Cerpen Darmawati Majid (Jawa Pos, 20 September 2020)

Cinta yang Bergunung-gunung ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Cinta yang Bergunung-gunung ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Kau sampai kini tak mengerti, mengapa Tuhan mengambil suamimu di saat kau paling membutuhkannya. Namun, maut tak mengenal kompromi.

MASIH butuh atau tidak, ia pongah datang menjemput. Tak peduli apa pun. Apalagi ketika suamimu sendiri yang mendatanginya. Padahal, kau belum puas menuntaskan marah.

Pulang merantau, ia membawa seorang bayi mungil. Menangis di kakimu, ia memohon ampun. Ia lebih rela menorehkan luka di hatimu daripada meninggalkan anak itu seorang diri. Ibunya, yang telah dia nikahi 10 bulan lalu, meninggal saat melahirkannya. Tak ada seorang pun keluarganya yang mau membesarkan.

Kau menatap mata suamimu. Tak percaya pada kejujuran yang dia tawarkan. Bukankah dia bisa berbohong? Mengatakan dia menemukan anak itu di hutan atau bilang kepadamu bahwa anak itu adalah anak dari keluarganya.

Mengapa kau lebih suka ia tidak jujur?

Seketika kau merasakan cinta yang dulu bergunung-gunung di matamu dan bergulung-gulung di hatimu perlahan sirna. Pengkhianatan tak bisa mudah kauterima. Kesetiaan telah kauikrarkan ketika mantra-mantra tua dilafazkan ke langit saat kalian resmi menjadi suami istri.

Kau dipaksa menjalani hidup sebagai ibu tiri.

***

Kadang aku merasa ibu bukanlah ibu kandungku. Bekas luka di tubuhku bercerita banyak. Setiap sedih, ibu akan melampiaskannya padaku. Gadis itu hanya bisa terdiam di kamarnya sementara aku dicambuki ibu.

Awalnya aku berteriak sekencang-kencangnya. Semakin lama, aku semakin pandai menyembunyikan tangis. Aku laki-laki. Aku tak boleh menangis, kata ibu. Laki-lakilah yang membuat orang lain menangis.

Cintaku pada ibu telah lama berganti benci. Memar di tubuhku mulai bersahabat dengan kulitku. Ibu selalu memelukku dan menangis seperti tak ada hari esok setiap ia selesai. Di saat-saat itu, aku gembira, mengira itu kali terakhir ibu mencambukku. Keesokan harinya, aku tahu bahwa aku salah.

Gadis itu, anak bapak dari perempuan yang lain, ia manja berlebihan. Baju-baju bagus, makanan enak, yang didapat ibu dari panen jagung tak seberapa. Tak seberapa karena jagung itu telah dijual saat masih muda. Dibeli murah Wak Udin, laki-laki yang menguasai hajat hidup penduduk desa ini.

Aku tumbuh mencintai gadis itu.

***

Tahap berduka telah lama kaulewati. Namun, kau tak pernah bisa berhenti memukuli Iwan setiap kali ia ceroboh. Kesalahan kecil sekalipun. Semua kejengkelan pada hidup ingin kautumpahkan pada tubuhnya. Kau senang mendengarnya berteriak minta ampun. Kau merasa kuasa ada di tanganmu. Kuasa yang dulu tidak kaumiliki ketika suamimu memutuskan bunuh diri. Kau ditinggalkannya dengan dua orang anak dan sepetak ladang jagung yang hampir lelah berbuah.

Kau harus berjualan gorengan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untung saja Iwan mau menjajakannya keliling kampung. Meski ia protes karena ada Lia anakmu yang perempuan, anak dari suamimu dengan perempuan lain, lebih pantas menjajakannya. Daganganmu pasti laku keras karena Lia sangat cantik. Kau mencambukinya habis-habisan karena protesnya itu, lalu mencambukinya lagi ketika ia tak berhasil membuat daganganmu habis. Atau ketika ia lupa memungut jemuran. Atau ketika ia lambat kembali dari mengantarkan daun woka ke rumah Wak Kadir.

