Cerpen Fanny J. Poyk (Jawa Pos, 06 September 2020)

Holy Clouds ilustrasi Wimo Ambala Bayang - Jawa Pos (1)
                   Holy Clouds ilustrasi Wimo Ambala Bayang/Jawa Pos

Persediaan padi di lumbung kian menyusut. Bapa Yohanes menyusun ikatan padi yang tersisa dan menatanya dengan rapi.

IA juga menutup celah-celah lumbung dengan adukan semen agar tikus tidak bisa masuk. Lelaki berusia lima puluh tahun dengan kulit cokelat legam itu kemudian membersihkan saluran air yang tertuju ke areal persawahannya. Daun-daun dan tanaman liar yang tumbuh di sekitarnya ia buang. Pekerjaan ini rutin ia lakukan saat berada di sana.

Kemudian ia mencangkul tanah persawahan dengan sepenuh tenaga. Semua dilakukannya sendirian. Terkadang, bila membutuhkan tenaga bantuan, ia akan mengupah beberapa lelaki sebayanya. Mereka adalah buruh serabutan yang pada saat tertentu menjadi pedagang acung di sepanjang Jalan Raya Oesao. Dua ekor kerbaunya masih merumput. Binatang-binatang itu juga siap membantunya membajak sawah. Setelah itu, Bapa Yohanes akan menanam benih padi yang sudah disemai. Desa Oesao, Kupang, Nusa Tenggara Timur, di musim panas berudara kering dan agak dingin. Tapi, garangnya sinar matahari mampu membuat kulit menjadi legam dalam sekejap. Kulit Bapa Yohanes juga berwarna cokelat pekat, tapi tubuhnya sehat karena ia selalu bergerak.

Beberapa orang asing datang ke areal persawahannya ketika Bapa Yohanes sedang membagi air. Air itu berasal dari mata air yang letaknya tak jauh dari tanah miliknya. Mata air itu juga menjadi sumber air bagi penduduk setempat. Orang-orang yang datang menemuinya merupakan suruhan dari para pengembang agar Bapa Yohanes mau menjual tanah persawahannya. Mereka datang berkali-kali dan tetap dengan pola yang sama, membujuknya dengan iming-iming bayarannya yang tinggi. Tapi, Bapa Yohanes tetap bertahan tidak mau menjualnya. Meski banyak sawah di sekelilingnya yang telah berpindah tangan.

Barangkali sudah ada sepuluh pengusaha pengembang yang datang kepadanya. Makelar tanah juga ada. Tanahnya berada tidak jauh dari Jalan Raya Oesao yang merupakan jalan trans yang ramai oleh lalu-lalang bus, mobil angkutan umum, dan truk yang menuju Soe dan Timor Leste. Kendaraan-kendaraan itu juga ada yang membawa wisatawan piknik ke Kota Kupang, pedagang atau penduduk Timor Leste yang ingin bertandang ke saudara-saudara mereka yang berada di berbagai pelosok kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur. Truk-truk yang mengangkut bahan-bahan pokok seperti gula, beras, minyak goreng, dan bahan kebutuhan lainnya bolak-balik melintasi jalan tersebut. Areal persawahan Bapa Yohanes memang sangat strategis untuk dikembangkan menjadi perumahan dan pertokoan.

“Jual saja lima ratus meter, toh Bapa sonde (1) rugi. Bapa punya tanah luas. Kalau Bapa jual, beta sonde kembali kerja jadi pembantu di Malaysia,” kata Jublina, putri tertuanya yang sedang pulang liburan. Ia bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga, tepatnya di Malaka. Lina, begitu ia dipanggil, berkulit sawo matang dan berwajah manis. Pergaulannya yang luas di Malaysia dan Jakarta membuatnya selalu malas pulang kampung. Jika sang ibu tidak memohon agar ia pulang, ia mungkin tidak pulang ke Oesao. Sang ibu cemas mendengar berita tentang tewasnya TKI asal Kupang, NTT, Adelina Sau, di Penang, Malaysia.

