Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 09 September 2020)

Mau, putri ketiga saya, yang belum bisa merangkai huruf-huruf, sedang membaca tanpa kecemasan yang sesungguhnya
    Mau, putri ketiga saya, yang belum bisa merangkai huruf-huruf, sedang membaca tanpa kecemasan yang sesungguhnya.

Mengapa orang-orang tidak suka membaca? Banyak sekali alasannya. Beberapa di antaranya mengatakan tak punya cukup waktu. Sebagian yang lain enggan melakukannya karena mereka tidak mendapatkan apa pun dari membaca. Pendapat dan alasan itu sah-sah saja. Lagi pula, membaca bukan jaminan seseorang lebih mulia atau tinggi derajatnya dari yang tidak membaca. Sesederhana itu.

Saya tertarik menganalisis alasan yang kedua: bahwa mereka tak mendapatkan apa pun dari membaca.

Kalau yang mengatakan itu mereka yang memang tak menyukai buku dan tak ada kepentingan dengannya atau sekali tak sengaja berurusan dengan membaca langsung merasa melakukan kesia-siaan sebab merasa waktunya terbuang percuma karena bundelan teks itu tak memberinya apa-apa selain kebosanan dan rasa ngantuk, agak bisa dimaklumilah. Apalagi buku yang “tak sengaja” ia temukan itu tidak mengetengahkan hal-hal yang menggembirainya. Mau menceramahinya agar mencoba lagi dan lagi, percuma! Semestanya udah beda, nggak bakal masuk!

Baca juga: Seolah-olah Kreatif – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 02 September 2020)

Tapi, apabila alasan kedua itu diutarakan oleh mereka yang sedang belajar menulis atau yang sudah menulis buku, meskipun mungkin keluhannya akan sedikit dimodifikasi menjadi “Saya sudah membaca banyak, tapi mengapa saya kok merasa tidak mendapat apa-apa atau … katakanlah saya mendapat sesuatu, tapi sungguh tidak sebanding dengan banyaknya judul yang saya baca dan waktu yang terbuang?!”, maka materi di kelas menulis kali ini rasanya sayang untuk dilewatkan.

“Saya sudah membaca banyak, tapi mengapa saya merasa tidak mendapat apa-apa?”

Kita perlu membaca, ikut seminar, pelatihan, lokakarya, kelas-kelas, dan aktivitas pengembangan diri dan keterampilan lainnya. Tapi, ketika berkarya, sungguh tidak penting memikirkan apa yang disumbangkan oleh semua kegiatan itu. Lalu?

Ya, begitu.

Yang sudah dimakan, akan mengaliri darah dan jiwa tanpa harus dipikir dan dianalisis hingga rambut rontok. Tapi, tidak semuanya terendap di alam bawah sadar. Hanya hal-hal yang berkesan, yang kita sukai dan menarik perhatian yang akan tertinggal, yang akan diingat dan diamalkan. Dan … bisa saja—hal-hal yang terendap—itu adalah materi yang sangat kita butuhkan untuk berkarya. Sebaliknya, bisa saja materi-yang-terendap itu adalah hal-hal yang tidak kita butuhkan untuk berkarya.

Dan hal-hal di atas juga berlaku urusan menulis.

Baca juga: Keluar dari Gerombolan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 26 Agustus 2020)

Ya, memang begitu.

Bagaimanapun, sari selalu berasal dari bahan yang banyak dan melimpah. Menulis adalah sari dari aktivitas membaca yang kadang tak terhitung banyaknya. Kalau endapan bahan bacaan itu berjodoh dengan apa yang ingin disuarakan, baik dalam tulisan atau sebuah forum diskusi, beruntunglah kita. Kalau tidak sama sekali, yaaa jangan baper. Apalagi menyalahkan membaca dengan menyebutnya sebagai aktivitas tak berguna. Ceroboh dan kekanak-kanakan.

Endapan pengalaman—termasuk membaca—itu siapa tahu akan berguna di tulisan dan diskusi yang lain.

Menulis adalah sari dari aktivitas membaca yang kadang tak terhitung banyaknya.

Aktivitas membaca bebas—tanpa target dan tekanan—bukan hanya akan memberikan keriangan, tapi juga menghadiahi kejutan dalam kesempatan-kesempatan yang tak terprediksikan.

