Cerpen Nuryana Asmaudi SA (Kompas, 06 September 2020)

Kasih Bunda di Rimba Duka, Rindu Anak Sepanjang Kelana ilustrasi Slamet Riadi - Kompas (1)
                                      Ilustrasi Slamet Riadi/Kompas

I

DARA belia itu belum pengalaman menjalani liku-liku kehidupan, juga belum paham hubungan laki-perempuan. Maka ketika seorang pria membisikinya dengan rayuan pemikat asmara, ia terlena hingga berbadan dua.

Perempuan muda itu belum pernah menjadi ibu dan belum siap mengasuh anak waktu. Maka ketika muncul bisikan dari lain pikiran, ia buang daging segar yang baru keluar dari perutnya yang buncit berbulan-bulan.

“Penyakit apakah ini? Kenapa dari perutku muncul boneka yang bisa bernapas? Ini pasti ulah orang jahat, tukang santet yang ingin membuatku sekarat,” gerutunya ingin menghujat.

Ia bawa orok itu ke sungai, “Aku sudah bukan kanak-kanak lagi, tak patut bermain boneka seperti tempo hari. Aku emoh boneka aneh ini, teman-teman pasti mencemooh jika melihatku menimang-nimang boneka lanang mainan anak-anak masa silam,” gumamnya.

Lalu ditaruhlah boneka ajaib itu di atas rakit dan dihanyutkan ke sungai, agar dibawa angin ke seberang, atau diseret arus ke hilir. Siapa tahu ada anak-anak mandi menemukannya untuk dimiliki, dijadikan mainan pelipur hati.

Ia tak merasa bersalah, sebab kesalahan adalah kesadaran bagi orang yang paham. Ia tak merasa berdosa, karena dosa hanya untuk mereka yang berakal dan sudah dewasa. Ia dengar nyanyian alam, semilir angin, riak sungai dan keciprak ikan, mengiring-temani peti jabang bayi yang dilarung dalam rakit di sungai membawanya ke muara mimpi. “Berakit-rakitlah mengikuti nasibmu, bersenang-senanglah jika ada yang nemu,” doa dan harapan untuk boneka lanang. “Semoga kau dijaga para dewa atau orang mulia!”

Tak ada yang perlu dicemaskan. Tak guna gundah gulana. Sebab surya masih bersinar menerangi alam, dan pada saatnya nanti akan datang anak sejarah memaknai kehidupan yang menggemparkan dunia pakeliran.

“Aku tetap menghormatimu Ibu, dan akan selalu memuliakanmu. Sebab tanpamu aku tak pernah ada. Tanpa pembuangan anak yang tak kau harapkan, aku tak bakal menemukan pengasuh kehidupan dan memperoleh kemuliaan, menjadi pahlawan bagi yang kuyakini benar, atau jadi pecundang bagi sebenar-benar pahlawan, mereka Pandawa anak-anakmu tersayang.”

Angin bersendawa di pucuk reranting pepohonan. Daun-daun menari, ada yang berguguran ke tanah karena tiba saatnya istirahat, kembali ke alam asal, menjadi humus kehidupan.

“Kudengar suara hatimu Ibu, karena aku telinga waktu. Kudengar pujian dan cercaan, karena aku penjaring suara alam. Tak kuhiraukan bisikan-hasutan kiri-kanan, karena aku penyaring fitnah dan perpecahan. Maka tak usah ragu, tak perlu membujuk-rayuku. Tak ada dendam di hati anak jadahmu ini. Tak perlu janji sumpah palsu. Aku tak mungkin menghabisi sedulur lanangku yang akan jadi lawanku di Perang Kuru. Sebab aku terlahirkan sebagai anak alam karena kecelakaan yang tak boleh terulang,” tutur Karna kepada perempuan itu.

II

KARENA Karna Bunda Kunti dibui resah tak berkesudahan. Dan kau Surya, mana siang cemerlang untuk anak semata wayang? Cuma senja muram bagi flamboyan yang gugur di taman. Cawan yang sudah penuh tak mungkin diisi anggur sebelum dikosongkan. Bapa sais mengangkat putramu menjadi anak, diajari mengendarai kereta, merentang busur nasib melepas panah takdir di ranah hayat. Anakmu, ataukah putra bulan yang melepas panah hingga kereta perkasa itu runtuh, sais sakti tak berkutik lagi. Menjadi pahlawan bagi yang diyakini benar. Tak perlu disangkal memang, sebab kebenaran bukan kita punya.