“Apa yang beta dapatkan di sini Mama ee…hanya orang-orang yang selalu berpikiran kouk (2). Beta malas tinggal di kampung. Kalau sonde diterima lagi di Malaka, beta mau pi (3) kerja di Jakarta sa (4),” kata Jublina.

“Anakku, buat apa lu pi lagi ke negeri orang. Bapa lu pung (5) sawah luas, mari kitong (6) tanam padi sama-sama, kitong jual, sama saja dapat doi (7) juga,” ucap mamanya.

Tapi, Oesao tetap tak memberi daya tarik yang menawan dan mampu menarik Jublina untuk bertahan di desa itu. Rasa gembira yang muncul hanya terjadi di siang hari. Setelah itu, rindunya pada kota besar kembali mendera. Baginya, desa yang juga bersisian dengan laut luas itu, jika malam tiba, senyap hanya diterangi lampu-lampu jalanan dan penerangan yang samar-samar yang tersembul dari tiap rumah. Jublina tidak menyadari jika malam menjelang, kerlip bintang di langit dan beberapa meteor yang berseliweran di langit Oesao terlihat sangat indah. Di desa itu, mulai pagi hingga sore, bisnis kuliner di sepanjang jalan terlihat semarak dan menarik untuk dihampiri. Para pedagang jagung pulut, jagung khas Oesao, kue cucur dan kue usus ayam, daging se’i, yaitu daging asap khas Kupang, dicari oleh para pelancong yang melepas lelah di tiap warung sembari memandang areal persawahan dan gunung-gunung yang hijau membentang. Tapi, Jublina masih bersikukuh mengancam akan pergi ke Malaysia atau Jakarta jika bapanya tidak menjual beberapa petak sawahnya ke para tengkulak tanah.

“Kalau Bapa sonde jual tanah, beta (8) sonde mau kembali ke rumah ini lagi. Untuk apa punya tanah luas, tapi harus kerja keras. Kalau punya uang banyak, Bapa tinggal beli beras, sonde pi pacul lagi itu sawah, sonde usah pancing ikan lai (9) di laut, Bapa tinggal pi beli di supermarket di Kota Kupang,” tegas Jublina dengan nada mengancam.

Bapa Yohanes merenungi ucapan putrinya. Di bawah pohon lontar di halaman rumahnya, ia duduk sembari melamun. Semilir angin siang di bulan Juni tidak mengirim embusan sejuk yang bertiup dari laut di belakang rumahnya. Debur ombak yang menghantam tubir pantai bagai nyanyian para tetua dan to’o (paman)-nya di Desa Bilba, Rote Ndao. Ia teringat akan masa kecilnya yang nyaman, saat tinggal di sana. Ayahnya, Frederik Moses, kerap bercerita tentang pulau-pulau di sekitar Rote Ndao yang diberi nama Ndana. Dalam kisah sang ayah, Ndana-Ndana yang mengitari Pulau Rote diperintah oleh raja-raja yang sakti mandraguna. Mereka mempertahankan tanah dan segala isinya dengan pertaruhan nyawa. Kala itu, untuk memperebutkan sepetak tanah, tak jarang para penduduk berkelahi sampai mati. Tanah adalah nyawa dan apa yang tumbuh dari tanah merupakan karunia Tuhan Yang Mahakuasa. “Jaga tanah yang kau miliki dengan sekuat tenaga. Jangan biarkan orang lain memaksakan kehendak mereka untuk mengambil tanahmu!” begitu pesan ayahnya.

