Cerpen Afri Meldam (Suara Merdeka, 06 September 2020)

Sungguh, Martin Mojabi Telah Bekerja Sepanjang Hari ilustrasi Suara Merdeka (1)
                                         Sungguh, Martin Mojabi Telah Bekerja Sepanjang Hari ilustrasi Suara Merdeka

Tangan Martin Mojabi yang liat berurat terus mengayunkan kapak untuk membelah gelondongan kayu getah menjadi potongan-potongan kecil seukuran kaki meja makan. Itu ukuran paling pas dan paling disukai ibu-ibu yang membeli kayu bakarnya.

Jika ia membelah kayu getah itu sedikit lebih besar atau lebih kecil dari kaki meja makan, mereka tak mau membeli. Maka, untuk memastikan ukuran yang pas, Julia, sang istri, telah menggantung sebuah kaki meja makan di suatu tempat yang bisa suaminya lihat setiap saat.

“Ini ukuran kayu bakar yang sempurna. Ibu-ibu hanya akan membeli kayu bakar kita jika berukuran sama persis dengan kaki meja ini. Aku telah memotong satu kaki meja makan pemberian ayahku, dan tolong jangan kaubuat ia jadi tak berarti.”

Meja makan itu memang hadiah dari sang ayah untuk perempuan itu. Sang ayah percaya, sebagaimana prinsip yang dianut keluarga mereka sejak dulu, kebahagiaan rumah tangga selalu berawal dari meja makan. “Jika meja makan kalian selalu dipenuhi rasa syukur akan makanan yang diberikan, rumah tangga kalian akan senantiasa dilimpahi kebahagiaan,” begitu ayahnya memberikan pengantar singkat yang tentu ia kutip dari salah satu anggota keluarga terdahulu saat mengantar meja makan itu ke rumah anak perempuannya yang baru menikah.

Julia menangis terharu begitu menerima hadiah dari sang ayah. Ia tahu, ayahnya telah bekerja keras agar bisa mendapatkan uang untuk membeli meja kayu itu. Lihatlah permukaan yang mengilap dan ukiran bunga mawar di setiap ujung kakinya yang kukuh. Meja itu pasti dibuat oleh perajin pilihan, pikirnya.

Julia berjanji akan merawat meja makan itu dengan baik dan memenuhinya dengan makanan yang baik pula. “Ayah telah memilihkan suami yang baik untukku, dan sekarang Ayah datang memberiku hadiah meja kayu ini. O, sungguh aku akan selalu mencintai Ayah,” ujarnya dengan air mata masih berlinangan.

Ia memang menetapi janji pada sang ayah: merawat meja makan itu sebaik-baiknya dan selalu memenuhi dengan makanan yang baik-baik pula. Hanya dengan makanan yang baik rasa syukur itu akan selalu lahir dari meja makan ini, pikirnya pula.

Martin Mojabi yang hanya penjual kayu bakar tentu tak sepenuhnya bisa menopang semua kebutuhan rumah tangga mereka. Apalagi pada bulan keempat sejak mereka menikah, perut Julia sudah membesar. Maka, perempuan itu pun memutuskan kembali bekerja sebagai penjaga toko oleh-oleh di alun-alun kota. Meski gajinya tak begitu besar, setidaknya ia bisa meringankan beban yang dipikul suaminya.

Pagi-pagi Julia bangun dan bergegas menyiapkan makanan untuk mereka. Tidak hanya memasak makanan untuk sarapan, ia juga menyiapkan makan siang untuk suaminya sekaligus bekal ke tempat kerja. Sore, begitu tiba di rumah, ia akan kembali ke dapur, menyiapkan makan malam. Semua ia lakukan demi mematuhi nasihat sang ayah bahwa kebahagiaan rumah tangga berawal dari meja makan. 

Hingga suatu hari Julia sadar, ternyata tak hanya kebahagiaan, kesedihan juga bisa berawal dari tempat yang sama.

