Cerpen Hasan Aoni (Suara Merdeka, 20 September 2020)

Kisah Sebercak Darah ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka (1)
Kisah Sebercak Darah ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Persetubuhan itu akhirnya terjadi. Itu malam pertama bagi Dulah dan kali kesekian bagi Imah. Dulah harus menunggu seminggu sejak akad nikah di tengah hujan badai malam itu; Imah datang bulan. Namun ketika malam pertama datang, bercak darah perawan yang dia tunggu dengan hati berdebar tak pernah terjadi.

“Jangan serampangan seperti hewan. Perempuan pada malam pertama akan sakit dan mengeluarkan darah perawan,” pesan neneknya berbisik.

Itu pelajaran seks pertama yang Dulah terima sebelum menikah. Pesan itu menancap di kepala Dulah. Pemuda desa itu tak pernah mengalami masa pacaran. Berkenalan dengan Imah usai mengantar gadis itu berbelanja, tiga bulan kemudian menikah. Proses yang cepat sekali.

Imah belum mengenal desa itu sejak memilih menetap dan meninggalkan kota kelahiran yang suram. Ia membeli rumah mungil di dekat pangkalan ojek dan tinggal sendirian. Sejak Imah menempati rumah itu, Dulah sering datang lebih pagi. Sasaran dia tentu saja Imah. Ia antar gadis itu ke pasar setiap pagi. Namun tak hanya mengantar membeli sayur, ia juga mengantar ke kantor penghulu, mendaftarkan diri dan Imah menikah.

“Kamu sudah yakin dengan gadis itu, Dul?” tanya neneknya.

Dulah mengangguk. Dulah memilih Imah daripada gadis lain yang sepantar. Imah lima tahun lebih tua. Apalah arti umur bagi Dulah. Selain baik, Imah mandiri. Dua kelebihan itu tak dia temukan pada gadis lain di desanya. Rasa cinta itu telah mengunci rapat pintu hati Dulah, bahkan bagi Entin, teman sekolah, anak Komar, ketua pangkalan ojek.

Dengan modal dari Imah dan tambahan tabungan Dulah, pasangan itu membuka kios kelontong di Pasar Kliwon. Jika kios sepi, Dulah memutar roda motor, mengojek. Langganannya tukang sayur.

Mereka acap menyindir, lebih tepatnya iri pada Imah yang berhasil menggaet Dulah. Dulah hanya lulus SD. Namun kesalehan dan ketekunannya bekerja bikin banyak orang tua di desa itu ingin mengambil dia sebagai menantu.

Dulah tinggal bersama sang nenek sejak kecil. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Neneknya mengasuh Dulah untuk meringankan beban orang tuanya. Ia miskin. Bersama sang suami, Nenek menjadi petani. Sejak Dulah tak mau meneruskan sekolah, Nenek sering mengajak Dulah ke sawah. Hasil dari sawah dia kumpulkan untuk membeli motor. Kelak, motor itu menjadi modal kerja bagi Dulah.

***

Gerimis masih membasahi rumah di pinggir pangkalan ojek itu. Petir sesekali menyambar. Cahayanya berkilatan menembus kisi jendela. Di sebuah kamar berbau cat masih menyengat, Dulah gelisah. Imah lebih-lebih. Mereka baru saja terkapar. Dulah menutup bagian bawah tubuh dengan sarung. Ia segera membalikkan badan, menatap tembok, sambil diam-diam memegang kemaluannya tanpa Imah ketahui. Ia menarik kedua jarinya ke dekat mata dan memperhatikan secara saksama. Tak ada bercak merah seperti sang nenek ceritakan. Namun ia ragu. Lampu kamar itu memancar remang-remang.

Imah telentang menghadap langit-langit kamar. Ia masih telanjang. Lampu kamar itu meski redup masih memantulkan kegelisahan Imah. Ia sangat bahagia malam itu, tetapi sekaligus takut. Ia memilih tinggal di desa itu dan menerima Dulah yang saleh sebagai suami agar bisa mengubur masa lalu.

“Kang, aku bahagia sekali malam ini,” ucap Imah sambil menyampirkan tangan ke pundak Dulah.

Dulah pura-pura tertidur. Imah tahu dan sangat hafal kebiasaan laki-laki yang tertidur usai bersebadan. Ia tak butuh jawaban Dulah sekarang. Ia hanya ingin memastikan Dulah tak tahu dia sudah tak perawan.

Dulah kebablasan tidur dan mendengkur keras. Iramanya bersahut-sahutan dengan lengking bangkong kimpul di kolam sampah belakang rumah.

***

“Nek, apa perawan tidak mesti keluar darah setiap melewati malam pertama?” tanya Dulah.

“Maksudmu, istrimu sudah tidak perawan?” Nenek balik bertanya.

“Kata Nenek, gadis mengeluarkan darah setiap melewati malam pertama,” jawab Dulah.

Nasihat Nenek jadi senjata makan tuan. Ia tak bisa menjelaskan lebih detail. “Dulu teman Nenek juga begitu. Tidak mesti keluar darah,” jawab Nenek.

Dulah tak pernah menanyakan perihal itu pada Imah. Ia berupaya tenang setiap kali hendak berhubungan badan. Namun tetap tak bisa menutupi kecanggungan.

Imah, yang berpengalaman, sangat tahu kegelisahan sang suami. Sampai suatu ketika datang kabar yang mengusik pasangan itu.

Dulah baru saja masuk rumah. Imah belum datang dari pasar. Ia hendak merebahkan badan di sofa ketika tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah. Seseorang berbaju gamis dan berjenggot lancip bertamu.

“Betul ini rumah Imah?” tanya tamu itu.

