Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 23 September 2020)

One of my not internet-thing Dkayla-doc. pribadi
One of my not internet-thing: Dkayla/doc. pribadi

Ketika zaman bergasing lebih cepat dari cahaya, apa yang tersisa?

Beberapa waktu yang lalu saya bercakap-cakap dengan seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di Jawa tentang sumber terbuka ilmu pengetahuan yang bernama Internet. Ia mengeluhkan kebiasaan mahasiswanya yang malas membaca karena semua sarinya sudah tersedia di dunia maya. “Bahkan sari ilmu pengetahuan di Internet itu juga menyertakan sumber data referensi awalnya: judul buku, penulis, penerbit, editor, tahun terbit, bahkan no. ISBN. Dengan mencantumkan data-data tersebut, mahasiswa malas-tapi-licik kelihatan membaca, padahal mereka hanya mengutip di Internet,” katanya geram. Saya tiba-tiba teringat rumor para peresensi yang menulis resensi hanya bermodalkan membaca blurb di sampul belakang buku. Meski fenomena itu diembel-embeli semacam kritik kepada media massa dan penerbit—yang bukunya diresensi—kerap tidak memberikan apresiasi yang memadai.

“Lalu apa solusinya?” saya pikir, ia pasti memikirkan hal ini.

“Penugasan-penugasan mahasiswa saat ini saya haruskan menggunakan pendekatan living library,” katanya seperti menyiarkan solusi atas perangkap Internet.

Wah menarik, batin saya.

Baca juga: Living Library – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 16 September 2020)

“Saya meminta mereka mendatangi sumber-sumber informasi baru—yang tidak ada di Internet, mewawancarai narasumber itu dan membuat tulisan terkait living library alias perpustakaan hidup (baca: manusia yang memiliki ilmu pengetahuan) tersebut. Hasilnya mengagumkan: banyak sekali informasi khas yang tidak terinternetkan sebelumnya bisa mereka presentasikan, meskipun beberapa di antaranya terbaca sangat personal dan biografis. Tidak masalah. Ini semua butuh proses.”

“Bagaimana Anda menguji kalau mereka benar-benar bertemu—atau membuat—living library itu?”

“Mereka harus merekam proses wawancara itu.”

“Lalu mereka mengirimkannya kepada Anda atau …”

“Tidak,” potongnya bersemangat. “Karakter living library adalah, selain khas  karena biasanya sumber informasinya bersifat lokal, juga memiliki sifat (per)pustaka(an) alias sebagai buku yang bisa diakses siapa pun yang membutuhkannya. Jadi … mereka merilisnya di kanal Youtube masing-masing dengan kepsyen yang merujuk ilmu pengetahuan yang digali tersebut.”

“Harus Youtube?”

“Bisa yang lain. Media sosial, misalnya. Tapi, untuk teks disarankan di website atau blog.”

Baca juga: Membaca tanpa Kecemasan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 09 September 2020)

“Artinya, semuanya juga akan mudah diakses siapa saja karena semuanya akan diunggah di internet?”

“Internet?” gumamnya seperti baru saja menyadari perjalanan eliptik living library yang ia sebut sebagai solusi atas keserbainternetan tadi.

Saya tersenyum. Dia tersenyum. Lalu kami tertawa lepas. Puas sekali menertawakan kedunguan masing-masing.

***

Ketika zaman bergasing lebih cepat dari cahaya, apa yang tersisa?

Hari ini, semuanya tersedia di Internet. Kalaupun tidak ada, akan ada saja yang mencari tahu untuk kemudian menyiarkannya di sana. Ia menyusupi musyawarah burung-burung, sebagaimana jarum pentul yang jatuh ke pasir (bukan ubin atau kaca!) pun kuasa direkam-siarkan zaman.

Lalu apa yang tersisa?

Karena hal di atas siklus, jawabannya: tidak ada, selain sentuhan, aroma, dan langkah kaki; selain perjumpaan, feromon, dan keringat usai lari pagi; selain pelukan, harum bawang goreng, dan derak halaman buku yang dibolak-balik; selain kehangatan, wangi kembang kenanga, dan kunjungan ke kuburan yang membuat jam dinding berhenti berdetak.

Setelahnya lalu apa?

Nun jauh di sana, teknologi sedang memproduksi efek pipi yang pedas oleh tamparan seseorang yang berada 1789 mil dari tempatnya memegang wajah yang lebam, aroma rendang yang membangkitkan selera makan seseorang yang tinggal di Iowa padahal ibunya menanak daging-santan-dan aneka bumbu dalam kualinya di sudut Payakumbuh sana, tibanya seorang anak di Mongolia padahal baru dua menit yang lalu ia membuka pintu rumah di Lubuklinggau.

Lalu, masih adakah yang tersisa?

Tidak ada.

Baca juga: Seolah-olah Kreatif – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 02 September 2020)

Kreativitas tinggal rumus yang diotak-atik algoritma sebab Google bahkan bisa membuat novel—mungkin saja lebih baik dari Harper Lee menggarap To Kill A Mocking Bird—hanya dalam 17,5 menit, sebagaimana sebuah automatic-camera bisa menyisir tiap lembar naskah skenario untuk menghasilkan gambar seperti yang berkecamuk di dalam kepala director of photoraphy sebuah produksi film.

Mungkin memang ini yang menyisa—mungkin;

Ruh yang tak bisa digenggam-embuskan.

Cinta yang begitu rumit dirumus-leraikan.

Kesedihan yang tak lagi membutuhkan air mata, sebagaimana hormon endorfin lupa jalan pulang. Dan iman yang sesat dalam kefanaan.

Lalu apa?

Dunia yang menjelma akuarium.

Kehidupan di luarnya adalah cahaya dan udara.

 

Palembang & Lubuklinggau, 15 & 23 September 2020

Benny Arnas menulis 25 buku. Mengampu Kelas Menulis di kanal Youtube-nya. Tengah mempersiapkan kelahiran novel Bulan Madu Matahari. Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.