Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 19-20 September 2020)

Siapakah Narator Cerita Ini ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Siapakah Narator Cerita Ini ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

KETIKA narator cerita ini tidak punya kisah lagi untuk diceritakan, saya bertanya, “Sudah berapa lama kau jadi narator? Satu kisah saja tak bisa kau ceritakan?” Narator cerita ini menatap saya, keningnya berkerut-kerut, tak tahu apakah ia sedang memikirkan bakal ceritanya atau memikirkan kata-kata saya. Sebatang rokok yang terselip di telinganya bergoyang-goyang. Mungkin itu rokok terakhirnya. Saya jadi kasihan kepadanya. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, saya beranjak keluar. Narator cerita ini tak sedikit pun bertanya hendak ke mana saya.

Rasanya ada warung di sekitar rumahnya. Tinggal belok kiri sampai ujung gang, lalu belok kanan, letaknya tepat di sebelah asrama putri. Sampai ujung gang, saya menengok; warung itu tidak buka. Saya ragu sebentar, apakah mau cari warung lain yang pastinya agak jauh di sekitar jalan besar, atau balik saja. Tiba-tiba, dari dalam asrama putri seorang perempuan muncul. Ia berdiri celingak-celinguk di pinggir jalan. Saat matanya tertumbuk pada saya, ia berseru, “Hai, Musa. Mau ke mana?”

Sebenarnya saya malas berbicara dengan siapa pun. Tapi, karena telanjur, saya jawab saja, “Mau cari rokok. Tapi warungnya tutup.” Perempuan itu menengok ke arah warung. “Digedor saja,” kata dia. Idenya masuk akal. Maksud saya, biar ia yang menggedor pintu warung itu. Maka saya hampiri ia dan berkata, “Coba kamu yang gedor.” Ia tertawa-tawa kecil. Giginya terlihat seperti dadu-dadu mungil, pipinya agak berisi dan ada sedikit jerawat yang membuat wajahnya mirip burger dengan taburan wijen. “Kalau saya bantu kamu, apa upahnya?” katanya. Saya diam sebentar, lalu memutuskan, “Kalau ada upah segala, biar saya yang gedor sendiri.”

“Silakan,” kata dia enteng. Maka mulailah saya menggedor pintu warung. Mula-mula dengan cara sehalus mungkin, sambil menyeru salam. Tapi, karena tak ada jawaban, dan perempuan tadi tampak melirik sambil tertawa-tawa kecil, saya jadi jengkel. Pintu warung saya gedor lebih keras. Saya keraskan pula seruan salam, sampai beberapa orang tetangga melongok dari tembok-tembok halaman rumah mereka. “Orangnya tidak ada!” seru salah seorang tetangga dengan marah. Saat itu kulihat perempuan tadi sudah tak bisa menahan tawa. Ia bersandar di tembok asrama sambil memegang perut. Di sela-sela tawanya, dengan patah-patah ia berkata, “Mau cari rokok saja tidak bisa, apalagi mau cari Tuhan, ha-ha-ha.”

Tuhan? Siapa yang mau cari Tuhan? Seorang perempuan berwajah manis dan kelihatan ramah bisa juga mengejek orang, pikir saya. Tiba-tiba perempuan itu mengubah ekspresinya, seperti aktris-aktris dalam pertunjukan sandiwara. “Iya, kan?” katanya sambil melotot. “Kamu kan yang waktu itu naik ke bukit dalam rangka mencari Tuhan?” Saya mulai berpikir kalau perempuan ini gila. “Jawab!” bentaknya lagi. “Waktu itu kita bertemu. Saya sedang kemah bersama teman-teman. Habis mandi di sungai, saya lihat kamu tertatih-tatih naik ke bukit. Waktu itu handuk saya hilang dan saya yakin kamu yang mengambilnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, cuma ada kamu dan saya, dan tak mungkin saya mencuri handuk saya sendiri. Tapi kamu membantah, kamu bilang dengan sombong ‘Saya Musa. Saya mau naik ke puncak bukit untuk mencari Tuhan!’ Saya pikir waktu itu kamu pasti orang gila, jadi saya segera pergi. Tapi kata-katamu itu menyinggung perasaan saya. Kamu ingat sekarang?”

