Cerpen Damhuri Muhammad (Koran Tempo, 26-27 September 2020)

Ros dan Mantan-mantannya ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Ros dan Mantan-mantannya ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Istri bupati sudah, istri gubernur pun sudah. Belum sempurna hidupnya sebelum posisi istri menteri ia rengkuh. Sebutan istri pada masing-masing jabatan itu bukan dari laki-laki yang sama, melainkan dari suami pertama dan kedua, yang sudah ia tinggalkan atas pertimbangan bahwa satu kolom dalam daftar riwayat hidup-nya sudah terisi. Mencapai predikat istri menteri tentu tak semudah mendapatkan tempat sebagai Nyonya Bupati. Pada masa itu, ia hanya perlu membangun personal branding Afrizal Azhar sebagai mubalig. Dengan berbagai cara, ia melipatgandakan jadwal khutbah, kuliah subuh, dan jadwal ceramah di majelis taklim khusus ibu-ibu. Hanya perlu 1,5 tahun keluar-masuk masjid dan musala di seantero wilayah kabupaten, dengan materi tausiyah yang tak jauh-jauh dari perkara pentingnya sosok ahli agama di belantara kemaksiatan yang membiak seperti virus, lalu suaminya pun ternobatkan sebagai ustad idola.

Tak sekali dua, jemaah mengira mubalig kondang itu seorang “Duren” alias duda keren karena hampir tak ada cerita tentang istri dan anak-anaknya di atas mimbar. Satu-dua anggota jemaah sudah telanjur menawarkan anak gadis mereka sebagai calon pendamping si mubalig. Namun, setelah calon-calon mertua yang hendak memperbaiki nasab dan nasib itu bertatap muka dengan istri sang idola, barulah mereka legowo mundur. “Ini tak akan lama. Setelah tunai tugasnya sebagai bupati dua periode, ia bisa kalian perebutkan,” katanya dalam hati saat berhadapan dengan ibu-ibu pengajian itu. Menimbang popularitas suaminya telah melampaui semua nama yang sebelumnya diperhitungkan di panggung pemilihan, ustad Afrizal Azhar dilamar oleh partai politik. Sebanyak 60 persen suara berhasil ia raup, hingga pesaingnya hanya berebut suara sisa-sisa.

Berangkat dari kemenangan besar pada periode pertama, resmilah Rosliana sebagai Nyonya Bupati. Serepot-repotnya aktivitas kebupatian, ustad Afrizal Azhar tetap menyisihkan waktu untuk menyambangi jemaahnya, termasuk mencatat semua persoalan umat. Dari situlah ia merancang bermacam-macam kebijakan yang tujuannya tak lain adalah mewujudkan tatanan “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”. Popularitasnya bertambah-tambah, paket-paket kebijakannya benar-benar bersentuhan dengan kemaslahatan umat. Karena itu, Ros tak perlu bekerja keras. Paling repot, upayanya hanya mempertahankan angka keterpilihan pada periode pertama. Benar adanya, pada periode kedua, meski diserang dengan macam-macam modus black campaign, bupati petahana Afrizal Azhar menang mutlak. Maka, sampailah niat Ros menjadi Nyonya Bupati dua ronde.

Setelah pelantikan jilid dua, Ros merasa tak ada lagi yang menantang dalam posisinya sebagai Nyonya Bupati. Kolom daftar riwayat hidup yang selanjutnya perlu diisi adalah istri gubernur. “Waktunya mundur teratur,” kata dia bergumam. Alasan Ros tak dapat disangkal. Ia tidak bisa memberi Afrizal Azhar keturunan. Entah karena sengaja, atau karena mandul betul-betul. Mudah saja baginya menyudahi persekutuan yang seolah-olah ditopang oleh cinta yang mulia itu. Dipilihnya salah satu anak gadis yang dulu ditawarkan oleh jemaah pengajian ibu-ibu. Ditemuinya calon mertua yang pernah gagal mendapatkan mubalig seleb itu.

“Ya, Tuhan. Mulia sekali hati Nyonya Bupati. Saya memang ingin sekali bermenantu Ustad, tapi saya tidak tega melihat Nyonya terluka,” kata si calon mertua, sekadar berbasa-basi.

“Bila Ibu menolak, justru Ustad akan senantiasa terluka karena tidak punya anak. Mari sama-sama kita lindungi ustad Afrizal dari luka masa depan!” ucap Ros. “Kita bahagiakan Pak Bupati, ya, Bu! Bismillah.”

Kedatangan daun muda dalam hidup Bupati Afrizal Azhar adalah pintu keluar yang lebar bagi Ros. Dengan penuh kerelaan ia meninggalkan rumah dinas. Tentu setelah semua surat-menyurat yang dapat mengabsahkan suaminya untuk menikah lagi telah ia bereskan.

“Selamat menjadi Nyonya Bupati yang baru, Adinda!” kata Ros kepada calon pengantin sebelum benar-benar meninggalkan segala kenangan bersama ustad Afrizal Azhar.

Hanya berselang beberapa tahun setelah perpisahan yang tak mendebarkan itu, Ros berhasil memikat perhatian seorang calon kuat dalam pemilihan gubernur. Sudah kerap ia berjumpa dengan calon kuat itu semasa ia masih berstatus sebagai Nyonya Bupati. Drama kecil-kecilan untuk meretakkan rumah tangga calon gubernur itu telah ia mulai. “Nyonya Anda hanya cocok sebagai Nyonya Bupati. Anda perlu pendamping baru dengan kepribadian yang dapat memastikan kemenangan Anda meraih kursi gubernur!” kata pembisik cagub, yang tak lain adalah orang suruhan Ros. Selain itu, istri cagub pernah melakukan kesalahan fatal yang hampir menyeret suaminya sebagai tersangka. Pendek kata, Ros masuk ke ring satu orang-orang cagub. Bahkan akhirnya ia didaulat cagub sebagai konsultan utama atas pertimbangan pengalamannya memenangkan mantan suaminya sebagai bupati dua periode.

“Beri aku kemenangan, akan kuberi kau kebahagiaan!” kata pemegang elektabilitas tertinggi itu kepada Ros.

Itulah permintaan yang ditunggu-tunggu Ros. Memenangkan yang sudah pasti bukanlah perkara sulit baginya. Ia mengerahkan segenap kemampuan. Ia memberdayakan segenap jaringan. Pusat dan daerah. Propaganda terang-terangan, juga agitasi di belakang layar. Demi menggapai impiannya sebagai Nyonya Gubernur. Kerja kerasnya bahkan melampaui target. Semula ia memperkirakan cagub hanya bakal menang tipis, mengingat dua pasangan pesaingnya bukanlah cagub kaleng-kaleng. Konon, keduanya menggunakan jasa konsultan politik tamatan Amerika. Tapi hasil akhir berkata lain. Cagub jagoannya bahkan menang dengan perolehan suara yang spektakuler. Kedua pasangan pesaingnya mengaku kalah dan merasa mustahil melayangkan tuntutan kecurangan. Sebelum pelantikan, tersiar kabar bahwa cagub terpilih bernama Jawahirul Ilmi, yang semasa kampanye diserang habis-habisan lantaran bercerai dengan istrinya tanpa sebab yang jelas, itu, mempersunting konsultan utamanya, Rosliana. Kecemasan konstituen soal gubernur terpilih yang akan dilantik tanpa pendamping pun teratasi. Ros resmi sebagai Nyonya Gubernur. Kolom kedua dari daftar riwayat hidupnya terisi.

Tiga tahun saja Ros mendampingi Gubernur Jawahirul Ilmi. Sekali lagi ia menggunakan modus lama. Mengumpan suaminya dengan daun muda, yang sekali lagi ia peroleh dari jemaah pengajian ibu-ibu di kabupaten asalnya. Alasannya pun lebih-kurang sama: tak layak istri gubernur mandul. Oleh karena itu, ia membahagiakan suaminya dengan daun muda, yang siap beranak-pinak demi merenovasi silsilah. Sebelum pergi menyongsong impian yang lebih besar, ia mengamankan segala macam prosedur dan dokumen penting yang bisa memastikan mantan suaminya lekas mempersunting calon Nyonya Gubernur yang baru. “Selamat berbahagia, Adinda. Selamat menikmati kemewahan sebagai Nyonya Gubernur yang kedua!” katanya kepada perempuan muda bernama Lusiana Indahsari itu. Begitulah Ros. Ia tak akan betah dengan status nyonya kaya, sebelum kolom ketiga dari daftar riwayat hidupnya terisi: istri menteri.

Suami Ros selanjutnya adalah saudagar kaya, yang ekspansi bisnisnya menggurita di provinsi di bawah kendali mantan suaminya. Sedemikian berpengaruhnya saudagar itu, ia bisa mengganti kepala kepolisian bila bertentangan dengan kepentingan bisnisnya. Bukan saja di provinsi tempat Ros bermukim, tapi juga di provinsi-provinsi lain, yang berkaitan langsung dengan anak-anak perusahaannnya. Yang tak dapat diabaikan adalah suami ketiga Ros itu adalah penopang utama dana kampanye calon presiden yang kini sudah resmi berkantor di Istana Negara, dan karena itu hampir dipastikan namanya bakal tertera dalam susunan kabinet setelah tersiar kabar tentang reshuffle. Masa itu, Ros sudah menggenggam info A1 bahwa Soleman Buldan adalah calon Menteri Perdagangan. Namun, sekali lagi, meraih posisi istri menteri rupanya tak semudah mendapatkan tempat terhormat sebagai istri bupati dan istri gubernur. Soleman Buldan memang sudah ditelepon pihak Istana. Jas untuk hari pelantikan sudah dipesan. Tapi menteri terpilih malah mantan suaminya semasa ia Nyonya Bupati, yakni Afrizal Azhar.

