Cerpen Pangerang P. Muda (Koran Tempo, 12-13 September 2020)

Kitab Amanah ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
                   Kitab Amanah ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

JAUH masa sebelum buyut kalian uzur, dia sudah memberikan amanah kepada saya untuk menyusun sebuah kitab, yang awalnya dia inginkan berbentuk sulalah. Tapi saya bilang itu terlalu sulit karena runtun kekerabatan yang sudah sangat panjang. Ketika itu, usia saya masih belia dan masih suka menulis cerita. Kami lalu berkompromi, dan dia setuju saya menuliskan hulu kisahnya saja. Namun tidak saja hingga buyut kalian itu berpulang, kitab yang dia amanahkan tak tunai juga saya anggit. Bahkan jauh setelahnya, hingga sekarang, dan itu kemudian menjadi sesal yang tak usai-usai menggerogoti usia tua saya.

Tak lekang-lekang dari kenang, dan itu juga bagian dari sesal tadi, tatkala para kerabat bertafakur mengelilingi ringkih raga buyut kalian, yang telentang geming. Hela-lepas napasnya tinggal satu-satu. Dari sekian cucunya, saya yang dipanggil mendekat, dan di situ kali terakhir dia meminta saya membangatkan menulis kitab itu.

Sebenarnya, sudah ada bagian dari kitab itu yang saya tulis. Sebagian lainnya pernah pula saya ceritakan kepada kalian. Bagian demi bagian itu belum tersusun runtut, belum pula mewujud kitab. Betapa kesibukan telah membuat saya abai pada amanah buyut kalian itu.

Jadi, sekarang saya ingin meneruskan amanah itu kepada kalian. Coba pahami yang pernah ditekankan buyut kalian. Dia berpesan, “Bila tidak ditulis dalam sebuah kitab, kisah itu bisa punah. Kalaupun tetap dituturkan turun-temurun secara lisan, bisa pula berkembang dan bercampur mitos, lalu malah disangka dongeng belaka. Dalam sebuah kitab, kemurnian kisah itu bisa terjaga dan mudah diwariskan kepada keturunan kalian.”

Coba kalian baca bagian yang sudah saya tulis ini: Tikar berbulu berwarna hijau cerah itu ia hamparkan di atas pasir, tepat pada garis yang mengantarai dengan tepi air. Ia naik di atasnya, lalu duduk bersila. Tikar itu kemudian bergerak pelan di atas permukaan air, menjauhi pantai, menuju ke tengah laut. Semakin jauh berjarak dengan tempat berdiri orang-orang yang ada di pantai, terlihat tikar yang ia duduki itu berubah wujud menjadi sebuah perahu. Mula-mula hanya perahu kecil, seukuran sampan, dan setiap geraknya menjauh, ukuran perahu terlihat membesar menjadi sedikit melebihi besar perahu-perahu pencari ikan milik nelayan di kampung itu. Semakin jauh lagi, perahu itu terus pula membesar, terus membesar hingga menjadi bahtera raksasa.

Orang-orang yang ada di pantai menganga takjub. Mereka terus berdiri menatap gerak, menjauh bahtera besar itu menuju tepi langit yang sudah memerah-kesumba. Saat gelap malam turun merangkup pantai, wujud bahtera itu hanya bisa ditandai dalam keredep serupa sekumpulan kunang-kunang, yang kian lama kian mengabur, sampai mereka yang ada di pantai tak bisa lagi melihatnya….

Buyut kalian pernah bercerita, “Ia pergi dengan cara yang berkebalikan ketika datang. Sama dengan kedatangannya yang entah dari pulau mana, juga tidak ada yang tahu ia menuju ke mana. Dan sejak pergi, tak pernah lagi ada kabarnya. Makanya orang-orang meyakini, sejak pergi itu, beliau sebenarnya telah moksa.” Merujuk pada cerita itulah bagian tadi saya tulis.