Ingin sekali saya gampar perempuan ini. Tapi tidak mungkin saya lakukan di gang perumahan. Kalau ia punya rencana berperahu, akan saya bocorkan perahunya supaya ia tenggelam. Tapi, menyadari kalau rencana itu tak mungkin diwujudkan, saya membalik niat. Saya memotivasi diri untuk mencari sisi baik dari situasi ini. Mendadak semangat saya membuncah untuk mendengar lebih lanjut perkataannya. Saya pikir-pikir semangat ini sangat baik. Sebab, perkataan dari orang gila kadang lebih menyenangkan dibanding dari orang waras.

“Aih, iya. Saya ingat sekarang. Waktu itu, terus terang saja, saya terkesima melihatmu. Kamu persis bidadari dalam angan-angan saya.” Si perempuan tampak menahan senyumnya mendengar kata-kata saya. Namun itu hanya sekejap, hal yang membuat saya sempat berpikir bahwa saya sedang berhalusinasi. Selanjutnya ia tampak makin garang, seakan-akan berhadapan dengan mangsa yang nyaris menyerah.

“Tak usah merayu. Saya juga akan selalu ingat, kamulah yang membunuh ular si tukang obat di pasar. Kamu tahu tidak, karena ular itu mati, penelitian saya jadi terhambat. Saya harus mengulang semuanya dari awal. Saya jadi frustrasi dan sampai sekarang saya tidak menyelesaikan kuliah saya, paham? Kamu sudah menghancurkan cita-cita saya!”

Semangat saya yang tadi positif langsung terjun bebas. Perempuan ini, dalam sangkaan saya, berusia sekitar seperempat abad, mungkin juga lebih. Karena itu, saya tidak akan dikira menganiaya bocah jika saya menghajarnya, tidak akan pula dianggap melakukan kekerasan dalam rumah tangga, soalnya saya bukan suaminya. Lagi pula, saya baca di berita-berita, undang-undang perlindungan perempuan belum diresmikan. Terus terang saja, saya tidak mengenalnya. Memang rasanya saya pernah melihatnya, tapi saya yakin tidak pernah berkenalan atau bercakap-cakap dengannya. Soal bagaimana ia tahu nama saya, itu di luar pengetahuan saya. Mungkin ia pernah melihat saya mengisi acara diskusi di kampusnya. Semua pikiran itu mendorong mulut saya memaki.

“Laknat!”

Tampaknya suara saya benar-benar keras, sehingga para tetangga kembali melongokkan kepala dari tembok-tembok halaman rumah mereka. Saya menyesal. Sementara itu, perempuan tadi hanya melongo, kemudian menangis tersedu-sedu. Mula-mula lirih saja suara tangisan itu, tapi lama-lama, seiring dengan makin kuatnya gerutuan dari mulut para tetangga, tangisan itu semakin kencang. Lantas perempuan itu berguling-guling sambil berteriak senyaring-nyaringnya.

Para tetangga segera keluar dari rumah masing-masing. Mereka mengepung saya. Saya lihat benda-benda di tangan mereka; sapu ijuk, sapu lidi, sekop, keranjang, arit, palu, gunting, pacul, korek api, atau wajan. Makin lama, rasanya mereka semakin banyak. Saya tidak tahu kenapa sebanyak ini orang yang mengepung saya. Suara teriakan saya tadi pastinya tidak sampai jauh. Di antara orang-orang yang mengepung saya, tampaklah narator cerita ini. Ia mengacungkan jempolnya kepada saya seakan-akan mau bilang, “Cerita yang bagus, bukan?”

Sebenarnya orang-orang ini tidak melakukan apa-apa kepada saya. Mereka bahkan tidak bertanya-tanya. Mereka hanya berdiri melingkari saya sembari terus menggerutu. Namun, ketika si perempuan yang sudah ditenangkan itu berbincang dengan narator cerita ini, keadaan segera berubah. Saya perhatikan wajahnya memerah, lalu dengan sekuat tenaga ia berteriak, “Dia tukang sihir! Dia mau menyihir saya!” Orang-orang yang mengepung saya menghentikan gerutuan mereka. Saya pikir ini kesempatan untuk menjelaskan masalah sebenarnya. Sayang sekali, narator cerita ini sudah lebih dulu berseru, mengomando orang-orang untuk menghajar saya. Dengan segera saya bergerak ke kiri, menghindar dari posisi tengah. Di antara tubuh orang-orang, terbukalah sebuah celah. Saya menyusup di celah itu dan keluar dari kepungan. Tindakan ini memicu reaksi. Orang-orang segera berhamburan hendak menangkap saya. Dari arah gang bahkan muncul seseorang yang sedang melakukan tugas pengasapan untuk mencegah wabah demam berdarah. Orang itu mengarahkan moncong mesin pengasapnya ke wajah saya. Suara mesin itu memekakkan telinga dan bau asapnya seperti bau mesin feri tua. Tapi tampaknya bagi orang-orang, deru mesin dan asap menambah semangat mereka. Saya merasa seperti serdadu Belanda yang diburu pasukan pribumi. Dalam samar pandang karena asap, saya seperti melihat bambu-bambu runcing diacungkan.

