Cerpen Alim Musthafa (Republika, 20 September 2020)

Selembar Tikar yang Belum Selesai ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Selembar Tikar yang Belum Selesai ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sampai larut malam, Ibu masih saja menganggit tikar. Berpenerangan kusam lampu teras dan hanya besanding segelas kopi pekat yang nyaris tandas. Tak peduli tetangga sudah pada menutup kamar, juga udara malam yang kian mencocok tulang.

“Bagaimanapun, tikar ini harus selesai, Nak, biar besok bisa ditukar dengan bahan dapur dan sedikit uang.” Begitu jawaban ibu saat aku membujuknya berhenti dan tidur.

Aku masih duduk terdiam di balik pintu, mengamati Ibu yang berjibaku dengan helai-helai daun siwalan sebelum akhirnya beranjak menuju ranjang. Namun, selalu saja aku gagal memejamkan mata karena bayang-bayang Ibu tak berhenti berkelebat di pelupuk mata. Ya, akhir-akhir ini aku memang selalu meng khawatirkan Ibu karena Ibu menderita sakit sejak tiga bulan lalu. Berkali-kali aku sudah memintanya berobat ke dokter, tapi Ibu selalu menolak dengan halus. “Bairkan saja, Nak. Ini cuma sakit biasa. Nanti juga akan sembuh sendiri.”

Ibu sebenarnya masih belum tua benar. Usianya masih sekitaran empat puluhan. Namun, setumpuk pekerjaan yang ditanggungnya telah membuatnya lebih tua dari usia sebenarnya. Bagaimana tidak, sehari-hari Ibu hanya sibuk bekerja dan melupakan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya penyakit datang menggerogoti, mengikis kesehatannya dari hari ke hari.

Di rumah, aku hanya tinggal bersama Ibu. Ayah telah meninggalkan kami tiga tahun yang lalu. Ia jatuh dari puncak pohon siwalan saat menyadap lahang di tegalan tak jauh dari rumah. Sejak saat itu, Ibu yang menggantikan posisi Ayah: mengurus keluarga dan menanggung segala biaya hidup dan kuliahku.

Sepeninggal Ayah, aku sebenarnya telah memutuskan berhenti kuliah dan ingin bekerja saja. Aku tidak tega membiarkan Ibu harus banting tulang sendiri: menjajakan gorengan dari rumah ke rumah di pagi hari, menyabit rumput serta mencari kayu bakar pada sore hari, dan menganggit tikar pada malam hari. Namun, Ibu bersikeras agar aku tetap melanjutkan kuliah.

“Nak, kamu masih tanggung jawab orang tua. Dan Ibu, sebagai orang tua, tak ingin mewariskan nasib kami yang sengsara. Biarlah Ibu yang tanggung semua kepahitan ini, asal kamu bisa meraih sukses pada masa depan nanti.”

Kata-kata Ibu jelas saja membuatku terlecut. Karena itulah, mulai kumanfaatkan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah ketika tidak sedang membantu Ibu di rumah, mulai kuhabiskan waktu untuk membaca buku-buku di perpustakaan saat jam istrahat kuliah.

***

Aku merasa keadaan Ibu masih baikbaik saja—meski penyakit batuk tak juga reda—sampai suatu hari ia pulang digotong beberapa tetangga. Ibu diketahui pingsan saat sedang menyabit rumput di tengah tegal bersama warga. Wajah Ibu tampak pucat nyaris menyamai putih dinding rumah yang kusam. Menandakan bahwa keadaan Ibu makin parah dan mengkhawatirkan.

Selama Ibu tak sadarkan diri, aku setia menunggu di sisi nya. Duduk terdiam sembari menangis dan menyesali apa-apa yang telah terjadi: mengapa aku harus kuliah, mengapa Ayah keburu pergi, mengapa kami jatuh miskin, hingga akhirnya Ibu yang harus menanggung semuanya.

Selain itu, lintasan-lintasan masa lalu terkait momen kami pernah hidup di titik terbaik juga berdesakan di kepala. Saat itu kami memang tak pernah mencemaskan apa pun. Menanak nasi cukup menyalakan rice cooker, butuh air dingin hanya perlu membuka kulkas, bosan belajar bisa berganti menonton televisi, bahkan Ayah sempat menabung untuk naik haji. Semuanya ludes setelah Ayah mengalami kecelakaan hingga akhirnya meninggal.

Mula-mula satu barang dijual untuk keperluan acara tahlilan kematian ayah, dari hari pertama sampai hari ketujuh. Lalu barang lain juga ikut dijual untuk keperluan biaya kuliah. Begitu seterusnya hingga yang tersisa hanya rumah dan motor butut yang aku gunakan saat pergi kuliah. Kalaupun kemudian memelihara ternak, itu pun milik tetangga yang dipasrahkan dengan sistem bagi hasil.

