Cerpen Ramayda Akmal (Jawa Pos, 27 September 2020)

Bulan Lemon ilustrasi Budiono/Jawa Pos

1.

Pada hari terakhir sebelum temanku pergi dari kota ini, setelah sepuluh tahun menggeluti ilmu mesin dan gagal di tiga kali ujian, kami bertemu di depan universitasnya.

KAMI duduk di bangku kayu menghadapi gedung tinggi modern tempat dia biasa belajar sambil memegang botol minuman air kelapa ketika dia mulai bicara tentang prasangka.

“Kamu tahu, ada namanya prasangka?” tanyanya.

“Tahu. Kenapa?”

“Kamu tahu, aku belajar enam jam sehari, bahkan di hari Minggu.”

“Tahu. Dan sisanya untuk berjudi.”

“Berjudi ya, tetapi masalahnya aku tidak pernah mendapat nilai yang lebih baik.”

“Nilaimu selalu baik kan?”

“Aku bilang lebih baik.”

“Oh ya, kenapa?”

“Karena prasangka. Aku adalah orang asing yang belajar di sini. Meskipun aku bicara bahasa selancar mereka, bekerja dengan mereka, bercanda dan tertawa akan hal-hal yang juga lucu bagi mereka, aku tetap orang asing,” lanjutnya. “Mereka yakin, orang asing selalu kesulitan menyesuaikan diri. Selalu berbicara dengan logat yang berwarna. Selalu dimaklumi jika salah, atau bahkan selalu dianggap salah. Selalu mendapat nilai tambahan sebagai permakluman karena nilai mereka tidak bisa disamakan dengan nilai orang sini.”

“Bukankah sekarang kau juga sedang berprasangka?”

“Iya, ini jaring prasangka. Dan dunia berjalan melewati jaring-jaring itu. Aku tidak masalah dengan itu andaikan aku lulus. Sayang, aku tidak lulus.”

“Jadi kamu mencari alasan?”

“Tidak. Aku hanya ingin menenangkan perasaanku.” Jawab temanku ringan.

“Jadi, apa rencanamu setelah ini? Apakah kamu akan kembali ke negerimu?”

“Tidak mungkin. Aku akan bertahan di sini apa pun caranya. Di kampung halaman, selain mendiang ayahku, tidak ada yang kurindukan. Kakakku dipenjara, dan rumahku diintai polisi setiap dua kali dalam seminggu.”

“Kamu memang berdarah bajingan sejak lahir.”

“Begitulah.”

“Sepupu-sepupuku selalu berpikir aku bisa membantu mereka. Maka dari itu, aku harus bertahan di sini supaya benar-benar bisa membantu mereka.”

“Aku tahu akan sangat sulit buatku bertahan di sini dan mendapat izin tinggal. Aku pelajar yang gagal, waktu belajarku sudah habis, aku tidak punya uang, dan tidak ganteng-ganteng amat untuk bisa mendapatkan perempuan kaya.” Lanjut temanku sambil tertawa ragu.

“Maaf, aku rasa itu benar.”

“Tapi, kami selalu punya cara. Menikah salah satunya.”

“Dengan siapa?”

“Seseorang dari bangsaku, tetapi berkewarganegaraan Jerman dan mau dibayar untuk pernikahan ini. Berpuluh-puluh tahun bangsaku melakukannya. Empat puluh lima ribu Euro untuk tiga tahun kontrak pernikahan sampai kami mendapatkan kewarganegaraan sah.”

“Ini semacam kawin kontrak?”

“Begitulah.”

“Kalau pemerintah tahu?”

“Jangan sampai. Itu akan sangat buruk.”

“Kalau begitu, kamu harus menikah sebenar-benarnya. Membuat dia jatuh cinta dan bahagia bersamamu. Lakukan dengan bunga-bunga, lagu, dan masakan-masakanmu yang enak itu.” Aku berusaha memberi ide.

“Sudah. Bahkan kami menyusun skenario tentang masa-masa pacaran. Salah satunya tentang kami pergi ke Cheko dan aku melamar dia di sana, di salah satu hostel murah dengan 99 mawar.”

“Jangan seperti itu. Buat yang sedikit kacau, mengharukan, tapi luar biasa.”

“Orang sepertiku melakukan hal luar biasa? Sulit dipercaya. Diriku keseluruhannya picisan. Jadi 99 mawar di Cheko sudah cerita yang paling baik.” Sanggahan temanku membuatku terharu. “Ayo bicarakan hal lain. Kamu bilang akan bercerita tentang sejarah keluargamu dan perjudian?” lanjutnya.

2.

Awal pertemuan kami benar-benar murni atau mungkin ajaib. Dia tidak mengerti bahasaku dan aku tidak memahami bahasanya, itu sudah jelas. Dia bicara bahasa Jerman dengan fasih, tetapi bahasa Jermanku tidak pernah bisa berhasil menyampaikan makna dasar sebuah komunikasi, alias buruk. Aku bicara bahasa Inggris karena keharusan dan bukan kefasihan, sementara dia hanya mengenal bahasa Inggris secara lamat-lamat. Kita bicara lebih banyak dengan bahasa perantara atau bahasa tubuh.