Kau tak tahu harus marah kepada siapa. Kau sungguh ingin pergi dari kampung. Meninggalkan anak-anakmu dan memenuhi ajakan Wak Kadir bermukim di Sangihe. Laki-laki itu ingin membawamu, dengan kedua anakmu kalau perlu. Namun, kau masih berpikir-pikir. Dua anak itu tak lebih duri masa lalu. Melihat mereka akan mengingatkan pada dirimu yang tak berdaya, pada suami yang tak menghargai kesetiaan, pada kemelaratan yang berupaya kauakrabi. Pada Tuhan yang tak mengasihanimu. Pada Wak Udin yang suka menyelinap masuk ke kamarmu ketika anak-anakmu berada di sekolah. Pada dirimu yang tak bisa menolak ketika ia menyelinap masuk ke kamarmu. Pada istri Wak Udin yang selalu memamerkan perhiasannya setiap kali ia berada di pesta. Pada utang-utangmu yang semakin menumpuk meski kaubayar dengan tubuhmu. Wak Udin tak akan memberimu benih jagung jika kau menolak ajakannya menyetubuhimu.

Setiap laki-laki itu berada di atas tubuhmu, kau berusaha kembali ke masa lalu. Masa kecil ketika kau berlarian di ladang jagung, bermain cur-pal [1], sembunyi dari teman-temanmu. Selesai bermain, kau akan pulang ke rumah, berpeluh dan disambut dengan semangkuk ikan woku dan tumis kangkung di meja. Setiap akhir bulan, bambua [2] berteriak nyaring memenuhi jalanan dan tak lama perkedel nike hadir memeriahkan meja makan. Dengan mengingat itu semua, kau tak akan merasa sakit ketika selangkanganmu dimasuki.

Awalnya seringai lebar lelaki itu selalu ingin membuatmu muntah, semakin membenci laki-laki. Namun, hidupmu tergantung pada belas kasihnya.

***

Aku tak pernah suka Wak Udin. Laki-laki itu pengijon desa yang luar biasa kikir. Pernah sekali, anak buahnya mendatangi sekolah kami, meminta kunci motor Ical dengan bengis. Wak Kali, ayahnya, sudah terlambat membayar cicilan motor tiga kali. Di desa kami tidak ada lembaga kredit resmi. Semua barang elektronik dan kendaraan bermotor kami cicil dari istri Wak Udin. Perempuan itulah yang membayar semua barang itu di kota, lalu mengkreditkannya kepada kami. Kami membayarnya dengan apa pun yang bisa dihasilkan tanah dan ladang kami. Berlipat-lipat dari yang seharusnya kami berikan.

Suatu hari, ingin sekali aku memerkosa anak gadis Wak Udin jika tidak ingat kebaikan laki-laki itu kepada ibu. Lisa mengata-ngatai Lia anak haram. Aku tahu Lisa hanya iri. Pada kecantikan dan kepintaran Lia. Lia selalu membuatnya berada di peringkat kedua. Bukankah manusia selalu menggunakan mulutnya ketika otaknya tak mampu bekerja dengan baik? Begitu yang selalu dibilang ibu, selain jaga sikaplah kepada Wak Udin. Keluarga kita tidak akan bisa makan kalau bukan karena pertolongannya. Itu bukan pertolongan, Bu, tapi pemerasan. Aku berakhir mencium tanah dengan keras.

Pernah suatu pagi, ketika bolos sekolah karena pelajaran yang sangat membosankan, aku melihat istri Wak Udin mendatangi ibu. Rambutnya awut-awutan dan menyerapahi ibu. Penggoda suami orang. Tak bakal masuk surga. Aku tak tahu suami siapa yang ia maksud karena aku tak pernah melihat laki-laki lain selain bapak di rumah. Sama tak tahunya aku mengapa orang begitu yakin seseorang pantas masuk surga atau tidak seolah-olah merekalah yang paling berhak menentukan.