Karena cinta, Karna setia kepada yang bertakhta. Tak penting mana yang sah, mana yang tidak sah. Sebab takhta hanya sementara dan penguasa harus ada. “Jika aku setan titisan iblis, akan tetap teguh pada keyakinan menampik sujud-hormat kepada Adam. Jika kau anak Adam, patuhlah kepada Hawa, Bunda Kunti tercinta. Katakan, aku Karna, teramat hormat dan menyayanginya. Aku anak jadah yang terbuang tak sia-sia!”

III

KARENA Salya, Karna yang miris melihat Bima merobek-robek dada dan meminum darah Dursasana ciut nyalinya. Ia berupaya bangkit karena lecutan semangat Salya.

“Di mana kau taruh nyalimu Karna? Mengapa diam saja melihat Dursasana dibantai Bima di depan mata junjunganmu Raja Duryudana? Tidaklah patut jadi ksatria bersikap pengecut, nyalimu ikut menciut di saat semangat raja surut karena takut. Ksatria sejati tak boleh lari dari gelanggang suci. Jika masih punya nyali, cepat hadapi Bima, habisi Pandawa anak-anak Kunti yang katamu membuat hidupmu menderita, hingga kau berpihak kepada Kurawa karena dendam yang membara!”

Karena Karna, yang kesaktiannya tak ada tandingannya, berada di pihak Kurawa, maka Duryudana berkeras kepala tak mau berdamai dengan Pandawa, hingga terjadilah perang saudara.

“Bangkitlah Karna, lawan mereka hingga darah simbah ke tanah, agar Kurawa tak ditertawakan sejarah. Agar kau tak diangap sampah!”

Tersayat hatinya disindir Salya, darah Karna mendidih, amarahnya membuncah. “Jangan meledekku, Paman Salya. Aku tak pernah kehilangan nyali kesatria. Tak sejengkal langkah aku akan meninggalkan gelanggang perang. Aku berada di pihak Kurawa karena panggilan jiwa bela negara melindungi raja yang berkuasa. Bukan karena hendak balas dendam kepada Pandawa!”

“Seorang ksatria selalu berada pada jalan kebenaran. Kenapa kau tak berpihak kepada Pandawa, saudaramu serahim-sekandungan, yang terzalimi dan ingin meraih hak warisnya? Kau tidak sedang membela negara, tapi takut kehilangan kedudukan dan ingin berbalas budi karena berutang lauk dan nasi dari Kurawa yang mengangkatmu menjadi manusia mulia,” tutur Salya.

Mendengar cercaan Salya, meledaklah amarah Karna. Kalau saja tidak sama-sama berada di pihak Kurawa, pasti terjadi tanding antara keduanya. “Lalu kenapa kau tidak memihak Pandawa? Bukankah mereka juga keponakanmu? Apakah karena berutang budi dan janji, sehingga kau berada di pihak Kurawa seperti yang kau tuduhkan padaku?”

Jawab Salya, “Aku ditugaskan oleh penjaga alam untuk berada di medan Kurusetra. Tidak penting berpihak kepada siapa. Aku dititahkan menjadi tetua kehidupan untuk mengantarkan perang saudara ini agar sampai pada keluhuran, hingga semua berakhir pada tempat mulia, surga-nirwana!”

Karna terpana, tak bisa berkata-kata. Matanya yang merah membara berkaca-kaca. Sementara perang masih berkecamuk dan tubuh Dursasana berceceran-berserakan setelah dirobek-robek Bima untuk mewujudkan sumpahnya ketika Drupadi dilecehkan Dursasana ketika Yudistira kalah dadu dengan Duryudana.

“Maka, mari laksanakan kewajiban yang dipikulkan ke pundak masing-masing. Di mana pun kita berada, yakini semua sebagai pengabdian untuk kehidupan. Panggilan suci harus dijalani sepenuh hati. Kebenaran hakiki hanya Dia yang memiliki,” tutur Salya lagi.

IV

KARENA Karna, Arjuna didera gundah gulana. Ia iba hendak bertarung melawan kakak tirinya yang papa sejak belia menderita merindukan ibunya. “Jika takdir bisa ditawar, apakah si anak kusir dokar mau kembali ke jalan yang benar? Sungguh aku benar-benar tak ingin bertarung melawan sedulur lanangku itu. Apa artinya kemenangan kalau pada akhirnya akan jadi derita dan penyesalan sepanjang masa? Dalam peperangan antarsaudara, yang menang akan lebih menderita dibanding yang kalah dan binasa,” Arjuna gundah gulana.

“Kau telah digariskan untuk mangakhiri petualangan Karna. Dia sendiri yang memilihmu sebagai lawan yang akan mengantarnya pada derajat kemuliaan dalam perang yang diidam-idamkan. Kau harus memperjuangkan garis takdir dan menolong dia dari derita sepanjang hidupnya. Hanya panahmu yang bisa merontokkan raga Karna dan membentangkannya menjadi jembatan ke surga. Ksatria sejati tak akan berpaling dari tugasnya karena perasaan pribadi dan keluarga. Maka jangan ragu dan iba wahai Arjuna. Kau tak bertarung melawan saudara, kau membawa suluh penerang jalan ke surga!”

“Jika takdir buruk boleh ditukar dengan cinta, apakah Kurusetra bisa menjadi taman bersama, surga bahagia Pandawa dan Kurawa?”

“Kurusetra hanya akan jadi taman surga bersama jika kewajiban menegakkan kebenaran terlaksana. Sejak semula Kurawa memilih jiwa raksasa, menjadi penghalang jalan dharma. Kau tak sedang membasmi sepupu-sekadang Kurawa, tapi menyingkirkan perintang jalan dharma.”

“Mengapa harus memadamkan obor putra Surya yang sejak mula menyuluh karena mencari bunda. Jika dibiarkan menyala, akankah Pandawà sirna terbakar oleh bara dendam-amarahnya?”

“Tak elok ksatria merasa bimbang dan iba. Karna adalah benteng jiwa raksasa para Pandawa yang harus diruntuhkan untuk masa depan umat manusia. Tak ada jalan menuju kemuliaan selain memungkasinya dengan mengakhiri petualangan Karna di Kurusetra.”

“Apakah dengan tumpasnya Karna dan Kurawa, derita dunia akan berakhir dengan sempurna?”

“Kau telah disumpah untuk menegakkan dharma agar kebatilan tak merajalela di mana-mana. Kau tak hendak menyingkirkan Karna dan Kurawa karena dendam dan nafsu untuk berkuasa. Kau membinasakan untuk menyucikan jiwa mereka agar tak perlu terlahir kembali menjadi pengelana atau menebus dosa dengan siksa neraka, karena telah bahagia menyatu dengan-Nya!”

“Bila telah mempersembahkan pengabdian suci, apakah kami akan mencapai kebahagian sejati?”

“Kebahagiaan sejati hanya bisa terpenuhi apabila jiwa mencapai kekekalan abadi karena telah melampaui tahapan kehidupan dunia yang mengalami kematian dan kehancuran!”

“Apakah kemenangan harus ditempuh dengan perang dan pembunuhan?”

“Bukan kau yang bakal membunuh dia, tapi Aku yang akan mematikannya. Bukan tanganmu yang melakukan, tapi Aku yang meminjam untuk membinasakan!”

“Kemenangan dalam perang dengan sedulur-sekadang akan menjadi kekalahan dan penyesalan berkepanjangan!”

“Karena itu, jangan bertempur karena marah dan kesal. Kau cuma semisal dalam kehidupan yang tak kekal. Jika ragu dan bimbang menegakkan kebenaran tak ada keselamatan dan perlindungan bagi kehidupan!”

Perang masih berlangsung sampai terjadi tanding dua lanang sedulur sekandung-sekadang, Karna-Arjuna, hingga semua berakhir pada batas kemenangan di tengah kekalahan dan penyesalan di belakang hari kemudian.

Di beranda waktu Bunda menunggu dengan resah-risau-pilu.

 

Nuryana Asmaudi SA, lahir di Jepara, Jawa Tengah, 10 Maret 1965. Menulis cerpen, puisi, esai, dan naskah lakon. Tulisannya  dimuat di sejumlah media lokal dan nasional. Sejak 1996 menetap di Bali, mengelola Rumah Sastra TenSutBeh bersama Umbu Landu Paranggi (1996-2008).

Slamet Riadi, seniman kelahiran Malang 1967, lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan kini tinggal di Yogyakarta. Ikut beberapa pameran seni sejak 2012 hingga sekarang, antara lain, Pameran “Simplex Nganggo Berko” dan “mBok Turah” di Bentara Budaya Yogyakarta.