kali, sang suami bertanya mengapa ia tak berkeliling menjajakan dagangan seperti pedagang lain. Yu Jum menjawab, “Aku sudah menyerahkan semua pada Yang Mahakuasa. Sebagai manusia, tugas kita hanya berdoa. Tahu! Aku takut Tuhan tidak bisa melihatku jika aku berkeliling dan berpindah-pindah tempat. Sudahlah, bawa lemper dan kolak itu ke sini!”

Begitulah, setiap hari wanita itu duduk diam di rumah, menunggui dagangan sejak pagi hingga sore. Selama itu pula ia selalu berdoa. Dia berprinsip: tiada waktu tanpa berdoa. Ia terus berdoa pada Tuhan agar orang-orang datang dan membeli dagangannya sampai habis.

Yu Jum tak suka diganggu ketika berdoa. Suatu kali ia berdoa, tiba-tiba sang suami bertanya, “Bu, remot TV di mana? Bapak mau nonton sinetron.”

“Sinetron apa?” tanya Yu Jum; kesal karena terganggu.

“Itu lo sinetron tentang seseorang yang diazab karena berbuat dosa. Bapak ingin bertobat, Bu.”

Yu Jum marah, wajahnya memerah. “Kalau mau bertobat berdoa dengan khusyuk, bukan nonton sinetron!”

***

“Aku sudah berdoa sangat khusyuk semalam. Doaku pasti Tuhan kabulkan hari ini,” ucapnya sambil menata dagangan di ruang tamu.

Hari itu ia membuat cukup banyak penganan, dengan harapan: semua laku. Ia duduk sambil terus berdoa.

Waktu berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam. Tak terasa sudah hampir lima jam. Namun belum seorang pun pembeli datang. “Mungkinkah aku salah berdoa? Seingatku sudah pas, sesuai dengan protokol.”

Yu Jum meyakinkan diri teknis berdoanya sudah betul, gerakannya sesuai, ucapannya pun sangat jelas. “Memang seharusnya aku pakai spiker masjid agar doaku didengar,” gumamnya.

Orang-orang berlalu-lalang di jalan depan rumahnya. Dari kejauhan tampak Yu Sri berjalan susah payah dari arah pasar. Yu Sri, sama seperti dia, berjualan makanan. “Sudah habis, Yu Jum?”

“Masih banyak, Yu. Awakmu piye?

“Syukur, hampir habis.”

Yu Jum melihat jam di dinding rumah. “Iseh jam rolas awan, Yu!” Jam dinding itu seakan menjawab pertanyaan dari mata Yu Jum. “Weh, masih jam dua belas kok sudah hampir habis?” tanya Yu Jum penasaran.

“He-he, mungkin ini yang disebut rezeki, Yu,” jawab Yu Sri.

Yu Jum kaget. “Alamak! Rezeki? Tahu apa Yu Sri soal rezeki. Yu Sri memang mengaku beragama, tapi dia kan jarang ke masjid. Beribadah sendiri pun mungkin tak pernah. Dari mana dia tahu rahasia mendapatkan rezeki? Mungkinkah hari ini Tuhan salah mencairkan anggaran?” batin Yu Jum. Wajahnya memerah. Ia terbakar iri.

Yu Sri bingung melihat perubahan raut muka Yu Jum. “Yu, awakmu kenapa?” tanya dia.

Ndak papa,” jawab Yu Jum datar.

Ya wis, aku keliling lagi ya.” Yu Sri bangkit, mengangkat dan meletakkan penampan di atas kepala. Sebelum berangkat, Yu Sri mengecek suara. “Cek, cek! Ehem, ehem. Mari, Yu.”

“Mari.”

Dengan kaki kiri tak sepenuhnya berfungsi dengan baik karena penyakit gula, Yu Sri menyusuri gang demi gang. Sementara Yu Jum yang bingung diam mematung. Ia heran dagangan Yu Sri hampir habis, sedangkan dagangannya masih banyak.

“Yu Sri pasti pakai pelaris, pasti!” dakwa Yu Jum.

Matahari tiba di ufuk barat, tetapi hanya beberapa dagangan Yu Jum yang laku. “Semua ini pasti ulah Yu Sri. Dia pasti menaruh guna-guna di rumahku.”

Rasa iri bercampur penasaran menghinggapi hati dan pikiran Yu Jum. Ia tak terima dagangan Yu Sri lebih laku. “Syirik itu dosa sangat berat, hukumannya neraka jahanam! Berani-beraninya kausekutukan Tuhan, Yu,” ucap Yu Jum. “Harus kubongkar siasat licikmu, Yu Sri. Wahai, Sang Pemberi Rezeki, berkahilah langkahku ini.”

Yu Jum berdoa sangat khusyuk, meminta pertolongan Sang Mahakuasa untuk memberantas keburukan yang mengadang.

Malam hari, setelah berdoa dengan baik dan benar, Yu Jum bersiap-siap. Ia berencana menyelinap ke rumah Yu Sri untuk memperoleh bukti tentang pelaris yang wanita itu gunakan. Apa jenisnya, dari mana asalnya, bagaimana cara menggunakan. Yu Jum ingin tahu semua.

Ia mengerudungi muka dengan sarung sang suami yang baru mereka pakai bermalam Jumat kemarin. Ia yakin, berjuang melawan keburukan adalah salah satu perintah Tuhan.

Sekitar pukul 23.00, ia berangkat. Tak lupa ia berdoa agar lancar menjalankan misi. Ia menyelinap keluar rumah saat sang suami nonton televisi. Hati-hati, berusaha tak menimbulkan suara.

Jarak rumah Yu Jum dan rumah Yu Sri sekitar 200 meter. Gang rumah Yu Sri cukup padat, jika tak hati-hati ia akan terpergok dan dituduh sebagai maling. Jalanan cukup sepi, apalagi setelah pukul 21.00. Ia masuk ke Gang Kenanga. Rumah Yu Sri di ujung gang itu. Sebelum rumah Yu Sri ada pos ronda. Biasanya para remaja begadang atau bermain karambol di pos itu.

“Tuhan, lindungilah hamba,” ucap Yu Jum lirih.

Kini, ia sampai dekat pos ronda. Ia kaget, di pos ronda itu ada remaja asyik bermain karambol. Hati-hati ia menyelinap ke belakang pos ronda. Tiba-tiba, klak! Yu Jum menginjak sesuatu. Keempat remaja itu kaget.

“Kalian mendengar sesuatu?” tanya salah seorang remaja.

Ketiga remaja lain diam, tetapi sorot mata mereka berkata, “Iya, aku juga mendengar.”

Yu Jum panik. Sejurus kemudian dia teringat sesuatu dan segera merogoh kantong, mengeluarkan botol parfum beraroma melati. Ia tuangkan parfum itu di sekitar pos ronda. Sontak bau melati mengapung, menusuk hidung keempat remaja itu. Mereka bertatapan. Sejurus kemudian, mereka lari terbirit-birit.

“Maafkan aku. Aku terpaksa,” ucap Yu Jum.

Ia melanjutkan misi. Kini, ia mendekati rumah Yu Sri. “Akan kubongkar cara licikmu, Yu. Hidup seperti itu tak membawa berkah!” gumamnya.

Ia menuju ke samping rumah Yu Sri, mencari tempat strategis untuk mengintai. Tak boleh ada yang terlewat, satu pun. Rumah kayu Yu Sri memudahkan Yu Jum mengintai. “Baiklah, Pecundang, tunjukkan dirimu sebenarnya.”

Ia menyipitkan mata, mendekat ke celah dinding kayu rumah. Dia melihat ruang tamu; dua kursi kayu dan sebuah meja. Matanya menyisir dari sudut ke sudut lain ruangan itu. Tak ada Yu Sri atau suaminya. Juga tak ada yang mencurigakan.

“Pasti pelaris itu dia sembunyikan di kamar,” gumam Yu Jum.

Ia berpindah, mengintai kamar Yu Sri. Benar saja, ia melihat Yu Sri dan suaminya. “Nah, akhirnya ketemu.” Yu Jum senang.