Tak mungkin Wak Udin, meskipun laki-laki itu baik pada kami, ibu sangat membencinya. Ia memang tak pernah menjelaskan alasannya, tapi aku rasa itu ada kaitannya dengan kematian bapak dan juga ladang jagung kami.

***

Kau melihat pertikaian itu. Udin dan suamimu berdiri dan menantang satu sama lain. Mereka masih muda. Satu dari mereka adalah laki-laki yang kaucintai dan laki-laki lainnya mencintaimu. Pada akhirnya kau memilih Aris, laki-laki yang kaucintai. Kau pernah melihat Udin memukuli pacarnya di kelas I SMP. Setelah itu kau bersumpah bahwa ketika tak ada lagi laki-laki di muka bumi dan yang tersisa hanya Udin, kau akan memilih mati. Kau sesumbar pada teman-temanmu. Sesumbar yang akhirnya didengar Udin. Padahal, ada alasan lain. Kau tak suka orang tuanya yang sering menghina ayah dan ibumu. Kau tak akan mau bermertua laki-laki seperti itu. Kau bahkan yakin orang tuamu juga tak sudi berbesan dengan mereka.

Sebelum kau kawin lari dengan Aris, ibumu memohon untuk mempertimbangkan lamaran Udin.

“Kau tak akan susah lagi seperti kami, Nak.”

“Ma, kuat bapukul dia itu [3].”

“Tak penting itu, Nak. Yang penting ia bisa menafkahimu. Kau bisa membeli baju sepuasnya. Tidakkah kau lelah hidup miskin?”

“Saya tak tahu mana yang lebih baik, Ma. Tapi, sepertinya saya memilih hidup miskin daripada dipukul terus-terusan.”

“Mereka menawarkan 1 hektare ladang jagung, Nak.”

“Ma, Mama tidak sakit hati? Bukannya mereka sering menghina kita, Ma. Kenapa mereka tidak meyukai kita, Ma?”

“….”

“Gina pernah cerita kalau mereka membenci orang miskin, Ma. Katanya, orang-orang miskin seperti kita hanya sia-sia hidup. Lebih baik kita bunuh diri saja agar dunia ini jadi lebih lapang.”

Kau melihat ibumu menarik napas. Hidup miskin terlalu lama menjadikan telinganya kebal dan hatinya tak lagi mampu bersedih. Bagaimana kau bisa mendengarkan semua komentar buruk ketika kepalamu sibuk memikirkan besok kalian tetap makan atau tidak?

***

Maafkan aku Lia, ini satu-satunya cara. Aku mencintaimu, tapi ternyata itu tak mampu menghentikan keinginanku melahap tubuhmu. Aku tak rela bangkot tua itu yang mendapatkanmu. Akulah satu-satunya yang pantas. Satu-satunya laki-laki yang selalu melindungimu. Aku marah ketika tahu ibu mempersiapkanmu untuk Wak Udin. Pantas saja ia merawatmu dengan sangat baik. Wak Udin ingin menjadikanmu istri. Tahukah kau Lia, aku pernah berpikir untuk membunuh laki-laki itu, tapi aku terlalu pengecut. (*)

 

Catatan

cur-pal: permainan petak umpet

bambua: alat dari bambu yang dibunyikan pedagang ikan keliling di Gorontalo

kuat bapukul dia itu: Dia kuat memukul (bahasa Melayu Manado yang banyak dipakai masyarakat di Gorontalo)

 

DARMAWATI MAJID. Lahir di Bone, Sulawesi Selatan, kini tinggal di Gorontalo. Menulis cerpen dan esai. Salah satu emerging writers dalam Ubud Writers and Readers Festival 2018.