Dalam hal membaca, keadaan  yang (me)lepas(kan) adalah ketika kita tidak memaksa diri untuk mengikat makna. Menyengajakannya untuk mengikat makna akan membuat membaca relatif lambat karena sibuk merenung dan ini potensial membuat ngantuk meskipun sudah dua gelas kopi yang dihabiskan. Menikmati aktivitas membaca secara mengalir akan memberikan kebebasan bagi kecenderungan kita terhadap satu dan lain hal, dan ini sungguh potensial membuat kita menyelesaikan buku dan membuat filter bacaan dalam diri bekerja secara sehat. Seberapa banyak yang akan nyangkut dalam kepala? Itu bukan urusan kita. Tapi … hal ini sejatinya bisa diuji.

Tapi, tidak usahlah “bisa diuji” di sini disamakan artinya dengan menguji isi buku teks per teks seperti ketika rekan-rekan sebaya saya menghafal isi RPUL di bangku SD! Bukan gitu aturan mainnya, Cuk!

Baca juga: Masa Depan Rahasia – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 19 Agustus 2020)

Model mengujinya adalah ketika berpikir, bicara (diskusi), dan yang paling keren adalah dengan menulis karena aktivitas ini akan mengeluarkan yang terendap dan—sebagaimana kata Ali bin Abu Thalib—mengikat yang sudah didapat.

Tapi, bagi saya, keistimewaan dari membaca-tanpa-kecemasan adalah mendapatkan gagasan baru yang tidak ada sangkut-pautnya dengan bahan bacaan itu. Ini langka dan mewah. Sama seperti ketika saya tergerak menulis Tanjung Luka usai menonton Mother-nya Bong Joon-ho atau menulis Ethile! Ethile! usai membaca Queen of Dreams-nya Chitra Banerjee Divakaruni.

Jadi, bukan hanya ilmu yang bisa saya raup dari aktivitas membaca variabel yang diujikan, tapi juga energi kreatif yang merangsang untuk membuat karya bagus—ya, karya bagus!

Ketika membaca buku bagus, ilmu dan wawasan tentu akan mendatangi diri kita. Tapi, kalau buku-buku itu justru teks yang belum saatnya lahir karena ditulis penulis yang memilih menerbitkan karyanya sendiri sebab kebelet pengen punya buku atas pemikiran bahwa menjadi penulis itu keren, membaca-tanpa-kecemasan akan menyelematkan kita dari kesia-siaan.

Baca juga: Punya Banyak Buku, Buat Apa? – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 12 Agustus 2020)

Membaca seperti ini, sepengalamanan saya, akan mendorong melejitkan produktivitas dan mengayakan serta melejitkan imajinasi. Membaca tanpa kecemasan atawa free reading akan membuat kita tidak lekas jadi epigon atau plagiat usai membaca buku bagus dan tidak lekas membuat kita memaki-maki buku yang buruk telah merampas waktu produktif kita. Tidak. Dalam membaca-tanpa-kecemasan, buku yang baik akan melempar kita dalam keadaan bukan apa-apa sehingga akan termotivasi untuk berlatih lebih keras dalam menghasilkan tulisan yang baik, sementara buku yang buruk akan melemparkan bumerang pertanyaan: lalu bagaimana bagusnya karya ini menurutmu? Jadi, baik atau buruknya buku bukan masalah dalam aktivitas free-reading alias membaca-tanpa-kecemasan.

Keistimewaan dari membaca-tanpa-kecemasan adalah mendapatkan gagasan baru yang tidak ada sangkut-pautnya dengan bahan bacaan itu. Ini langka dan mewah!

Membaca adalah peristiwa mengalami. Dan ini penting untuk membuat kita tidak berjarak dengan ilmu, wawasan, dan semesta karya. Karya bagus yang dibaca tanpa kecemasan akan menyulut kita untuk berkarya pula, bahkan lebih jauh: menghasilkan karya yang bagus pula! Membaca buku bagus dengan cara salah dan pikiran yang bermasalah potensial melahirkan para epigon dan plagiat.

Eh sebentar! Epigon dan plagiat yang masih hidup dan terus “berkarya” itu bagaimana jadinya? Maaf, orang-orang sakit nggak masuk dalam pandangan saya tentang membaca dan kreativitas ini. Mereka bukan kreator, mereka sekadar pekerja kejar setoran!

Mereka mungkin akan mendapatkan wawasan dari membaca, tapi tidak ilmu dan gagasan baru. Dan itu sudah sunnatullah untuk kreator palsu nan fasik. Wallahu’alam.*

 

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Dua novel mutakhirnya—Bulan Madu Matahari dan Ethile! Ethile! sedang tayang di platform digital. Saat ini ia membuka Kelas Menulis di Kanal Youtube Benny Arnas.