Cerpen Sinta Yudisia (Republika, 13 September 2020)

Masjid Kecil di Rumah ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
           Masjid Kecil di Rumah ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Bila hujan deras dan titik-titik air menempel kuat di kaca jendela, aku dekatkan kepala ke lapisan tembus pandang. Menempelkan hidungku ke sana. Bermain-main dengan uap udara yang keluar dari rongga pernapasan, lalu terbentuk layar kabut seperti sebuah papan tulis putih. Aku bisa menuliskan huruf-huruf dan gambar dengan ujung telunjuk. Membentuk gambar yang sama berulang-ulang.

Jendela rumahku berhadapan dengan gang lebar di kampung, tepat di seberang bangunan besar dengan kubah hijau. Kubahnya sewarna daun jeruk atau daun pepaya yang sudah tua, tapi entah mengapa di mataku ia tampak menyala-nyala. Terutama ketika hari memasuki senja dan kubah itu seperti memotong langit yang berwarna keemasan. Persis sepotong pisau membagi agar-agar.

Aku senang bermain ke kubah hijau. Bertemu teman-teman kampung atau orang-orang dari berbagai daerah yang menumpang sembahyang. Bertemu para pedagang dari seribu satu macam barang yang menumpang istirahat di sana: penjual sapu keliling, penjual siomay, bakso pikul, tukang sol, penjual balon.

Kadang, anak-anak diberikan jatah jualan sisa hari itu bila hari sudah memasuki Maghrib. Aku sering pulang membawa seplastik sempol atau pentol: tak banyak, hanya beberapa biji. Rasanya senang sekali. Belum lagi, Pak Tua penjaga kubah hijau sering mengumpulkan kami dan bercerita kisah nabi-nabi.

“Jangan ke sana!” kata ibu. “Sekarang banyak orang mati kena wabah.”

“Wabah itu apa?” kataku.

“Kalau kamu kena batuk pilek nggak sembuh-sembuh. Makanya jangan rewel! Habiskan makanmu.”

Ibu akan marah besar kalau tahu aku ke sana bersama teman-teman. Tempo hari, karena sudah lama terpenjara di rumah, aku nekat main ke sana. Pulang-pulang, seluruh tubuhku diguyur air dingin dan dibasuh dengan sabun hingga lubang hidung dan mataku perih. Ibu terlihat panik.

“Kamu mau mati? Kamu nggak tahu kalau muazin sudah wafat karena wabah? Jangan coba-coba ke sana lagi!”

Oh, pantas, pikirku. Suara merdu dari kubah hijau itu selama beberapa pekan ini menghilang. Digantikan suara abang-abang tanggung yang baru akil baligh.

Sekarang kubah hijau itu sepi. Tempo hari, waktu aku nekat main ke sana bers \ama teman-teman pun, tak ada keramaian yang dulu. Hanya satu-dua orang yang masih hadir, dengan muka tertutup kain, bersegera sembahyang lalu pergi. Tidak ada salam-salaman. Tidak ada cerita-cerita antarpengunjung. Bagi-bagi makanan pada waktu Maghrib sudah tak ada lagi, pun cerita nabi-nabi sudah dihentikan oleh Pak Tua yang biasa kutemui.

Apakah Pak Tua itu ikut meninggal karena wabah, seperti si muazin? Aku belum bertanya kepada ibu.

***

“Aku sembahyang di mana?”

“Di mana saja,” kata ibuku sewot.

Ia biasa marah-marah, memang. Apalagi di musim … apa ya? Oh ya, wabah.

“Sembahyang di mana aja. Asal jangan di kamar mandi dan dapur!”

“Tapi, aku pingin sembahyang di sana. Di kubah hijau.”

“Kamu mau mati?” semprot ibu. Ia sibuk menguleni adonan.

Sehari-hari, ibu menjual donat kentang yang enak, meski ukurannya tak besar. Harganya murah. Ibu menjualnya ke warung-warung dan sekolah-sekolah. Sekarang, dagangan ibu sangat menyusut. Itu membuatnya makin mudah marah. Kalau aku bertanya sedikit, ibu langsung membentak.

Yah, meski kubah hijau tak ada azan merdu, aku tetap harus sembahyang kan?

Aku menggelar sajadah di dekat pintu ruang tamu. Atau di gang kecil depan kamar. Atau di kamar ibu yang penuh tumpukan cucian kering dan belum dilipat, bercampur dengan timbunan terigu. Atau di kamar kakak-kakakku yang baunya luar biasa menyesakkan. Mereka pun biasanya akan mengusirku kalau lama-lama bersembahyang.

Cepetan! Kamu ini lama banget sembahyangnya. Gantian sama yang lain!”

Sejak kubah hijau ditutup—kata ibu, entah benar atau tidak—aku sering di rumah waktu azan tiba. Dulu, setiap kali azan berkumandang, aku langsung menyambar sarung sajadah dan lari ke kubah hijau. Berputar-putar mengelilingi pekarangan, mencoba satu demi satu keran air, melompat-lompat di atas keset empuk, lalu sembahyang. Bukan di aula utama kubah hijau, melainkan di ruang samping yang memiliki kipas angin besar dan jendela lebar. Karpetnya juga lebih empuk di situ. Kata Pak Tua si pencerita nabi-nabi, lebih baik aku sembahyang di ruang samping, bukan ruang utama masjid. Lebih enak, katanya.

Kubah hijau punya ruangan besar untuk menampung orang-orang sembahyang hingga puluhan orang. Aku senang mengamati orang-orang sembahyang.

Namun, aku tak tahan ikut sembahyang lama-lama. Aku pasti segera menoleh bila ada suara. Suara apa saja. Suara orang yang baru bergabung sembahyang karena terlambat masuk waktu berjamaah. Berisik. Gesekan-gesekan kaki yang tergesa-gesa, suara tubuh yang berlarian masuk ke barisan. Aku pasti terganggu, pikiran teralihkan, dan mata berpaling ke asal gerakan.

Meski pikiran suka meloncat ke mana-mana, aku suka berada di kubah hijau. Tenang. Dingin. Banyak yang bisa diamati. Walau banyak yang membuatku gampang berpindah perhatian ke sana-sini.

Sampai ibu melarangku pergi ke kubah hijau. Aku harus tetap di rumah. Setidaknya, selama beberapa waktu hingga orang-orang cukup berani menanggalkan penutup muka.

***

Tempat sembahyang di rumah tidak sama seperti di kubah hijau. Sempit.

Sekadar menghamparkan sajadah saja kesulitan. Ada kursi-kursi, meja, rak-rak buku, barang dagangan ibu, juga barang dagangan ayah yang berjualan macam-macam. Ayahku menjual segala macam barang yang bisa dijual. Kata ibu, ayah agen dunia: menjual apa pun yang diminati. Kadang jualan bawang merah, kadang bumbu pecel, kadang kerupuk. Pernah juga jualan kaus kaki, kaus olahraga. Sekarang ayah jualan kain penutup muka yang dipakai orang-orang.

Semakin sempit saja rumahku.

“Aku sembahyang di sini ya?” Aku menggelar sajadah.

“Agak sana!” kata ibu. “Itu mau Ibu pakai buat masak.”

“Donat?” tanyaku.

“Bukan! Ibu sekarang jualan sambal. Lebih untung,” gerutu ibu.

Aku berpindah.

“Aku sembahyang di sini, ya?” Aku menggelar sajadah.

“Jangan di situ, Nak,” ayahku, yang penyabar berkata. “Terlalu sempit. Nanti bawang merahnya hancur kamu injak.”

Aku berpindah.

“Aku di sini, ya?” kataku, menggelar sajadah.

Kakak perempuanku, yang terjebak di rumah karena sekolahnya juga tutup karena wabah, menegur.

Cepetan kalau shalat di situ! Aku mau bolak-balik, nyuci baju sama nyuci piring. Aku lagi sekolah ini.”

“Sekolah kok di rumah,” gumamku.

“Ini sekolah daring, tahu!” kata kakakku.

“Aku boleh sembahyang di sini?” tanyaku lagi.

“Ya, sana. Kamu shalat apa sih jam segini?” tanya kakakku.

“Dhuha. Pas matahari naik.”

“Oh,” kakakku ambil napas. “Berapa rakaat?”

“Delapan,” kataku.

“Apa? Dua rakaat aja cukup!” bentaknya.

“Tapi, delapan itu bagus,” kataku.

“Kalau kamu mau shalat di depan kamar, di gang itu, cukup dua rakaat saja! Jangan lama-lama. Buat wira-wiri!”

Aku diam. Menggelar sajadah, mulai berdoa.

Tapi, sudah kuberi tahu kan, aku ini cepat teralihkan kalau ada suara gemerisik dan gerakan lain di sekelilingku? Meski mencoba fokus di sajadah, aku dengar suara-suara orang di sekelilingku. Tak bisa pikiranku ini hanya tertuju di bacaan sembahyang dan doa-doa yang kulafazkan.

Kudengar percakapan ibu ayah.

“Masjid ditutup lama. Nur nggak bisa main ke sana,” kata ayah.

“Daripada kena wabah,” sahut ibuku.

“Tapi, masjid satu-satunya yang mau nerima dia. Anak itu punya masalah. Ditolak terus ketika sekolah. Nggak bisa diam. Nggak cepat nangkap pelajaran.”

“Ya, gimana lagi?”

“Aku pingin dia bisa sekolah…”

“Sekolah buat anak seperti Nur mahal, Pak! Kita nggak akan bisa bayar. Sekarang, di rumah aja kupikir sekolah si Dian libur. Malah harus pakai internet yang butuh duit juga. Sekolah di rumah kok malah-mahal.”

Lho? Kok begitu? Pikiranku tidak tertuju ke sajadah, tidak juga ke Tuhan.

“Semoga wabah segera selesai,” kata ayah. Ibu mengaminkan.

Aku senang kalau wabah selesai. Artinya, bisa kembali ke kubah hijau dan mendengar Pak Tua bercerita nabi-nabi. Tapi, jujur saja, aku mulai suka sembahyang di rumah. Dulu, kupikir tempat sembahyang hanya di kubah hijau. Sekarang aku baru sadar, kalau di rumahku yang sempit dan sesak bisa dipakai buat sembahyang. Bisa di mana-mana. Di ruang tamu. Di kamar, di depan gang. Asal jangan di dapur dan kamar mandi.

Aku baru tahu kalau seluruh isi rumah ini adalah masjid seperti kubah hijau. Itu yang aku suka dari rumahku kini. Rumahku juga masjid. Semua sudutnya bisa dipakai sembahyang. Ah, mengapa tidak dari dulu-dulu semua bagian rumahku kupakai buat sembahyang? Tahu begini, aku tidak hanya akan menggelar sajadah di kubah hijau. ■

 

Era Pandemi – Surabaya, Juli 2020

Sinta Yudisia adalah penulis dan psikolog. Akun Instagram-nya @sintayudisia dan Twitter-nya @penasinta. Aktif menulis blog juga di http://sintayudisia.wordpress.com