Karena murni dan kekacauan itu, harusnya pertemanan kami tidak akan bertahan. Namun, sebuah kebetulan telah menyelamatkan hubungan itu. Kami berdua tergila-gila dengan judi. Awalnya, kami bertemu di sebuah pesta mahasiswa murah meriah di salah satu apartemen teman kami, sebut saja dia Delima, yang kebetulan kamarnya bersebelahan dengan teman penjudiku ini. Pesta itu diadakan demi menjodohkan salah satu teman. Perjodohan tersebut tidak berhasil, tetapi yang tidak direncanakan justru terjadi pada kami. Pesta itu berawal dari keinginan salah satu teman untuk memasak babi saksang. Keinginan itu bersambut dengan kerinduan Delima terhadap masakan kampung halamannya itu. Juga bersambut dengan ide kawan kami yang menjanjikan sebatang ganja. Kebetulan pemilik ganja itu adalah laki-laki populer di kampus yang kebetulan dijatuh-hati-i temanku. Jadilah jaringan keinginan dan ketertarikan itu menciptakan satu pesta bertajuk babi-brokoli.

Ketika obrolan mulai habis dan linting-linting ganja pun hilang jadi asap, sementara tidak ada yang berhasil satu pun terlilit asmara, seseorang memulai permainan Beirut [1] sambil menunggu pagi. Permainan itu biasa saja sampai kemudian aku mengusulkan untuk setiap orang memasang taruhan. Cuma satu Euro dalam satu putaran permainan, tetapi itu cukup membuat seluruh apartemen panas dengan ambisi dan makian. Bersamaan dengan pagi menjelang dan beriris-iris lemon di gelas martini, yang warnanya kuning sepucat bulan di timur, temanku penjudi itu menyadari, dia menemukan pasangannya. Beberapa hari setelah pesta itu, kami bertemu dan mulai menjelajah kasino, mulai yang sangat kecil, juga mesin-mesin di sport bar, sampai kasino elegan yang penampakannya sendiri sangat jauh dari kerlap kerlip perjudian.

Dia yang ahli dengan mesin dan teknologi juga mengenalkanku pada berbagai aplikasi judi di telepon seluler kami. Beberapa aplikasi sangat menggiurkan, terutama terkait judi sepak bola. Kemenarikan ini bukan karena besaran kemenangan yang ditawarkan aplikasi ini, tetapi karena pengaturan program dan tipuan mereka sangat canggih sampai-sampai bisa membuat semua pemain yakin dan nyaris menang walau pada akhirnya selalu kalah. Berbagai cara, hitungan, dan spekulasi kami lakukan, sampai kadang-kadang uang hidup kami yang pas-pasan tersedot, tetapi kemenangan belum juga jadi milik kami.

Mungkin juga tidak akan pernah atau tidak penting. Kami menikmati menghitung, menikmati rasa khawatir, dan badan gemetar, menikmati hari-hari duduk di taman atau kafe sambil mengamati bagan-bagan, menikmati minum kopi dari mesin yang berbau sangit dan memantau pertandingan-pertandingan bola di sport bar yang kursinya sangat tinggi untuk kuraih. Kami menikmati sebuah dunia baru di mana kami masuk ke dalamnya, menepi dari segala prasangka seperti yang dikoarkan temanku, atau segala kesepian dan kebekuan hari-hariku. Namun, seperti kata kawanku Delima, si ratu pesta yang melakukan dan mencoba apa pun kecuali minum alkohol dengan alasan seluruh hidupnya sudah penuh dengan kemabukan: yang indah pun ada akhirnya.

3.

Di hari terakhir itu, kuceritakanlah sejarah kutukan dewa judi di keluargaku.

“Ternyata kamu penjudi sampai ke darah, ya.” Komentar temanku begitu selesai mendengarkan hikayat kutukan itu.

“Mungkin. Dan anehnya, aku bisa memikirkan ayah yang kubenci sebanyak memikirkan ayah yang kucintai. Bahkan, aku kadang-kadang merindukannya, entah dalam benci atau cinta.”

“Rumit.” kata temanku sebelum kemudian mengeluarkan selembar 50 Euro dari saku jaketnya. “Ini lembar terakhirku. Ayo!”

Kami sempat terdiam sejenak sebelum kemudian bangkit dan berjalan ke Spiel bank [2] terdekat. Di tengah luapan semangat terakhir dan rasa haru akan perpisahan, temanku berjanji, “Di bulan Februari tahun depan, ketika bulan sepucat lemon, aku akan menghubungimu, di mana pun aku berada, dan kita bisa bermain lagi.” (*)

 

2020

 

Catatan

[1] Nama lain permainan Beer Pong

[2] Kasino

 

RAMAYDA AKMAL. Lahir di Cilacap, 5 Mei 1987. Saat ini menempuh pendidikan doktoral di Universität Hamburg, Jerman.