Di perjalanan waktu, ketika para sanak famili ayahnya mulai mengambil tanah-tanah warisan keluarga untuk dijadikan milik sendiri dan diberi sertifikat yang menunjukkan bahwa tanah-tanah itu milik mereka secara sah, lalu dijual ke para wisatawan yang banyak datang untuk berselancar di Pantai Nembrala, Rote, Bapa Yohanes tertunduk pilu. Kala sang tetua pemersatu keluarga itu telah tiada, para anak, sepupu, dan saudara lainnya mulai menunjukkan belangnya. Ada keserakahan yang muncul di masing-masing pribadi. Kisah tentang Ndana dengan para raja yang menjadikan tanah sebagai harta yang bernilai sangat tinggi lenyap bersama keserakahan yang muncul di antara mereka. Ketika perang antarsaudara untuk memperebutkan tanah terjadi, ia memboyong istri dan anak-anaknya pindah ke Oesao. Di sanalah, berpuluh tahun ia mengumpulkan uang mulai menjadi nelayan hingga memiliki puluhan keramba ikan. Lalu Bapa Yohanes memproklamasikan diri menjadi pengusaha ikan. Rezekinya mengalir secara tak terduga. Ia mulai berpikir tentang hari tua, hari di mana ia tak bisa bergentayangan di laut lepas lagi. Uang yang ia miliki ia investasikan di beberapa ribu meter tanah yang ada di sekitar Desa Oesao. Bapa Yohanes banting setir menjadi petani. Lelaki cerdas asal Desa Bilba Rote Ndao itu mulai belajar dari awal bagaimana menjadi petani yang sukses.

“Harta dunia tidak dibawa mati, Bapa. Jual sa, kitong beli rumah di Kota Kupang, dekat deng (10) mal,” bujuk Jublina lagi. Istrinya ikut menganggukkan kepala. Tampaknya ia mulai terpengaruh akan pemikiran putrinya.

Bapa Yohanes semakin murung. Di tengah gencarnya bujukan sang putri untuk menjual tanahnya dan istrinya yang telah terkontaminasi dengan kisah-kisah hedonis yang dituturkan putrinya, membuatnya murung. Ia juga kerap tidak tenang setiap kali para tengkulak tanah datang mencarinya. Tak jarang mereka tiba beserta para pria berwajah Indonesia Timur dengan tato dan otot bergumpal di pangkal lengan.

“Bapa eee…Bapa jangan terlalu berpikir panjang, usia su mulai tua. Tidak lama lagi Bapa su tiada. Untuk apa tanah luas, kan sonde dibawa mati,” kata seorang lelaki berotot itu kepadanya.

“Beta tidak kapingin (11) lai dengan segala harta dunia. Tanah ini tidak akan beta jual, biar nanti kalau beta mati, anak cucu yang mewarisinya. Tanah harus dijaga dan dirawat dengan baik. Tidak boleh dilenyapkan diubah menjadi hotel atau perumahan mewah. Nanti kalau beragam penyakit su datang, kitong manusia yang repot. Bumi bisa marah kalau dirusak, ingat itu!” Bapa Yohanes terlihat kesal.

Waktu berputar searah dengan jarum yang dikehendaki Sang Pencipta. Tanah luas milik Bapa Yohanes lebarnya masih tetap seperti semula. Di ujung timur, ujung selatan, ujung barat, ujung utara sudah berdiri bangunan cukup megah berupa hotel bintang tiga, perumahan mewah, dan mal. Tanah Bapa Yohanes terjepit di tengah-tengahnya. Terisolasi dan sunyi. Ada gang kecil untuk masuk ke dalamnya. Gang itu miliknya, merupakan satu-satunya akses ke jalan raya. Lebar jalan satu setengah meter. Di ujung gang ada dua pohon lontar berdiri tegak. Pohon itu sebagai penanda bahwa tanah Bapa Yohanes masih tetap miliknya. “Sampai beta mati, tanah persawahan ini baru akan katumu (12) deng dia pung takdir (Sampai saya mati, tanah persawahan ini baru akan menemui takdirnya). (Tamat)

 

Catatan

(1) Sonde: tidak

(2) Kouk: kampungan

(3) Pi: pergi

(4) Sa: saja

(5) Pung: punya

(6) Kitong: kita

(7) Doi: uang

(8) Beta: saya

(9) Lai: lagi

(10) Deng: dengan

(11) Kapingin: kepingin

(12) Katumu: bertemu

 

Fanny J. Poyk. Penulis kelahiran Bima, NTB, ini sudah menghasilkan dua karya, Pelangi di Langit Bali dan Perkawinan Lintas Budaya.