Namun, semua kepahitan hidup itu tidak juga membuat Ibu menyerah. Ibu tetap memperjuangkan hidupku meski serba kekurangan. Ibu tetap bekerja keras meski tubuhnya sudah tak lagi bisa diandalkan. Bahkan, ketika aku berusaha membantu pekerjaannya, Ibu selalu berujar, “Apakah bekerja sudah lebih penting bagimu dari pada belajar, Nak?”

Sebagai anak yang sangat mengerti keadaan orang tua, aku sebenarnya ingin selalu membantu Ibu. Namun, semenjak nilai kuliahku diketahui anjlok, Ibu tak pernah mengizinkanku lagi, kecuali untuk pekerjaan di malam hari. Itu pun dengan syarat: aku harus sudah belajar, mengerjakan tugas, atau membaca buku-buku untuk menambah ilmu pengetahuan.

***

Setelah hampir seminggu hanya tergolek lemah di atas ranjang, keadaan Ibu tampak membaik. Ibu mulai bisa duduk, berjalan, bahkan ingin melakukan pekerjaannya seperti semula. Namun, untuk yang terakhir ini, aku mencegahnya dan memintanya tetap beristirahat sampai kesehatannya benarbenar prima. Tentu aku bahagia melihat perkembangan itu, meski aku masih belum percaya apakah kesembuhan Ibu berkat jamu yang kerap ia konsumsi atau mungkin sebuah keajaiban dari Tuhan berkat doa-doa yang tak lelah kupanjatkan?

Akhirnya, keputusan untuk berhenti kuliah kuurungkan. Masa depan kembali kubuka lebar-lebar. Namun, kesibukanku masih tak berbeda dari sebelumnya. Pergi ke kampus, berkunjung ke perpustakaan, mendatangi rumah teman, mengerjakan tugas akhir, dan membantu pekerjaan Ibu meski barang sebentar. Sampai akhirnya, pada suatu malam yang tenang, aku tidur lebih awal tanpa membantu pekerjaan Ibu seperti biasanya.

Seperti rencanaku, dini hari itu aku bangun lebih awal. Suasana masih senyap, tak ada suara. Hanya suara tilawah yang lamat-lamat terdengar dari toa masjid yang jauh. Di benakku, rencana-rencana sudah kujadwal dengan matang. Menunaikan Tahajud, mengaji Alquran, menelaah skripsi sampai memasuki waktu Subuh. Namun, semua mendadak berantakan begitu aku melangkahkan kaki ke kamar mandi. Di emperan, kulihat selembar tikar yang belum selesai. Aneh, tak seperti biasanya Ibu meninggalkan garapan tikar begitu, pikirku heran.

Terpaksa kutarik langkah ke belakang, lalu memeriksa kamar Ibu, tapi yang kudapati hanya ranjang dengan bantal dan selimut. Dengan perasaan cemas dan bingung yang bercampur di kepala, aku menyisir semua kamar, termasuk dapur dan kandang kambing. Dan akhirnya kutemukan Ibu di langgar yang terletak di seberang halaman.

Masih berbalut mukena, Ibu tampak terbaring pulas di atas gelaran sajadah. Kupikir Ibu kelelahan setelah menggarap tikar hampir semalaman. Karena itulah, aku tak ingin mengusiknya dan tetap membiarkannya tertidur hingga azan Subuh berkumandang. Namun, ada yang aneh pada Ibu. Dan itu baru kusadari setelah aku habis mengerjakan shalat Subuh, tapi Ibu belum juga bangun.

Terpaksa kubangunkan Ibu dengan cara kuguncang-guncang tubuhnya. Hingga beberapa kali guncangan, Ibu tak juga merespons. Tubuh Ibu tak bergerak, bahkan embus an napasnya tak bisa kurasakan. Aku pun menangis histeris, tak kuasa mendapati kenyataan bahwa Ibu sudah meninggal.

Sebelum tetangga berdatangan, aku jatuh pingsan, menghilang dari kesadaran dunia dan orang-orang yang mengerumuni Ibu dengan perasaan kehilangan. Begitu sadar kembali, kudapati Ibu sudah tertanam di bawah nisan.

“Ibu, aku tak tahu bagaimana hidupku setelah ini. Apakah aku akan tetap memperjuangkan cita-cita atau justru berputus asa dan memilih meratapi keadaan?” desahku di sisi makam ibu dengan air mata yang terus bercucuran.

 

Kota Ukir, 2019-2020

Alim Musthafa lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Alumnus PBA di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk. Selain mengajar, ia menulis fiksi dan menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab