Cerpen Martin Aleida (Kompas, 20 September 2020)

Tak Ada Jalan Balik ke Buru ilustrasi Adhya Ranadireksa - Kompas (1)
Tak Ada Jalan Balik ke Buru ilustrasi Adhya Ranadireksa/Kompas

Rumah ini sudah jompo, sejompo-jomponya. Tinggal Surti yang tersisa. Perempuan yang lebih tua lima tahun dari aku. Satu-satunya penghuni yang harus kuopeni.

Kemudian Dik, anjing blasteran gembala jerman berumur 13. Dia melanjutkan persahabatan yang diberikan dengan tulus oleh dua ekor anjing kampung sebelumnya, yang masing-masing mati sebelum genap berusia 12. Selain itu adalah puluhan, mungkin ratusan kecoak, yang belakangan ini seperti dapat angin untuk menguasai segala sudut. Juga tikus yang bertambah banyak dan terlalu licik untuk diburu Dik.

Bertambah lanjut usia anjing itu, tikus-tikus semakin menggila menggerayangi meja makan. Kalau tak ada sisa makanan, mereka kelihatan mengendap-endap membasuh kumis di piring yang belum sempat kucuci. Aku merasa dipermalukan manakala menyaksikan kecoak menari-nari seperti mengejek, melecehkanku.

Dalam pada itu, dimensia semakin parah menggerogoti otak Surti. Membuat aku benar-benar repot sementara lututku tambah kerap ngilu, gemetaran. Bangun pagi, dia selalu mengeluh kehilangan rupa-rupa barang yang dia, sebenarnya, tak pernah miliki. Dalam ceracaunya, Surti selalu menyebut-nyebut namaku sebagai pengusik hidupnya di masa lalu. Pelupanya minta ampun. Habis makan, dia sesukanya meletakkan piring di depan pintu kamar mandi, atau tangga, atau malahan di atas tempat tidur. Kalau ditegur, dia balik menuduh aku yang ngawur.

Satu yang kucatat tentang dirinya. Untuk episode masa lalu, yang sudah lebih setengah abad, ingatannya amat tajam, rinci seperti sayatan silet. Sebagaimana kaji yang tak pernah selesai, dia berulang-ulang mengenang masa mudanya. Waktu itu, dia mujur terpilih satu di antara tiga tahanan di penjara wanita Bukit Duri, yang akan dikirim ke penjara Salemba untuk menampi beras bercampur pasir. Jatah makanan para tahanan di bui raksasa itu.

Ingatannya lengket, bagaimana kesempatan itu seperti pintu surga yang tiba-tiba terbuka untuk bertemu, bertukar kata walau beberapa menit, dengan suaminya yang mendekam di penjara itu.

Gara-gara Surti, tak jarang vertigoku kumat. Kepalaku terasa terombang-ambing. Dia mencurigai aku menggelapkan uang bantuan rutin untuk panti ini. Padahal tak ada haknya yang berkurang walau sebutir nasi. Darah di kepalaku acapkali menggelegak dibuatnya.

Belakangan, ada juru kamera yang selang-sehari datang mendokumentasikan kehidupan di rumah renta ini. Barangkali, tema yang berkembang di dalam kepala sineas muda itu adalah bagaimana seorang tua sedang berhadap-hadapan dengan lingkungan yang semakin sepi, menjauh dari hidup, semakin dekat pada kematian, di sebuah rumah jompo yang dia jaga puluhan tahun.

Kalau aku sedang diwawancarai di depan moncong kamera, di pintu depan, Surti selalu muncul menyeret-nyeret kakinya dengan tongkat aluminiumnya yang berkaki empat. Tak ada sebut-sapa. Tanpa diundang, dia langsung duduk berdekatan, seraya membolak-balik Injil di pangkuan. Aku tahu dia tidak menyimak untuk menemukan kesucian maupun kekuatan dalam kata-kata di kitab itu.

Niatnya cuma satu: ingin membuktikan, dengan menguping, bahwa aku memperoleh bayaran yang besar dari si pemuda pembuat film dokumenter tadi. Jumlah uang yang bergejolak di dalam imajinasi tuanya menjadi bahan sindiran terhadapku. Tiap malam. Timbunan uang dalam angka yang hampa itu diucapkannya berulang-ulang, keras-keras, seperti merapal doa yang mengusikku di kamar sebelah, sebelum matanya terlelap.

Bagaimanapun, Surti bukanlah puncak ketegangan yang kuhadapi sebagai penjaga di rumah ini. Aku pernah dituduh menciptakan penjara baru bagi orang-orang yang sudah berbau tanah. Sesuai tata tertib, pintu pagar kututup tepat pukul 19.00. Yang pulang terlambat kupersilakan mencari rumah persinggahan. Pintu sudah digrendel. Titik.

Pertengkaran hebat pecah di pintu pagar ketika serombongan lelaki dan perempuan mau memaksakan seorang, yang dulu pernah menduduki jabatan penting di sebuah organisai massa, penghuni Buru juga, supaya ditampung. Aku menolak sambil membentangkan kertas tata tertib. Bahwa yang punya istri tak diperkenankan masuk. Yang tidak dilakukan gerombolan itu cuma meludahi mukaku. Mereka menuduhku menjadi pelanjut disiplin monster Orde Baru yang kematiannya hanya layak diratapi para jagal.

Aku ini pemeluk Islam teguh. Bagaimana panasnya hatiku ketika dituduh melancarkan kristenisasi karena memakamkan jenazah, yang diterbengkalaikan sanak-saudaranya, ke pemakaman Kristen di seberang kali. Ketika penyakit penghuni asal Sragen itu memuncak, lewat pesan singkat, berkali-kali kukabarkan kondisi penderitaannya yang makin mencemaskan. Tak satu pun pesan itu menggugah hati mereka untuk menulis jawaban barang satu kata.

Ketika ajal datang, semua penghuni rumah, lebih kurang sepuluh orang, berkumpul untuk memutuskan jenazah akan dimakamkan dengan ritual agama mana. Kata putus tidak di mulutku. Tapi kuuraikan, ketika di Buru, dia yang sekarang tergeletak kaku, ketika di Namlea rutin berkeliling ke kampung-kampung sebelah, mementaskan naskah teater yang dia tulis sendiri. Temanya tentang salib penebusan dosa.

Dua hari setelah pemakaman, familinya muncul. Belum sempat mengetuk pagar. Begitu melihatku, mereka langsung angkat kaki. Menyumpahi aku suatu saat nanti akan menemukan balasan yang lebih menyembilu dari pada dikubur tidak dengan ritual agamaku. Tanpa doa. Tidak dimandikan.

Dik merasakan betapa tajamnya mulut mereka. Kata yang mereka pilih untuk melukai hatiku, untuk memuaskan dendam, sama sekali tak layak sekali pun dimuntahkan kepada seekor anjing. Selama aku menelan sumpah-serapah dan kutukan itu, Dik bersimpuh di kakiku. Sesekali dia mencium ujung sandalku, mengibas-ibaskan ekornya. Dia menawarkan ketenteraman bagi hatiku, yang kalau tak kutahan, memang akan meraung dalam kemarahan.

Tak kusangka kawan-kawan yang menjadi manusia pilihan daya tahannya di bawah penindasan fasistis di kamp konsentrasi, penjara, dan pulau pembuangan, namun di bawah kebebasan semu yang diberikan kekuasaan ini, justru berubah menjadi kawanan makhluk tak berperasaan.

Rumah ini memang sudah jompo. Bata sudah menyeringai dari celah plaster di sana-sini. Memang terletak di tengah kota. Sudah sejak dua tahun lalu spanduk “Dijual Cepat Tanpa Perantara” digantungkan di pagar. Huruf-hurufnya yang dulu terang dan berteriak-teriak mengundang pembeli langsung, tapi yang datang bergantian cuma perantara yang gigih seperti lalat yang keras kepala. Penantian pesangon, kalau rumah ini laku terjual, kelihatannya hanya akan menemukan kekecewaan.

Dik, pada hari ini, sebagaimana juga pada hari-hari yang lain, tak bosan-bosannya mengulang-ulang kebaikan yang ditakdirkan untuknya. Melonjorkan kedua kakinya meniru caraku duduk. Kutahu dia mau menghibur hati untuk memulihkan tenaga tuaku. Yang selalu ditawarkan Dik adalah kesetiakawanan, bukan permusuhan, sehingga kesempatan terbuka lebar bagiku untuk berbicara kepadanya melebihi takdirnya sebagai seekor anjing penggembala.

“Ya, aku ikut,” sambutnya spontan ketika kutanya apakah dia mau menyertaiku balik ke Buru.

“Ke sana naik apa, Pak? Bagaimana ongkosnya?”

“Pesangon dari penjualan rumah ini sudah tak bisa diharapkan. Dan aku tak mau mati di sini. Sudah dua tahun lebih mau dijual sebagaimana kau sendiri juga tahu. Tapi tak laku-laku. Aku punya tabungan. Memang, takkan cukup untuk naik pesawat. Lagi pula, kalaupun ada uang, terbang bersama kau, Dik, tentu repot sekali. Kita naik perahu layar.”

“Dari mana?”

“Tidak dari Priok. Kita cari jalan gratis.”

“Bagaimana?”

“Kita ke Pasar Ikan. Banyak kapal layar di situ. Dari pelabuhan kecil itu kita menumpang kapal kayu antar-pulau. Sambung-menyambung sampai Buru. Aku hafal jalurnya. Kita menawarkan diri untuk ikut sebagai anak buah kapal. Aku dan kau akan mencuci perkakas di dapur, pakaian, membersihkan kakus, tikar dan tempat tidur. Merapikan apa saja. Apalagi palka dan kamar nakhoda. Kalau air masuk ke lambung, kita yang menimba. Tentu melelahkan. Hanya dengan begitu kita akan diterima sebagai penumpang. Tanpa harus membayar…”

“Apa yang akan kita kerjakan untuk hidup di Buru?”