“Bangke!” Ros mengumpat.

“Kalau tahu begini, aku tak perlu beralih rupa menjadi kutu loncat!”

Tapi bukan Rosliana namanya bila berputus asa. Lima tahun berikutnya, tentu setelah ia pamit undur baik-baik sebagai Nyonya Soleman Buldan dan sudah berlabuh di pelukan suami baru bernama John F. Kennedy, terbuka kembali peluang untuk mendapatkan impian sebagai istri menteri. Celakanya, di kesempatan kedua itu, ia masih gagal. Suami keempat Ros itu adalah tokoh sentral dari partai pengusung presiden terpilih. Sekian kursi di kabinet yang disediakan berdasarkan hak prerogatif presiden, salah satunya pasti akan jatuh ke tangannya. Ros sudah mencetak undangan tasyakuran untuk para kolega. Tapi yang dilantik malah teman dekat mantan suaminya sesama saudagar.

“Mulailah dari anak tangga paling bawah,” begitu saran konsultan partikelir yang kebetulan juga sahabat dekat Ros.

“Maksudmu, cara naikku masih kurang dari bawah?” tanya Ros ragu.

“Yang bermula dari tengah, sukar untuk menapak di puncak!” kata konsultan itu.

Meski kesal dan tak betul-betul yakin pada nasihat kawan dekat itu, setelah kegagalan jilid dua, Ros memang berpisah baik-baik dengan suaminya, John F. Kennedy. Kurang dari setahun kemudian, Ros dipersunting oleh seorang duda yang jam terbang tertingginya hanya mantan kepala desa bernama Taufan Wahidin. Laki-laki itu mencintai Ros seperti ia mencintai urat lehernya sendiri.

“Setinggi-tingginya bangau terbang, di kubangan juga tempat hinggapnya, Dik!” kata Taufan. Girang tiada terkira. Ia seperti beroleh berkah dari langit ketujuh. Yang lepas selama puluhan tahun, kini sudah pulang, bahkan tanpa dicari.

Namun pasangan suami-istri itu tak bertahan lama. Beberapa bulan seusai gegap gempita pemilu presiden, Ros melarikan diri dari perangkap cinta masa silam itu, dengan alasan yang kali ini ia ungkapkan saja sejujur-jujurnya. Bahwa ia turun sampai anak tangga paling dasar, bukanlah semacam pulang ke pangkal jalan, tapi justru sebagai anjuan untuk membuat dirinya terpelanting ke angkasa sampai anak tangga paling puncak. Ia minta maaf telah menginjak-injak martabat cinta sejati demi impian yang jauh lebih hakiki.

“Selamat meraih mimpi besarmu, Dik! Aku hanya mengingatkan, yang kau incar adalah politikus. Ia lahir karena demokrasi. Dan demokrasi di republik ini seperti singkong impor. Setelah direbus, cepat basi!” kata Taufan Wahidin.

Lalu Ros berlabuh di pangkuan lelaki yang digadang-gadang telah didaulat sebagai calon Menteri Muda Bidang Mitigasi Bencana. Entah bagaimana caranya Ros bisa mendapatkan berondong itu. Yang pasti, bukan Ros namanya kalau menyerah. Ia bahkan sudah merelakan dirinya merangkak betul-betul dari bawah. Hampir satu periode jabatan presiden ia berkhidmat sebagai istri mantan kepala desa. Kurang dari bawah apalagi coba?

Hari itu Ros sudah memilih gaun istimewa, lipstik dengan warna paling bercahaya. Sehari sebelum presiden mengumumkan nama-nama menteri baru, suaminya tertangkap atas dugaan pidana korupsi. Istri calon menteri itu duduk termenung di beranda, sambil memandang kolom kosong di lembaran Daftar Riwayat Hidup-nya. Yang seharusnya ditulis “Istri Menteri” ia ganti dengan “Istri Kekasih Sejati”.

 

*Cerita ini adalah versi panjang dari flash fiction (250 kata) berjudul Istri Calon Menteri yang pernah saya unggah di akun IG pribadi @damhurimuhammad

 

Damhuri Muhammad, cerpenis dan kolumnis. Pengajar di Universitas Darma Persada, Jakarta. Tinggal di Depok, Jawa Barat.