Kalian tentu ingat bagian yang pernah saya ceritakan. Bagian itu sudah beberapa kali saya ceritakan meski kerap tersela karena ada saja kesibukan kalian. Saya hendak menceritakannya lagi. Jangan lagi ada yang menyela. Coba kalian lebih khusyuk mendengarnya sampai selesai. Saya khawatir ini kali terakhir pula saya menceritakannya kepada kalian. Berharap generasi belakang lebih suka membacanya. Kalau sudah dituliskan dalam sebuah kitab, saya imbuhkan bahasa pemikat selayaknya sebuah cerita. Tapi inti kisahnya tetap sebagaimana kejadiannya; sebagaimana yang pernah diceritakan buyut kalian kepada saya, sebagaimana pula pernah dia dengar dari orang-orang tuanya, dan seterusnya yang dituturkan secara berlapis-lapis. Entah sudah runtun kekerabatan ke berapa dari atas. Nah, kalian simaklah kembali kisahnya:

Pada subuh itu, anak-anak yang sedang terkantuk-kantuk menemani orang tuanya sontak melonjak girang begitu melihat ratusan titik cahaya berkelap-kelip, seakan sekumpulan kunang-kunang bergerak dari tengah laut menuju ke tempat mereka. Berbarengan kemudian mulainya terang tanah, kelap-kelip cahaya itu padam satu demi satu, dan semakin tanah terang, wujud sebenarnya pun mulai kelihatan. Ternyata itu sebuah perahu yang sangat besar, bergerak mendekat ke pantai.

Bapak-bapak yang ada di pantai malah cemas begitu tahu yang datang itu ternyata sebuah bahtera yang mahabesar. Mereka segera beranjak dari sisi perahu masing-masing, berkumpul seperti merapatkan barisan, menghadap ke arah laut seraya membuncah cemas menatap kedatangan perahu raksasa itu. Mak-mak yang sebelumnya membantu memindahkan ikan-ikan hasil tangkapan dari perut perahu-perahu mereka ke dalam ember, ikut pula berbuat serupa. Sedangkan anak-anak dengan riangnya tetap saja melonjak-lonjak senang, menguapkan kantuk mereka ke dalam aroma garam dari laut seraya melambai-lambaikan tangan.

Tidak semua anak-anak dusun kuat bangun di subuh hari untuk menjemput bapak-bapak mereka pulang dari melaut. Yang tukang tidur, meneruskan saja tidurnya di rumah, dan kelak mereka menyesal ketika teman-temannya yang melihat kejadian itu bercerita: “Seperti sebuah mainan yang besar sekali, dipenuhi lampu berkelip-kelip, datang dari tengah laut, menuju ke pantai kita….”

“Untuk apa perahu besar itu datang ke kampung kita?” cetus itu terlontar dari bapak-bapak. “Jangan-jangan, ini sebuah serangan?”

Demikian megah dan besar perahu itu sampai ada yang bilang, jika sudah merapat, sepanjang pantai akan ditutupnya. Awaknya tentu ratusan. Jadi, bila memang serangan, betapa sulit dilawan.

Cemas orang-orang tua yang ada di pantai justru kemudian berubah takjub, karena makin dekat, ukuran perahu itu malah terlihat menyusut. Semakin mendekat, semakin pula mengecil, bahkan menjadi lebih kecil dari perahu-perahu pencari ikan milik mereka. Dan dengung suara orang-orang yang sebelumnya memenuhi pantai berubah hening saat di atas perahu kecil seukuran sampan yang terus mendekat itu, terlihat hanya ada seorang duduk dengan kepala tertunduk.

Ia seorang laki-laki. Usianya sepantaran usia rata-rata bapak-bapak yang ada di pantai itu. Kepalanya dililit kain putih. Pakaiannya pun putih. Tangan kirinya tidak terlihat, terlindung dinding perahu. Tangan kanannya terangkat hingga batas dadanya, dan nampak memegang sesuatu. Tidak terlihat ada gerak mendayung. Sampannya bergerak sendiri, bisa jadi cuma terdorong gerak ombak, atau embus angin.

Ketika sudah sangat dekat, lebih dekat dari jarak yang biasa anak-anak hasilkan saat bermain lempar-lemparan batu meniti di atas permukaan air laut, keajaiban susulan terlihat lagi: laki-laki itu hanya bersila di atas tikar berwarna hijau cerah. Tikar yang didudukinya itulah yang kemudian meluncur naik ke atas pasir pantai.

Laki-laki itu lalu berdiri, menjumput tikar yang tadi ia duduki, dan melipatnya menjadi empat bagian memanjang. Yang mendekat terlambat menyadari, tikar yang tadi diduduki orang yang baru datang itu berbeda dengan tikar daun pandan kering yang biasa mak-mak anyam. Itu hanya kain berbulu agak tebal, yang ia sampirkan ke pundaknya. Aneh, atau ajaib, karena kain itu tidak terlihat basah.

Raut mukanya yang bersih, senyum teduh, menatap santun ke wajah-wajah heran di depannya, sebelum mengucap, “Assalamu’alaikum.”

***

KETIKA buyut kalian baru meninggal, sebenarnya saya sudah sempatkan pula menulis bagian akhirnya. Saya berkeliling dulu ke beberapa kerabat yang bisa saya jangkau untuk konfirmasi, tapi mereka abai dan sepertinya menganggap kitab seperti itu tidak terlalu penting. Maka, mau tidak mau, pada bagian ini saya sedikit membuat tafsiran sendiri, dan tentu tetap merunut pada cerita-cerita buyut kalian. Coba baca bagian yang saya maksudkan ini: Kain putih yang melilit kepalanya itulah yang kemudian kita kenal di sini sebagai serban. Yang semula disangka kalung, yang terangkai dari biji-bijian entah apa, dan hampir setiap saat jemarinya terus menggelinding di dalam ikatannya. Itulah yang kemudian kita kenal di sini sebagai tasbih. Dan tikar berbulu yang ditumpanginya ketika datang maupun pergi, yang selalu pula disampirkan di bahunya, itulah yang kemudian kita kenal di sini sebagai sajadah.

Dan di benak tua saya ini, sudah ada pula konsep kalimat penutup kitab itu, tapi tak kuat lagi saya menuliskannya. Nah, ambillah alat tulis, catat saya imlakan: Tidak bisa dimungkiri, ia serupa wali. Sama dengan kedatangannya untuk menyebar agama, demikian pula kepergiannya ke tempat lain dengan maksud yang sama. Sajadahnya yang ia jadikan sebagai bahtera, itu adalah perlambang: ia ingin mencontohkan bahwa perahu yang selama ini telah kita akrabi sebagai tumpuan penghidupan, selayaknya kita lengkapi pula dengan sajadah sebagai tempat bersujud.

Penglihatan saya sudah rabun, tangan saya pun sudah gemetar bila menulis. Kalau tidak ada di antara kalian yang hendak sedikit berpayah-payah menyusun kembali bagian-bagian kisah itu menjadi runtut dalam sebuah kitab, dan malah mengambil pula sikap abai seperti kerabat yang lain, betapa galabah hati saya membayangkan kisah kedatangan leluhur kita itu, sang bibit buwit keluarga kita, akan benar-benar bernasib seperti yang pernah dikatakan buyut kalian: “Bila tidak ditulis dalam sebuah kitab, kisah itu bisa punah. Kalaupun tetap dituturkan turun-temurun secara lisan, bisa pula berkembang dan bercampur mitos, lalu malah disangka dongeng belaka.”

Bila kalian mengulang pengabaian seperti yang telah saya perbuat, betapa kodrat saya telah terkena karma: sudah abai pada amanah kakek saya, amanah diabaikan pula cucu-cucu saya. Kalau itu terjadi, betapa berat sesal yang menggerogoti usia tua saya ini.

 

Catatan:

Meski cerpen ini fiktif, ide dasarnya lahir dari cerita orang-orang tua di kampung kami yang ada di pesisir Takalar. Mereka biasa mengutip kisah kedatangan leluhur kami ke kampung itu dengan mengatakan, “Ketika datang, dari jauh ia terlihat menaiki sebuah perahu besar. Setelah dekat, ternyata yang ia naiki hanya selembar tikar sembahyang.”

 

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Ia telah menerbitkan tiga buku kumpulan cerpen. Buku yang terbaru adalah Tanah Orang-orang Hilang (Basabasi/2019). Guru SMK dan berdomisili di Parepare.