“Buru adalah tanah yang dijanjikan. Dan janji itu sudah dituntaskan. Indonesia bagian timur sudah menikmati swasembada beras gara-gara Buru, berkah dari dua belas ribu pasang tangan tahanan politik yang dipekerjakan kuasa bersenjata secara paksa. Dua presiden Republik ini sudah datang ke sana untuk merayakan padi yang hijau melaut, bergelombang melebihi kebutuhan perut setengah dari daratan tanah air kita. Namun, kedua orang nomor satu di negeri ini sepatah kata pun tidak menyebutkan kami. Tak apa, Dik. Tak apa. Kami hanya manusia rantai. Kaummu pandai berterima kasih, sementara spesies kami baru belajar untuk menyusulmu, barangkali. Kami menerima suratan nasib untuk memuliakan jutaan orang tanpa pamrih. Ya, tanpa pamrih, sebagaimana kalau kau selesai buang hajat langsung lari. Tak sudi melemparkan pandang barang sekejap pun pada ampas tubuhmu itu.”

Dik menjilati ujung kakiku. Membelai pergelangan tangan sampai ke bahu. Matanya memohon untuk merebahkan kepala di dadaku. Barangkali ingin mendengarkan letupan-letupan perasaan di dalam hati tuannya yang tua ini.

“Pernah kau lihat bola dunia?” Kulanjutkan: “Setelah Sulawesi, melampaui Maluku, Papua, pulau dan negara-negara kecil di Lautan Teduh, sampai nun ke daratan luas di pantai Amerika, alam tak mengenal padi. Kami yang memulainya dari Buru. Tangan-tangan kami yang memperkenalkan sumber hidup itu. Kau tahu, tak lama setelah kami tinggalkan, di Buru, orang tidak menyemai dengan tertib seperti di Jawa ini. Kini, di sana, para tahanan politik yang memutuskan untuk tidak balik ke Jawa, menanam padi dengan cara yang ganjil. Menyebarkan benih begitu saja ke tanah. Karena kekurangan tenaga. Begitu tumbuh, barulah dipilih yang terbaik, dipindahkan ke lahan yang akan mendewasakannya.”

Lidah Dik terjulur. Dia mengibas-ibaskan ekor. Menyelidik dengan tajam mataku. Kutahu dia meminta kesempatan menjilati mulutku.

Tepat pada hari yang kami rencanakan, aku dan Dik sudah berada di dermaga Pasar Ikan. Mengadu nasib, kami mendekati seseorang yang kelihatannya nakhoda kapal. Tongkangnya sarat bermuatan semen. Dia sedang mengamati buritan dari dermaga. Pelaut asal Mamuju itu dengan halus menolak lamaran kami.

“Perahu saya cuma sampai Selayar,” katanya. Tidak dia nyatakan terus-terang, namun dari air mukanya kubaca dia keberatan dengan ikutnya Dik.

Penguasa kapal kedua menyebutkan tujuannya Enggano. Tak ada gunanya, karena berlawanan dengan arah tujuan kami. Ketiga, keempat, kelima sampai ke penguasa kapal yang kedua puluh satu, semuanya menyebutkan penyesalan tak bisa menerima kami. Anak buah kapal sudah berlebihan.

Jalan beriringan, kami terus melangkah menguji nasib yang masih saja sebuah tanda tanya. Mendekati ujung dermaga, nasib kami seperti disongsong angin buritan. Nakhoda yang satu ini miskin sejak dari tubuhnya. Sikunya hanya sebelah. Hatinya sungguh kaya.

“Maaf, saya tidak ke arah utara. Kapal menuju selatan, ke Saumlaki. Kalau mau menumpang, saya akan senang,” katanya manis.

Saumlaki. Tak jadi masalah, kupikir. Dari pulau yang saban musim barat dihantam angin ribut itu, aku dan Dik, kalau angin sedang ramah-ramahnya, bisa menumpang kapal lain ke Ambon, dan dari sini ke Namlea.

Sang nakhoda menanyakan, apakah aku sudah punya surat izin keluar dari Jakarta. Kukeluarkan surat itu dari dompet. Kemudian dia memeriksa KTP-ku. Kapal belum bertolak, badai tiba-tiba sudah menghantam, ketika pangkal alis matanya bertemu, saat memperhatikan identitas diriku itu. Matanya menyelidik sekujur tubuhku. “ET” yang terpampang di pojok kartu itu berubah menjadi badai, menerjang niat baiknya membantu kami.

“Maaf, Pak, tanda eks tahanan politik itu seharusnya sudah tak perlu ada di situ. Saya yang lalai mengurusnya. Maaf…”

“Merapat di Saumlaki, kita bisa dapat perkara besar gegara KTP ini. Begitu bagusnya Bapak sudah punya izin keluar-masuk Jakarta. Tak punya surat rapid test tak mengapa. Bisa salam tempel. Tapi KTP ini …”

 

Martin Aleida menyelesaikan memoar, Romantisme Tahun Kekerasan, 2020.

Adhya Ranadireksa lahir 1972 di Bandung, belajar di Istituto Europeo Design di Roma, Italia (1994-1997).