Cerpen Omega (Suara Merdeka, 13 September 2020)

Sepatu ilustrasi Suara Merdeka (1)
                                      Sepatu ilustrasi Suara Merdeka

“Seseorang mengajakku menikah, Ren.”

Aku melihat dia bercerita dengan wajah sangat bahagia. Ada rasa berat di dalam hati, tetapi aku juga merasa bahagia.

“Apa benar kamu akan menikah? Aku tidak bisa membayangkan. Ha-ha-ha.” Aku membohongi diri dalam tawaku.

Aku sudah bersama dia lebih dari tujuh tahun. Aku selalu menghapus air matanya saat dia menangis. Aku juga selalu bersama dia saat dia bahagia. Namun waktu kebersamaan kami kalah oleh lelaki baru yang datang dua bulan lalu, yang telah menyingkirkan aku dan akan segera menikahi dia.

“Dia perjaka lo. Usianya selisih delapan tahun dariku. Wah, apa ndak hebat tuh dia mau sama aku. Bukan orang sini sih. Tapi nanti aku segera mengenalkan padamu. Mau ya?”

Bibirnya tak berhenti tersenyum saat dia bercerita tentang lelaki itu.

“Dia akan mengunjungi aku bulan depan lo untuk membahas pernikahan kami. Wah, ndak sabar rasanya.” Matanya berbinar.

Kebahagiaannya kala itu membuat hatiku sakit. Namun aku tidak berdaya. Aku tak bisa mengungkapkan perasaan yang lama kupendam padanya. Aku toh hanya sahabatnya.

***

Aku berlari menemui setelah dia menelepon. Aku mencari dia di sudut kantin tempatnya bekerja. Aku melihat dia tertunduk sambil menghapus air mata yang terus mengucur dari matanya selama menungguku.

“Ada masalah apalagi?”

“Sandi pergi dari rumah, Ren. Dia marah mendengar aku akan menikah. Aku sudah menelepon ayahnya, tapi Sandi tidak ada di rumahnya.”

Sandi anak satu-satunya, hasil pernikahan pertamanya. Setelah dia bercerai, sang anak tinggal bersamanya. Ini bukan kali pertama dia menghadapi kepergian sang anak karena perkara serupa. Sandi selalu tidak setuju setiap kali ada orang ingin menikahi sang ibu. Dia mewujudkan sikap protes lewat minggat. Namun, bersyukurlah Sandi, masih bisa menunjukkan protes kepada orang yang dia cintai. Tidak dengan aku.

“Kita tahu kan biasanya ke mana anak itu kalau tidak ke rumah ayahnya. Sudahlah, nanti sore aku yakin dia pulang.” Aku kembali meyakinkan dia kali ini.

“Tapi sudah kubilang padanya, laki-laki ini benar-benar mencintaiku. Dia berjanji tidak menyakiti aku. Tapi tetap saja Sandi ndak mau terima penjelasanku. Ah, Sandi tidak adil padaku. Ketika ayahnya menikah, dia biasa aja.”

“Apa ndak terlalu buru-buru kamu meminta izin pada anakmu untuk menikah?”

“Ah…, seharusnya dia paham aku butuh orang lain yang mencintaiku. Dia juga udah dewasa kan, Ren. Dia juga punya pacar, tapi aku malah ndak boleh menikah. Kadang-kadang aku ndak mengerti jalan pikiran anak itu.”

“Aku juga ndak pernah mengerti jalan pikiranmu,” batinku.

***

Dua minggu setelah tangisan itu, aku menerima telepon dari dia. Sekarang dia jarang mengabari aku. Hanya sesekali saat benar-benar butuh sesuatu.

“Ren, anter aku beli sepatu yuk.”

Mendengar suaranya yang riang dari seberang sana, aku tahu Sandi sudah pulang ke rumah. Ibu dan anak itu sudah berbaikan. Aku lega.

“Iya, nanti aku jemput habis kerja ya. Paling hanya dua puluh menit kan nyampek situ?” Tak pernah sekali pun aku bisa menolak apa pun permintaannya.

“Jangan terlambat ya,” tukasnya mengakhiri percakapan.

Setelah waktu kerja di kantor usai, sesuai dengan janji, aku menjemput dia tepat pukul 17.25. Terlambat lima menit dari janjiku. Dia sudah berdiri menungguku di depan area parkir mobil. Tampak wajahnya yang ayu, tetapi menunjukkan ketidaksabaran.

“Maafin ya. Kena macet dikit tadi.” Aku membuka kaca mobil pintu depan dan membiarkan dia masuk.

“Kan… terlambat! Apa kubilang tadi, jangan terlambat.”

“Telat lima menit nih,” kataku sambil melirik jam tangan hadiah dari dia saat aku bertambah usia.

Dengan patuh, aku mengikuti tangannya yang menunjuk ke arah sebuah mal yang memiliki gerai sepatu langganan kami. Mukanya yang cemberut karena keterlambatanku sudah berubah sejak roda mobilku mendekati tempat parkir mal itu.

“Tumben, kenapa getol banget mau beli sepatu lagi?”

“Aku mau melihat-lihat, kalau ada peep shoes yang cocok buat acaraku dan dia nanti. Kamu tahu kan, sepatuku kebanyakan sneakers dan bot.”

“Hmm…, sudah kamu pikir matang rencana ini? Kamu baru mengenal dia kan?”

“Ah…, sudahlah. Jangan selalu berburuk sangka begitu. Aku sudah memutuskan menikah dengan dia. Aku ingin bahagia dengan menikah. Jadi jangan bikin aku ragu-ragu lagi dong,” jawabnya ketus.

“Dasar! Apa dengan menikah bisa menentukan kebahagiaanmu?” umpatku dalam hati.

Percakapan kami berhenti seiring roda mobil berhenti di parkiran lantai dua mal itu. Kami keluar dan menuju ke toko sepatu yang dia inginkan. Sebelumnya, saat kami pergi mencari sepatu, dia berjalan di sampingku. Kali ini pilihannya berbeda. Dia beberapa kali mencoba peep shoes yang baru kali ini akan dia miliki. Aku khatam ukuran dan warna sepatunya; nomor 38 dan kebanyakan berwarna merah. Saat ini pun dia sedang menyusuri barisan sepatu yang berjejer rapi, memilih sepatu berwarna merah. Dia berjalan sendirian dan aku hanya melihat dari bangku untuk mencoba sepatu. Menunggu dia memilih.

“Ren, ini bagus ndak di kakiku?” Dia memanggil sembari menunjukkan kakinya yang terbalut peep shoes berwarna merah marun dengan diamon di bagian tengah depan, setinggi 11 sentimeter. Dia memiringkan ke kanan dan ke kiri.

“Lumayan sih. Warna dan aksesorinya bagus kok. Kamu pilih itu?”

“Tunggu dulu, aku masih mau melihat yang lain lagi. Pegang dulu ya yang ini.”

Aku lagi-lagi tak bisa menolak keinginannya. Aku melihat dia berjalan lagi, berkeliling memilih sepatu di barisan yang sama. Tak lama kemudian, dia berusaha mencari-cari sesuatu di dalam tote bag. Dia meraih ponsel. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang dia obrolkan di telepon seluler itu. Aku hanya melihat raut wajahnya berubah secepat itu. Aku meletakkan sepatu yang kupangku tadi begitu saja dan mendekatinya.

“Kenapa?”

“Dia tidak jadi ke sini bulan depan. Itu berarti kami belum bisa membahas pernikahan.” Wajahnya tertunduk lesu.

“Sudahlah, kalau tidak bulan depan pasti bulan depan lagi kan?” Aku mengelus pundaknya, berusaha menenangkan.

Sebenarnya itulah kesempatanku untuk memprovokasi agar dia berubah pikiran. Setidaknya, dia akan berpikir lagi untuk tidak menikah saja. Namun aku tidak terlahir sebagai pengecut.

Kami meninggalkan gerai sepatu itu tanpa hasil apa pun. Hatiku bercampur aduk antara senang dan sedih melihat wajahnya—yang selalu terbayang di wajahku—sedih serupa itu. Rasanya aku ingin segera bertemu lelaki itu dan mencengkeram kerah bajunya, mengancam dia untuk tidak bermain-main dengan hati perempuan yang kusayangi yang sedang berjalan di sampingku ini.

***

Kini, lima bulan setelah laki-laki itu gagal melunasi janji untuk datang, hari-hari berjalan seperti biasa. Dia kembali jarang menghubungiku. Aku paham keadaan ini; dia dan lelaki itu sudah kembali berbaikan. Entah dia termakan janji manis seperti apalagi, itu tidak kuketahui. Aku pun tidak berusaha mencari tahu. Dalam pikiranku, jika dia tidak begitu gila mencari aku, berarti baik-baik saja. Hingga aku mendapat telepon pagi-pagi dari dia.

“Ren, Minggu depan kosongkan jadwalmu ya. Ikut aku ke Malang. Ambillah cuti dua hari sampai Selasa. Aku akan menikah di Malang.”

Suaranya yang khas menghancurkan pagiku. Aku tidak bisa menjawab apa pun. Aku telah jatuh cinta dan pagi itu aku patah hati.

“Ren! Ren! Halo, halo!”

***

“Ayolah, Ren. Kamu kan sahabatku. Apa kamu tega tidak mengikuti acara nikahanku. Tega banget sih kamu,” rengek dia saat waktu istirahat di kantin kantorku.

“Duh, maaf. Aku tidak mendapatkan izin cuti karena mendadak. Nanti aku datang ke rumahmu hari Jumat saja ya, sebelum kamu berangkat.” Aku berbohong. Baru kali ini aku sanggup menolak permintaannya. Aku tidak meminta izin ke kantor untuk mengantar dia menikah. Aku tidak ingin kebahagiaannya menyakiti hatiku. Biarlah aku egoistik sebagai sahabat.

***

Aku berjanji datang hari Jumat, tetapi kuingkari. Aku tidak datang hari itu. Aku membiarkan dia menganggap aku berbohong pun, aku tak peduli. Aku tak bisa lagi menahan raganya, apalagi perasaannya. Aku hanya berdoa, semoga dia bahagia.

Hari ini, Minggu, hari bahagianya. Aku merayakannya. Aku tidak datang ke tempat dia menikah, tetapi aku datang ke rumahnya. Aku tidak datang sesuai dengan janjiku, tetapi tetap kupenuhi. Aku datang ke rumahnya, tepat pada hari pernikahannya. Dan, aku masih sahabatnya.

Aku membawa bingkisan yang kelak saat dia buka kuharap dia suka. Aku menitipkan bingkisan itu kepada penjaga rumahnya. Kotak merah berisi peep shoes berwarna merah marun dengan hiasan diamon di bagian tengah depan, berukuran 38 setinggi 11 sentimeter. Aku menyelipkan kartu tanda hatiku bahagia, walau aku terluka.

Selamat menempuh hidup baru,

Sahabatku.

Yours Renita (28)

 

Karangrayung, Sabtu 29 Agustus 2020: 23.52

Berbahagialah; membuka hati untuk jatuh cinta lagi adalah anugerah.

 

Omega, guru SMP dr Soetomo Karangrayung, Grobogan, tinggal di Karangrayung