Saya berlari menyusuri gang yang mengarah ke jalan besar. Orang-orang terus mengejar. Narator cerita ini berada di barisan terdepan. Rupanya dalam waktu singkat ia sudah berubah menjadi pemimpin warga. Sepanjang pengejaran, saya lihat banyak lagi orang bergabung; anak-anak muda yang sedang nongkrong di pinggir jalan sambil main game, seorang pegawai negeri, tukang-tukang bangunan, bahkan penjual es tebu. Rasanya seperti masyarakat satu kecamatan mengejar saya.

Di tepi jalan saya lihat sebuah truk. Dengan sekali lompat, saya sudah berada di atas truk yang bersamaan kemudian masuk ke badan jalan dan meluncur kencang. Saya lihat orang-orang terus mengejar. Rupanya sopir truk tidak memperhatikan ada orang yang naik atau ada peristiwa pengejaran di belakangnya. Alhamdulillah, ucap saya, meski saya tak tahu hendak ke mana truk ini.

Di perbatasan kabupaten ada pasar. Truk agak macet di sepanjang jalan depan pasar itu. Saya sedikit cemas orang-orang yang mengejar saya akan menyusul. Dugaan itu sebenarnya kurang masuk akal. Tapi hal-hal yang tidak masuk akal segera masuk akal begitu sudah terjadi. Benar saja, setelah beberapa jauh melewati pasar, di belakang truk saya lihat sebuah truk lain melaju kencang seakan-akan hendak menyusul. Rupanya orang-orang itu juga mencari truk untuk mengejar saya. Bahkan di atas truk itu sekarang saya lihat ada gendang besar, gong, serta kecrekan yang dimainkan bertubi-tubi.

Di satu simpang yang sepi, saya putuskan untuk melompat ketika truk melambat. Saya ingat di sekitar ada jalan lurus menuju pantai. Saya pikir saya bisa bersembunyi di pantai. Saya berlari sekuat tenaga, sementara rombongan pengejar juga turun dari truk dan langsung menyusul. Musik bertalu-talu. Sesekali saya menengok dan melihat narator cerita ini masih berada di barisan paling depan.

Di tepi laut saya lihat ada sebuah feri. Seorang lelaki tua bersiap menghidupkan mesin. Segera saya berlari ke arahnya. Angin bergaram menerpa muka. Ada juga kelepak elang menyinggung muram. Tanpa izin, saya melompat ke feri itu. Mesin menyala dan feri meluncur deras ke tengah laut. Saya lihat para pengejar berseru-seru di tepi laut. Sekarang mereka tak mungkin lagi mengejar saya. Di permukaan laut tampak garis yang dalam bekas luncuran feri, membuat laut tampak seperti terbelah. Alhamdulillah, ucap saya. Lalu saya berpaling ke lelaki tua yang sedang mengendalikan feri. Saya sedikit heran kenapa ia membiarkan saya naik ke ferinya.

“Maaf, Pak. Saya naik tanpa izin, soalnya.”

“Oh, tidak apa-apa,” kata dia. “Justru saya senang. Sungguh maha murah alam semesta mau mengirimkan seseorang kepada saya.” Dia menjulurkan tangan kirinya, mengajak bersalaman sambil berkata, “Saya Plato.”

Saya menjabat tangan Pak Plato. Ia tertawa, dan sejak saat itu ia terus berkata-kata. Di awal-awal saya masih bisa menangkap perkataannya, bahwa ia senang atas kehadiran saya. Ia bahkan menyangka orang-orang yang mengejar saya adalah para pengantar yang mengiringi saya. Lalu ia bercerita tentang sebuah gili tempat tinggalnya sekaligus tempat ia hendak menjalankan usaha dan cita-citanya. Ke gili itu kami bakal menuju. Ketika ia mulai melontarkan ide-idenya, saya hilang fokus. Di tengah-tengah laut saya merasa seperti bayi dalam keranjang yang dihanyutkan ibunya.

Sampai di gili, Pak Plato membawa saya ke sebuah pondok kayu beratap ijuk. Ia memberi saya baju bersih untuk ganti. Selama beberapa hari tinggal di sana, saya mulai bisa menangkap rencana-rencana Pak Plato. Kami tidak melakukan banyak hal. Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdiskusi. Pada hari kelima, Pak Plato meminta saya menuliskan sepuluh butir hasil diskusi. Lalu, dengan keterampilan seorang seniman ulung, ia menuliskan kembali butir-butir itu dengan teknik cukil di atas selembar kayu. Hasil kerjanya tak kalah, bahkan lebih bagus, dari hasil kerja anak-anak punk yang pernah saya lihat melakukan lokakarya di kota.

Esoknya kami meninggalkan pondok, menuju permukiman yang terletak di tengah gili.

Kami disambut hangat. Ternyata Pak Plato memang tokoh di kawasan itu. Ia hendak menggantung hasil karya cukil kayu berisi sepuluh butir hasil diskusi di gerbang permukiman. Saya yang diminta melaksanakannya. Orang-orang melihat dengan kagum, bahkan ada yang membacakan butir-butir hasil diskusi keras-keras seakan-akan sedang membaca sebuah pengumuman. Entah kenapa saya merasa ada rasa senang melihat semua itu. Beberapa hari tinggal di gili, saya membantu Pak Plato mengusahakan penyulingan air payau menjadi air tawar. Soal makan dan minum sama sekali bukan persoalan. Setiap hari warga seperti sudah punya giliran mengantar makanan buat Pak Plato. Saya merasa menjadi tamu kehormatan. Sesekali ada pedagang yang datang dari seberang. Mereka menukar barang-barang yang mereka bawa dengan hasil-hasil perkebunan dan perburuan.

Lantas saya mulai punya kesibukan baru, yaitu bercerita. Pada mulanya karena ada yang bertanya soal butir-butir hasil diskusi, lama-lama melebar dan tanpa saya sadar kisah-kisah fiksi juga saya ceritakan. Sebab, rasanya banyak fiksi yang berhubungan erat dengan butir-butir itu.

Mungkin karena makin akrab, saya merasa pernah melihat mereka sebelumnya. Setelah saya pikir-pikir, baru saya sadari kalau orang-orang itu mirip orang-orang di perumahan tempat si narator cerita ini tinggal, yakni orang-orang yang telah mengejar-ngejar saya, sehingga saya terdampar di gili ini. Bahkan seorang perempuan muda yang paling sering mengantar makanan dan kerap saya lihat jalan menunduk jika berpapasan dengan saya sehabis mandi, mirip sekali dengan perempuan yang telah menuduh saya tukang sihir. Tapi, karena makin banyak yang menuntut cerita dari saya dan bersamaan dengan itu makin banyak pula hal yang harus saya kerjakan bersama Pak Plato, saya jadi tak menghiraukannya. Sesungguhnya, semua ini lama-lama membikin saya bosan.

Suatu hari, seseorang masuk ke pondok saya. Saya terkejut bukan main karena orang itu tiada lain adalah narator cerita ini. Ia menuntut saya menceritakan sebuah kisah. Karena takjub, saya diam saja. Saya ambil rokok yang tinggal sebatang dan menyelipkannya di telinga. Saya berpikir sampai kening saya berkerut dan tersadar kalau saya benar-benar tak punya kisah lagi untuk diceritakan. Melihat saya diam saja, narator cerita ini langsung bertanya, “Sudah berapa lama kau jadi narator? Satu kisah saja tak bisa kau ceritakan?” Ia berkata seperti itu sambil mengamati rokok di telinga saya yang terasa bergoyang-goyang. Tampak dari roman mukanya suatu perasaan kasihan. Lantas, tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia segera beranjak keluar. Tidak sedikit pun saya bertanya, mau ke mana ia? ***

 

Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.