Suatu hari, saat pulang lebih awal karena mual dan pusing yang ia rasakan tak memungkinkan untuk terus bekerja hingga sore, ia mendapati suaminya tengah menikmati tubuh seorang perempuan di atas meja makan. Sungguh, sepanjang pernikahan mereka, tak sedikit pun terlintas di benak bahwa suaminya bisa serakus dan seberingas itu.

Mual dan pusing yang mendera hilang begitu saja, berganti amarah yang mendidih. Sementara keduanya bergegas berpakaian, Julia berlari ke kebun belakang, tempat suaminya bekerja, dan kembali dengan kapak di tangan.

“Tolong, jangan bunuh saya!” pekik perempuan setengah telanjang itu dengan muka pucat begitu melihat Julia menenteng kapak pembelah kayu itu. Sementara Martin Mojabi memilih menangis di sudut ruangan.

“Kau tentu tahu jalan keluar dari rumah ini,” katanya kepada perempuan itu, yang detik itu juga segera menghambur menuju pintu belakang dengan pakaian yang belum sepenuhnya menutupi tubuh.

Julia memang tak berniat membunuh siapa-siapa. Kapak itu ia gunakan untuk memotong salah satu kaki meja makan yang tak lagi menjadi sumber kebahagiaan rumah tangga mereka. “Kupotong satu kaki meja makan pemberian ayahku sebagai pengingat bagi kita bahwa rumah tangga kita tak lagi berdiri kukuh,” ujarnya diiringi bunyi krak pada kaki meja yang ia hantam dengan kapak.

Meja kayu itu ternyata masih bisa berdiri dengan tiga kaki tersisa, meski sedikit miring ke bagian terpotong. Kenyataan itu tak pelak kembali mengingatkan betapa meja hadiah dari ayahnya memang meja makan yang dibuat perajin terbaik, betapa sang ayah telah bekerja keras untuk menebus meja makan itu. Maka, air matanya pun bercucuran dengan deras.

“Maafkan aku. Sungguh, aku sangat menyesal.” Martin Mojabi akhirnya bersuara.

Julia hanya menatap suaminya sekilas, kemudian berlalu tanpa sepatah kata pun.

Sejak saat itulah Martin Mojabi berjanji akan bekerja sepanjang hari, membelah gelondongan-gelondongan kayu menjadi seukuran kaki meja makan, dan berhenti bermain mata di belakang istrinya. Bahkan sejak hari itu pula, Martin Mojabi selalu bangun lebih awal dan mengambil alih semua tugas di dapur yang selama ini Julia lakukan: mencuci peralatan makan, memastikan air hangat tersedia di samping bak mandi, menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk mereka, serta menyapu bersih rumah mereka.

Dan, setelah mengantar istrinya itu ke tempat kerja di alun-alun kota, ia bergegas menuju kebun di belakang rumah, membelah gelondongan-gelondongan kayu getah menjadi potongan-potongan kecil seperti keinginan pembeli langganan.

Entah kebetulan belaka atau memang nasib baik, semenjak peristiwa di meja makan itu, keahlian Martin Mojabi membelah gelondongan-gelondongan kayu jadi lebih mumpuni. Kedua telapak tangannya kini seolah menyatu dengan tangkai kapak yang ia terima dari ayahnya. Ukuran kayu bakar yang ia belah jauh lebih presisi dan karena itu pelanggan pun bertambah.

“Kuserahkan kapak ini sebagai bekal bagimu sebagai lelaki dewasa. Kapak ini bisa kaugunakan mencari uang dan juga melindungi keluargamu. Jangan sekali-kali kaugunakan kapak ini untuk tujuan lain,” tutur ayahnya dulu ketika Martin Mojabi beranjak balig dan menerima kapak itu.

Apakah kapak itu bisa membaca kesungguhan tekad Martin Mojabi untuk menjadi suami yang baik bagi Julia, dan hanya menggunakan semata untuk mencari penghidupan yang juga baik?

Entahlah. Yang jelas, Martin Mojabi jadi makin sibuk pada hari-hari berikutnya. Jika sebelumnya ia hanya mengambil gelondongan kayu dari kebun karet di sekitar rumah, kini ia terpaksa berjalan sedikit lebih jauh ke kebun-kebun karet di pinggir kampung. Maka, begitu gelondongan yang ia kumpulkan cukup, Martin Mojabi akan menghabiskan hari di antara tumpukan kayu yang malang-melintang di kebun. Tak sedikit pun terlintas di benaknya mencuri-curi waktu dan mengajak seorang perempuan ke rumah di saat istrinya bekerja. Yang ada di pikiran Martin Mojabi kini hanyalah bagaimana mengumpulkan dan menjual kayu bakar sebanyak mungkin, sehingga bisa mendapatkan uang yang cukup untuk menyambut kelahiran anak pertama mereka dan tentu saja memenuhi meja makan dengan makanan yang baik.

Ya, ia bertekad membangun kembali kepercayaan istrinya bahwa kebahagiaan hidup berumah tangga dimulai dari kebahagiaan di meja makan, seperti disampaikan mertuanya dulu. Demi alasan itu pulalah, pada hari yang sama setelah istriya memotong kaki meja makan, Martin Mojabi segera menggantinya dengan kaki yang baru.

“Dengan kapak pemberian ayahku, kubelah kayu pilihan untuk menggantikan kaki meja makan kita. Kuharap ini bisa menjadi awal yang baik untuk kembali membangun kebahagiaan rumah tangga kita,” ucapnya sungguh-sungguh.

“Bagaimanapun meja makan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan rumah tangga kita sudah rusak. Dengan kayu apa pun kau mengganti, di mataku kaki meja ini tetap tinggal tiga. Dan tentu saja ia tak lagi kukuh untuk menopang harapan kebahagiaan yang kita ingin wujudkan bersama.”

“Apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan satu kaki meja makan kita yang rusak?”

“Aku tak pernah membayangkan lelaki pilihan ayahku suatu hari akan mengajukan pertanyaan semacam itu padaku. Jadi aku pun tak pernah menyiapkan jawaban.”

“Baiklah. Tapi tolong jangan pernah ceritakan hal ini pada anak kita kelak.”

“Sebaiknya memang begitu.”

“Terima kasih.”

***

Tangan Martin Mojabi yang liat berurat terus mengayunkan kapak untuk membelah gelondongan kayu getah menjadi potongan-potongan kecil seukuran kaki meja makan. Itu ukuran paling pas dan paling disukai ibu-ibu yang membeli kayu bakarnya. Jika ia membelah kayu getah itu sedikit lebih besar atau lebih kecil dari kaki meja makan, mereka tak mau membeli.

Dan, sungguh, Martin Mojabi telah bekerja sepanjang hari. Namun, ia tahu istrinya tak akan pernah menganggap itu cukup untuk menebus satu kesalahan yang pernah dilakukan Martin Mojabi di atas meja makan keluarga mereka. Dan, Martin Mojabi tak tahu lagi harus berbuat apa selain terus mengayunkan kapak sampai tangannya pengar, sampai nyeri menjalar ke seluruh persendian.

Sementara di toko oleh-oleh tempat ia bekerja, dengan perut yang membuncit, Julia, sang istri, tak bosan-bosan bercerita kepada teman-temannya tentang betapa ia telah membalas secara setimpal apa yang Martin Mojabi lakukan di meja makan mereka.

“Jadi, berapa kali sebenarnya kau membawa suami perempuan itu ke rumah kalian sementara suamimu bekerja di kebun sepanjang hari?” tanya seorang temannya.

“Tak pernah kuhitung,” jawab Julia enteng.

“Dan kalian melakukan di atas meja makan yang sama?” tanya yang lain.

“Memang harus di sana karena meja makan itulah sumber kebahagiaan!”

Mereka pun terkikik sepanjang hari. (28)

 

UC, 25 Agustus 2020

Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, menulis cerpen dan puisi. Buku cerpennya Hikayat Bujang Jilatang (2015), sedangkan noveletnya Di Palung Terdalam Surga bisa dibaca di Pitu Loka (2019).