“Ya, betul. Saya suaminya. Apa keperluan Saudara?” Dulah balik bertanya.

Lelaki itu menjelaskan hubungannya dengan Imah. Bagai disambar petir pada siang bolong, Dulah kaget bukan kepalang. Dia hampir pingsan. Betulkah lelaki ini saksi nikah siri Imah dan ketua perkumpulan pengajian? Mengapa Imah tak menceritakan sebelum mereka menikah? Mengapa lelaki ini mencari Imah?

***

Jalan ke lokasi perkumpulan pengajian itu cukup jauh; melewati pegunungan terjal, rimbun hutan jati dan ilalang. Dulah mengikuti laju motor di depannya. Ia sangat akrab dengan suasana desa, tetapi saat menuju ke kawasan itu merasa sunyi dan terpencil. Tengah malam, Dulah sampai di padepokan itu.

Lemari ruang tamu orang yang akrab dipanggil ustaz itu penuh materai dan kertas leges. Sebagian masih kosong, sebagian berisi perjanjian nikah. Ustaz itu berusia sekitar 50 tahun. Dua kali lebih dari umur sang tamu. Wajahnya tak bersahabat. Tubuhnya gembrot, mengingatkan siapa pun pada Abu Abdul Bari, petinggi ISIS berjuluk Jabba the Jihadi, Jabba si Jihadis dari Mosul, dekat Sungai Tigris, Irak.

Ustaz itu mengambil sehelai kertas dari tumpukan dan menyerahkan kepada sang tamu. Dulah membaca secara saksama surat perikatan nikah Imah dan ustaz itu. Dia pun pulang membawa fotokopi surat itu.

***

Imah usai datang bulan. Nafsunya menggebu-gebu. Namun, malam itu, Dulah belum juga pulang. Mungkin masih ngojek, pikir Imah. Ia menata seprai bermotif bunga dan menyemprotkan wewangian. Sekuntum bunga yang dia petik sore tadi tertata dalam vas berisi air, bertengger di meja di pojok kamar. Subuh nanti, jika Dulah pulang, Imah ingin mengajak sang suami bersanggama.

Ia memilih daster tak berbahu dan celana dalam transparan. Daster kesukaan Dulah, dengan paduan celana dalam warna pink berenda. Sebagai orang kota, ia hendak menawarkan selera seks kelas menengah kepada sang suami. Sesekali ia akan mengajak Dulah menikmati gaya kelas menengah supaya percumbuan mereka bervariasi. Itu cara Imah agar sang suami tak menoleh ke perempuan lain.

Terdengar ketukan di pintu persis ketika azan subuh dari masjid 100 meter dari pangkalan ojek berkumandang. Imah bergegas. Dulah masuk dengan wajah kuyu. Kotor dan bau asap bensin mengintimidasi suasana romantis di kamar mereka. Dulah bergegas ke kamar mandi dan wudu. Imah menyusul. Mereka berjamaah subuh.

Usai berdoa, Imah memeluk Dulah. Ia sudah melepas mukena dan tampak pakaian kebesaran yang dia kenakan waktu malam pengantin dulu. Dulah diam. Gelisah. Dadanya berdegup, seperti menahan amarah. Lalu ia berdiri, mengambil lipatan kertas fotokopi dari jaket, dan menyerahkan pada Imah.

Imah berkernyit membaca. Mukanya pucat. Ia lemas dan pingsan. Surat itu mengingatkan ia pada masa menderita. Ia dipaksa menikah dan dilatih meracik bom setiap hari. Sebagai lulusan kimia, ia terjebak di padepokan itu, padahal semula dia berniat memperdalam ilmu agama, mengikuti teman di kampus yang lebih dulu diperistri sang ustaz.

Akhirnya, dia sadar telah jadi budak nafsu. Padahal, ia sudah putus hubungan dari orang tua dan pacar. Ia tak bisa keluar. Padepokan itu seperti penjara. Pernah dia berusaha melarikan diri, tetapi tertangkap.

Suatu ketika ia diizinkan keluar, membeli bahan peledak yang tak semua orang di padepokan itu tahu. Ia menyelinap dan berhasil meloloskan diri; pergi sekencang kaki berlari.

Lima tahun ia bekerja di laboratorium perusahaan asing. Itulah tempat persembunyian sekaligus ladang bagi dia mengumpulkan uang untuk membangun sejarah baru. Sampai ia bertemu Dulah dan menikah.

Dulah duduk termangu mendengar kisah Imah usai siuman. Ia bingung, antara percaya dan tidak. Ia sangat mencintai Imah. Ia teringat kisah malam pertama yang menggetarkan hati gara-gara pesan sang nenek yang ternyata tak pernah terjadi. Kini, ia tak butuh bercak darah itu. Ia hanya butuh kejujuran sang istri.

Kisah sebercak darah yang semula ia tak tahu itu, kini lebih dari peristiwa malam pertama. Ustaz itu telah merenggut haknya. Ia merasa harus membela perempuan yang telah diperlemah sepanjang usia mudanya itu. Dulah berpikir keras antara melindungi sang istri atau membalas sang ustaz.

Ia memeluk istrinya. Di atas kasur berseprai motif bunga itu semua berawal dan berakhir. Keputusan Dulah bakal menentukan nasib perempuan cantik, yang Dulah baru tahu ternyata berpendidikan dan bermartabat tinggi.

Kini, subuh telah berlalu. Dulah pun segera mengambil keputusan. (28)

 

Kudus, 11 September 2020

 

: Kado ulang tahun ke-17 si tengah Tsaqiva Kinasih Gusti

 

Hasan Aoni, pendiri dan pengelola Omah Dongeng Marwah, Kudus