Saat itu, suami Yu Sri tergeletak di ranjang. Yu Jum tak heran. Ia tahu suami Yu Sri lumpuh, sehingga tak bisa bergerak lagi sejak lima tahun lalu.

“Aku tak akan tertipu. Kau akan lebih berdosa jika memanfaatkan kondisi suamimu yang sakit sebagai dalih, Yu,” gumamnya marah.

Ia kembali mengawasi kamar itu. Terlihat Yu Sri mengambil gelas berisi air putih dan memberi minum sang suami.

“Sri, maafkan aku. Seharusnya aku yang bekerja,” kata suami Yu Sri.

“Tak apa-apa, Mas. Kan kondisi Mas masih begini.”

“Sebagai suami, aku merasa gagal, Sri. Aku yang seharusnya memberimu nafkah justru selalu menyusahkan.”

“Apa pun kondisimu, asal bisa menemanimu, aku bahagia, Mas. Bukankah istri yang baik yang berbakti pada suami?”

Yu Jum tiba-tiba merasa iba. Hatinya tersentuh.

“Setiap pagi kaubersihkan badanku, kausuapi, setelah itu kau harus menyiapkan dagangan. Pulang, kautemani aku sampai tertidur. Bukankah semua itu melelahkan? Maafkan aku, Sri,” ucap suami Yu Sri pelan dengan mata berkaca-kaca.

“Sudahlah, istirahat. Kalau kau sembuh, kita jalan-jalan. Sudah lama aku ingin ke rumah Yu Jum bersamamu, Mas. Dia baik. Aku ingin memberikan sesuatu,” sahut Yu Sri sambil mencium kening sang suami.

Air mata Yu Jum berlinangan. Hatinya kacau. Haru, marah, dan malu bercampur jadi satu. Ia melepas sarung yang menutupi wajah. Ia merasa tak perlu lagi menyembunyikan diri. Kini, satu-satunya yang ia ingin lakukan adalah masuk ke rumah Yu Sri dan minta maaf. Namun ia mengurungkan niat. “Sudah malam, tak sopan bertamu ke rumah orang,” pikir dia.

***

Selama sebulan setelah pengintaian, Yu Jum mengurung diri. Ia malu sudah berprasangka buruk pada Yu Sri. Suami Yu Jum kasihan. Ia memberanikan diri bertanya, “Bu, kamu kenapa? Sudah sebulan kamu tak jualan. Ada masalah apa?”

Dengan derai air mata Yu Jum menceritakan semua kepada sang suami. Ia sangat menyesal. Apalagi selama ini ia tak memperlakukan sang suami dengan baik. Ia menangis sejadi-jadinya. Suaranya tangisnya langit.

“Sudah, sudah! Besok kita ke rumah Yu Sri. Kita bawakan sesuatu untuk suami-istri itu,” usul suami Yu Jum.

Yu Jum mengangguk. Ia peluk sang suami erat-erat.

Setelah subuh, Yu Jum menghangatkan opor ayam. Ia tata makanan itu dalam rantang beserta kupat dan kerupuk. Ia dan suami bersiap-siap ke rumah Yu Sri. Namun tiba-tiba spiker masjid berbunyi, memperdengarkan pengumuman. “Innalillahi wa innailaihi raji’un. Telah meninggal tetangga kita, Bapak Sugeng, suami Ibu Sri Wahyuni. Pemakaman akan dilaksanakan hari ini pukul 10.00.”

Yu Jum kaget. Seketika ia keluar rumah, berlari ke rumah Yu Sri. Di sana sudah banyak orang. Yu Sri di tengah kerumunan, terduduk sambil berkali-kali mengusap air mata.

Yu Jum menyeruak, memeluk Yu Sri erat-erat. Sambil menangis tersedu-sedu, ia berkata, “Yu Sri, maafkan aku ya. Maafkan aku.” (28)

 

Gunungpati, 14 September 2020

Saiful Anwar, alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, guru SMA Kristen YSKI Semarang